
Ketika Kiana sedang berjalan menuju ke kamarnya, sayup-sayup dia mendengar suara dua orang yang saling berargumen dari arah gerbang hingga membuatnya tertarik untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Dengan langkah kecil-kecil namun pasti, Kiana dapat melihat seseorang yang berada di balik pagar tinggi yang terkunci itu tengah memaki Arif, penjaga keamanan rumah tersebut yang sedang berjaga.
Semakin jelas terdengar oleh Kiana suara seorang wanita yang sejak tadi terus merapalkan nama tuan mudanya-Bian. Terlihat oleh manik matanya sendiri, wanita tersebut adalah seseorang yang
Kiana kenali, Linda. Kekasih Bian yang beberapa waktu lalu pernah menemuinya sehingga ia hapal betul dengan sosok yang berada di balik pagar luar itu.
"Saya bilang buka gerbangnya, kamu budeg ya!" sentak Linda pada Arif yang kekeh tidak mengizinkan wanita tersebut masuk.
"Maaf Mbak, saya nggak bisa buka gerbangnya."
"Saya itu calon istrinya Bian, calon penghuni rumah ini. Jadi sekali saya bilang buka, cepetan buka gerbangnya!" ucap Linda mengada-ngada. Wanita itu kukuh dengan keinginannya untuk dapat masuk ke dalam rumah tersebut.
"Tapi saya tetap nggak bisa buka untuk mempersilahkan Mbaknya masuk. Saya hanya menjalankan tugas untuk menahan siapapun yang tidak berkepentingan untuk masuk ke dalam rumah." jelas Arif yang tentunya sudah mendapatkan perintah dari Bian sebelumnya.
"Heh! Saya itu orang penting di rumah ini. Jadi jangan coba-coba untuk menghalangi saya kalau kamu nggak mau menyesal nantinya." sungut Linda yang sudah tersulut emosi.
"Maaf Mbak, saya tetap nggak bisa."
"Oh... jadi kamu mau di pecat, hah?!" sentak Linda dengan nada tinggi, sembari melipat tangan di dadanya.
Arif terdiam tak lagi membuka suaranya. Ia hanya memperhatikan, tak mengindahkan Linda yang terus berusaha untuk masuk dengan menyentak pagar besi dengan tangannya.
"Bian! Bian!" panggil Linda berteriak memanggil nama Bian yang sungguh sangat menganggu kenyamanan di rumah itu.
"Bian!" panggil kembali Linda yang mendengus kesal karena tak mendapati Bian di sana.
Kiana meringis dari kejauhan saat melihat wanita tersebut terus berteriak memanggil nama tuan mudanya. Ia lebih memilih pergi meninggalkan tempat dimana ia memperhatikan Linda yang terus memaki Arif karena keinginannya untuk masuk ke dalam rumah tidak terpenuhi.
***
Belum lama Kiana memejamkan matanya, namun seketika telinganya cukup awas mendengar suara ketukan pintu dari arah luar kamarnya.
Dengan segera ia turun dari ranjang tempat tidur, kemudian membuka pintu yang menampakkan wajah yang membuat Kiana terkejut dengan kehadirannya di tengah malam itu.
"Pak Bian?" ucap Kiana saat mendapati Bian yang mengetuk pintu kamarnya. Laki-laki itu terlihat lelah, dengan kantung mata yang menghiasi wajahnya. Bibirnya menarik senyuman tipis ketika melihat Kiana yang akhirnya membukakan pintu untuknya.
"Maaf, saya ganggu kamu." ucap Bian sembari menelisik ke arah bagian dalam kamar Kiana.
"Bapak butuh sesuatu?" tanya Kiana, beberapa saat setelah keheningan diantara mereka ketika Bian yang terdiam.
"Pak?" tanya ulang Kiana. Bian masih memperhatikan keadaan kamar Kiana dengan raut muka yang tidak dapat Kiana tebak.
Bian menggeleng pelan. membuat Kiana mengernyitkan dahinya dalam.
"Saya nggak bisa tidur." terang Bian dengan suara pelan, yang mana membuat Kiana semakin mengerutkan dahinya semakin dalam. "Saya nggak bisa tidur malam ini," ucap Bian kembali dengan kalimat yang sama.
"Ya?" Kiana tidak mengerti dengan apa yang Bian ucapkan.
"Kamu belum tidur?" Bian malah bertanya pada Kiana. Yang mana langsung mendapatkan gelengan sebagai jawabannya.
Bian terlihat menghela napas. Sebelum pada akhirnya memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu yang membuat Kiana terkejut bukan kepalang dengan ungkapan Bian pada malam itu.
"Boleh saya nginap di kamar kamu? Saya nggak bisa tidur sejak tadi. Entah kenapa saya selalu kepikiran tentang dia." ungkap Bian seraya menunjuk ke arah perut Kiana yang terdapat buah hatinya. "Saya selalu ingin dekat dengannya." lanjutnya lagi.
Kedua bola mata Kiana membulat penuh. Ia terperangah dengan perkataan Bian.
Jadi, malam ini pria itu akan bermalam di kamarnya? Sengaja ingin tidur bersama dalam satu ranjang yang sama? Atau, apakah ini hanya sebuah mimpi?
Kiana tidak dapat berkata-kata. Ia cukup terkejut dengan ungkapan Bian barusan.
Kiana nampak berpikir keras, ia tidak tahu harus berkata apa saat Bian masih berdiri di ambang pintu kamarnya dengan wajah memelasnya.
