Secret Love

Secret Love
Haru Biru



"Sebaiknya Dede bayinya di kasih minum susu dulu, Bu," ucap seorang suster yang baru saja selesai memeriksa keadaan Kiana melihat bayi Al yang rewel menangis.


"Iya, Sus." jawab Kiana seraya menimang menenangkan Al yang terus saja menangis di dalam gendongannya.


"Ibu perlu bantuan saya?" ucap suster tersebut menawarkan diri.


Kiana mendongak untuk melihat suster tersebut yang berdiri tepat di hadapannya setelah selesai merapikan peralatannya.


"Nggak perlu Suster, terima kasih." tolak Kiana.


"Tapi itu Dede bayinya masih nangis, lebih baik Ibu segera memberinya minum."


"Bayi saya belum bisa minum ASI," ucap Kiana meringis saat mengatakannya.


"Kalau begitu saya bantu siapkan susu formulanya ya, Bu?" ucap lagi Suster tersebut.


"Nggak perlu Sus, bayi saya nggak bisa minum susu formula."


Suster tersebut terlihat bingung dengan penuturan Kiana hingga ia terlihat serba salah saat ingin membantunya.


Bian yang diam-diam mendengar dan memperhatikan aktifitas di dalam sana dengan cepat segera berhambur masuk menghampiri Kiana dan juga bayinya.


Terlihat Kiana dan suster tersebut tengah berbicara serius, namun sayang Bian tak dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.


Sebenarnya dia tak tega saat mendengar bayinya itu menangis cukup lama hingga terdengar sampai ke luar dimana ia berada menunggui Kiana. Tapi apalah daya, Kiana selalu menolak keberadaan dirinya untuk berada dekat dengan istrinya itu. Belum lagi Kiana yang bersikap dingin mengacuhkan dirinya seolah menganggap dirinya tak ada.


Namun sekarang ia memberanikan diri untuk menemui Kiana dan tak peduli jika Kiana akan kembali berteriak menyuruhnya untuk pergi lagi. Tak apa jika saat ini Kiana bersikap seperti itu, bahkan Bian rela jika Kiana sampai akan menyumpah serapah sekalipun padanya. Dia pantas mendapatkan semua itu, tak sebanding dengan apa yang sudah dia lakukan pada Kiana, sehingga membuat kedua orang yang dia sayangi itu hidup kesusahan.


Yang terpenting saat ini ia begitu sangat mengkhawatirkan keadaan putranya yang tengah menangis di dalam sana. Rasanya Bian ingin sekali meraih putranya itu ke dan membawanya ke dalam dekapannya.


"Ada apa, Sus? Istri dan anak saya baik-baik saja kan?" tanya Bian dengan raut cemas


saat berhasil berada ditengah-tengah istri dan anaknya.


"Dede bayinya menangis, Pak, mungkin karena haus dan lapar." balas Suster.


"Lalu? Kenapa tidak langsung di beri minum saja? Suster bisa lihat bukan kalau anak saya menangis?!" sentak Bian pada Suster tersebut tak terima jika bayinya menangis karena haus dan kelaparan dibiarkan begitu saja.


"Maaf Pak, ibu Kiana sudah saya coba untuk bantu. Tapi beliau menolak karena bayinya belum bisa diberi ASI,"


Bian menajamkan pendengaran dan penglihatannya secara seksama. Ia mencerna kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh suster tersebut mengenai bayinya.


"Ki?" tanya Bian menatap Kiana untuk meminta penjelasan pada istrinya. Kiana hanya terdiam sembari terus menenangkan Al yang masih menangis agaknya memang merasakan haus dan lapar.


"Kamu nggak mau kasih bayi kita minum? Kamu nggak mau menyusui anak kita?" ucap Bian tak habis pikir dengan Kiana. Kenapa setega itu Kiana membiarkan anaknya sendiri tersiksa kelaparan karena tak mau memberi air ASI nya untuk Al.


Kiana tak menjawab. Dia malah memalingkan wajahnya yang basah untuk menyembunyikannya dari Bian.


"Jawab saya, Ki!" Bian masih menatap tak percaya pada istrinya itu. Bian mengesah kasar seraya mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. "Sus, bisa beri bayi saya susu formula sekarang juga?" Bian beralih pada suster untuk mengalihkan rasa kekecewaanya pada Kiana. Ia tak mau sampai tak bisa menjaga emosinya hingga sampai dapat menyakiti Kiana.


