Secret Love

Secret Love
Miss U



Kiana tengah membereskan meja makan dari sisa acara makan malam yang selesai beberapa saat waktu yang lalu. Meski malam ini pekerjaan masih setia menemaninya, tapi raut bahagia tak lepas Kiana rasakan karena suasana rumah kembali menghangat seperti sebelumnya.


Suara kekehan tawa terdengar di telinganya. Seiring terlihat Bu Ajeng, Pak Hardi, Bian dan juga Fira sedang berkumpul bersama di ruang keluarga. Mereka tengah asik bersenda gurau saling bercerita. Dapat Kiana rasakan juga suasana keluarga harmonis benar-benar tercipta di rumah ini. Seorang ayah, ibu, dan juga anak-anaknya tengah berkumpul bersama lengkap dalam satu waktu.


Ah... benar-benar keluarga impian Kiana selama ini.


Bolehkah Kiana merasa iri?


Atau, bisakah suatu hari nanti ia akan mendapatkan apa yang ia mimpikan?


Sembari mencuci peralatan makan yang hampir selesai, Kiana menyimak perbincangan hangat yang terdengar olehnya. Kiana ikut tersenyum saat mendengar Fira bercerita tentang hari-harinya saat bersekolah.


Mendengar hal itu, ia kembali teringat pada masa-masa ia masih mengenyam pendidikan di sekolah menengah beberapa tahun yang lalu. Kiana begitu sangat rindu pada masa itu. Ya, meskipun ia hanya seorang lulusan menengah pertama, Kiana cukup bangga pada apa yang sudah dia dapatkan dari jenjang pendidikannya di tengah himpitan ekonomi pada saat itu. Besar harapannya untuk dapat melanjutkan pendidikannya suatu saat nanti. Ia percaya akan mendapatkan kesempatan itu.


Bu Ajeng dan juga Pak Hardi tak kalah ikut antusias menyimak setiap celotehan yang keluar dari mulut putri bungsunya itu.


"Pokoknya, aku nggak mau ya kalau udah selesai sekolah nanti terus ikut gabung kerja ke perusahaan Papa." ucap Fira.


"Lho, kenapa sayang? Bukannya kamu udah setuju ikut andil memajukan usaha keluarga?" ucap Pak Hardi menggoda putrinya. Memang sudah tak asing lagi jika Fira memiliki kemauan seperti itu sejak dulu.


"Ih... Papa!" rengek Fira dengan wajah cemberut.


"Apa? Papa salah ngomong lagi?" balas Pak Hardi dengan wajah pura-pura seraya terkekeh pelan melihat tingkah menggemaskan putrinya.


"Tau ah! Pokoknya aku tuh maunya jadi seorang desainer. Bukan sibuk kerja di kantoran. Nggak kayak Kak Bian." tutur gadis tersebut.


"Memangnya kenapa dengan kakakmu?" tanya lagi kepada putrinya dengan kening mengkerut.


Bian yang merasa namanya ikut disebut-sebut menoleh pada adiknya itu dengan tatapan penuh tanya.


"Ya, gitu..." balasnya dengan takut-takut seraya melirik pada Bian. Bukan kenapa, saat ini ia merasa kakaknya itu sedang tidak baik-baik saja. Terlihat jelas olehnya sejak kepulangan Bian tadi sore, ia mendapati kakaknya yang selalu menekuk wajahnya. Seperti ada yang tengah mengusiknya. Fira tidak tahu apa itu. Atau, apa karena efek dari pembicaraan tadi pagi diantara mereka?


"Mau kemana?" tanya Bu Ajeng saat menyadari Fira yang tiba-tiba pergi begitu saja.


"Bantu Kiana, Ma." balas Fira seraya pergi begitu saja. Tepatnya menghindar dari tatapan Bian yang seolah menekannya.


Bu Ajeng geleng-geleng kepala seraya tersenyum simpul. Ia kembali berbincang dengan sang suami yang ada di sampingnya, sesekali pun mereka bertanya tentang kesibukan putra sulungnya saat di kantor.


Bian tak berminat dengan segala perbincangan yang ada di dekatnya. Pria itu melamun memikirkan banyak hal yang mengganggu hati dan pikirannya. Bian merasakan kegelisahan dan kebimbangan meliputinya.


***


Kiana gelisah tidak dapat tidur malam ini. Meski beberapa kali ia mencoba untuk memejamkan matanya, tetap saja ia tidak dapat tertidur walau ia sendiri sudah merasakan kantuk menyerangnya.


