
Kiana berjalan sembari memeluk kedua tangannya, udara dingin yang berhembus setelah hujan deras beberapa saat berlalu membuat sekujur tubuhnya menggigil kedinginan.
Tangannya terulur untuk membuka pintu gerbang depan rumah, berharap jika ada seseorang segera dapat membukakan pintu untuknya.
"Ya ampun Ki, kamu baru pulang?" tanya Arif heran. "Kenapa seperti ini?" lanjutnya lagi saat melihat keadaan Kiana yang kacau seraya membukakan pintu gerbang untuknya.
"Kehujanan," jawab Kiana pendek dengan tersenyum.
"Iya, udah pasti ini kehujanan, kenapa nggak berteduh dulu. Ayo, masuk-masuk!" ucapnya memberikan jalan agar Kiana segera masuk.
"Makasih, Bang Arif."
"Cepat ganti pakaian, nanti bisa masuk angin. Gimana ceritanya kok bisa kayak gini?" cemas pria berusia 32 tahun itu.
"Ya udah, aku ke dalam dulu ya, Bang. Makasih." ujarnya yang dijawab dengan anggukan kepala Arif.
Kiana berlalu untuk segera masuk ke dalam kamar, bergegas mengganti pakaiannya yang memang basah kuyup.
Menutup pintu kamar dengan diri yang bersandar tepat di baliknya. Kiana menghela napas panjang seraya memejamkan mata. Mencoba merasakan kedamaian dalam dirinya, namun tak dapat Kiana rasakan seolah semuanya telah hilang dalam sekejap mata.
Kiana luruh terduduk di atas lantai dingin. Memikirkan nasib di kemudian hari yang akan dilaluinya. Tak terasa air mata kembali mengalir dengan tidak tahu malunya. Harus sampai kapan dia seperti ini? Tidak adakah kesempatan bagi dirinya untuk memantaskan diri? Apa semua itu sangat terlalu sulit untuk dia dapatkan?
Kiana menggelengkan kepala. Memang, semua itu tidak pantas untuk dia dapatkan. Semua itu hanyalah angan mimpi belaka bagi manusia kecil seperti dirinya. Dia tak memiliki apapun untuk memantaskan diri dari orang-orang yang ada di dekatnya.
Ya, hanya Tuhan, hanya Tuhan-nya lah yang dia miliki. Betapa pun besar kecewa hatinya pada takdir yang membayangi, dia cukup merasa lelah dan ingin menyerah. Hatinya sungguh tak kuat seperti orang-orang yang dapat lihat.
Cukup. Dia rasa cukup hanya sampai di sini. Dia menyerah. Dia menyerah dengan semua keadaan yang memberatkannya. Beban di pundaknya terlalu berat untuk Kiana tanggung sejauh ini.
Kiana menenggelamkan wajahnya diantara kedua lutut dengan derai air mata yang membasahi.
***
Suasana rumah nampak sunyi kembali seolah seperti hilangnya kehangatan dalam sekejap mata di dalamnya.
Kiana tersenyum sendu sesaat setelah melayani para penghuni rumah untuk menyelesaikan acara makan malamnya. Bukan karena apa, ia merasakan ada kehampaan diantara sela rutinitas malam itu. Tak nampak terlihat sosok yang selama beberapa hari ini belum dapat juga Kiana lihat wajah bahkan sekedar suaranya saja.
Bian, tuan mudanya. Pria itu tak nampak terlihat di jajaran kursi kosong yang hanya di isi oleh Pak Hardi dan juga Syafira. Mungkin saja pria itu sedang mendatangi kekasihnya. Ya, pasti tentu saja benar. Mengingat terakhir saat ia bersama dengan Linda, wanita itu begitu ceria juga bahagia karena akan bertemu dengan Bian melepas rasa kerinduan diantara mereka yang terhalang jarak dan waktu.
Benar-benar sangat miris Kiana rasakan. Tak disadari olehnya, rasa sakit dan perih begitu lekat terasa dalam hati begitu mendapatkan kenyataannya.
Ada apa dengan dirinya? Pantaskah ia memilki perasaan seperti itu?
Kiana menghela napas. Sungguh tak tahu malu sekali dirinya. Siapakah dia hingga harus merasakan semua itu?
Kiana berwajah sendu saat terus memikirkannya. Kegelisahan tampak begitu terlihat jelas pada dirinya.
