
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Mulut lo! pengen gue gue geprek sama sambel ijo, pedes banget dah!" sahut Chiko dengan melirik tajam kearah z
Skala yang tertawa.
"Canda, Chik. Keren lah, berarti dia rela panas panasan demi jagain kantor gue."
"Enggak juga kayanya, die Item dari lahir gue rasa."
"Anjiiiiiiiir, lebih parah dari gue kalo ngomong!" seru Skala yang kini gantian Chikolah yang tertawa.
Begitulah dua pemuda itu jika sudah bersama, canda tawa dan ledekan selalu saling mereka layangkan meski tak jarang juga keduanya berdebat walau tak sampai bertengkar. Hubungan pertemanan yang terjalin cukup lama itu siapa sangka akan di bumbu cinta segitiga diantara Skala, Chiko dan Nara.
.
.
Keduanya pulang ke kediaman Rahardian karna mobil Chiko berada disana. Sebelum ke kantor ia memang akan lebih dulu menjemput Sang Tuan Muda.
"Jangan langsung pulang, temenin gue dulu maen game, Ok," titah Skala yang tak ingin ada bantahan.
Chiko tak menjawab karena itu akan membuang tenaganya saja. Skala yang tumbuh menjadi anak tunggal dengan keluarga yang lain dari sepupunya tentu terbiasa di turuti semua maunya, terutama oleh Ibun Ameena. Wanita yang kini sudah hijrah menjadi istri solehah seperti madunya itu memang sangat memanjakan Skala. Ia yang sulit untuk hamil yang bisa mencurahkan rasa keibuannya pada anak suaminya dari istri yang lain. Begitupun dengan Skala, jika sudah pusing dan bosan mendengar ceramah dari Ibu, ia akan berlari kedalam dekapan Ibunnya.
Chiko yang sudah terbiasa keluar masuk rumah mewah itu langsung menuju kamar sahabatnya di lantai dua karna Skala barusan di panggil oleh Ayah keruangannya, karna Skala ingin bermain Game tentu Chiko langsung menyiapkannya termasuk membuka kemejanya dan hanya memakai kaos dalaman.
Cek lek
"Kenapa?" tanya Chiko saat melihat Skala masuk dengan raut wajah merengut.
"Ada Uncle Gala tadi, masa kita akhir bulan langsung ke luar kota, males banget gue," keluhnya kemudian.
"Namanya orang kerja ya begitu. Dulu pas kuliah lo pengen cepet lulus, ini lo udah lulus masih aja ngeluh. Gak ada besyukurnya banget idup lo, heran gue. Tukeran yuk!"
"Dih, ogah," tolak Skala dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Chiko yang mulai kesal pada tingkah sahabatnya itu.
"Ntar jodoh gue ketuker, gak mau!" cetusnya sambil membayangkan hal itu terjadi.
"Jodoh lo masih abu-abu, gak jelas nampaknya dimana. Udahlah sikat aja yang ada didepan mata. Jangan sampe lo do'ain jodoh orang," ucap Chiko sambil menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
Skala hanya mencibir, Wanita yang melahirkannya saja tak mempan merayunya. Apalagi hanya seorang Chiko. Jika hatinya sudah ke satu tujuan, jangan harap ada yang bisa memanggilnya untuk memutar arah.
"Yang depan mata gak asik, udah jelas modelannya kaya gimana, ini kan masih misteri. Belom aja lo ngerasain," ujarnya yang lagi dan lagi berbicara dengan percaya diri.
"Rasain apa?" tanya Chiko tak paham meski ia tahu tentang kisah Si gadis bawah pohon.
.
.
.
Curhat sama Tuhan tapi gak tau yang di omongin siapa!