Dilihatnya lagi jam di atas nakas yang menunjukan sudah lewat dini hari. Cukup lama ternyata ia terbaring dengan mata awas terbuka lebar. Berulang kali ia mengubah posisi tidurnya berharap agar segera terbuai ke alam mimpi. Tapi tetap saja. Usahanya itu percuma.Tetapi ia masih belum bisa tertidur dengan lelap di sisa malamnya.


Mungkin satu penyebab ia tidak dapat tertidur saat ini. Yakni, tidak ada Bian di sisinya. Pria itu tak menemuinya malam ini. Entah kenapa Kiana sendiri pun tidak tahu. Mungkin saja Bian sedang banyak sekali pekerjaan. Atau mungkin pria itu tertidur di kamarnya. Ah, kalaupun iya, kenapa Kiana harus gelisah ketika Bian tidak ada di sampingnya?


Memikirkan banyak kemungkinan tentang Bian yang tidak menemuinya, tetap saja ia merasa penasaran tentang kemana pria itu. Apalagi semenjak sore tadi, Bian tak menegurnya sama sekali meski pria itu terus menatapnya. Kiana tidak mau berpikir macam-macam, mungkin dan kemungkinan lagi Bian sedang banyak pikiran. Itu yang menenangkan hatinya saat ini.


Saat ini Kiana berdiri tepat di depan tangga menuju lantai dua dimana letak kamar Bian berada di sana. Ia menatap barisan anak tangga tersebut dengan penuh harap. Ia mendongakkan kepalanya berharap ada seseorang yang ia nantikan. Menghampirinya dengan senyum manis seperti yang sering pria itu lakukan padanya. Membawanya ke dalam dekapan hangat pria itu yang membuatnya merasakan kenyamanan dan kedamaian dalam relungnya.


Kiana mengesah pelan. Ia merapatkan mulutnya seraya mengusap permukaan perutnya yang terasa sedikit mulai berisi.


"Apa kamu merindukan ayahmu?" tanyanya lagi sembari terus mengusap perutnya memutar. Kiana tersenyum miris pada akhirnya. "Sepertinya keinginanmu saat ini tidak akan terwujud." ucapnya sendu.


Betapa sangat tidak tahu dirinya saat ini, berharap pada apa yang sulit sekali untuk dia dapatkan. Hanya pemikiran bodohnya lah jika mengganggap semua ini sebagai secercah harapan baru untuk kehidupannya yang kelam. Lama menunggu di tempat itu yang tidak menghasilkan seperti apa yang diharapkannya. Kiana pun pergi dengan membawa secarik kekecewaan yang menggores di hatinya.


***


Kembali pada peraduannya, Kiana berbaring miring dengan satu telapak tangan terhimpit di bawah sisi wajahnya. Matanya yang bulat menatap lurus ke depan menerawang jauh pada kilasan-kilasan kehidupan yang telah ia lalui.


Kiana kembali teringat akan bagaimana dengan awal cerita dari kehidupannya yang menyedihkan itu. Ia begitu sangat ingat meski sudah bertahun-tahun lamanya mendengar cerita tersebut dari ibu panti yang saat ini telah tiada.


Awal mula bagaimana ia bisa berada tumbuh besar di lingkungan panti bersama puluhan anak lainnya yang kurang beruntung. Dia hanya seorang bayi malang yang di pungut dan dibesarkan oleh kasih sayang yang lebih dari cukup ia dapatkan. Tumbuh besar tidak sama seperti teman-teman sekolah pada umumnya. Tak memiliki keluarga, sanak saudara, bahkan ibu dan ayah pun Kiana tak tahu siapa dan dimana mereka berada. Dia hidup sebatang kara. Hanya panti lah keluarganya sejak dulu. Sangat miris memang.


Sempat Kiana mendapat perundungan di masa sekolahnya, teman-teman sering mengatainya anak pembawa sial yang dibuang oleh kedua orang tuanya. Kiana selalu abaikan. Akan tetapi tetap saja rasa sakit yang kerap ia sering rasa menyelinap dihatinya. Apa benar ia terlahir seperti itu?


Ketika ia memulai perjalanan hidup yang sebenarnya, mencoba peruntungan hidup dengan bermodal tekad ia merantau ke kota besar hingga pada akhirnya berlabuh di tempat yang membuatnya merasakan manis dan pahitnya kehidupan yang sebenarnya.


Dan disinilah ia berada. Mengabdikan dirinya untuk bekerja bersama dengan sebuah keluarga yang sangat luar biasa. Menerimanya dengan tangan terbuka. Memberikan kesempatan bagi dirinya untuk mengubah jalan kehidupan yang lebih baik lagi.


