Secret Love

Secret Love
Aku Ayahmu



"Bagaimana dengan keadaan istri saya, Dok?" tanya Bian pada seorang Dokter yang telah memeriksa keadaan Kiana.


"Keadaanya masih lemah, kami membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab istri anda sakit sampai tidak sadarkan diri." jawab Dokter tersebut.


"Apa terjadi sesuatu hal yang serius pada istri saya?" tanyanya lagi penuh dengan raut kecemasan. Wajahnya begitu sendu, hingga ia dapat melihat keadaan Kiana yang masih tak sadarkan diri dengan wajah pias meski tak sepucat sebelumnya.


"Sejauh ini keadaan Bu Kiana baik-baik saja. Pak Bian tidak perlu khawatir. Setelah ini kami akan memindahkan Bu Kiana ke ruang rawat inap agar istri Bapak bisa istirahat dengan baik setelah infus habis." ucap lagi Dokter tersebut pada Bian.


"Tapi istri saya belum sadar juga. Tolong istri saya, Dok. Saya akan melakukan apapun demi kesembuhan istri saya." ujarnya memelas, tak tega saat melihat keadaan Kiana yang masih terbaring lemah belum sadarkan diri juga.


"Bapak tenang, kami akan membantu merawat istri Bapak semampu yang kami bisa lakukan. Bu Kiana membutuhkan suport dari keluarganya saat ini, terutama Bapak sebagai suaminya. Hal yang terbaik saat ini yang dapat kita lakukan adalah mendoakan istri Bapak agar segera sadar." ujar Dokter tersebut. "Kalau begitu saya permisi untuk tinggal, suster akan membantu kepindahan Bu Kiana ke ruang rawat inap setelah Pak Bian menyelesaikan administrasinya."


Bian tak bergeming, ia hanya diam menatap Kiana dengan berjuta perasaan yang tak dapat ia ungkapkan dengan kalimat apapun. Sebuah keajaiban dan anugrah baginya saat ini bisa kembali di pertemukan dengan istri dan juga anaknya. Bian sangat-sangat bersyukur akan dengan hal itu. Ia bahkan tak pernah menyangka, jika Tuhan begitu mengasihininya dengan apa yang telah ia dapatkan hari ini.


Kiana kembali pada pelukannya, dengan membawa si kecil yang begitu amat sangat ia rindukan. Buah hatinya bersama dengan Kiana yang tak pernah ia sangka-sangka hadir dalam kehidupannya.


Bian menyeka air mata yang mengalir begitu saja di pelupuk matanya. Mendekati Kiana yang tengah terbaring di atas ranjang pesakitan. Bian mengulurkan satu tangannya untuk mengusap wajah Kiana yang terlihat tirus jauh berbeda dari kali terakhir ia lihat berbulan-bulan lamanya.


"Ki..." lirihnya dengan suara bergetar mengusap seluruh permukaan wajah Kiana dengan perlahan. Bian menatap lamat-lamat istrinya itu dengan perasaan sendu dalam dirinya.


"Bangun Kiana, saya mohon bangun..." ucapnya dengan perasaan yang sesak tak tertahan.


Bian membelai kepala Kiana kemudian ia merengkuh Kiana ke dalam pelukannya. Mendekap erat raga lemah istrinya itu melepas rasa kerinduan yang mendalam dengan mengecup kening Kiana cukup lama hingga ia kembali beruraian air mata.


"Maaf Pak, pasien akan segera kami pindahkan. Silahkan Bapak bisa menunggu di luar terlebih dahulu agar kami dapat mempersiapkan pasien sebelum di pindahkan ke kamarnya."


Bian tak menjawab, ia masih berdiri tepat di samping Kiana. Rasanya begitu sangat berat untuk melepas genggaman tangannya pada Kiana. Ia takut jika semua ini hanyalah mimpi. Bian takut jika ia melepaskan tangannya Kiana akan kembali pergi dari hidupnya, meninggalkannya seorang diri dengan ruang gelap yang terasa hampa dalam hatinya.


***


Bian menatap lembut bayinya yang tengah tertidur dengan damai dalam gendongan tangannya. Bayi tersebut seolah nyaman merasa tak terusik sekalipun meski Bian terus menerus mengecupi wajah putranya itu.


Diperhatikannya garis wajah si kecil yang membuatnya begitu takjub saat pertama kali melihatnya. Pipi bersemburat merah khas bayi, dengan hidung mancung, serta bibir kecil merah yang melengkapi kesempurnaan bayi yang berada dalam dekapannya itu.


Jari jemari tangannya terulur untuk menyentuh kulit lembut bayinya. Menyentuhnya dengan perasaan membuncah tiada tara saat mendapati makhluk kecil yang berada dalam dekapannya itu begitu sangat mengagumkan.


Wajah kecil itu, wajah yang begitu serupa dengan wajah miliknya. Mengingatkannya akan pada dirinya saat kecil dulu. Bian merasa seperti sedang melihat pantulan dirinya sendiri pada putra kecilnya. Pandangannya sendu dan haru kala melihat makhluk kecil yang terlihat seperti kembarannya itu.


