
"Kita mampir dulu ke kantor, saya mau ambil berkas. Rencana saya akan pelajari dulu di rumah. Kalau nyuruh kamu, nanti bakalan repot. Kamu bolak-balik rumah kantor jadinya. sekalian aja. Saya tahu kamu juga pasti capek. Habis anterin saya, langsung pulang. Jangan kemana-mana lagi. Saya kan baik pengertian sama kamu, Dim." cerocos Bian panjang lebar pada asistennya.
"Iya, Pak." balas Dimas. Atasannya itu suka ada benarnya juga sih. Seneng juga dapet perhatian yang jarang-jarang dari Bosnya. Pak Bian memang baik. Tapi kebanyakannya suka aneh-aneh sih, apalagi kalau udah nyebelin. Udah kayak seorang ayah aja nasehatin anak gadisnya yang ngelarang anaknya main keluar rumah.
"Perasaan saya kok nggak tenang ya, Dim?" ucap Bian saat sedang berada dalam perjalanan pulang dari bandara menuju rumah. Hari ini adalah waktu kepulangan Bian dari perjalanan dinasnya ke luar kota. Tepat di hari ke 4, pria itu kembali pulang sesuai janji yang ia katakan pada Kiana beberapa hari yang lalu sebelum kepergiannya.
"Ya pasti nggak tenang Pak, lebih tepatnya udah nggak sabar karena sebentar lagi bakalan ketemu sama orang-orang rumah." sahut Dimas yang berada di samping Bian.
Bian menghela napasnya untuk menenangkan diri karena saat ini dia benar-benar merasakan perasaan yang kurang baik.
"Beneran nggak enak perasaan saya ini. Kamu tahu penyebabnya apa, Dim?" tanya Bian pada Dimas yang mana membuat pria itu melongo.
"Mana saya tahu Pak, yang ngerasain kan Bapak bukan saya." ucap Dimas yang geleng-geleng kepala atas sikap atasannya itu.
"Beneran nggak tenang perasaan saya dari kemarin. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu di rumah? Apa--"
"Mungkin aja, makanya Bapak ngerasa nggak tenang seperti itu."
"Apa terjadi sesuatu pada Kiana ya? Tapi kemarin saya hubungi Fira dia bilang baik-baik aja." gumam Bian pelan tapi masih jelas Dimas dengar karena posisi duduk mereka yang berdampingan.
"Ya bisa jadi Pak,"
"Apa?" Bian mengernyitkan dahinya seraya menatap Dimas untuk menunggu jawaban pria itu. Bian tetiba merasakan kekhawatiran yang dia tujukan untuk Kiana.
"Kiana sedang rindu sama Bapak," ujarnya santai tanpa beban pikiran.
Bian mencerna apa yang baru saja dia dengar dari kalimat asistennya itu. Ia nampak masih menatap Dimas penuh dengan tanya.
"Maksud kamu?"
Dimas berdecak pelan, ia memutar bola matanya malas. Bosnya itu benar-benar lemot kalau sudah berurusan dengan percintaan.
"Kiana sepertinya terus memikirkan Bapak,"
"Jadi?"
"Ya, dia rindu sama Bapak," timpal Dimas lagi yang mulai kesal.
Bian terdiam, ia dapat menangkap maksud kalimat Dimas. Bian memutar posisi duduknya yang saat ini menghadap ke arah jendela sembari memandangi setiap ruas jalan yang ia lewati.
"Kamu kangen sama aku Ki? Kamu terus mikirin aku selama kita jauh?" Bian senyum-senyum sendiri saat membayangkan itu semua. "Sama, aku juga kangen sama kamu. Aku bahkan nggak bisa tidur nyenyak karena nggak ada kamu. Tunggu aku pulang ya, kita bakalan sama-sama lagi." gumam Bian dalam hati dengan semburat senyum yang terus mengembang di bibirnya. Tinggu aku pulang ya, kita bakalan sama-sama lagi."
Dimas yang melihat tingkah atasannya itu hanya mencebikkan bibirnya mengeluarkan umpatan kecil yang pasti tak terdengar oleh Bian karena pria itu tengah sibuk dengan lamunannya.
"Kita mampir dulu ke kantor Pak?" tanya Dimas memastikan.
"Hem," jawab Bian singkat mengabaikan seolah tak peduli.
"Jadi kita mampir dulu? Bukanya Bapak Bilang harus ambil berkas?"
"Hem,"
Dimas berdecak. Mulai kumat pikirnya.
