Secret Love

Secret Love
Kesukaan Baru



Hari tak terasa semakin cepat berlalu.


Begitu pun dengan hubungan Kiana dan Bian yang semakin rumit adanya. Apalagi semenjak kejadian yang tak terduga menimpa Kiana saat bersama Bian di sebuah pusat perbelanjaan beberapa waktu yang lalu, membuat hubungan yang baru saja membaik antara Kiana dan Bian kembali merenggang. Gadis itu kembali muram dan seolah menutup dirinya dari siapapun, terutama Bian.


Bian benar-benar sangat frustasi. Memikirkan berbagai macam cara agar Kiana dapat kembali seperti dulu. Gadis itu kembali banyak melamun, entah memikirkan apa Bian juga tidak tahu. Bian pun sering diacuhkan saat menemani Kiana makan di tengah malam seperti biasanya. Didiamkan itu ternyata sangat menyakitkan.


Belum lagi teror demi teror yang dia dapatkan dari mantan kekasihnya, Linda. Wanita itu semakin gencar saja. Terus menerorinya dengan pesan singkat yang tidak sedikit. Bahkan beberapa kali wanita itu kembali nekat menemui Bian di kantornya, setelah jeda waktu beberapa hari dari kejadian di mall bersama Kiana.


Geram dan merasa terganggu dengan ulah mantan kekasihnya itu, Bian akhirnya berencana menunjukkan bukti-bukti yang dia miliki untuk membongkar kebusukan dan kejahatan yang dilakukan Linda selama ini padanya.


"Saya pikir saat ini adalah waktu yang tepat, Pak." ucap Dimas memberikan masukan pada Bian pada rencana yang sedang mereka susun sedemikian rupa untuk membongkar kejahatan mantan kekasih atasannya itu.


Bian nampak berpikir dalam-dalam. Ia tak mau gegabah dalam mengambil keputusan yang nanti pada akhirnya Linda akan mengelak atas tuduhan yang Bian tujukan padanya.


"Menurut kamu bagaimana, Jo?" ucap Bian malah bertanya pada orang orang kepercayaannya.


"Saya sangat setuju dengan ide Pak Dimas barusan. Lebih cepat akan lebih baik. Masalah Bapak akan segera selesai. Dan Bapak juga tentunya akan segera terbebas dari teror ini. Apalagi kita sudah memilki banyak bukti yang mengarah pada Bu Linda dan juga orang yang menjadi otak di balik kejahatan mereka." jelas Jo pada Bian.


Bian mengesah pelan. Kepalanya terasa berat memikirkan ini semua.


Dia pikir, Linda akan melupakannya begitu saja. Mengingat beberapa waktu terakhir Bian cukup mengabaikan dan tidak memperdulikan wanita itu. Tapi ternyata dugaannya salah besar. Wanita itu memang bermuka dua. Pintar memainkan perannya dengan baik. Seolah tidak ada apapun yang terjadi diantara mereka. Padahal dengan terang-terangan Bian sudah mengacuhkannya. Tidak peduli lagi. Tapi Linda sangat-sangat pintar. Wanita picik itu berpura-pura baik, dengan bertopeng wanita rapuh dan manja yang selama ini Bian kenal penuh kebohongan.


"Saya nggak habis pikir, mereka begitu sangat picik menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya." ungkap Bian seraya pandangan matanya menerawang lurus ke depan, memikirkan Kiana yang sedari tadi bayangan wajah gadis itu terus menari-nari di pelupuk matanya.


"Sadewa Raharja. Bapak tentu sudah mengenali beliau di dunia perbisnisan ini. Pewaris tunggal salah satu perusahaan besar di Indonesia. Bahkan memiliki puluhan anak perusahaan di berbagai wilayah. Satu diantara puluhan anak perusahaannya bahkan menjadi rival terberat bagi perusahaan milik Pak Bian yang berlokasi di Bandung. Perusahaan itu pula yang sudah membuat kekacauan bisnis yang sedang berkembang pesat di perusahaan Bapak. Dan Sadewa Raharja adalah dalang dibalik itu semua." jelas Jo.


"Kita sudah memiliki bukti kuat yang mengarah pada perusahaan yang kita duga memang salah satu milik dari Sadewa. Apa tidak sebaiknya kita bergerak cepat untuk mengantisipasi bukti-bukti yang kita miliki dapat disabotase oleh orang-orang suruhan Sadewa? Mengingat apa yang terjadi pada orang-orang kita saat mencari bukti mereka celakai dengan mudah dan tanpa meninggalkan jejaknya." tutur Dimas menimpali.


"Dan Sadewa juga adalah orang dibalik rencana kejahatan yang dilakukan oleh Bu Linda selama ini." jelas Jo kembali.


"Dan Bapak pun tahu pasti, selama apa Bapak dan Bu Linda menjalin hubungan selama itu pula mereka merencanakan niat buruk pada Pak Bian. Dengan kata lain, Bu Linda mendekati Bapak karena ada maksud dan tujuan tertentu. Dan itu saling berhubungan dengan Sadewa. Mereka bekerja sama untuk menghancurkan Bapak melalui ranah pribadi Pak Bian sendiri." Dimas mengingatkan Bian pada apa yang terjadi pada dirinya dalam satu tahun terakhir. Benar-benar tahun yang paling kacau dalam hidupnya. Hanya demi wanita itu, Bian bahkan rela memusuhi kedua orang tuanya sendiri demi membela mantan kekasihnya yang dengan gelap ia menutup mata dan telinganya.


