
Bian menatap Kiana dengan sendu yang masih terbaring lemah berada di atas ranjang pesakitan. Istrinya itu belum sadarkan diri juga. Sehingga Bian dengan sabar dan penuh dengan pengharapan menjaga Kiana, menungguinya sepanjang waktu berharap jika istrinya itu akan segera terbangun.
Kedua manik matanya tak lepas memperhatikan Kiana. Disusurinya setiap bagian yang ada pada tubuh ringkih kecil itu dengan hati yang mencelos. Kiana yang ia lihat saat ini begitu berubah dari kali terakhir ia melihatnya berbulan yang lalu. Raganya semakin rapuh. Dapat Bian pastikan jika gadisnya itu menjalani hidup dengan kesusahan selama ini.
Diraihnya tangan kurus Kiana untuk ia bawa ke dalam genggaman tangannya. Erat Bian genggam, hingga ia dapat merasakan suhu dingin yang terpancar dari raga lemah itu.
Dikecupnya berulang kali punggung tangan istrinya berharap jika saat ini juga Kiana akan segera terbangun. Tangannya yang lain membelai surai hitam panjang Kiana dengan lembut dan hati-hati. Tak mau sampai ia menyakiti istrinya itu.
"Saya rindu..." lirihnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Saya sangat rindu..." ucapnya lagi bersamaan dengan tangis yang tertahan.
Bian membawa genggaman tangan itu ke sisi wajahnya. Mengelusnya dengan lembut juga perlahan yang kemudian ia simpan menempel di permukaan pipinya.
"Kenapa kamu tinggalin saya, Ki? Apa sebenci itu kah kamu sampai muak untuk bersabar menunggu saya?"
"Kamu tahu? Hati ini begitu hampa seolah kehilangan sesuatu yang begitu sangat berharga untuk hidup saya."
"Dan hal berharga itu adalah kamu, kamu, Kiana. Kepergiaan kamu membuat saya merasakan kesakitan yang tidak pernah saya rasakan dan bayangkan sebelumnya."
"Saya takut nggak akan pernah menemukan kamu. Saya takut nggak akan pernah melihat wajah kamu lagi. Saya juga begitu sangat takut dengan semua ketakutan yang membuat saya lemah tak berdaya hingga merasakan kesakitan dalam hati ini karena kehilangan kamu, Ki..."
Bian merasa dirinya begitu rendah di hadapan Kiana saat ini. Dengan semua penyesalan yang telah terjadi, ia tak mau jika sampai Kiana membenci dirinya. Bian tidak mau sampai kehilangan Kiana lagi. Karena terkadang manusia harus sampai kepada titik kehilangan untuk mengerti arti sebuah kehadiran, kasih sayang, dan kesetiaan. Dan hal seperti itu Bian rasakan saat ini terhadap Kiana.
Apa Bian mulai menyadari rasa sayangnya pada gadis itu? Atau mungkin saja ada perasaan yang mulai tumbuh di dalam hati Bian hingga ia dapat mengalami semua ini setelah kehilangan Kiana?
Bian menunduk menyandarkan kepalanya pada lengan Kiana. Kehilangan membuatnya belajar untuk menerima dan mensyukuri dengan apa yang menjadi garis yang telah ditentukan untuknya.
Tuhan memberikan ujian berupa kegagalan dan kehilangan padanya untuk mengajarkan hikmah di dalamnya. Terkadang pula, kita harus kehilangan seseorang sebelum akhirnya menyadari betapa berartinya dia dalam hidup kita. Dan saat ini pula yang tengah Bian rasakan pada Kiana. Gadis itu begitu sangat berarti baginya. Hingga berada jauh dengan Kiana menjadikan titik terlemah dalam kehidupannya.
"Kita bisa menulis seribu kata perpisahan. Tapi yang kita rasakan hanya satu, yaitu kehilangan. Tak peduli apa yang telah hilang, selama kamu masih mampu bersyukur pada Tuhan, kamu tak kehilangan apa pun. Belajarlah memiliki sebelum kehilangan yang menjelaskan.
Arti sebuah kehadiran akan terasa saat kehilangan telah merenggutnya, jika itu terjadi, maka hanya penyesalanlah yang akan tercipta. Maka dari itu hargailah apa yang kita punya, karena itu adalah bentuk rasa syukur dan menghargai diri kita sendiri. Dan mulailah kembali untuk dekat dengan-Nya." Bian teringat akan kalimat panjang dari seorang Dokter yang pada waktu itu telah membantunya bangkit dari keterpurukan.
Bian memandang nanar Kiana dengan mata yang basah. Genggaman tangannya semakin erat ia rematkan.
"Kapan kamu akan bangun, Ki?" ucap Bian sendu seraya menghirup genggaman tangan mereka.
"Saya ada di sini. Saya sudah ada di samping kamu. Maafin saya yang baru menemukan kamu dan bayi kita." ucap Bian yang tak tahan lagi untuk terus mengalirkan air bening dari pelupuk matanya.
"Saya janji akan selalu menjaga kalian dengan segenap jiwa bahkan nyawa saya sendiri. Saya janji akan membuat kalian bahagia hingga merasa seolah dunia tak akan pernah mengenal lagi kesusahan dan penderitaan. Untuk kalian saya rela melakukan apapun demi kebahagiaan meski itu harus ditukar dengan nyawa saya sendiri."
"Tapi saya mohon, bangun, