
Linda menghampiri Bian dengan sorot mata penuh dengan kemurkaan. Tak gentar terus memberanikan diri menatap pria yang dirasanya masih bertahta di hatinya itu dengan tatapan benci meski ia sadari Bian tengah menatapnya dengan tatapan tak kalah menyalang.
Pria itu masih terduduk tenang di kursi kebesarannya. Tetap waspada pada apa yang akan dilakukan oleh wanita yang pernah mengisi hari-hari di hidupnya itu yang penuh dengan rekayasa kebohongan.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat tepat pada pipi kiri Bian sehingga meninggalkan bekas jemari tangan Linda di sana.
Perih dan panas Bian rasakan. Tapi tidak seperih dan sesakit hati Bian yang dia rasakan jika mengingat pada apa yang telah dilakukan oleh wanita yang pernah ia sayangi. Tetapi itu dulu, lain hal dengan sekarang. Bian benci pada wanita itu. Bahkan Bian dapat merasakan perasaan jijik dan muak jika melihat wajah Linda yang dulu ia puja karena kepolosannya.
"Berengsek kamu, Bian!" teriak Linda dengan napas memburu seolah tengah menghakimi Bian yang bersalah di matanya.
"Bajingan! Keparat!" umpat Linda dengan kata-kata kasar menyuarakan isi hatinya yang dipenuhi dengan amarah yang menguasainya.
"Maksud kamu apa giniin aku, hah?!" teriak wanita itu mencaci maki Bian yang tak pernah ada puasnya.
"Tega kamu! Jahat! Laki-laki bejat!"
"Kamu udah hancurin hidup aku, berengsek!" caci maki Linda semakin menjadi.
Bian menyeringai sinis mendengar umpatan demi umpatan yang dilontarkan oleh Linda untuknya. Memegang sisi kiri pipinya yang masih terasa perih karena bekas tamparan Linda, Bian berdiri dari duduknya bersiap untuk mempersenjatai dirinya mengakhiri segalanya yang ia rasakan sangat memuakkan.
"Puas?" ucap Bian dengan nada dingin penuh penekanan. "Kamu bilang aku laki-laki jahat? Laki-laki bejat? Berengsek, hem?" Bian terkekeh sinis seraya berjalan mengitari meja kerjanya untuk lebih mendekat pada Linda.
"Katakan, katakan sekali lagi dari sisi mana kamu bisa menilai aku dengan mudahnya sebagai laki-laki berengsek seperti yang kamu bilang, hem? Katakan Linda!" Suara Bian mulai meninggi. Membuat Linda sedikit memundurkan langkahnya menjauh dari Bian yang semakin mendekat padanya dengan raut wajah yang menakutkan. Bukan seperti Bian yang dia kenal dulu. Yang penuh dengan kelembutan, kasih sayang, dan perhatian yang dia sukai selama ini. Kali ini, Bian sangatlah berbeda.
"Katakan Linda, katakan dengan mulutmu itu!" deram Bian menekan Linda.
"Ya, kamu pria berengsek. K-kamu udah buat aku hancur, Bi!" ungkap Linda tak kalah meninggikan suaranya.
Bian tertawa sumbang. Pintar sekali wanita yang ada dihadapannya kini memainkan peran. Seolah-olah dia yang bersalah dan Linda yang menjadi korban karena Bian telah membongkar kebusukan wanita itu.
"Kamu nggak bisa buat aku seperti ini. Karirku hancur karena kamu, Bian! Kenapa kamu begitu tega sama aku? Apa salahku?"
"Tega? Kamu bilang aku tega? Kenapa tidak, hem? Aku bahkan bisa membuatmu lebih menderita dari apa yang kamu dapatkan sekarang. Apa pernah kamu berpikir apa yang sudah kamu lakukan padaku dan juga keluargaku selama ini?"
"Dan kamu nggak bisa berbuat semau kamu untuk ngehancurin aku!" teriak Linda. Ia frustasi karena Bian benar-benar melakukan hal yang ia sendiri tidak dapat duga. Linda melempar Bian dengan semua benda yang ada di dekatnya, bahkan sampai memukuli tubuh Bian dengan tangannya.
Karena Bian, Linda mendapatkan perlakuan buruk dan sangat memalukan dari orang-orang di tempat ia bekerja.