Bian nampak mengepalkan tangannya erat di bawah sana. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana kejam dan begitu sangat licik rivalnya itu sampai-sampai membuat perusahaan miliknya yang ia bangun dengan jerih payahnya itu goyah, hingga mengalami kerugian besar dari dampak proyek besar yang mangkrak karena ulah Sadewa yang ingin menghancurkan Bian karena kalah tender oleh perusahaan yang baru saja berkembang.


"Saya nggak akan pernah lupa dengan nama itu," ucapnya pelan penuh dengan makna di balik kalimatnya. "Jangan biarkan mereka lolos. Saya mau mereka membayar apa yang sudah mereka lakukan sejauh ini hingga membuat banyak korban yang tidak bersalah karena ambisi mereka." tekan Bian memberi perintah pada Jo yang dibalas dengan sebuah anggukkan kepala.


***


Akhir-akhir ini rasa lapar yang kerap menderanya disetiap tengah malam perlahan mulai berkurang menghilang. Rasa perih diperutnya saat di malam hari hilang begitu saja tanpa Kiana sadari. Oleh karena itu, Kiana tidak terlalu seantusias dulu jika Bian datang dengan membawa makanan untuk dirinya. Seolah menantikan, matanya akan berbinar jika melihat Bian datang dengan tentengan makanan ditangannya, hingga membuat perasaan Kiana membuncah yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata.


Tapi, ada hal aneh lain yang mulai Kiana rasakan akhir-akhir ini. Selain perasaannya yang semakin sensitive, Indra penciumannya pun semakin tajam saja. Kiana bahkan bisa sampai muntah-muntah jika mencium bebauan yang dapat membuat perutnya serasa diaduk dari dalam hingga memuntahkan isi perutnya. Terutama jika saat di pagi hari. Sehabis bangun tidur, rutinitasnya adalah berada di dalam kamar mandi untuk memuntahkan segala makanan yang sudah ia cerna sebelumnya.


Dan itu sangat-sangat membuatnya tersiksa.


Terlebih perasaan aneh muncul begitu saja jika satu hari tak melihat dan bertemu dengan Bian, Kiana akan merasa sedih. Sering kali juga terkadang dia akan merasa benci jika melihat Bian seujung kuku pun. Hingga tidurnya pun kini serasa susah sekali lelap jika Bian tak menampakkan wajah untuk menemuinya setiap malam.


Kiana memilah baju-baju Bian dengan teliti. Tidak boleh sampai salah menyimpan dalam keranjang khusus baju yang dapat merusak serat dan warna baju lain jika tercampur saat proses pencucian.


Kiana selalu berdecak penuh kebingungan setiap kali saat sedang memilah baju-baju milik Bian. Baju kotor Bian tidak seperti terlihat sudah kotor seperti baju kotor pada umumnya. Baju-baju kotor Bian masih terlihat bersih tanpa sedikit pun noda, hanya sedikit kusut dan lipatan saja. Bahkan Kiana dapat mencium aroma wangi parfume yang sering Bian gunakan masih menempel di sana.


Kiana menyukai aroma itu. Bahkan saat tak sengaja berada dekat dengan laki-laki itu, Kiana sering menghirup dalam-dalam aroma wangi dari tubuh Bian. Aroma yang membuatnya tenang dan nyaman. Kiana rela betah berlama-lama dekat dengan Bian hanya untuk menghirup wangi yang entah sejak kapan dia sukai itu. Tapi Kiana tak memiliki keberanian dalam dirinya untuk melakukan itu semua. Dia terlalu sangat malu. Atau lebih tepat akan dinilai sebagai pembantu tidak tahu malu jika berani melakukan itu semua.


Kiana mengambil sebuah kemeja berwarna biru langit yang entah kenapa mencuri perhatian kedua netra matanya. Kiana tersenyum kecil, melihat warna biru seakan membuat hatinya bahagia.


Tangannya perlahan ikut mengelus permukaan kain kemeja yang terasa lembut di telapak tangannya. Seperti mendapatkan sebuah benda kesukaannya, hal itu justru membuat Kiana senang bukan kepalang.


Dengan tidak sadar, Kiana menempelkan kain tersebut ke hidungnya, mengendus aroma tersebut lama-lama. Meresapi setiap aroma yang masuk ke dalam indra penciumannya.


Hah... sangat menenangkan baginya. Kiana benar-benar sangat menyukainya.


Hingga, suara pintu terbuka dengan tiba-tiba menampakkan sosok raga tinggi tegap dengan pancaran aura wajah yang meneduhkan bagi setiap orang yang melihatnya.


Suara bariton khas laki-laki itu menggema di setiap penjuru ruangan membuat Kiana menoleh pada sang pemilik suara yang tengah menatapnya dengan kerutan dalam di keningnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?!" tanya laki-laki tersebut seraya melangkah menghampiri Kiana yang masih mematung dengan mata berbinar saat melihat sosok yang membuatnya gelisah seharian ini.


*****