Secret Love

Secret Love
One Sweet Day



Kiana tercengang dengan mata membulat ketika ternyata Bian membawanya ke suatu tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kini mereka berada di sebuah tempat wisata edukasi aquarium raksasa atau sering di sebut juga Sea World Indonesia.


Disepanjang mereka berjalan memasuki tempat wisata tersebut, Bian tak segan-segan terus mengamit lengan Kiana seolah enggan untuk melepaskannya.


Sesampainya berada di dalam, Kiana semakin takjub dengan suasana yang dihadirkan di sana. Ia seperti berada di dalam lautan biru yang dikelilingi banyak oleh hewan laut.


Kiana dapat melihat dengan jelas oleh mata kepalanya sendiri berbagai jenis ikan yang melayang-layang di atas kepalanya seperti sedang menari-menari mengelilinginya yang hanya tersekat oleh dinding kaca tebal.


Manik matanya tak lepas memperhatikan dan mengamati hewan yang berada di balik dinding kaca tersebut. Tanpa sadar, ia menarik lengan Bian untuk semakin mendekatkan dirinya pada pembatas dinding kaca, kemudian mengusap permukaan dinding tersebut yang menampilkan ikan besar yang seolah tengah melihatnya.


Tak puas Kiana terus berdecak kagum dalam hatinya. Bibirnya melengkungkan senyuman tipis menyaksikan ikan-ikan kecil cantik yang berenang ke arahnya seolah menyapa dibalik dinding tersebut.


Bian yang menyaksikan itu semua hanya mampu tersenyum. Melihat wajah Kiana yang penuh dengan senyuman membuat hatinya seketika menghangat. Ia terus memandangi Kiana yang masih asik memperhatikan hiburan kecil yang ada di depan matanya. Sosok Kiana telah berhasil mendominasi alam bawah sadarnya. Bian tak sadar akan hal itu.


"Suka?" tanya Bian. Pria itu berdiri sangat dekat di belakang Kiana, sehingga Bian dapat merasakan wangi rambut Kiana yang menguar ke dalam indra penciumannya.


Kiana menoleh pada Bian yang berada di belakangnya. Gadis itu lupa jika ia sedang bersama Bian yang membawanya ke tempat itu. Ia terhipnotis dengan rasa kekagumannya pada apa yang baru di lihat untuk pertama kalinya.


"Pak Bian?" ucap Kiana yang merasa sangat malu ketika di tatap seperti itu oleh Bian membuat wajahnya seketika memerah merona.


Bian semakin mendekatkan dirinya pada Kiana. Ia pun kembali tersenyum.


"Suka?" tanya Bian lagi. "Sepertinya kamu sangat menyukai semua ikan-ikan yang ada di sini. Begitu juga dengan ikan-ikan itu yang menyukai kamu." tuturnya seraya arah matanya memperhatikan hewan laut yang saling melayang-layang di depannya.


"Iya, saya suka. Ini pertama kali saya melihat ke tempat seperti ini. Sangat mengagumkan." balas Kiana ikut memperhatikan kembali ikan-ikan yang berenang ke sana-kemari. sangat lucu pikirnya.


"Saya juga kembali suka." ucap Bian. Kiana menoleh pada Bian karena ucapan pria itu yang mengatakan 'kembali suka'. Apa maksud Bian dengan kata itu? Kiana nampak menyimak dengan Baik kalimat Bian yang tengah bernostalgia dengan masa kecilnya.


"Dulu saat masih kecil, Mama dan Papa sering bawa saya ke tempat ini karena saya yang terus merengek untuk meminta pergi." ungkap Bian yang kemudian tertawa pelan. Manik matanya melihat ke arah seorang anak kecil yang begitu antusias melihat berbagai jenis ikan dengan tatapan berbinar. Sama sepertinya dulu.


"Saya menyukai dunia laut. Sangat mengagumi berbagai jenis ikan dan biota laut yang ada di dalamnya. Maka dari itu, Mama dan Papa selalu mengajak saya ke tempat ini sampai saya merasa bosan dan sudah tidak tertarik lagi. Apalagi waktu itu saya sudah masuk SMP, semua hal yang saya suka nggak pernah lagi saya sukai." jedanya seraya menghela napas ketika mengingat masa kecilnya yang sangat menyenangkan.


