Secret Love

Secret Love
Heart Attack



Dengan keringat yang membasahi telapak tangannya di bawah meja sana, Kiana menautkan jari-jari kecil tangannya dengan erat. Kepalanya menunduk, manik matanya tak berani menatap kedua bola mata yang menyorotkan keangkuhan tepat di depan sana.


Bohong jika kini Kiana tidak merasakan kekhawatiran berada satu meja dengan seorang wanita yang begitu sangat membencinya. Entah alasan apa wanita tersebut sangat tidak menyukainya. Sejak awal pertemuan mereka hingga detik ini Linda seolah sudah menanamkan rasa kebencian terhadap dirinya.


Apa karena wanita tersebut membencinya karena gaya berpakaiannya? Atau karena sikap dan ucapannya? Atau, apakah ada hal lain yang membuat Linda tidak begitu menyukainya? Padahal Kiana sendiri tak mengenal seorang Linda sama sekali. Dia hanya tahu jika Linda adalah mantan kekasih tuan mudanya. Atau apa karena kedekatan dirinya dengab Bian yang secara tidak sengaja terbangun menjadi penyebabnya?


Kiana mencoba meraup udara sebanyak mungkin untuk menenangkan dirinya. Suasana tegang hingga mencekam turut ia rasakan meski tempat dimana mereka berada begitu ramai dikunjungi oleh pengunjung resto lainnya.


Linda berseringai sinis. Tak lepas, kedua tangannya terlipat anggun di atas meja dengan sorotan mata yang masih menghunus penuh kebencian. Wanita itu seolah merendahkan Kiana dengan segala kekurangan yang gadis itu miliki. Meski senyum tersungging terus wanita itu layangkan padanya, tapi tetap saja Kiana dapat rasakan dari aura yang wanita itu pancarkan membuatnya merasa tertindas sebagai seorang wanita jika dibandingkan dengan Linda.


"Kiana Putri, nama yang cukup bagus," kekehnya merendahkan. "Owh, ternyata seorang pembantu. Wanita licik dengan kepolosannya yang tiba-tiba datang masuk ke dalam keluarga Adijaya karena belas kasihan dari sang nyonya rumah? Ya, kamu ada di rumah Adijaya karena keterpaksaan Nyonya Ajeng-calon mertuaku yang rela memungut kamu dari jalanan yang sangat kejam di kota ini." tutur Linda membuat Kiana mengangkat kepalanya saat mendengar wanita itu terus berucap.


"Bagaimana? Apa aku pintar? Terkejut? Jelas sekali aku bisa tahu siapa kamu Kiana. Hal yang sangat mudah bagiku untuk dapat mengetahui siapa kamu sebenarnya." Linda tertawa sumbang menertawakan Kiana. "Owh... gadis sebatang kara yang sangat malang." Linda mengolok Kiana dengan membuat wajah sedih yang sengaja dia buat-buat.


"Tunggu! Sepertinya aku bisa mengingatkan kamu berasal dari mana. Kamu ingin tahu sebuah kisah yang akan aku ceritakan?" ucap Linda membungkukkan setengah badannya ke arah Kiana. "Seorang bayi ditemukan dalam keadaan tak berdaya pada malam hari di bawah derasnya air hujan yang dingin di sebuah panti yang sangat menyedihkan. Mereka merawat bayi malang itu hingga beranjak dewasa dan menjelma menjadi seorang gadis cantik yang penuh dengan impian sejak kecilnya. Owh... seperti kisah dalam buku dongeng anak-anak. Tapi sayangnya, gadis malang itu berubah wujud menjadi seorang pembantu di sebuah rumah dengan pangeran tampan yang bahkan tidak sudi meliriknya sekalipun. Mirip seperti Upik abu yang menjelma menjadi Cinderella bukan?" Linda kembali tertawa puas. "Upss, Bisa tebak siapa itu?" jari-jari lentiknya mengetuk-ngetuk permukaan meja yang mana membuat Kiana merasa tertekan.


"Apa maksud Mbak Linda membawa saya ke tempat ini? Berbicara tentang kehidupan saya, yang bahkan anda tidak tahu lebih baik dari pada saya sendiri." ucap Kiana yang mulai jengah pada Linda atas ucapan wanita itu.


"Kamu salah Kiana, justru aku lebih tahu bahkan dari pada diri kamu sendiri." Linda menghela napas seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Apa kamu tahu siapa aku? Tanpa aku jelaskan sekalipun kamu pasti sudah tahu siapa aku, bukan? Jadi, aku hanya ingin menekankan posisi kita di sisi Bian." tegas Linda yang langsung pada inti pembicaraan mereka.