'Oh Tuhan... mengapa hati begitu mudah terasa sakit seperti ini?' Kiana mengeluh kesah.
Kiana memukul pilu dada yang terasa menyesakkan. Rumit untuk dapat sekedar ia untuk menjelaskan.
Sekilas ia memperhatikan Pak Hardi dan juga Fira yang tengah menghibur Bu Ajeng. Tampak gadis cantik itu berusaha membuat senyum cerah kembali terukir di wajah ibunya dengan terus berceloteh seperti biasanya. Pak Hardi yang berada di antara ibu dan anak itu hanya mengulas senyum seraya menenangkan istrinya dengan terus mengusap lengan Bu Ajeng.
Kiana tersenyum melihat kehangatan keluarga itu. Meski dalam keadaan sedih, tetapi mereka tetap saling menguatkan satu sama lain. Menghadapi segala cobaan yang datang mengusik kebahagiaan diantara mereka.
"Maafkan Kiana, Bu, Pak, Mbak Fira. Kia sudah menyusahkan kalian semua. Membuat orang-orang baik seperti kalian menanggung beban yang tidak seharusnya kalian rasakan." lirihnya berucap sendu seraya pergi bergegas untuk kembali ke kamarnya.
***
Malam semakin sunyi, rintik air hujan kembali berjatuhan membasahi bumi walau tak sederas sebelumnya. Meski nampak ragu-ragu, Kiana tetap menghampiri Arif yang masih setia bertugas menjaga pos keamanan di depan sana.
"Bang Arif!" panggil Kiana pada pria yang tengah menikmati segelas kopi hitam panas di pos penjagaannya.
Arif menoleh pada Kiana dengan kerutan di dahi saat mendapati gadis itu di tempatnya.
"Kiana?" gumam Arif. Kiana hanya tersenyum seraya lebih mendekat menghampirinya.
"Kamu mau kemana, Ki?" tanya Arif yang penasaran saat mendapati Kiana keluar pada malam hari saat hujan masih merintik dengan payung besar yang melindunginya.
Kiana tak menghiraukan perkataan pria itu, ia tetap menghampiri Arif seraya kemudian menyimpan payung tersebut.
"Aku nggak kemana kok, sengaja kesini mau cariin Bang Arif."
"Ada apa? Ini udah malam, ngapain kamu keluar rumah? Udah masuk lagi sana diluar hujan, dingin." perintahnya pada Kiana.
Kiana hanya terkekeh mendengar kalimat larangan dari Arif untuknya. Layaknya sudah seperti seorang Kakak yang mengkhawatirkan adiknya. Kiana sungguh terenyuh dengan sikap baik dan peduli yang selalu Arif tunjukkan padanya.
"Bang Arif dipanggil tuh sama Pak Hardi," cetusnya.
"Pak Har manggil aku?" tunjuknya pada diri sendiri tak percaya. "Ada apa ya? Serius Ki, aku dipanggil nih?" tanyanya lagi meyakinkan.
"Iya, tadi Pak Hardi pesan sama aku buat panggilin Bang Arif secepatnya juga."
"Gitu ya?" Arif menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal sama sekali. Merasa heran saja, karena selama ia bekerja di rumah ini, jarang sekali orang rumah memanggil dirinya saat malam hari di jam ia sedang bertugas.
"Sekarang?" tanya lagi pada Kiana.
Kiana kembali terkekeh, "Iya, Bapak lagi nunggu di ruang tengah." balasnya meyakinkan pria itu.
"Ya udah, kalau begitu aku kunci gerbang dulu biar aman." ujarnya seraya melangkah hendak meninggalkan Kiana.
"Eh, nggak usah! Lebih baik Bang Arif cepat temui Pak Hardi aja sekarang." cegat Kiana membuat Arif mengerungkan dahinya. "Udah, biar aku aja yang jagain. Mending Bang Arif cepetan masuk, khawatir kalau Bapak nunggu dari tadi."
"Bener nih?" Kiana menganggukkan kepalanya. "Ya udah, tolong tunggu sebentar ya, Ki."
"Iya," balas Kiana. Meringis saat melihat Arif yang tergesa-gesa berlari diantara guyuran hujan meninggalkan pos satpam untuk memasuki rumah. "Maafin Kiana, Bang Arif." gumamnya lirih merasa bersalah karena telah berbohong pada pria itu.