"Cukup! Gue bilang cukup! Jangan pernah lagi lo berani sentuh gue dengan tangan lo yang kotor itu!" Bian menahan tangan Linda yang terus memukulinya tanpa henti.
"Kamu udah berubah Bian, kamu udah berubah! Gara-gara pembantu wanita licik sialan itu kamu berubah sama aku! Apa salah aku..." Linda menangis terisak-isak sembari terus memukuli dada Bian yang dengan sebisa mungkin pria itu hindari.
"Jaga ucapan kamu, Lin! Kiana bahkan jauh lebih baik dibandingkan wanita manapun di dunia ini, termasuk kamu! Jangan pernah berkata buruk tentang Kiana jika kamu tidak mau menerima akibat yang jauh lebih mengerikan dari sekarang." tekan Bian, tidak terima jika nama Kiana terbawa-bawa pada masalah mereka. Kiana tak bersalah. Bian lah yang bersalah karena sudah menarik Kiana pada pusaran ini. Dan penyebabnya adalah Linda. Wanita itu yang sudah memulai dan menyingkap tabir sehingga menuntun Bian pada kebenarannya.
"Nggak," Linda menggelengkan kepalanya. "Dia yang udah rayu kamu, Bi. Dia wanita licik yang mau merebut kamu dari aku. Kamu harus sadar, pembantu itu penyebab masalah diantara kita..." lirihnya dengan suara sesenggukan.
"Ya, dan itu semua berkat kamu, Lin. Aku sangat bersyukur dengan adanya masalah ini. Mata hatiku kini terbuka. Aku dapat mengenal gadis sebaik Kiana. Dan justru aku sangat berterima kasih karena kamu sudah menunjukan siapa jati diri kamu sebenarnya. Aku sangat menyesal karena sudah tidak mendengar kedua orang tuaku tentang perilaku burukmu di belakangku."
Linda terdiam tak dapat lagi menjawab. Apa yang Bian katakan padanya semuanya benar adanya. Dialah yang salah. Tapi itu pun bukan kesalahan dia sepenuhnya. Dia hanya terpaksa untuk melakukannya.
Sejujurnya saat ini Linda cukup takut dengan sikap Bian yang diluar dugaannya tersebut. Ia pikir Bian tidak akan seperti itu, jelas sekali terlihat oleh mata kepalanya sendiri pria itu dikuasai oleh penuh kebencian terhadapnya.
Ia khawatir jika Bian melakukan sesuatu diluar dugaannya. Menyakitinya mungkin. Ya, bisa saja itu tejadi. Bagaimana pun ia telah menyakiti pria yang cukup ia cintai itu. Dengan segala tipu daya yang dia lakukan untuk menjerat dan memanfaatkannya demi tujuan yang selama ia rencanakan.
"Aku terpaksa melakukan ini semua, Bi. Aku di jebak. Sadewa yang sudah memaksa aku buat ngelakuin ini semua. Kamu harus percaya sama aku. Aku nggak mungkin punya niatan jahat sama kamu. Karena aku cinta sama kamu, Bian..."
"Omong kosong!" Bian berdecih saat mendengar Linda berkelit membela dirinya sendiri. Sejurus kemudian ia kembali tertawa sumbang. "See? Sadewa? Who is he?"
"Bi... a-aku bisa jelasin semuanya. Aku--"
"I don't care. Aku bener-bener udah nggak peduli apa yang akan kamu katakan dan apa yang kamu lakukan. Kamu yang mempermalukan diri kamu sendiri, bukan aku." ucap Bian dengan nada dingin.
"Bi... aku terpaksa ngelakuin ini karena ibuku membutuhkan biaya besar untuk rumah sakit. Aku terpaksa mengiyakan tawaran Sadewa. Pada awalnya aku memang melakukannya, tapi seiring berjalannya waktu bersama kamu, aku semakin yakin kalau aku sayang dan cinta sama kamu. Aku minta maaf udah berbuat kasar sama kamu karena aku nggak suka lihat kamu dekat sama pembantu sialan itu. Please... aku mohon sama kamu, Bi..."
"Kamu ingat bagaimana hari-hari yang udah kita lewatin bersama? Kita bahagia Bian. Kamu bahagia sama aku. Kamu juga cinta sama aku. Aku terpaksa menjadi seperti apa yang orang-orang bicarakan tentang aku karena Sadewa terus menekan dan mengancamku kalau aku nggak bisa sama kamu. Itu yang buat aku marah, kecewa dan malu, sampai aku kembali nekat datang nemuin kamu."