"Nanti banyak orang yang tahu. Bapak pasti dapat masalah." imbuh Kiana akhirnya. Cemas jika nanti akan mengakibatkan masalah kedepannya.
"Hanya malam ini saja, boleh?" ungkap Bian. Memohon agar Kiana dapat mengizinkannya masuk.
Kiana terdiam. Ia masih menimbang permintaan Bian yang membuatnya bimbang dan tak dapat menolak kuasa permintaan tuan muda yang kini berstatus sebagai suaminya.
***
Kiana terbangun dari tidurnya yang terasa lelap setelah mendengar samar-samar suara adzan subuh yang berkumandang dari pengeras suara di sebuah mesjid di komplek perumahan mewah tersebut.
Beberapa kali ia mengerjapkan matanya, berusaha terbangun dari tidurnya untuk segera menunaikan kewajibannya di pagi yang masih gelap dengan dinginnya udara yang menusuk sampai ke pori-pori kulit.
Hendak bangkit dari berbaringnya, sebuah tangan besar melingkar di pinggang dan area perutnya dengan begitu posesif, menahan Kiana yang hendak bangun dan turun dari ranjangnya.
Kiana terkesiap. Ia sempat terkejut dan tidak menyadari jika semalaman ada seseorang yang menemaninya tidur dalam ranjang yang sama, dan pelakunya adalah Bian.
Pria itu menghiba dan memelas. Meski Kiana sudah berpikir dalam-dalam untuk menerima keberadaan Bian yang sengaja datang menemuinya, tapi tetap saja pria itu masuk dengan tidak sabarnya seraya menariknya ke dalam kamar.
Dan disinilah mereka berada. Tidur saling berdampingan, bahkan Kiana ingat betul kalau Bian tak mau melepaskan barang sejenak pun dan terus memeluknya erat sepeti takut ia akan pergi meninggalkannya.
Kiana mendesah.
Kiana berusaha melepaskan belitan tangan Bian di tubuhnya. Deru napas pria itu masih teratur, pertanda Bian masih tertidur dengan begitu lelapnya. Tapi, ia susah sekali untuk melepaskan tangan Bian yang masih tenang bertengger di perutnya. Kiana menghela napas pelan setelah pada akhirnya berhasil menyingkirkan tangan besar milik Bian dan segera berlalu untuk mengambil air wudhu.
Mata Bian mengerjap setelah merasakan tangannya terus meraba hanya menyentuh permukaan kasur yang terbalut kain sprei yang serasa dingin.
Ia tidak mendapati Kiana di sampingnya. Gadis itu tidak ada. Ia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruangan kecil itu untuk memastikan Kiana memang berada di sana bersama dirinya sejak semalaman.
Bian masih ingat sekali dengan jelas, jika ia dapat tertidur setelah memeluk erat Kiana dan sedikit menghirupi aroma manis dari tubuh Kiana yang membuatnya tenang.
"Ki..." panggil Bian dengan suara serak khas seperti orang baru bangun dari tidurnya. Ia mendudukkan dirinya meski masih terasa pusing. Bian mencoba mengumpulkan kesadarannya, seraya mengucek kedua matanya yang serasa berat.
"Kiana?" panggilnya kembali dengan perasaan mulai tidak tenang.
Baru saja Bian akan menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang yang terdengar berderit kecil karena aktifitasnya, ia tertegun saat melihat sosok gadis yang ia cari tengah melipat mukenah dan sejadah yang baru saja Kiana kenakan.
"Kia," panggilnya lagi, yang mana membuat Kiana menoleh pada sang pemilik suara.
"Bapak udah bangun?" tanya Kiana. "Maaf, saya nggak bangunin Bapak tadi." imbuhnya lagi.
Bian menggeleng pelan, seraya memberikan senyuman manis di bibirnya. Ia merasa lega, gadisnya itu ternyata tidak kemana-mana. Ia cukup khawatir jika Kiana benar-benar meninggalkannya sendirian.
"Nggak apa," ucapnya. Ia terus memperhatikan Kiana yang kembali pada kegiatannya, sejurus kemudian melihat Kiana yang mendekat padanya membawa kain mukena dan sejadah yang sudah terlipat rapi.
Kiana meletakkan perlengkapan ibadahnya di atas nakas dekat dengan Bian yang terduduk di sisian ranjang.
"Waktunya masih panjang. Bapak--" Kiana tercekat saat merasakan Bian tetiba memeluknya dengan menyandarkan kepala pada bagian perut depannya. Bian menempelkan wajahnya tepat di sana. Merasakan keberadaan makhluk kecil miliknya yang tengah bertumbuh kembang dengan mata yang terpejam.
"Saya pikir kamu pergi," ucap Bian masih menempelkan sisi wajahnya di perut Kiana. "Saya sudah pernah bilang nggak bisa tidur kalau jauh dari dia." lanjutnya lagi, seraya terus mengeratkan pelukannya pada Kiana.
Sesekali Bian menciumi permukaan perut Kiana tanpa sadar, membuhuhi setiap kecupan pada calon bayinya yang semakin membuatnya merasa memiliki.
Kiana termenung. Saat melihat Bian kembali tertidur dengan posisi terduduk sembari memeluknya setelah mengatakan sepenggal kalimat yang membuatnya banyak memikirkan banyak hal tentang hubungan mereka.
"Saya bingung dengan hubungan rumit ini, Pak. Jangan buat saya semakin berharap dengan sikap peduli yang sering Bapak tunjukkan pada saya selama ini..." gumamnya pelan dengan membelai lembut kepala Bian yang terus mengeratkan pelukan pada tubuhnya.