"Saya nggak ngerti apa yang Mbak Linda katakan."


"Aku adalah kekasih Bian, calon istrinya, dan aku lebih berhak untuk berada di sisi Bian sebagai pendamping hidupnya karen aku lebih baik dari wanita manapun di dunia ini. Aku yang akan selalu ada di hatinya, bukan wanita manapun hingga saat ini. Sementara kamu, kamu hanya seorang pembantu. Yang bekerja untuk melayani tuannya dan melakukan pekerjaan kotor rumah lainnya karena itu memang pantas kamu lakukan sebagai seorang pembantu. Bisa kita lihat siapa yang lebih baik untuk Bian, hem? Bahkan sedikitpun aku nggak sudi jika dibandingkan dengan seorang pembantu untuk berada di sisi Bian. Aku yang pantas, bukan kamu!"


Kiana menyelami kalimat yang keluar dari mulut Linda mengenai penilaian dirinya. Kiana sadar siapa dirinya. Bahkan tak pernah sedikit pun Kiana berpikir untuk mendapatkan posisi seperti apa yang dituduhkan Linda kepadanya. Ibarat bagaikan bumi dan langit yang saling berjauhan dan tak mungkin untuk saling menggapai jika bukan kehendak Tuhan yang mengizinkan dengan kekuasaannya. Kiana merasa rendah diri.


"Saya nggak pernah bermimpi untuk menjadi apa yang Mbak katakan." balas Kiana bergumam dengan pandangan kosongnya.


"Tapi lain hal dengan apa yang sudah kamu lakukan untuk memanfaatkan keadaan dengan segala kemurahan hati majikanmu. Kamu sudah menjebak Bian dengan cara kotor dan hina, dan itu sangat menjijikan!"


Kiana bergeming, "Itu tidak benar, semua yang Mbak bilang itu tidak benar."


"Harus aku akui kamu memang pintar menggoda Bian, Kiana." rapal Linda sengaja membuat Kiana tertekan.


Kiana menggeleng cepat, "Mbak salah paham, saya nggak pernah atau bahkan berniat menggoda Pak Bian."


Linda membuang pandangannya dari Kiana, ia terlihat berpura-pura sedih untuk menarik simpati Kiana.


"Selama satu tahun ini kami bersama. Berjuang untuk mempertahankan hubungan kami yang tidak mudah. Banyak sekali rintangan yang harus kami lalui sampai sekarang pun tetap sama. Kami saling mencintai. Bian sangat mencintai aku, dan begitu pun dengan aku yang sangat mencintai Bian. Bisa kamu bayangkan, seberapa dalam hubungan kami selama ini? Aku bahkan nggak bisa membayangkan jika suatu saat nanti Bian akan pergi meninggalkan aku, melupakan aku dengan segala kenangan indah yang sudah kami lalui bersama. Meninggalkan jejak-jejak noda yang akan terus membekas dan tidak pernah bisa aku hapus sampai kapanpun."


"Maksud Mbak Linda?" Kiana mulai terpancing dengan perkataan Linda.


Linda tersenyum sinis, "Aku kira kamu bukan orang yang bodoh bertanya seperti itu. Kamu tahu pasti apa maksud dari ucapanku. Apalagi kamu sendiri sudah merasakan hangatnya sentuhan Bian pada malam yang sudah kalian lakukan di belakangku, bukan?" mata Linda menyipit meminta Kiana untuk membenarkan apa yang dia katakan.


"I-itu, Pak Bian, s-saya--"


"Aku tahu semuanya, Kiana. Aku tahu semua apa yang sudah terjadi dalam hidupmu. Jangan terkejut jika aku tahu apa yang sudah kalian sembunyikan dari keluarga Adijaya selama ini tentang apa yang terjadi pada kalian berdua. "


"A-apa maksud Mbak Linda?"


"Oh ayolah Kiana, jangan berpura-pura tidak tahu seolah kamu terus menyembunyikan ini semua. Aku tahu apa yang sudah Bian lakukan terhadapmu, karena Bian sudah menceritakan semuanya padaku. Jangan salah sangka, karena Bian sangat mencintaiku dan aku yakin dia tidak mau kehilanganku, Bian begitu percaya untuk menjelaskan semua yang terjadi pada kalian. Meski aku marah dan sakit hati, tidak menerima jika ada wanita lain yang sudah merasakan kehangatan Bian, aku maafkan. Aku maafkan dia karena Bian adalah lelaki yang sangat aku cintai. Aku yakin jika Bian hanya mencintaiku, tidak ada yang lain. Karena semua itu hanya kesalahan fatal yang seharusnya tidak terjadi diantara kalian. Karena kamu sudah menggoda Bian dengan bujuk rayumu dengan cara yang sangat menjijikan untuk mendapatkannya. Dan kamu sudah merelakan untuk memberikan tubuhmu pada laki-laki milik wanita lain. Tak ubah layaknya seperti seorang pelacur murahan yang menjual tubuhnya untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, Kiana."


