
Bian mengerjapkan mata saat mendengar suara dering ponselnya yang cukup nyaring hingga membuatnya terbangun dari tidurnya. Tak sadar pria itu meringkuk lama di atas sebuah karpet plastik tipis setelah terjaga mengawasi kedua orang yang ia sayangi tertidur lelap diseberang sana.
Dengan cepat ia menggapai ponselnya yang terus berdering hingga menampilkan sebuah nama di layar benda pipih itu.
"Ya," jawab Bian pendek saat menerima sambungan telepon tersebut.
"Hallo, Pak. Ini saya Dimas."
"Hem, ada apa?" deham Bian membalas dengan malas.
"Ini sudah sore, Bapak jadi tidak untuk datang ke kantor?"
"Kantor?" tanya Bian balik dengan wajah bingungnya. "Buat apa saya ke kantor di sore hari begini? Kamu jangan mengada-ngada ya, Dim."
Dimas berdecak pelan, "Mana ada saya mengada-ngada. Bapak ingat tidak hari ini akan ada meeting dengan para staff? Mereka menunggu Pak Bian sejak siang tadi. Pak Bian jadi datang atau enggak ini? Udah sore juga waktunya para karyawan pulang."
Bian mencerna dengan baik saat mendengar kalimat penjelasan dari asistennya. Pria itu baru teringat pada kesibukannya hari ini yang terlewat karena mengurus anak dan istrinya.
Terdengar Bian menghela napas, yang sejurus kemudian kembali bersuara.
"Iya," jawabnya dengan ambigu.
"Iya apa?"
"Ya udah, tunda saja sampai besok. Hari ini saya sedang sibuk. Nggak mungkin juga saya ke kantor sekarang juga. Lebih baik kamu suruh pulang saja mereka."
Dimas mengesah kasar, "Iya-iya, saya tahu Bapak lagi sibuk. Ya udah, jangan lupa besok meeting dijadwal ulang pagi ya Pak. Saya pamit buat nyuruh pulang anak-anak,"
"Hem," balas Bian seraya mematikan sambungan teleponnya.
Bian menyimpan asal ponselnya yang kemudian ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Suasana hening, tak terdengar suara apapun selain jam dinding yang berdetak memutari angka. Baru menyadari jika ia masih berada di rumah kecil milik Kiana.
Kepalanya sedikit terasa pusing karena terbangun dari tidur yang secara tiba-tiba. Bian mengusap wajah dengan kedua tangannya seraya memijat tengkuknya yang terasa tegang.
Hingga kedua matanya membelalak kala melihat pemandangan yang membuatnya terkejut dengan tatapan tak percaya. Netra matanya mendapati sesosok raga kecil yang tengah terbaring sendirian di sana. Bian dapat melihat putra kecilnya itu terbangun dari tidurnya dengan tangan dan kaki mungilnya yang saling bergerak-gerak.
"Al?" panggilnya pelan pada bayinya.
"Sayang, kamu bangun, Nak?" ucapnya lagi seraya meraih Al ke dalam pangkuannya.
"Kamu sendirian? Anak Bapak terbangun sendirian sejak tadi?" tanyanya pada seorang bayi kecil yang hanya terdiam menatap kedua matanya.
"Ibu kemana? Kenapa kamu sendirian, hem?" Bian memperhatikan Al yang terdiam seraya mengerungkan dahinya saat menatap wajah ayahnya.
Bian mengedarkan pandangan matanya untuk mencari keberadaan Kiana yang tak ada di sana.
Kemana istrinya itu? Kenapa Kiana membiarkan bayi mereka tinggal sendirian?
Bian kembali beralih pada putranya yang kembali aktif menggerak-gerakkan tangan dan kakinya ke udara.
"Uh... sayangnya Bapak," ucapnya seraya menciumi seluruh wajah putranya. "Maafin Bapak, Nak. Kamu pasti sedih karena ibu nggak ada."
"Kamu jangan sedih lagi apalagi menangis. Di sini udah ada Bapak yang akan terus menjaga dan melindungi Al."
Bian menghela napas sesaat sebelum ia kembali bersuara untuk berbicara bersama putra kecilnya. Bian membingkai wajah tampan putranya itu dengan perasaan haru yang bersarang dalam hatinya.
"Kamu tahu, Nak? Bapak nggak pernah menyangka akan memiliki kamu secepat ini. Bapak merasa ini seperti sebuah mimpi ketika melihat kamu untuk pertama kalinya. Tapi bukan berarti Bapak nggak sayang sama kamu. Bapak sangat-sangat sayang sama kamu, Nak." ungkapnya.