"Maaf, Pak. Kata Bu Kiana Dede bayinya nggak bisa minum susu formula sembarangan." ungkap suster itu lagi.


Bian menggeram menahan kekesalannya dengan tangan yang saling mengepal di bawah sana. Ada apa lagi ini? Kenapa Kiana harus bersikap seperti ini? Apa setega itu Kiana pada bayinya sendiri? Ada apa dengan Kiana? Tak kasihan kah dia melihat bayinya menangis seperti itu?


"Sus, apa ada stok ASI di rumah sakit ini?" pada akhirnya Bian mencoba untuk meredam segalanya. Demi Kiana dan bayinya, ia tak mau sampai kehilangan kewarasannya lagi akibat tak bisa mengontrol emosinya.


"Ada Pak, saya akan siapkan agar bayinya segera menyusu." ucap suster tersebut bergegas pergi setelah menganggukkan kepalanya.


Bian kembali beralih pada Kiana yang masih mendekap bayinya seraya mengambil duduk di kursi samping ranjang pasien.


"Saya nggak tahu maksud kamu apa dengan mempersulit semuanya." ujar Bian menatap Kiana yang terlihat masih memalingkan wajah darinya.


"Sebenci itu kah kamu pada saya, Kiana?" tanya Bian menatap sendu Kiana.


"Apakah saya begitu memuakkan di mata kamu, Ki? Sehingga kamu tega membiarkan bayi kita tersiksa karena keegoisan kamu?"


"Al bayi saya juga, Kiana, jangan pernah kamu lupakan jika dia adalah darah daging saya. Saya adalah ayahnya dan kamu nggak akan pernah bisa memungkiri itu semua!"


"Kamu benci saya? Baik, saya terima. Kamu boleh membenci saya sebesar apa yang kamu mau, bahkan kamu bisa memaki, menampar, menyumpahi saya jika itu membuat kamu puas. Itu karena saya memang pantas mendapatkannya. Tapi saya mohon Kiana, jangan siksa saya dengan membiarkan bayi kita tersiksa seperti itu, biarkan dia mendapatkan apa yang dia butuhkan dari ibunya. Jangan melihat saya, jangan..." Bian menggelengkan kepalanya seraya menangkup kedua tangannya di dada.


Kiana menoleh pada Bian dengan wajah sembab penuh dengan air mata kala mendengar kalimat yang terucap dari mulut pria itu.


"Egois? Bapak bilang saya egois? Atas dasar apa anda dapat dengan mudah menyebut saya egois?" Kiana mendengus dengan perasan yang begitu perih, sakit ia rasa. Sudut bibirnya tersenyum sinis saat kembali menatap Bian dengan tatapan tajamnya.


"Apa Bapak fikir saya tega melihat anak saya sendiri tersiksa seperti ini? Apa Bapak berfikir saya egois lebih mementingkan perasan benci, marah, dan kecewa saya pada anda dengan mengorbankan anak saya sendiri?" ucapnya lantang.


"Bapak semakin salah dan jauh memahami kami. Teryata anda tidak tahu apa-apa tentang apa yang sudah kami lalui selama ini. Apa Bapak tahu apa itu tentang kesusahan? Bapak tahu itu?" tekannya dengan suara bergetar.


Bian terdiam seribu bahasa saat mendengar kalimat Kiana. Ia menatap nanar Kiana yang terlihat begitu emosional meluapkan isi hatinya yang terpendam.


"Saya dan bayi saya akan tetap kuat meski cobaan hidup kami semakin berat. Meski kami hidup dengan segala keterbatasan dan jauh dari kecukupan. Saya yakin pasti bisa. Jadi saya nggak butuh sikap peduli anda dengan terus menyudutkan saya seolah saya nggak peduli pada bayi saya sendiri."


Bian menelaah bait demi bait yang keluar dari mulut istrinya yang membuatnya seketika tertegun. Walau masih saja ada sedikit rasa kekecewaan dalam hatinya karena sikap egois Kiana, Bian berusaha sebisa mungkin untuk meredamnya.


"Maaf, ASI untuk Dede bayinya sudah siap." ucap Suster yang kembali membawa beberapa botol stok ASI yang kemudian diberikan pada Bian.


"Untuk Ibu Kiana setelah pulih kami sarankan untuk memeriksakan kesehatan perihal kesuburan air ASI nya ya Bu. Jika ada yang perlu dibutuhkan, Bapak Ibu bisa memanggil kami dengan tombol yang sudah tersedia."