Berhasil melewati gerbang utama rumah itu, Kiana berlari kecil pergi sejauh mungkin menghilang dari pandangan. Bersusah payah dengan beban yang berada pada dirinya, Kiana terus berlari tak berani kembali menoleh ke arah belakang sana, karena sesungguhnya hatinya begitu sakit dan perih kala mengingat orang-orang baik yang berada di dalam rumah itu ia tinggalkan begitu saja tanpa pamit dan secarik pesan sekalipun.
Dalam langkahnya Kiana kembali menangis lirih dalam gemerincik air hujan. Samar terdengar, namun begitu pilu. Tak tega Kiana meninggalkan semua yang sudah menerima apa ada dirinya.
"Maafin, aku Mbok," isaknya ketika mengingat Mbok Sarmi yang ia tinggalkan begitu saja. Tidak dapat ia bayangkan jika wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya itu akan menelan kekecewaan terhadapnya. Merasa kehilangan karena ia pergi begitu saja tanpa pamit kepadanya dan juga tanpa alasan yang berarti.
Kiana terdiam sejenak kala ia merasakan keram di area perutnya. Sebisa mungkin ia menahan rasa sakitnya itu dengan meremas dan menekan dibagian perutnya itu.
"Awww!!!" erangnya menahan sakit dengan buliran air mata yang terus berjatuhan dari pelupuk matanya.
Kiana merapatkan bibirnya, sejurus kemudian ia membekap mulutnya sendiri dengan terus menggelengkan kepalanya. Isakan tangis tak terbendung terus terjadi pada dirinya. Sakit yang ia alami sungguh luar biasa mencekal. Ia terus memeluk perutnya seolah menjaga sesuatu yang berada di dalam sana. Genangan air hujan yang terlihat bercampur menjadi satu dengan mengalirnya cairan pekat berwarna merah yang berasal dari tubuhnya. Kiana berusaha untuk menopang raganya sendiri agar tak terjatuh hingga dapat melukai makhluk kecil yang ada di dalam rahimnya.
Hingga, sebuah tangan besar dengan benda yang menempel erat di indra penciumannya berhasil membuat Kiana merasakan tubuhnya melemah, pusing, sejurus kemudian pandangan matanya mulai kabur dengan menggelapnya dunia beserta dengan isinya.
Apa ini adalah akhir dari segalanya? Apakah ini waktunya ia untuk kembali kepada-Nya? Bersama dengan makhluk kecil yang tak berdosa kini berada dalam genggamannya. Menuntun Kiana untuk kembali pada dekapan sang maha pencipta.
Dalam gelapnya ruang dan waktu, Kiana dapat merasakan sebuah tangan kecil mungil yang memegang erat tangannya. Mengusap lembut wajah Kiana, memberikan kehangatan seolah ia memiliki ikatan yang tak dapat Kiana ungkapkan dengan kata-kata.
Apa ini nyata?
"Ibu," suara kecil berbisik lembut di telinganya. Membuatnya kembali tersadar berusaha membuka mata yang tertutup rapat seolah enggan untuk membiarkannya kembali terbangun.
Apa semua ini hanya mimpi? Atau benar memang dia sudah kembali pulang untuk berada di sisi-Nya?
"Ibu," lagi suara itu berbisik lirih di telinganya.
Siapa kamu?
***
Bian keluar melompat dari kendaraannya setelah berhasil memasuki pelataran rumah dengan deru mesin mobil yang masih menyala.
Dia biarkan begitu saja seraya bergegas berlari secepat mungkin ke arah kamar Kiana melewati jalan setapak menuju area halaman belakang rumah.
Cukup lama Bian mengetuk pintu kamar Kiana, namun sayang itu semua tak membuahkan hasil sama sekali. Hingga ia pun memaksakan diri untuk masuk ke dalam agar dapat memastikan Kiana berada di dalam sana.
Seketika Bian tercengang dengan apa yang dia dapatkan. Ia tak menemukan Kiana di sana. Tak sedikit pun juga barang milik gadis itu ada di sana. Tas besar yang sering ia lihat di samping lemari kecil milik Kiana pun kini tak terlihat. Dan benar saja, isi lemari pun kosong.
Kemana Kiana? Batinnya bertanya-tanya.