"Pak? Jadi gimana? Pulang atau mampir dulu?" tanya lagi Dimas memastikan. Kalau salah, nanti dia juga yang bakalan repot.
"Ya, terserah kamu,"
Dimas mengesah kasar, ia mengusap dadanya berulang. 'Sabar Dimas, ambil barokahnya dari Pak Bian.' ucapnya dalam hati.
"Dasar Pak Bos bucin," Dimas geleng-geleng kepala tak aneh lagi dengan sikap tak terduga atasannya itu.
***
"Siapa, Non?" tanya Mbok Sarmi penasaran yang mendengarkan celotehan Fira sejak kedatangan gadis itu di dapur bersamanya.
"Itu lho Mbok, mantannya Kak Bian. Cewek stress!" sungut Fira masih geram dengan kejadian semalam.
"Mantannya Den Bian? Yang mana, Non?" tanya lagi Mbok Sarmi yang memang tidak tahu siapa kekasih Bian baru-baru ini. Wajar saja, selama Bian berhubungan dengan Linda, belum pernah sekali pun Bian membawa Linda berkunjung ke rumahnya. Ya karena hubungan mereka yang tidak mendapatkan restu dari kedua orang tuannya selama ini. Latar belakang Linda yang memang buruk dan memang tidak pantas untuk Bian perjuangkan menjadi penyebabnya. Berbeda dengan para jajaran mantan Bian terdahulu yang sering sekali Bian bawa untuk bertandang ke rumahnya. Jadi, Mbok sudah hapal dengan kekasih Bian yang tidak sering berganti-ganti itu. Berbeda dengan kali ini.
"Aduh Mbok, yang baru-baru ini." ujar Fira. "Aku nggak habis pikir sama Kak Bian, kok bisa-bisanya dia kenal sama cewek model kayak gitu. Emang udah kebucinan atau memang tuh cewek pakai guna-guna buat deketin Kak Bian." dengusnya lagi.
"Ah, non Fira ini ngomongnya kok malah ngelantur. Kita nggak boleh berprasangka buruk dengan orang lain walau seburuk apapun perangai orang tersebut." sahut Mbok Sarmi.
"Tapi masalahnya ini cewek memang udah ngejar Kak Bian dari dulu buat tujuan tertentu, Mbok. Apalagi sampai menggunakan cara kotor, Naudzubillah..." lanjut Fira menggebu-gebu mengelus dadanya sendiri. "Masih kepikiran sih, cara apa yang dia gunain sampai Kak Bian bertekuk lutut dan menutup mata telinganya buat dengerin omongan Papa Mama. Hebat tuh perempuan bisa nyetir Kak Bian semaunya. Punya backingan sehebat apa dia sampai segitunya? Emang perempuan nggak bener tuh,"
"Nggak bener gimana, Non?"
"Ya kali, dia itu sugar Daddy nya om-om hidung belang." jawabnya asal. "Ngeri aku, Mbok." lanjutnya sembari bergidik ngeri.
"Woalah, Mbok makin nggak ngerti apa yang Non bilang. Tapi Mbok berdoa semoga Den Bian diberikan kemudahan untuk segera menyelesaikan masalahnya. Kasihan Bapak sama Ibu,"
"Amin, Mbok. Kasihan sebenarnya aku lihat Kak Bian seperti ini. Lebih sedih aku lihat Mama yang terpukul mendapat berita yang kurang mengenakkan buat keluarga kita. Aku juga masih shock saat tahu Mama mendapat pesan dari cewek itu yang--" Fira tidak melanjutkan kalimatnya. Ia menoleh pada Kiana yang tengah melamun seolah sedang memikirkan sesuatu meski tangannya berusaha untuk tetap mengerjakan apa yang sedang dia lakukan.
Tak mau membuat semua orang terlarut dalam masalah yang belum tentu kebenarannya. Fira mengalihkan pembicaraan yang mulai sensitif itu meski dia yang memulainya dari awal.
"Aku bantu ya, Kia?" ucapnya meraih pekerjaan Kiana yang tanpa di sadari oleh gadis itu.
Kiana acuh. Ia seolah tak mendengar apapun. Ia terus memikirkan kenapa harus terjadi seperti ini. Apa yang harus dia lakukan? Ia sedih, gelisah, dan juga merasakan kecewa. Entahlah ia begitu sakit mendengar semua kenyataan buruk ini. Sulit untuk dirinya percaya begitu saja. Ada secercah keyakinan dalam hatinya meski ia begitu sulit untuk memahami.