Tak pernah ia bayangkan jika ia kini memiliki seorang malaikat kecil yang begitu sangat mirip degannya. Bian sungguh mengagumi putra kecilnya itu. Berkali-kali ia kembali membubuhkan kecupan demi kecupan pada wajah dan tangan mungil bayinya, seolah merasa tak cukup bahkan tak puas sekalipun ia rasakan.


Bayi kecil itu menggeliat saat merasakan kulit bibir Bian menyentuh permukaan wajahnya hingga kedua matanya terbuka perlahan memperlihatkan irisan mata yang bening.


Kedua mata indah itu menatap Bian dengan kerungan kecil di dahinya. Memperhatikan Bian seolah ia baru mengenali wajah asing selain dari wajah ibunya.


Bibir mungilnya tak tinggal diam berulang kali saling mengecap. Dan anehnya, bayi kecil itu tak menangis seolah nyaman dalam dekapan Bian. Membuat Bian semakin gemas dengan tingkah putranya itu.


"Hai," sapa Bian pada makhluk kecil itu untuk pertama kalinya.


"A-apa kamu--kamu, ya, kamu sudah tidak merasa sakit lagi?" tanya Bian dengan terbata bingung ketika harus berbicara apa pada seorang bayi meskipun itu adalah anaknya sendiri.


"Apa ini masih terasa sakit, hem?" ujarnya seraya membelai kepala bayinya. "Pasti sangat sakit sekali bukan sampai kamu menangis saat terjatuh tadi?"


Bayi itu hanya terdiam memperhatikan Bian yang tengah berbicara dengannya. Meskipun tatapan mata bayinya itu tidak fokus, tapi Bian begitu senang jika bayinya itu seolah tengah mendengarkan dirinya yang sedang berbicara.


"Apa kamu tidak takut denganku?" ucap Bian perlahan mengelus lembut pipi merah putranya.


"Apa kamu tahu siapa aku?" tanyanya lagi dengan suara tercekat.


Bian menatap lekat putranya itu yang mana bayinya pun melakukan hal yang sama dengannya.


"A-aku--" ungkapnya terhenti, hampir saja Bian menangis. Tapi sebisa mungkin dia tahan.


"A-Aku, Ayahmu..." lanjutnya dengan lirih. Bian sungguh tak sanggup lagi menahan rasa perih di hatinya. Ia pun menangis sesenggukan menatap iba pada putranya.


"Ini Ayah, Nak... Aku ayahmu..." Bian mengecup seluruh wajah putranya yang masih terdiam dengan deraian air mata yang menetes jatuh pada wajah bayinya itu.


"Ayah rindu kamu, Nak, Ayah rindu sekali denganmu..." ungkapnya seraya mendekat menyatukan hidungnya dengan hidung mungil bayinya.


"Maafkan Ayah yang baru menemukan kamu dan ibu, maafkan Ayah yang baru bertemu denganmu, maafkan Ayah, Nak, maafkan ayah..." ucapnya lagi sendu.


Bian masih menangis sesenggukan. Mendekap raga bayi kecilnya itu dengan perasaan penuh sayang. Hatinya begitu sangat perih menyayat kalbu. Dapat bertemu dengan bayinya adalah sebuah keajaiban dalam hidupnya.


Haru dia rasakan saat ini.


Bian memejamkan matanya seraya menghirup dalam-dalam aroma bayinya itu. Baju lusuh yang di kenakan oleh bayinya itu terlihat basah oleh tetesan air matanya.


Hingga terdengar suara bayinya yang ikut menangis seolah mengerti apa yang tengah Bian ucapkan kepadanya.


"Sayang," Bian terkejut kala bayinya menangis secara tiba-tiba. "Kamu menangis, Nak? Apa Ayah menyakitimu? Apa kamu merasakan sakit lagi?"


Bian begitu sabar dalam mengahadapi bayinya yang tengah menangis. Ia menepuk-nepuk pelan raga kecil itu dengan lembut dan penuh dengan kehati-hatian.


"Cup-cup... maafin Ayah ya, Nak. Maafin Ayah yang udah bikin kamu menangis."


"Ayah janji nggak akan pernah buat kamu menangis apapun itu alasannya. Ayah akan berusaha untuk membuat kamu dan ibumu terus tersenyum mulai detik ini."


"Jangan nangis lagi ya, sayang. Ayah akan selalu ada untuk kamu. Karena Ayah sangat sayang dan mencintai kamu," ungkapnya seraya mendaratkan satu kecupan di bibir bayinya.


"Kamu adalah hal terindah yang pernah hadir di hidup Ayah. Kamu adalah separuh napas pada setiap genap jiwa raga Ayah. Jangan pernah tinggalkan Ayah lagi ya Nak. Ayah janji akan menjadi seorang Ayah yang baik dan dapat kamu banggakan. Yang dapat kamu andalkan. Dan kamu cintai sepenuh hatimu." ungkapnya.


