Secret Love

Secret Love
Keputusan



"Hampir jam 12 siang, Dim. Saya minta semuanya sudah siap seperti yang saya mau." ucap Bian yang terlihat sedang membuka belitan dasi di kerah bajunya.


"Hampir selesai, Pak. Semua sesuai dengan instruksi yang sudah Bapak sampaikan sebelumnya. Bapak tenang saja, sebelum kita sampai di tempat saya yakin semuanya akan selesai tepat pada waktunya." jawab Dimas yang terlihat lebih sibuk dari pada biasanya. Laki-laki itu menyempatkan menjawab pertanyaan Bian yang sejak tadi terlihat lebih bawel dan tidak sabaran. Apalagi saat ini satu ponsel tengah dia tempelkan di telinganya untuk menjawab sebuah panggilan penting.


"Ck, saya mau sekarang harus selesai, Dimas. Bukan nanti!" decak Bian yang tidak terima saat para pegawainya bekerja sangat lamban dalam menyelesaikan masalah kecil.


"Baik Mas, saya mohon bantuannya ya. Saya minta maaf kalau acaranya sangat mendadak. Saya percaya Mas dan juga tim pasti bisa bekerja secara profesional. Sekali lagi, saya meminta bantuannya ya." jawab Dimas pada sambungan telepon di telinganya, yang kemudian tidak lama laki-laki itu memutus panggilannya. "Udah ok, Bapak puas?" tanya Dimas saat melihat Bian sedang manggut-manggut tak jelas.


"Satu lagi, Dim..." Bian nampak berpikir dalam-dalam memutuskan satu hal yang dia kira akan menjadi lebih baik.


"Apa?"


"Elang dan juga Daniel. Mereka harus datang ke tempat itu. Tapi saya nggak yakin mereka bisa nyempetin datang apalagi ini jam-jamnya sibuk di kantor."


"Jadi saya harus gimana ini?" tanya Dimas ikut-ikutan berpikir. Kemauan atasannya itu semakin aneh dan diluar dugaan. Dimas semakin bingung dibuatnya. Sesuatu permintaan yang sangat mendesak dan juga mendadak diluar dari konteks pekerjaannya di perusahaan itu. Ya, tapi namanya juga asisten pribadi. Jadi segala urusan dan kepentingan pribadi atasannya itu sudah berupa satu paket menjadi tanggung jawab dalam pekerjaannya.


"Saya yang kabari saja, kamu tetap fokus sama apa yang harus kamu lakukan."


Dimas menganggukkan kepalanya. "Bapak yakin dengan semua ini?" tanyanya ikut memastikan pada apa yang akan Bian lakukan. Dia khawatir kalau semua yang akan atasannya itu lakukan membuatnya merasakan penyesalan suatu hari nanti. Walau Dimas sendiri tahu, Bian tidak akan main-main kalau sudah mengambil suatu keputusan yang menyangkit tentang harga dirinya. Apalagi keputusannya kali ini akan mengubah segala bentuk kehidupan dari atasannya itu.


"Saya nggak pernah seyakin ini Dim dalam memutuskan tentang apapun mengenai jalan kehidupan saya. Termasuk yang satu ini. Saya yakin teramat sangat yakin, meski kamu terus menyuruh saya untuk berpikir berulang kali, sepertinya kamu nggak akan pernah berhasil." ungkap Bian dengan keyakinannya. Dia memantapkan hatinya jika apa yang dia putuskan saat ini memang yang terbaik bagi mereka.


"Lalu bagimana dengan Pak Hardi dan Bu Ajeng? Apa kedua orang tua Bapak tahu sama apa yang akan Bapak lalukan? Bukannya mereka masih berada di Belanda? Bagaimana pun juga, mereka berhak tahu sama apa yang akan Bapak lalukan hari ini. Maaf Pak sebelumnya, bukan saya ingin menggurui Pak Bian. Tapi bagaimana perasaan mereka jika Pak Bian sama sekali tidak memberitahu. Apalagi ini menyangkut masa depan anak mereka, Bapak sendiri."


Bian menghela napas pelan. Ia meraup udara sebanyak mungkin untuk melegakan sesakkan napas yang menghimpit dadanya.


Satu tangan Bian rogohkan ke dalam saku celana kerja formalnya, seraya kedua manik matanya menatap ke arah luar jendela kantornya yang tersekat oleh kaca bening, menampilkan jajaran gedung pencakar langit yang bersinar diterpa cahaya matahari bagaikan berlian yang berkilauan.


"Saya harap mereka bisa mengerti dengan keadaan dan keputusan saya sebagai anaknya. Saya nggak bisa membiarkan orang lain hidup lebih menderita lagi karena kesalahan yang sudah saya buat. Lari dari tanggung jawab seperti laki-laki pengecut, yang tidak memiliki perasaan dan abai pada hasil buah yang dia tanam sendiri."


Bian membalikkan badannya pada Dimas yang masih berdiri di belakangnya. Sejenak ia menundukkan kepalanya ke arah bawah, melihat kedua kakinya yang terbungkus sepatu hitam dengan brand kenamaan. Ia menggerak-gerakkan satu kakinya untuk mengurangi kegugupan yang tiba-tiba menyerangnya yang semula masih terlihat percaya diri.


"Pukul 12, Pak." Dimas mengingatkan Bian yang saat ini mengangkat kepalanya melihat wajah dari asistennya itu.


Bian menganggukkan kepalanya. Ia berjalan memutari meja kerjanya untuk meraih jas dan ponselnya.


"Saya mengandalkanmu, Dim. Cuma kamu yang tahu bagaimana keadaan saya saat ini. Walaupun sering banyak menyebalkan, tapi kamu yang terbaik. Saya bisa apa," sindir Bian dengan muka memelasnya. Terlihat sangat-sangat menyebalkan bagi Dimas yang melihatnya.