"Kenapa?" tanya Kiana yang tidak sadar tetiba menanyakan hal itu.


Bian tersenyum tipis sebelum kembali bersuara.


"Karena saya malu. Takut dibilang anak Mama. Dan pada kenyataannya saya memang masih menjadi anak manjanya Mama. Meski orang-orang di luar sana nggak akan pernah tahu dan bisa melihatnya. Tapi itu kenyataanya."


Kiana yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis. Ternyata benar, Bian memanglah anak Mama. Yang tidak bisa jauh dari sosok ibunya. Sangat romantis sekali, pikirnya. Kiana menjadi iri pada sosok pria yang pintar menyembunyikan jati diri yang sebenarnya dari semua orang itu.


"Kamu ketawain saya?" ucap Bian dengan mata menyipit meminta penjelasan.


Kiana menggeleng cepat. Tentu ia tersenyum bukan maksud untuk meledek tuan mudanya itu.


"Maaf Pak, saya nggak bermaksud--"


"Karena kamu sudah berani ngetawain saya, kamu harus mendapat hukuman saat ini juga." ucap Bian membuat Kiana bergidik ngeri dengan ucapannya. Kiana takut hukuman yang akan dia dapatkan sama seperti sebelumnya. Apa pria itu tidak malu melakukannya di depan banyak orang. Kiana menggeleng pelan menepis perkiraan buruknya itu.


Melihat Kiana berair muka seperti itu membuat Bian semakin gemas dan ingin sekali memakan gadis itu.


"Kemari!" perintahnya. "Jangan berpikiran aneh, saya tahu apa yang kamu pikirkan. Tidak sekarang Kiana. Saya masih tahu diri dimana kita berada. Berdiri di sana dan jangan banyak bergerak." titahnya lagi.


Kiana bingung apa yang akan di lakukan oleh Bian padanya. Pria itu menyuruhnya hanya untuk berdiri dan satu lagi, tersenyum. Ya, saat ini sedang Bian mengambil photo dirinya menggunakan bidikan kamera ponsel milik pria itu yang mana Kiana seperti seolah tengah berpose dengan senyuman manisnya yang dilatar belakangi oleh dinding kaca yang menampakkan berbagai jenis hewan laut itu.


Bian tidak malu sama sekali meski banyak pengunjung yang memperhatikan mereka yang layaknya seperti sepasang kekasih tengah berkencan di tempat itu.


Setelah puas mengitari tempat tersebut dan mengambil beberapa gambar diri mereka, Bian menarik Kiana kembali membawanya pergi dari sana.


"Kita pulang Pak?" tanya Kiana disaat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Apa kamu ingin pulang? Saya belum puas rasanya membawa kamu pergi ke tempat lainnya." jawab Bian dan kembali fokus mengendari mobilnya.


"Tempat lain?"


"Ya, tempat lain yang saya yakin kamu akan lebih sekadar dari menyukainya." ucapnya, Kiana hanya menganggukkan kepalanya. Pasrah saja ketika Bian akan membawanya pergi kemana pun.


Dufan.


Sebuah tulisan yang kini terpampang nyata di depan matanya. Kiana dapat membaca tulisan Dunia Fantasi itu dengan membeliakkan mata tak percaya saat ini dirinya berada di tempat itu.


Ingin rasanya ia bersorak girang karena begitu senangnya ia berada di sana. Keinginannya untuk datang ke tempat itu kini terwujud menjadi kenyataan.


Bagaimana tidak, sejak dulu saat masih bersekolah dia ingin sekali pergi seperti teman-temannya untuk bertamasya dalam acara tahunan sekolah. Namun sayangnya, dia tidak dapat mengambil serta untuk ikut berpartisipasi mengingat keadaan ekonominya yang tidak memungkinkan. Apalagi pada saat itu keadaan panti sedang tidak baik. Mereka semua dalam keadaan kesusahan. Maka dari itu Kiana tidak ingin menambah beban pikiran ibu panti dan orang-orang yang berada di dalamnya demi egonya semata.


Dufan, merupakan theme park yang berada di salah satu tempat di ibu kota yang tak jauh dari tempat wisata yang Kiana dan Bian kunjungi sebelumnya. Dufan menjadi tempat wisata dengan berbagai macam jenis wahana yang dapat dinaiki oleh semua kalangan mulai dari anak kecil sampai orang dewasa sekalipun dengan kategori dan syarat tertentu.