Dan disini, di tempat ini pula ia mendapatkan luka baru dalam hidupnya. Membawanya dalam kesakitan yang amat sangat pedih dan menghancurkannya untuk menggapai mimpi. Kesakitan yang dapat mengubah seluruh kehidupannya di masa yang akan datang. Dengan tanpa adanya harapan yang dapat menarik dan mendekapnya dalam kubangan kesedihan. Secercah harapan itu masih jauh untuk Kiana dapatkan. Dalam hayal belaka pun ia tidak mempunyai keberanian untuk memimpikan itu semua. Karena ia sadari akan semakin terasa sakit jika ia terlalu berharap membawa segala angan untuk terbang menggapai impian jika harus kembali jatuh ke dasar kenestapaan yang menyedihkan.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Kiana. Ia terperanjat sejenak, kemudian mengusap pipi yang tidak dirasainya sampai mengeluarkan lelehan air bening dari pelupuk matanya.


Segera ia bangkit dari tidurnya, melangkah membawa raga untuk membukakan pintu bagi seseorang yang singgah dalam ketemaramannya.


Saat pintu terbuka lebar, dapat Kiana lihat sosok yang ia rindukan sepanjang malam tengah berdiri menghadapnya dengan penampilan kuyu.


Raga tinggi tegap itu berseringai manis dengan wajah lelah yang menyiratkan bahwa sosok itu tengah memiliki banyak beban pikiran dalam kepalanya.


Apa beban berat itu adalah dirinya?


Sosok itu adalah Bian. Pria itu menemuinya di sepertiga malam terakhir. Dengan pakaian yang masih sama pria itu kenakan sebelumnya. Bian mendekat pada Kiana untuk meraih raga kecil yang sangat ia rindukan untuk ia dekap malam itu.


Manik Kiana berkaca-kaca. Menahan sesuatu yang sepertinya akan segera luruh dari pelupuk matanya.


"Ki..." ucap lirih Bian.


Kiana tak menjawab. Gadis itu hanya menatap lekat wajah Bian yang kusut. Entah mengapa rasanya air bening yang terpupuk di matanya jatuh begitu saja tanpa Kiana sadari. Apakah ini yang dinamakan rindu? Apakah ini benar-benar dia yang merasakan atau hanya sebatas perasaan kekecewaan sesaat pada pria itu?


"Hey, kenapa nangis?" Bian memajukan tubuhnya, membawa Kiana masuk lebih dalam dan menutup pintu setelahnya. "Saya yang sudah buat kamu menangis?" tanya Bian cemas.


Kiana semakin terisak dalam tangisnya. Ia masih menatap lekat Bian dengan iris mata yang sudah mengembun.


Tak tega, segera Bian menarik Kiana dalam pelukannya. Mendekapnya dengan erat seraya melabuhkan kecupan demi kecupan di pucuk kepala Kiana.


"Maaf... maaf sudah membuat kamu menangis lagi." ungkapnya seraya mengusap lembut surai hitam panjang kekasihnya. Bian merenggangkan pelukannya untung melihat wajah Kiana yang sudah basah karena tangisannya. Mengusap air mata yang terus keluar dan membasahi setiap inci wajah cantik Kiana.


"Saya ada disini. Saya datang untuk menemui kamu. Menemui kalian. Maafin saya Kiana, saya terlalu banyak pekerjaan. Sehingga membuat saya terlalu lelah untuk berpikir dan tidak bisa tidur." ucap Bian menatap wajah Kiana yang masih sesenggukan.


"Oh Tuhan... saya sangat merindukan kamu Kia. Ternyata saya nggak bisa jauh dari kamu. Saya nggak bisa tidur karena selalu memikirkan kamu." Bian kembali mendekap Kiana dengan erat. Membawanya untuk merasakan betapa ia bersungguh-sungguh saat mengatakan jika ia sangat merindukan gadisnya sepanjang malam berlalu. Mungkin Bian tidak tahu saja, Kiana pun merasakan hal yang sama seperti apa yang Bian rasakan saat ini.


"Jangan menangis lagi, karena sesungguhnya air mata kamu membuat saya merasakan sakit dan pedihnya perasaan saya." bisiknya pada Kiana yang berada dalam pelukan raganya. Kembali lagi, dadanya terus berdebar tak karuan setiap saat bersentuhan dengan Kiana. Napas Bian pun serasa sesak kala ia sesuatu yang sangat membuncah di dalam hatinya.