"Kamu adalah anugrah terindah yang pernah Bapak dapatkan. Sebuah keajaiban yang datang di saat masa pelik yang sedang Bapak jalani. Bak seperti air yang menyejukkan di gurun pasir yang sangat gersang. Kamu mampu menjadi obat dari segala kesakitan yang Bapak rasakan selama ini." ungkapnya lagi menatap sendu putranya yang hanya terdiam mendengarkan suara Bian dengan mulut yang membulat kecil.
"Bapak begitu sangat bersyukur kamu hadir di dunia ini. Kamu adalah separuh jiwa Bapak yang telah kembali melengkapi nyawa ini. Bapak nggak bisa hidup tanpa kamu. Bapak nggak bisa membayangkan jika kamu tidak datang dalam kehidupan Bapak. Bapak akan merasa tersiksa jika hal itu terjadi."
Terdengar suara lenguhan dan deruan napas si kecil yang seolah merespon perkataan ayahnya, yang tak lama kemudian bayi kecil itu kembali aktif bergerak-bergerak seolah merasa senang berada dalam pangkuan Bian.
Bian tersenyum merekah melihat tingkah menggemaskan putranya itu. Ia kembali mendaratkan kecupan demi kecupan di wajah bersih Al yang seolah tak ada puasnya untuk ia ciumi.
"Kamu tahu? Bapak begitu sangat mengagumimu, Nak. Melihat wajahmu seolah bapak seperti berkaca pada sebuah cermin yang sama." tuturnya menelisik wajah tampan putranya dengan seksama.
"Maafkan Bapakmu ini yang belum bisa membahagiakan kamu, Nak. Bapak begitu sangat berdosa karena telah membuat kamu dan ibu menderita." ungkapnya dengan lirih.
"Bapak janji akan berusaha membuat kamu bahagia dengan segenap jiwa dan raga selama Bapak mampu. Bapak akan menjadi seorang ayah yang selalu siap menerima keluh kesahmu setiap saat, hingga kamu beranjak dewasa nanti. Sehingga kamu akan merasa bangga memiliki seorang ayah yang banyak sekali kekurangannya seperti Bapak ini." terangnya.
"Bapak mohon, Nak. Cepat sembuh. Sehat selalu. Beri kesempatan Bapak untuk mewujudkan itu semua bersama kamu." mata Bian berkaca-kaca menahan tangis hingga terdengar suaranya yang tercekat.
Seseorang yang sejak tadi berada dibalik pintu mendengar penuturan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Bian, hanya dapat mencoba menghela napasnya yang terasa berat.
Kiana. Ya, gadis itu tengah menyandarkan raganya di balik pintu dengan pandangan mata yang mulai mengembun.
Kiana memejamkan mata, meresapi semua perasaan yang bergejolak dalam hatinya. Meski saat ini tak terasa tetesan air bening lolos begitu saja dari sudut matanya.
"Kenapa terasa sakit seperti ini ya, Tuhan..." Kiana meremas ulu hatinya yang tak terasa berdenyut nyeri. "Kenapa Engkau birkan pria itu kembali hadir diantara hidup kami." gumamnya, tubuhnya luruh di balik pintu sembari menahan suara isak tangisnya.
Kiana menghapus jejak-jejak air mata di pipinya. Ia segera bangkit untuk berjalan menghampiri dua pria berbeda generasi itu setelah cukup mampu menenangkan hatinya.
"Ki?" panggil Bian pada Kiana saat melihat kedatangan gadis itu. Bian mendapati Kiana yang datang membawa tentengan plastik besar di kedua tangannya yang ringkih.
"Kamu dari mana?" tanyanya sembari memindai gadis itu. "Kenapa kamu biarkan Al tertidur sendirian? Kenapa kamu nggak bangunkan saya untuk menjaganya?"
Kiana terdiam tak menjawab Bian. Ia meletakkan jinjingan besar itu di sudut rumah. Ekor matanya dengan jelas dapat melihat Bian yang tengah menggendong Al dengan penuh kesungguhan.
"Saya terus panggil kamu tapi kamunya nggak ada." ujarnya lagi.
Kiana masih tak menyahut. Ia memperhatikan bayinya yang berada dalam gendongan Bian seolah merasakan kenyamanan dalam dekapan hangat ayahnya.
