Secret Love

Secret Love
Calon Istri DiRut



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂



Setelah pulang dari kota A untuk urusan pekerjaan akhirnya Skala bisa bernapas lega, ia sudah kembali masuk kantor dari pagi hingga sore seperti biasa. Tak ada yang berubah seolah semua jalan di tempat, Qia dengan pacarnya dan Skala dengan segala doanya.


Jika saja ia bukan cucu dari Bumi, mungkin akan lain ceritanya. Tapi sayang, rasa sabar pria itu turun secara mutlak pada cucu bungsunya yang dilahirkan dari rahim Aurora ArMiKha Rahardian Wijaya, yang jika sudah yakin ia tak akan goyah dengan apapun, semakin lama Tuhan semakin di desak dengan ribuan doa yang sama setiap malam, itulah cara mereka menjemput jodoh.


"Cih, cantik-cantik mau ya pacaran sama Si Item," umpat kesal Skala saat masuk kedalam Lift khusus para petinggi perusahaan, ia memang baru saja melihat Qia di lobby meski tak bersama Fathan karna kekasihnya itu masuk kerja di Shift siang.


"Lah, lo ganteng-ganteng, mau-maunya nungguin pacar orang," ledek Chiko sambil tertawa, entah terbuat dari apa telinganya sampai ia bisa mendengar padahal sahabatnya itu berucap dengan sangat pelan.


"Biarin, yang penting ada yang gue tungguin, nah dari pada lo, nungguin apa? Ajal?" balas Skala tak mau kalah, untung saja pintu kotak besi itu cepat terbuka karna jika tidak, sudah bisa di pastikan ia akan mendapat bogem dari Chiko.


Masuk kedalam ruang Direktur Utama semua kembali normal dan profesional meski nyatanya beberapa menit lalu mereka habis saling melempar ledekan. Begitu terus setiap hari sampai yang nulis bosen.


"Ada yang perlu saya Cancel, Tuan?" tanya Chiko layaknya Asisten pribadi pada umumnya.


"Tidak, kerjakan sesuai jadwal," jawab Skala langsung dengan mode angkuhnya khas DirUt, mata dan tangannya terlalu fokus pada berkas yang sedang di tanda tangani sampai ia tak sadar saat Chiko mencibirnya.


Ceklek


"Maaf, Tuan. Nona Nara memaksa," ucap Maya yang ketakutan.


"Kak, aku bukan siapa siapa untukmu, mana mungkin aku harus menunggu di luar!" protes Nara, ia merajuk karna Sekertaris Skala meminta ia menunggu sampai Chiko keluar dari ruangan DiRut lebih dulu.


"Sudahlah, kamu kembali bekerja sana," titah Skala pada Maya yang di jawab anggukan kepala.


"Ada apa?" tanya Skala pada Nara, wanita itu bagai Jalangkung yang datang tiba-tiba tapi pulang ingin diantar.


"Sekalian lewat, terus mampir."


"Jadi gak ada yang penting?"


Nara pun menggelengkan kepalanya, ia memang tak ada maksud tertentu datang ke perusahaan pria yang dengan tegas pernah menolaknya itu.


"Hem, tapi aku kangen, gak apa-apa 'kan?"


"Aku tak pernah melarang itu," balas Skala yang langsung melanjutkan lagi pekerjaannya yang masih menumpuk.


Entah mimpi apa ia semalam hingga sampai di datangi oleh Nara sepagi ini.


Nara hanya duduk di sofa memainkan ponselnya, sedangkan Chiko sudah kembali ke ruangannya beberapa menit lalu. Tak ada obrolan apapun karna Skala nampak sibuk sekali, dan itu sangat wajar mengingat ia baru saja kembali ke kantor.


"Kak, boleh aku pesan makanan?"


"Hem, belilah yang kamu mau."


Nara pun tersenyum lebar, ia bangun dari duduknya lalu keluar dari ruangan Skala menuju meja sekertaris.


"Hey, kamu--" panggil Nara pada Qia yang baru saja mengantarkan paket milik Maya.


"Iya, Nona."


"Pesankan aku makanan," titah Nara.


"Hem, baik Nona, tapi--,"


"Tapi apa? kamu berani membantah perintah calon istri Dirut?" omel Nara pada Qia saat ia memotong ucapan OG perusahaan.