Secret Love

Secret Love
Chapter 42



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Ya ampun kak, biasa aja kali. Orang lagi mau makan sambil nonton TV, galak bener sama adik sendiri."


"Ya lagian, tadi kamu ngomong sama kakak kayak gitu banget."


"Tapi yang aku omongin benar kan?" Timpalnya.


"Ya iya sih,"


"Dari pada marah-marah tidak jelas kayak gini, udah sebaiknya kakak pikirin aja. Besok kakak mau gimana hadapin ibu, kan besok ibu udah pulang."


"Aduh dek, kamu jangan malah nakutin kakak dengan bicara seperti itu dong. Harusnya kamu itu kasih semangat gitu,"


"Hem tau ah,"


"Mending aku makan aja di kamar, pusing aku lihat kakak kayak gini."


Dia pun kemudian beranjak dari duduknya dan langsung menuju kamarnya.


"Ya ampun, punya adek kayak gitu banget." Gumam ku sambil melihat kepergiannya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Keesokan paginya setibanya aku di sekolah, aku langsung bertemu dengan Agnes yang baru saja keluar dari toilet yang ada di dekat parkiran.


"Nes......" Panggil ku.


"Eh Ran, kamu udah datang juga. Si Daffa mana?"


"Enggak tahu, tadi katanya ada urusan dulu harus ke ruang guru."


"Oh......"


Baru saja aku dan Agnes berniat untuk pergi ke kelas, kami berdua malah di hadang oleh Rachel dan satu temannya bernama Kinan.


"Ada apa ini?" Tanya Agnes.


"Aku ada urusan sama kak Rania, bukan sama kakak."


"Sama aku?"


"Ada apa yah?" Tanya ku kembali.


"Urusan Rania, juga urusan aku juga. Jadi aku berhak tahu juga," sambung Agnes.


"Udahlah Cel," bisik temannya itu.


"Enggak aku hanya ingin tanya aja, sebenarnya hubungan kak Rania sama kak Daffa itu seperti apa sih?"


"Aku merasa heran dan curiga saja sama kalian berdua. Apa mungkin sebenarnya selama ini kalian itu pacaran dan hanya berkedok pertemanan saja." Lanjutnya.


"Eh kalau ngomong tuh di jaga yah....." Ucap Agnes tidak terima.


"Asal kalian tahu aja, jauh sebelum kalian masuk ke sekolah ini antara Rania dan Daffa itu udah dekat satu sama lain. Harusnya kamu udah nggak usah mempermasalahkan hal itu."


"Kalau mau deketin Daffa, ya deketin aja. Dengan cara kamu sendiri, nggak usah bawa-bawa Rania." Lanjut Agnes.


"Ya kan aku cuma nanya aja kak,"


"Ya sebelum nanya di pikir dulu lah, jangan seenaknya kayak gitu." Timpalnya.


"Lagian yah, kamu itu bukan satu-satunya cewek yang berusaha untuk dapatkan Daffa. Ada banyak cewek lain di luar sana yang berlomba buat dapatkan dia,"


"Dari pada kamu berburuk sangka seperti itu, sebaiknya kamu pikirin gimana caranya supaya hatinya Daffa itu terbuka buat kamu."


Agnes yang sudah tersulut emosi pun langsung memilih untuk pergi dan menari ku dari hadapan mereka berdua.


"Emang apa salahnya, kalau pun kamu sama Daffa saat ini pacaran. Toh kalian berdua sama-sama sendiri ini." Ucap Agnes sambil berjalan menuntun ku.


Mendengar ucapan Agne barusan, ada sedikit kelegaan dalam hati aku. Ternyata teman ku sendiri tidak merasa keberatan atau pun mempermasalahkan hubungan aku dan Daffa nantinya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di kelas, Dio yang hendak minum pun jadi sasaran amukan Agnes. Dia langsung mengambil botol minum yang di pegang oleh Dio dan langsung meminumnya tidak tersisa.


"Nes......."


"Kami kesurupan hantu apa sih, masih pagi udah main ambil minuman orang aja."


"Aku haus lah," timpalnya.