Saat ini, Bian membawa Kiana menuju wahana komedi putar yang paling dekat dengan gerbang masuk utama. Wahana yang satu ini Bian pikir salah satu wahana yang paling aman bagi seorang wanita hamil seperti Kiana. Bian tidak akan terlalu khawatir jika mereka menaiki wahana tersebut mengingat dalam perut Kiana terdapat buah hatinya yang masih rentan untuk merasakan aktifitas berat dari ibunya.


Reaksi Kiana sama seperti sebelumnya. Bian dapat melihat wajah ceria pada Kiana. Tak ingin memutus kesenangan gadis itu, Bian dengan segera membawa Kiana ke wahana lainnya yang dia perkirakan sangat aman untuk Kiana.


Salah satunya wahana istana boneka. Saat menaiki wahana tesebut, Kiana tak lepas memasang wajah cerianya dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Bian memegangi tangan Kiana erat saat perahu yang mereka naiki berjalan membawa mereka untuk berpetualang menyaksikan boneka miniatur yang memperkenalkan berbagai budaya dari seluruh dunia.


Bian sungguh terpesona. Bukan karena kekagumannya saat melihat miniatur boneka tersebut. Dia sudah tidak seantusias seperti dulu saat ia masih kecil. Akan tetapi, Kiana lah yang membuatnya terpesona. Ya, Kiana yang membuatnya merasakan desiran hangat di dalam dirinya kembali mencuat.


"Lagi?" tanya Bian. Saat ini mereka sedang berjalan sembari melihat-lihat wahana yang begitu ramai di kunjungi oleh banyak wisatawan. Ingin rasanya Bian mengajak Kiana merasakan semua wahana yang tersedia di sana. Tapi nampaknya dia harus menahan diri kala mengingat keadaan Kiana yang tidak memungkinkan.


"Boleh?" ucap Kiana dengan mata berbinar. Kiana begitu sangat senang. Akhirnya ia dapat merasakan wahana yang sering ia impikan untuk menaikinya.


"Heem, tapi satu saja."


"Satu?" Kiana mengerutkan dahinya tampak kecewa saat Bian hanya mengizinkannya untuk dapat menaiki satu wahana lagi. Kiana belum puas. Mumpung ada di sini, dia ingin menaiki semua wahana sampai ia puas. Apalagi dia tidak tahu kapan lagi ia akan datang ke tempat ini. Ya, walau saat ini ia pun begitu sangat terkejut Bian membawanya ke tempat yang sangat ia idamkan sejak kecil.


"Ya, satu lagi. Ingat keadaanmu yang sedang hamil. Saya nggak mau terjadi sesuatu dengan bayi saya karena kamu kelelahan."


"Tapi--" Kiana sempat tidak terima. Ia ingin sekali menaiki semua wahana. Ia bahkan berjanji akan hati-hati dan mencoba tidak akan kelelahan. Pikiran macam apa itu? Kiana ingat jika ia tidak boleh membantah perkataan pria di sampingnya. Apalagi ini untuk kebaikan dirinya dan juga bayinya.


"Kita akan mencoba bianglala. Nanti saat di atas, kita bisa melihat sudut kota dari ketinggian. Kamu mau?" ucap Bian menawari Kiana yang saat ini sedikit cemberut. Bian begitu gemas sekali melihatnya. Kiana sangat lucu jika sedang cemberut seperti itu.


"Ayo, kita harus segera naik karena cuaca sepertinya akan mulai tidak bersahabat." Bian menarik Kiana masuk ke dalam barisan para pengunjung, mengantri untuk menunggu giliran mereka menaiki wahana sesuai yang dijanjikan olehnya.


Kiana sempat melirik sepintas telapak tangannya yang digenggam oleh Bian. Kembali ia merasakan sesuatu hal yang menggebu di dalam hatinya. Perasaan aneh yang berdesir kuat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan hangat, aman, dan juga menenangkan saat tangan mereka saling bertaut seperti itu.


Satu hari yang sangat manis pikir Kiana. Ia tersenyum senang kala jemarinya merasakan semakin erat Bian mengamit tangannya.