"Makasih, Sus." ucap Bian menganggukkan kepalanya sekilas. Kemudian ia kembali beralih pada Kiana yang tertunduk, sepertinya terlihat sedang menangis di balik sana.


"Boleh saya gendong, Al?" tanya Bian pelan. Kiana tak bergeming untuk sekedar menjawab pertanyaannya.


"Saya mohon Kiana, izinkan saya untuk menggendong Al," melasnya berharap sekali. Tampak dari raut muka pria itu yang merasa bersalah setelah apa yang dikatakannya pada Kiana sebelumnya. Dia sadar bahwa apa yang dia katakan begitu sangat menyakiti hati Kiana. Dia tak memikirkan sejauh itu. Hingga lagi dan lagi ia kembali menyakiti hati gadis yang selama ini ia tunggu dan ia temukan keberadaannya.


"Apa yang kamu katakan benar, saya nggak akan pernah tahu apa yang sudah kalian alami untuk melalui jalan hidup tanpa saya selama ini. Dan saya nggak akan pernah tahu kesusahan seperti apa yang kalian coba lalui untuk bertahan dan berjuang sekeras mungkin sejauh ini."


"Maka dari itu, izinkan saya untuk menebus segalanya yang telah saya lewati untuk bersama-sama berada di samping kalian. Saya mohon Kiana, beri saya kesempatan itu, saya mohon..."


Bian mengulurkan tangannya berharap jika Kiana akan luluh dan memberikannya kesempatan untuk kembali mendekap bayinya ke dalam pelukannya.


Kiana menoleh pada Bian yang kini terlihat berwajah sendu dengan mata yang berair. Hatinya serasa terketuk, meski rasa sakit dan pedih ia masih rasakan atas apa yang pria itu ucapkan padanya.


Memang benar, pria itu tak akan pernah tahu apa yang telah terjadi padanya selama ini karena dia sendiri yang memutuskan untuk pergi dari kehidupan Bian demi kebahagiaan pria itu dan terutama keluarga Adijaya. Dia tak mau sampai dengan kehadiran dirinya semuanya akan hancur meski ia tahu itu semua tak adil untuknya.


Dan kini, pria itu kembali hadir dalam hidupnya. Datang begitu saja tanpa ia minta, mencoba untuk mengerti dan lebih peduli, hingga masuk lebih dalam lagi ke dalam kehidupannya.


Apa yang Bian inginkan darinya? Bayinya kah? Atau apa? Jika memang ia begitu peduli pada darah dagingnya sendiri, lalu kemana saja pria itu selama ini? Kenapa pria itu mengabaikan mereka berdua dan membiarkannya hidup dalam kesulitan?


Kiana termenung dengan segala beban pikiran yang berkecamuk dalam benaknya.


***


Kiana menatap nanar bayinya yang saat ini berada dalam pangkuan Bian. Melihat begitu nyamannya Al berada dekat dengan pria itu, sedikit merelakan jika ia merasa terabaikan dari bayinya sendiri saat ini.


Tapi tak apa, demi Al Kiana akan mencoba mengalah dan mengenyampingkan egonya. Melihat bayinya yang selama ini haus akan kasih sayang seorang ayah yang belum pernah dia dapatkan, Kiana merasa bijak dengan apa yang dia lakukan saat ini. Semuanya demi Al, Kiana tekan lagi dalam hatinya.


Bian terus mengecupi bayinya meski tengah dalam keadaan tertidur. Matanya berkaca-kaca dengan napas yang serasa sesak saat mendengarkan penuturan dari seorang Dokter mengenai keadaan bayinya.


"Anak kurang gizi bisa disebabkan oleh kekurangan makronutrisi, yaitu karbohidrat, lemak, dan protein, atau mikronutrisi, yaitu vitamin dan mineral. Bentuk paling sering muncul terkait kondisi kurang gizi pada anak adalah kwashiorokor dan marasmus. Kurang gizi dapat membuat anak mengalami gangguan pertumbuhan, seperti berat badan kurang, perawakan yang pendek, bahkan mengalami gagal tumbuh."


"Ini yang terjadi pada bayi Ibu Bapak. Bisa kita lihat berat badannya jauh dari pada bayi pada umumnya yang sudah menginjak usia 1 bulan. Banyak faktor yang mempengaruhinya, mungkin saat si bayi masih berada dalam kandungan atau bahkan dipengaruhi saat bayi setelah masa persalinan." tutur Dokter tersebut.