Linda bertepuk tangan di depan Kiana dengan berdecak pelan. Membuat mereka menjadi perhatian para pengunjung resto di tempat mereka berada.


"Lantas, apa kamu berpikir Bian menyukaimu sampai rela menyentuh seorang pembantu yang bahkan dia tidak anggap sama sekali keberadaannya jika bukan kamu yang menggodanya? Come on, Kiana! Hey, apa kamu tidak berkaca diri? Lihat?" Linda menunjuk Kiana dari atas kepala sampai dengan kaki untuk menunjukan bagaimana penampilan gadis itu. "And this!" Linda memperlihatkan video panas dirinya bersama Bian yang tengah berciuman di dalam sebuah mobil.


Kiana terhenyak. Ia memalingkan wajahnya agar tak dapat lagi melihat sebuah adegan yang sangat menjijikkan baginya.


Apakah semua itu nyata? Keraguan nampak menyela dalam hatinya.


"See? Apa Bian menyukai wanita seperti ini? Seorang pembantu? Dengan pakaian yang udik dan kampungan? Kamu pikir Bian menyukai wanita bodoh yang tidak jelas asal-usulnya?" Linda menertawakan Kiana. Dia yakin jika Kiana mulai terpancing dengan perkataannya yang sangat menjengkelkan itu.


"Saya tidak mengharapkan Pak Bian menyukai saya," balas Kiana dengan suara yang semakin bergetar. Di bawah meja sana, tangannya terkepal erat seolah menahan gejolak amarah yang tidak dapat ia luapkan. Kiana mencoba untuk bersabar, tapi rasa sakit menjalar begitu saja dihatinya. Sangat sakit dan perih diperlakukan rendah dan dipandang sebelah mata oleh orang lain. Apa salah jika Kiana hidup seperti ini?


"Dan seharusnya kamu sadar diri sejak lama, Kiana. Sampai kapanpun Bian tidak akan pernah kamu miliki, meski dengan cara apapun kamu lakukan karena Bian adalah milikku. Sebesar apapun kamu bermimpi, sebesar apapun kamu bertekad untuk mengubah hidupmu menjadi lebih baik bersama Bian, itu tidak akan pernah terjadi. Karena Bian sangat membencimu, dia tidak menyukaimu, bahkan dia sangat jijik dengan melihatmu saja."


Kiana bergeming, perkataan Linda kembali menusuk hatinya bagaikan sembilah pilu. Perih Kiana rasakan.


"Bian bersikap baik dan peduli terhadapmu bukan karena dia menyukaimu. Karena Bian merasa bersalah karena apa yang sudah dia lakukan. Dibalik sikap baik dan pedulinya, Bian hanya mengasihinimu, Kiana, tidak lebih!"


"Aku tahu hidup seorang diri sangat menyulitkamu selama ini. Terlahir sebagai manusia cacat yang tidak diinginkan oleh siapapun di dunia ini. Apa kamu pernah berpikir kenapa kamu terlahir seperti itu, Kiana? Apa kamu tidak pernah berpikir bagaimana jika kedua orang tuamu sengaja membuang kamu begitu saja karena kamu memang tidak di inginkan oleh mereka karena mereka menganggap kamu sebagai anak pembawa sial?"


Kiana terhenyak mendengar penuturan Linda yang bahkan tidak ingin ia dengar lagi sejak dulu. Lagi dan lagi perkataan Linda berhasil membuatnya semakin merasakan sakit dan perih di ulu hatinya.


"Coba kamu bayangkan Kiana, mungkinkah kamu terlahir sebagai anak dari hubungan gelap kedua orang tuamu karena skandal perselingkuhan? Owh, mungkin juga kamu adalah anak dari hasil pemerkosaan yang dialami ibumu? Atau, mungkin saja kamu adalah anak dari seorang pelacur yang tak jelas siapa ayah kandungnya dari para pria hidung belang di luaran sana? Bisa saja kan? Apa kamu pernah memikirkannya, Kiana?"


"Cukup," tahan Kiana dengan suara bergetar menahan tangis. Tapi sebisa mungkin dia untuk kuat tak menghiraukan perkataan Linda yang semakin menyakiti hatinya.