"Sumpah demi apapun aku sayang dan cinta sama kamu, Bian. Nggak ada yang lain, cuma kamu!"
Bian termenung mencerna apa yang dikatakan oleh Linda untuk meyakinkannya kembali. Bian nampak berpikir menimbang dengan akal logikanya.
"Oh ya? A-apa yang kamu katakan itu benar, Lin?" balas Bian dengan lirih. Ia menatap Linda sendu dengan raut wajah yang tidak dapat wanita itu artikan.
Melihat Bian yang sepertinya mulai luluh olehnya, Linda tersenyum seraya menganggukkan kepalanya dan meraih tangan Bian yang kemudian ia genggam dengan erat.
"Iya, Bi. Kamu harus percaya sama aku. Aku sayang sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu, Bi..." ungkap Linda dengan senyuman yang mengukir di bibirnya.
Bian tersenyum nanar. Ia melepaskan genggaman Linda yang sebelumnya ia usap dengan lembut punggung tangan wanita itu.
"Aku akan percaya apa yang kamu katakan, Lin. Tapi setelah kamu bisa menjelaskan ini semua," senyumnya lagi yang membuat Linda mengerutkan keningnya.
Wajah yang masih dipenuhi oleh sisa-sisa lelehan air mata itu nampak kembali berubah muram setelah Bian memperlihatkan sebuah file yang membuat Linda seketika mematung tak dapat berkata-kata.
"Seharusnya kamu bertanya pada diri kamu sendiri. Kenapa semua orang yang peduli sama kamu berubah secepat itu, karena itu semua perilaku dan perbuatan yang kamu lakukan selama ini, Lin." ucap Bian.
Linda membekap mulutnya sendiri tak percaya pada apa yang tengah dia lihat. Wanita itu kembali beruraian air mata. Tampak Linda menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sebuah bukti yang Bian tunjukkan berupa foto-foto milik wanita tersebut yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana kejahatan yang dilakukan oleh Linda dan juga Sadewa.
Linda semakin terhenyak tak menyangka saat melihat gambar dirinya yang tengah memadu kasih dengan Sadewa pada hubungan yang terlarang selama beberapa tahun ini. Ia tak menduga bagaimana bisa Bian mendapatkan foto-foto dirinya yang tengah menikmati kebersamaannya bersama Sadewa dari waktu ke waktu. Terlebih Sadewa merupakan suami dari seorang istri, yang artinya dia merupakan wanita simpanan dari pria berumur tersebut.
"Bukan aku yang sudah menghancurkan hidup kamu, Linda. Tapi kamu sendiri yang sudah menghancurkannya. Bahkan kamu bisa merasakan bagaimana sangat menjijikannya melihat diri sendiri berbuat hina seperti itu dengan suami orang lain."
Linda mengepalkan tangannya di bawah sana. Meremas gambar dirinya seraya menatap Bian dengan tatapan seolah menantang karena pria itu telah mempermalukannya.
"Jo," ucap Bian saat melihat Jo memasuki ruangannya. "Semuanya selesai. Tolong bawa dia keluar dari ruangan ini. Karena mulai detik ini, saya sudah tidak memiliki urusan dengan dia."
"Baik, Pak." balas Jo, yang langsung menyeret paksa Linda untuk keluar dari ruangan bosnya. "Silahkan ibu ikut dengan saya."
"Lepas sialan! Jangan pernah berani-beraninya kamu sentuh saya!" teriak Linda menepis tangan Jo yang hendak membawanya keluar dari tempat itu dengan cara memalukan.
"Aku nggak akan pernah menyerah, Bi. Kamu itu milik aku. Selamanya kamu itu milikku. Aku bakalan pastikan nggak akan ada wanita manapun yang dapat bersanding sama kamu selain aku. Terutama pembantu sialan itu!" ucapnya tak main-main sesaat sebelum wanita itu pergi dari hadapan Bian.
Bian menghela napasnya panjang. Ia menyugar rambut kepalanya ke belakang dengan perasaan tak tenang. Sekelebat bayangan Kiana memenuhi kepalanya.
Bian mengesah pelan. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Maafkan saya, Kia..."