"Kamu harus kuat, kita harus mendoakan ibu agar cepat sadar agar kita dapat berkumpul bersama." ujarnya, seraya kembali mengelus wajah bayinya dengan lembut.


Tangis bayi itu mereda menyisakan titik air mata di sudut mata jernihnya. Bibirnya rapat dengan lengkungan di kedua sudutnya menahan tangis. Bayi mungil itu menatap wajah Bian dengan sendu seolah ia meyakini jika saat ini pria asing yang baru ia temui hari ini adalah benar nyata ayahnya. Sosok seorang ayah yang sangat ia rindukan keberadaannya, kini tengah mendekapnya dengan erat yang mana membuatnya merasakan kenyamanan yang ia nantikan selama ini.


***


Di sisi lain di sebuah kamar rawat inap pasien di rumah sakit yang sama.


"Aaric datang, Pa," ucap seorang pria jangkung yang baru saja datang dan masuk ke dalam kamar pasien tersebut.


"Ar," panggil seorang pria paruh baya yang tengah terduduk di sebuah ranjang pasien.


Ganantra Halim. Salah satu konglomerat yang memiliki kerajaan bisnis di berbagai bidang usahanya. Ayah kandung dari Aaric Leonathan Halim. Putra semata wayangnya dari istri tercintanya Sofia mulawardi Halim.


"Kamu akhirnya datang juga."


"Papa pikir aku nggak bakalan datang gitu?"


"Kamu selalu tahu apa yang Papa pikirkan." balas pria paruh baya tersebut.


"Aaric mana mungkin tega membiarkan Papa sendirian di sini." ucapnya menghampiri ayahnya sejurus kemudian memeluk raga lemah itu.


"Jangan lupakan Mama yang selalu setia menemani Papa kamu di sini, Ar." sela ibunya yang berada tepat di samping suaminya yang tengah sakit itu.


"Ya nggak dong Mamaku yang cantik ini. Mama selalu yang paling terbaik untuk dua lelaki milikmu ini," ucapnya mengecup pipi ibunya.


"Kamu ini, Ar," kata ibunya tersipu malu.


"Jadi, sekarang apa lagi? Kenapa Papa bisa ada di sini, hem? Ayo Papa jawab Aaric,"


"Apa harus Papa seperti ini agar anakmu ini cepat pulang dan kembali ke pangkuan kedua orang tuanya?" ujarnya sembari memangku kedua tangannya di dada. Lelah dengan kelakuan ayahnya yang selalu meminta perhatian darinya. Nasibnya menjadi seorang anak laki-laki semata wayang kedua orang tuanya. Aaric geleng kepala dengan tingkah kedua orang tuanya yang tak ubah seperti anak kecil.


"Kamu ngomong apa sih Ar, Papa kamu sedang sakit serius kali ini." ungkap ibunya menatap sendu wajah suaminya.


Mendengar suara ibunya yang seperti tidak sedang bercanda, Aaric menatap ayahnya dengan kerutan di dahi untuk meminta penjelasan.


"Pa?" tanya Aaric.


"Maafin Papa Ar," ucap sendu ayahnya.


"Maag Papa kamu kambuh lagi, Ar. Memang nakal Papa kamu akhir-akhir ini susah sekali di bilanginnya."


Mendengar kalimat ibunya, Aaric kini beralih pada ayahnya.


"Papa mikirin apa lagi sampai sakit seperti ini?" tanyanya dengan kecemasannya sebagai seorang anak yang menyayangi orang tuanya.


"Kalau ini tentang aku, Aaric mohon Pa, anakmu ini sedang berusaha. Aaric minta Papa untuk bersabar, cepat atau lambat Aaric juga akan segera menikah. Tapi Aaric mohon, beri Aaric kebebasan untuk menentukan pilihan aku sendiri." tuturnya.


Pak Anan menghela napasnya.


"Papa sudah tua Ar, Papa sekarang sering sakit-sakitan. Kamu adalah harapan Papa satu-satunya sebagai penerus keluarga Halim. Papa takut jika umur menjadi alasan Papa nggak bisa melihat kamu membangun sebuah keluarga."


"Papa kok ngomongnya gitu sih?" ucap istrinya menimpali.


"Pa, please... Aaric mohon Pa. Aaric sedang berusaha meski kenyataannya buatku itu nggak mudah. Butuh waktu Pa buat Aaric untuk menjalani itu semua. Aaric yakin Papa akan berumur panjang dan bisa menyaksikan cucu-cucu Papa nantinya."


"Papa nggak yakin Ar, Papa ikhlas jika Tuhan akan menjemput Papa meski secepat ini."


"Pa!" pekik ibu dan anak itu serempak.


"Papa harus yakin jika Papa mau berusaha untuk sembuh. Demi Mama dan Aaric Pa, demi adek juga,"


Pak Anan dan Bu Sofia menoleh bersama pada putranya itu yang tak sadar telah menyebut sebuah nama yang selalu membuat mereka merasakan perih dan pedih dalam hatinya setiap kali mengingatnya.


"Asyilla..." ucap Bu Sofia dengan lirih penuh dengan kesedihan.