Bian keluar dari sana seraya kembali berlari menghampiri Arif dengan langkah besar untuk memastikan sesuatu yang terus mengusik hati dan pikirannya.
"Arif!" panggil Bian tak sabar pada pria yang mematung melihat kelakuan tuan mudanya itu.
"S-saya Pak," balas Arif terlihat takut-takut.
"Kiana?" tanya Bian dengan deru napas yang terengah. Wajahnya menyiratkan penuh kekhawatiran.
"Ada apa dengan Kiana, Pak?" Bingung Arif malah balik bertanya.
Bian mengusap wajahnya frustasi. "Dimana Kiana?!" sentak Bian kesal pada pria itu.
"K-Kiana, tadi saya tinggal di sini untuk menemui Pak Hardi sebentar. Tapi setelah saya kembali, Kiana udah nggak ada Pak." jawab apa adanya Arif.
"Maksud kamu? Kiana minggat?" rasa tak percayanya semakin menjadi.
"Minggat? Nggak mungkin, Pak. Malah saya suruh dia untuk kembali ke dalam sebelumnya karena di luar hujan. Mungkin Kiana ada di dalam rumah, Pak."
Bian menggelengkan kepalanya. "Nggak, nggak mungkin Kiana pergi. Kamu yakin Kiana tidak pergi kan, Arif?!" sentak Bian lagi sejurus ia mencengkram kerah baju seragam Arif dengan rasa kekalutannya.
Arif tampak terlihat bingung, ia pun tak tahu harus menjawab apa. Ada apa dengan tuan mudanya itu? Apa mungkin Kiana pergi? Ah, tapi rasanya itu tidak mungkin. Tapi untuk apa juga tuan mudanya itu seperti khawatir pada Kiana? Arif menerka-nerka apa yang menjadi alasan Bian bertingkah seperti itu.
"Sial!" umpat Bian menggeram. Tak mau membuang waktu, Bian kembali berlari menuju gerbang utama untuk mencari Kiana di sepanjang jalan sebelum ia kehilangan jejak gadisnya.
Terus berlari menyusuri jalanan di bawah rintik hujan yang semakin deras, Bian tak surut terus berusaha mencari keberadaan Kiana. Ia yakin jika Kiana pergi meninggalkan rumah karena Linda. Wanita itu sungguh membuatnya muak. Bian sungguh akan membuat perhitungan pada wanita itu jika terjadi sesuatu pada istri dan anaknya. Bian bersumpah.
"Ki! Kiana!" teriak Bian terus memanggil-manggil nama Kiana. "Dimana kamu, Ki?" ucap Bian lirih dengan suara bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Bian berhenti sejenak, dengan napas yang terengah-engah karena habis berlari tanpa henti. Manik matanya masih awas memperhatikan sekitar untuk mencari Kiana.
Namun tak berselang lama Bian melihat sebuah sorot cahaya lampu yang menyilaukan pandangan matanya. Semakin mendekat padanya dan tak dapat ia hindari sebuah mobil melaju cepat mengarah padanya.
Hingga...
Bruukkk!
Mobil tersebut menabrak Bian yang tak sempat menghindar hingga tubuhnya terlempar cukup jauh dari tempat ia berdiri. Setelah memastikan Bian tak berdaya, mobil tersebut pergi begitu saja menghilang tanpa jejak seperti sengaja meninggalkan Bian yang terkujur lemah di tengah jalan.
Seolah tahu apa yang akan terjadi, sebuah mobil lainnya mendekat dan memperlihatkan seorang wanita yang turun tergesa-gesa menghampiri Bian.
"Bi! Bian!" panggil Linda saat melihat Bian terbaring lemah tak berdaya dengan genangan darah segar mengalir bersama dengan air hujan yang mulai memudar. "Bian!" panggil lagi dengan tangis yang pecah meratapi pria yang dia cintai.
"Nggak, kamu nggak boleh tinggalin aku, Bian!"
"Aaarrrggghhhh!!!!" teriak Linda tak terima melihat Bian yang berlumuran penuh dengan darah dalam pangkuannya.
"Berengsek kamu! Berengsek kamu Sadewa!" teriak histeris Linda mengumpat pada laki-laki yang ia yakini telah membuat Bian celaka karena dirinya.
"Biaaann!!!"
*****