"Tapi bayi kami baik-baik saja kan, Dok? Apa bayi kami bisa sembuh dan normal selayaknya bayi pada umumnya?" cemas Bian dengan keadaan putra kecilnya. Tak menyangka jika kini ia dihadapkan dengan permasalahan kesehatan putranya itu.


"Bisa, bisa sekali. Dengan mulai sejak saat ini Ibu dan Bapak harus lebih memperhatikan asupan nutrisi si kecil dengan lebih baik. Mungkin setelah ini kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi perihal dengan keadaan bayi Ibu Bapak," ucap Dokter meringis saat mengatakannya.


Bian menganggukkan kepalanya seraya menoleh pada Kiana yang terdiam tanpa arti kala mendengar penjelasan dari Dokter.


"Lalu bagaimana dengan istri saya, Dok?"


"Ada beberapa penyebab ASI yang berproduksi sedikit. Mulai dari teknik menyusui yang salah hingga salah satunya hingga stress. Kurangnya ASI membuat para ibu merasa khawatir tidak dapat mencukupi kebutuhan nutrisi bayinya. Karena ASI adalah makanan utama bayi yang sangat dibutuhkan untuk menunjang tumbuh kembangnya dan melindunginya dari berbagai penyakit."


"Seperti salah satunya yang dialami oleh Ibu Kiana saat ini. Produksi ASI nya sedikit sehingga belum dapat memberikan ASI secara eksklusif untuk bayinya. Setelah mendengar keluhan dari Ibu, saya dapat menyimpulkan jika apa yang membuat jumlah produksi ASI tidak banyak karena Ibu Kiana sepertinya sedang mengalami banyak pikiran, mungkin banyaknya tekanan mental yang mempengaruhi sebagai seorang ibu baru sehingga dapat mempengaruhi hal tersebut." ucap Dokter obgyn tersebut yang Kiana dan Bian temui.


"Keharusan untuk merawat bayi setelah melahirkan dapat menyebabkan ibu mengalami stres karena kelelahan dan kurang tidur. Kondisi ini akan mengurangi pelepasan hormon oksitosin yang berperan dalam produksi ASI. Akibatnya, produksi ASI pun menjadi berkurang."


"Apalagi ini adalah pengalaman pertama bagi Ibu dan Bapak sebagai orang tua muda. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam merawat bayi. Terutama saat-saat si bayi membutuhkan banyak nutrisi dan perhatian lebih dari kedua orang tuanya."


"Namun, Bapak Ibu tidak perlu cemas, karena ada cara untuk mengatasi ASI sedikit seperti yang saya katakan sebelumnya." tukas dokter tersebut dengan senyumannya.


"Terima kasih, Dokter." ucap Bian setelah mendengar penjelasan dari dokter tersebut.


Bian menatap sendu melihat wajah tampan bayinya yang tengah tertidur pulas dalam pangkuannya. Setelah kembali ke kamar Kiana, Bian tak ada sedikitpun melepaskan Al dari gendongannya. Pria itu terus mengecupi bayi mungilnya dengan perasaan sakit yang tertoreh dalam hatinya.


Bayinya tersayang, bayinya yang malang.


Bian menangis tersedu-sedu menangisi keadaan putra kecilnya. Rasa penyesalan semakin bergelayut di dalam dirinya. Tak tertahan, Bian mendekap erat raga kecil itu hingga terdengar suara tangis kecilnya.


"Maaf... Maaf..." ucapnya lirih diiringi isakan tangis yang tak terbendung.


"Maafkan ayahmu ini, Nak... Maaf..." ungkapnya lagi. "Ya Tuhan..."


Kiana yang melihat itu semua terdiam dengan segala perasaan yang bercampur aduk. Perasaan haru, sedih, marah, dan kecewanya menjadi satu. Melihat pemandangan damai antara seorang ayah dan anak di hadapannya itu membuatnya semakin mengharu biru.


Kiana memalingkan wajahnya seraya menyeka titik air mata yang tak terasa menetes begitu saja.


Bian, ada apa dengan pria itu? Apa yang tengah terjadi dengan Bian hingga pria itu terlihat begitu emosional? Perasaan apa itu hingga ia melihat sebuah penyesalan dari sikap dan gelagat yang ditunjukkan oleh pria itu?