"Kenapa sih dia?" Tanya Dio mengarah pada ku.


"Bukannya tadi kamu bilang kebelet, mau buang air besar. Jangan bilang kelepasan lagi,"


"Sembarangan kalau ngomong," bentak Agnes.


"Ya habisnya......."


"Udah nggak usah ribut, itu ada botol minum aku di bawah meja. Kamu ambil saja punya ku itu, nanti gampang aku bisa beli lagi pas istirahat.


Tidak berselang lama, Daffa pun datang dengan membawa bola basket di tangannya.


"Eh Daf," ucap Dio.


"Kamu habis dari mana, tumben nggak bareng sama Rania dan Agnes."


"Ah ini, aku habis ngambil bola dulu ke ruang guru. Kan jam pelajaran pertama nanti kita kosong nggak belajar. Ya buat ngisi kekosongan saja, aku berniat untuk main basket saja." Jelasnya.


"Kedengarannya seru tuh, boleh lah aku pun mau gabung."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Karena kami sudah memasuki akhir dari kelas 3 semester akhir, jadinya akan ada saat dimana kami tidak belajar sama sekali. Sebenarnya bisa saja untuk kami tidak datang ke sekolah, hanya saja dari pada di rumah bingung juga harus melakukan apa jadinya kebanyakan siswa angkatan ku, pada masuk.


Sepeninggal Daffa dan Dio, aku dan Agnes memilih untuk bersantai di taman sambil melihat mereka berdua main basket di lapang. Pada saat itu juga Nizi lewat,sepertinya dia baru saja datang.


Aku yang merasa tidak enak kalau tidak menyapanya sama sekali, aku pun memberanikan diri untuk menyapanya lebih dulu.


"Hai......."


"Kamu baru datang yah?" Tanya ku basa-basi.


"Iya nih, hari ini aku datang kesiangan."


"Sini, kita nongkrong dulu di sini." Ajak Agnes.


"Aku sih mau, cuma ada berkas yang harus aku sampaikan sama wali kelas ku."


"Oh gitu,"


"Lain kali aja yah." Lanjutnya.


Dia pun buru-buru pergi dan sepertinya memang ada yang harus di sampaikan nya. Karena aku melihat dia membawa map coklat di tangannya barusan.


"Apa mungkin dia udah mulai mengajukan untuk masuk kuliah yah?" Ucap Agnes.


"Bisa jadi,"


"Oh iya, ngomong-ngomong kamu mau lanjutin kemana?" Tanya Agnes.


"Belum tahu, aku masih belum memikirkannya."


"Enaknya kemana yah,"


"Kayak nya seru deh, kalau kita coba buat sekolah di luar negri. Kayaknya menantang aja gitu,"


"Entahlah, aku belum memikirkan masalah kuliah nanti."


Saat aku dan Agnes tengah asik ngobrol, aku melihat Rachel tengah berlari menuju lapangan. Sepertinya dia hendak menghampiri Daffa, karena aku lihat dia membawa botol minuman.


"Kamu lihat apa sih, aku kan lagi ngomong ini." Ucap Agnes.


"Itu......." Tunjuk ku.


"Ya ampun, itu anak. Di kasih tahu kayak gitu, malah sepertinya seolah mendapatkan semangat aja dari aku."


"Kita lihat aja, apa yang akan di lakukan Daffa sama dia. Paling dia bakalan mendapatkan penolakan lagi dari Daffa,"


Baru aja Agnes selesai dengan perkataannya, benar saja Daffa sudah berlalu pergi dari lapangan dan hanya meninggalkan Dio dan Rachel saja.


"Tuh kan, apa aku bilang. Enggak akan mudah huat dapatkan hatinya Daffa," lanjutnya.


Tidak lama kemudian Dio yang tinggal sendirian pun menghampiri kami berdua dan langsung duduk di samping ku.


"Lagi rame-rame nya, malah si Rachel datang." Gerutunya.


"Udah ketebak," timpal Agnes.


"Baru aja aku selesai ngomong, udah kejadian aja."


"Terus Daffa pergi kemana?" Tanya ku.