"Apa boleh buat Pak, Bapak yang gaji saya. Saya cuma bisa mendoakan yang terbaik." gumamnya pelan, sembari mengekori Bian dari belakang. "Dasinya nggak dipakai, Pak? Dibawa aja gitu sekalian, kenapa ditinggalin?"


"Nggak perlu, saya makin ganteng kalau lagi lepas dasi." tolak Bian. "Ayo, Dim. Saya nggak mau telat di acara paling penting dalam hidup saya." ujar Bian melangkah dua kali lebih cepat dari biasanya.


"Iya, Pak iya... nggak sabaran banget." Dimas geleng-geleng kepala melihat kelakuan atasannya itu.


***


Joko terpogoh-pogoh berlarian kecil memasuki ruang demi ruang di dalam rumah besar itu. Napas pendek-pendek yang tersengal karena lelah berlarian dari depan rumah menuju ruang dapur membuatnya kehilangan banyak pasokan oksigen di dalam paru-parunya.


"Mbok," panggilnya saat mendapati wanita paruh baya di tempat itu sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Bukan, Mbok. Kopi masih aman ya walau udah dingin. Ini lebih penting lagi dari pada urusan kopi."


"Apa?"


"Kiana mana?"


"Tiba-tiba tanya Kiana, memang ada urusan sepenting apa sampai mencari Kiana?"


"Di depan ada orang suruhannya Pak Bian. Cari Kiana. Mau dibawa katanya." jelas Joko dengan sebenarnya.


"Pak Bian cari Kiana? Mau dibawa kemana, Joko?" tanya Mbok dengan dahi yang mengerut dalam.


"Saya juga nggak tahu. Yang penting sekarang Kiana nya mana? Pak Bian nyuruh buat bawa Kiana jangan lama-lama katanya."


"Ada apa Pak Joko cari saya?" ucap Kiana yang baru saja datang membawa keranjang pakaian kering dari arah belakang. Kiana menyimpan keranjang tersebut sementara di lantai, kemudian menghampiri Mbok dan Joko yang sedang berbicara.


"Nah, ini yang dicari-cari. Di depan ada yang nyariin kamu, Ki. Suruhannya Pak Bian. Mendingan sekarang kamu temui dulu mereka. Jangan lama-lama, nanti Pak Bian marah. Ayo,"


Kiana mengangguk, dia mengikuti Joko untuk menemui orang-orang suruhan Bian dengan segera. Walau penasaran dan hendak ingin bertanya pada Joko, tapi Kiana urungkan karena ia tidak bisa membantah apa yang perintah tuan mudanya itu.


"Ini Kiana nya, Mbak." ucap Joko pada salah satu wanita yang sedang menunggu di ruang tamu. "Saya permisi kembali pos."


"Makasih pak." jawab wanita itu yang di balas dengan anggukkan kepala dari Joko. "Mbak Kiana ya? Maaf, saya ganggu waktunya Mbak yang pasti sedang sibuk. Perkenalkan, saya Dea, salah satu karyawan di perusahaan Adijaya. Utusan Pak Bian untuk membawa Mbak Kiana sekarang juga. Karena pastinya beliau sudah menunggu sejak tadi." jelas wanita itu, yang mana membuat Kiana kurang paham oleh penjelasannya.


"Iya, saya Kiana. Maaf, Bu. Saya mau di bawa kemana ya?"


Wanita tersebut tersenyum ramah, ia mengulas senyum sebelum menjawab pertanyaan Kiana.


"Bertemu dengan Pak Bian."


"Untuk apa ya? Saya masih banyak kerjaan, nggak bisa ninggalin Mbok Sarmi sendirian di rumah. Nanti kerepotan kalau saya pergi."


"Nggak apa-apa. Malahan Pak Bian menyuruh Mbak Kiana untuk meninggalkan pekerjaannya. Dan segera ikut dengan saya untuk menemui beliau. Mari Mbak, lebih cepat lebih Baik. Bapak pasti sudah menunggu."


Kiana nampak berpikir sejenak. Sejurus kemudian iya mengangguk pelan untuk mengiyakan ajakan wanita tersebut. Jika tidak, dia sendiri tahu bagaimana sifat Bian jika sedang marah. Laki-laki arogan itu mungkin tidak akan segan-segan mengeluarkan sifat tempramentalnya pada siapapun, termasuk pada wanita yang ada dihadapannya itu jika ia mempersulit keadaan.


"Baik kalau begitu. Ibu Dea nya bisa tunggu saya sebentar untuk berganti baju?"


"Saya kira nggak perlu, Mbak. Mbaknya udah cantik juga. Jadi lebih baik sekarang kita berangkat ya, mari..."


Kiana meringis mendengar pernyataan wanita itu mengenai penampilannya. Entah memang sebuah kalimat pujian atau mungkin juga sindiran untuknya. Kiana tidak tahu itu. Tapi ia cukup sadar diri


Kiana pasrah mengikuti langkah wanita tersebut dari belakang. Ia dengan asal merapihkan helaian rambut yang menjuntai berantakan karena aktifitasnya. Tak lupa sebelum menaiki kendaraan yang akan membawanya, Kiana memandangi sejenak penampilannya yang sangat sederhana dan terlihat kusam itu dengan merapihkan baju kusut yang sedang ia pakai. Sangat kontras sekali dengan penampilan wanita yang ada di depannya itu.


Iya sedikit minder pastinya. Malu dengan penampilannya sendiri. Apalagi tak lama lagi ia akan bertemu dengan Bian di luar sana yang pasti akan membuatnya bagaikan langit dan bumi yang tak berpijak saling berdampingan.


*****