"Saya lihat Al tadi sendirian saat saya terbangun." ucapnya saat melihat wajah tak suka Kiana melihatnya dengan tatapan yang nyalang saat dirinya sedang menggendong putranya sendiri.
"Maafin saya karena tertidur," ungkap Bian dengan kepala menunduk merasa bersalah.
"Saya terkejut saat melihat Al terbangun dengan kondisi sendirian seperti tadi. Saya takut jika terjadi sesuatu padanya tanpa ada yang menjaganya." sambungnya.
"Dia sudah terbiasa sendirian tanpa bantuan dari orang lain. Jadi Bapak nggak usah khawatir dengan keadaanya karena dia nggak butuh siapapun terkecuali saya ibunya." ucap Kiana pada akhirnya yang langsung menusuk tajam seperti belati.
Bian mendongak untuk melihat Kiana yang tengah berbicara padanya. Kalimat yang keluar dari mulut gadis itu seketika sukses membuatnya merasakan perih di hati. Kiana sukses menyindirnya dengan baik. Bian memang pantas mendapatkannya.
"Maaf," gumam Bian pelan.
"Saya nggak butuh maaf dari Bapak. Saya hanya butuh Bapak untuk pergi dari hidup kami." tegasnya membuat Bian membulatkan matanya penuh seraya menggeleng kuat tak terima jika ia harus kembali berjauhan dengan anak dan istrinya.
"Nggak! Saya nggak bisa! Saya nggak mau jauh dari Al, dia juga butuh saya sebagai ayahnya." ucapnya tak terima.
Kiana mendengus kasar. Dia menghela napas untuk menetralkan degupan jantungnya yang serasa berdetak dengan irama cepat.
"Berkali saya sudah bilang, saya nggak butuh belas kasihan dari siapapun, termasuk Bapak. Saya minta Bapak pergi. Jangan ganggu hidup kami lagi. Lebih baik Bapak urusi keluarga Bapak sendiri yang sudah berbahagia itu. Tidak perlu bersusah payah untuk mengurusi kami yang nggak berarti apapun untuk Bapak!"
"Saya nggak bisa, Ki. Saya cuma mau kamu dan juga bayi kita."
"Bapak yakin? Tapi kenapa baru sekarang?" ucap Kiana datar tanpa ekspresi. "Kenapa?" tanyanya lagi dengan nada suara yang mulai meninggi.
"Apa yang Bapak harapkan dari orang miskin seperti kami? Kami hanyalah seorang tak berguna yang hidup di dunia ini dengan segala kesusahan. Kami hanyalah seorang pembawa sial yang terlahir kurang beruntung. Lantas apa yang Bapak inginkan dari kami? Dimana anda selama ini di saat kami membutuhkan bantuan dalam keadaan kesulitan?"
"S-saya," lidah Bian seolah Kelu hanya untuk menjawab pertanyaan Kiana. "Saya--"
"Saya harap Bapak tidak ikut campur terlalu dalam dengan keadaan hidup kami. Saya mohon, Pak, jangan sakiti hati kami lagi. Jika Bapak tidak menginginkan kami, lepaskan kami. Biarkan kami hidup tanpa harus berada dalam bayang-bayang anda. Saya lelah dengan semua ini. Saya hanya seorang manusia lemah yang tak berdaya. Biarkan kami untuk hidup tenang. Saya mohon... pergi..." Kiana tak dapat lagi menahan deraian air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Baru secuil rasa sakit yang bersarang di hatinya ia keluarkan dengan tanpa keraguan.
"Kiana..." ucap Bian dengan suara bergetar.
"Pergi... kembalilah pada wanita yang anda pilih dan begitu anda cintai. Saya nggak akan menggangu hidup kalian. Saya janji tidak akan menyusahkan Bapak. Saya akan hidup seolah saya tidak pernah dilahirkan di dunia ini. Begitu pun juga dengan bayi saya. Bapak terbebas dari segala bentuk tangguh jawab yang membebani anda selama ini. Kembalilah pada wanita itu. Saya mohon pergi, Pak. Pergi..." Kiana luruh terduduk dilantai bersamaan isak tangis yang begitu menyayat hati.
Bian yang menyaksikan itu semua mencoba untuk mencerna kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut istrinya. Rasa perih kembali hadir mengusik tanpa permisi dalam hatinya.
Apa yang sebenarnya Kiana pikirkan? Mengapa gadis itu begitu membenci dirinya saat ini? Apa yang telah terjadi pada gadisnya itu? Seberat itukah cobaan hidup yang Kiana jalani?
*****