"No... Kamu harus mendengar semuanya Kiana, ya kamu harus tahu siapa diri kamu sebenarnya. Bila perlu dunia harus tahu siapa kamu. Kamu adalah seorang anak pembawa sial, anak haram yang tidak diinginkan oleh siapapun di dunia ini. Tidak ada yang peduli padamu, Kiana, karena kamu adalah seorang anak haram yang tidak tahu diri."


"Sama halnya seperti bayi yang ada di dalam kandunganmu, dia anak haram, dia anak yang yang tak sengaja ada dan tidak diinginkan oleh siapapun, termasuk ayahnya sendiri. Atau mungkin bisa saja kamu pun ragu dengan ayah dari bayi itu? Sehingga kamu sengaja menjebak Bian agar dapat bertanggung jawab? Picik sekali Kiana, bahkan kamu melempar kesalahan laki-laki lain pada Bian untuk meminta pertanggung jawabannya. Apa serendah itu hingga kamu sering menjajakan tubuhmu pada laki-laki secara sukarela?"


"Jahat sekali," ucap Kiana dengan bibir bergetar. Satu tangannya berpegang erat pada sisian meja menahan beban tubuhnya yang serasa lemas. Dadanya terasa sesak, pandangan matanya berkunang seolah penglihatannya berputar-putar.


"Dunia ini memang kejam, sayang. Siapa yang kuat dia pasti akan bertahan, dan bagi orang lemah sepertimu dunia tidak akan pernah berpihak padamu sampai kapanpun. Percayalah," Linda memegang punggung tangan Kiana yang seketika langsung di tepis oleh gadis itu.


Linda tersenyum smirk, tak ayal ia pun mengusap tangannya sendiri untuk menghilangkan jejak tangan Kiana yang sengaja ia sentuh.


"Upss, sepertinya ada telpon masuk." ucap Linda bersikap tenang. "Aku sudah kira, Bian pasti menelponku." senyumnya sumringah saat melihat nama Bian yang memang tertera dilayar ponselnya. "Ya sayang. Aku tahu kamu pasti kangen, aku udah nggak sabar buat ketemu sama kamu. Oke, aku bakalan share loc tempatnya. Tunggu aku, ada kejutan spesial nanti. Miss u too, honey. Love U," ucapnya dalam panggilan tersebut.


"Sorry, aku harus pergi. Banyak yang harus kami bahas untuk rencana pernikahan kami. Beberapa hari Bian pergi untuk menyiapkan acara pernikahan sepertinya membuat dia rindu denganku." ucap Linda setelah mematikan sambungan telponnya.


Kiana tak bergeming, ia masih tertunduk dengan kerumitan yang ada di kepalanya.


"Bian sudah tidak sabar ingin bertemu denganku. Sepertinya dia ingin melepas rindu sepanjang malam untuk kami habiskan bersama. Oh, malam ini akan menjadi malam yang sangat menyenangkan. Don't be jealous, karena itu nggak pantas buat kamu." Linda bersiap meninggalkan Kiana dengan senyum yang hampir tak pernah pudar dari bibirnya.


"Aku harap kamu dapat mundur dan pergi jauh dari kehidupan kami, Kiana. Pergi dari hidup Bian, karena kamu selamanya akan menjadi beban baginya. Biarkan dia mendapatkan kebahagiaannya, yaitu denganku." ucap Linda sebelum wanita itu benar-benar pergi. "Bye, Kiana. Semoga takdir kali ini tidak lebih beruntung dari sebelumnya." lanjutnya lagi dan pergi meninggalkan Kiana begitu saja seorang diri.


Kiana bergeming dengan mata yang terus berkaca-kaca. Tangannya bergetar, dadanya begitu sesak dirasa, kali ini rasanya ia sulit sekali untuk bernapas. Bahkan untuk sekedar berdiri pun Kiana seolah tak mampu.


Sekuat tenaga Kiana berdiri untuk segera pergi dari tempat itu. Namun tak sengaja Kiana menjatuhkan sendok hingga terdengar suara berdenting di lantai. Sontak semua orang memperhatikan Kiana, penuh dengan tanda tanya dan saling membisik melihat keadaan Kiana yang sangat kacau.


"Mbak, butuh bantuan? Mbaknya baik-baik saja?" tanya seorang pelayan wanita menawarkan bantuan saat melihat Kiana berjalan terseok-seok menuju pintu keluar.


Kiana menggelengkan kepalanya. Ia memaksakan senyum tipis untuk menjawab pertanyaan pelayan tersebut. Ia tetap memilih keluar dengan perasaan yang hancur berkeping-keping meninggalkan tempat yang membuatnya kini merasa menjadi seorang manusia yang hina dan tak berguna di dunia ini.