***
"Bian harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan, Tante. Aku nggak mau dia lepas dari tanggung jawabnya begitu aja dengan apa yang sudah dia lakukan."
Sekelebat bayangan suara terus berputar-putar di dalam benaknya. Sebuah suara yang membuatnya resah dan gelisah sepanjang malam hingga ia tidak dapat tidur dengan nyenyak karena terus memikirkannya.
Bu Ajeng terisak dalam tangisnya menangisi Bian-putra sulungnya, yang membuatnya sedih bercampur kecewa menjadi satu.
"Pantas saja wanita itu sengaja datang untuk memperlihatkan semuanya. Papa tahu, bahkan dia dengan tidak tahu malunya terus terang meminta Bian untuk menikahinya. Awal pikir Mama kira itu lelucon tak masuk akal dengan hayalan gilanya. Tapi setelah melihat apa yang sudah dia tunjukkan--" ucap Bu Ajeng tak sanggup melanjutkan. Bahkan ia sendiri tak sanggup mengingat pada apa yang Linda kirimkan padanya. Begitu sangat terkejut dirinya saat melihat sebuah video tak senonoh anaknya-Bian, bersama Linda dengan melakukan adegan yang sangat tidak terpuji.
"Ma, Mama yakin dapat pesan ini dari perempuan itu?" tanya Pak Hardi yang berada di sisi Bu Ajeng.
"Papa bisa lihat sendiri, kan?" ucapnya menyodorkan benda pipih miliknya itu ke tangan suaminya. Bahkan ia sendiri sudah tak sanggup melihatnya. "Ini Bian Pa, ini beneran Bian dengan perempuan itu! Mama nggak nyangka anak kita tega melakukan hal diluar batas seperti ini." ucap Bu Ajeng menangisi anak sulungnya.
"Mama tenang dulu, jangan langsung cepat termakan dengan apa yang belum kita ketahui kebenarannya. Bisa saja ini rekayasa dari perempuan itu untuk kembali menjerat Bian dengan cara liciknya yang lain." ucap Pak Hardi menenangkan istrinya dalam pelukannya.
"Gimana Mama nggak tenang Pa, melihat semua ini sangat nyata oleh mata kepala Mama sendiri! Sulit buat Mama untuk percaya kalau itu bukan Bian walau sekeras apapun Mama berucap Bian nggak mungkin melakukan itu. Mama sedih Pa melihat Bian kenapa harus seperti ini. Mama kecewa! Bian sudah membuat malu kita, mencoreng nama baik keluarga dengan berbuat tidak terpuji dengan seorang perempuan yang berusaha kita jauhkan darinya!"
Pak Hardi menghela napas panjang. Ia mengerti dengan apa yang di rasakan oleh istrinya. Sebagai seorang ibu, istrinya pasti sangat sedih melihat anaknya seperti ini. Dia pun sama. Seorang ayah pun pasti merasakan perasaan sedih saat melihat anaknya dalam kesusahan. Apalagi masalah berat dan serius menyangkut masa depan dan nama baik keluarga sedang dipertaruhkan saat ini.
"Papa yakin Bian nggak seperti itu, Ma..." usap Pak Hardi di bahu istrinya.
"Apa yang harus kita lakukan Pa...? Mama nggak mau sampai perempuan itu masuk menjadi bagian keluarga kita, Mama nggak mau! Mama nggak akan pernah rela punya menantu seperti perempuan itu."
"Mama tenangin diri dulu, jernihkan pikiran Mama mulai saat ini. Kita belum tahu kebenarannya seperti apa. Kita butuh penjelasan langsung dari Bian, tidak hanya melihat dari salah satu sisi meski itu terlihat meyakinkan. Bian anak kita Ma, beri dia kesempatan untuk bisa menjelaskan ini semua. Walau bagaimana pun Bian sudah dewasa. Dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuknya. Papa yakin, Bian nggak melakukan hal seperti yang kita pikirkan saat ini. Karena Mama sudah mendidik Bian dengan sangat luar biasa baiknya." terang Pak Hardi meyakinkan diri dan juga istrinya. Tak mau sampai terjebak dan termakan oleh hasutan yang dapat menyebabkan goyahnya keyakinan mereka terhadap anaknya.
"Mama takut ini semua benar, Pa. Mama nggak bisa membayangkan kalau semua ini terjadi," isaknya lagi dalam pelukan suaminya.
"Sabar Ma, kita tunggu Bian pulang. Sebentar lagi dia sampai rumah," tenang Pak Hardi, meski ia sendiri pun berat menerima kenyataan dan percaya sepenuh hati pada putranya itu.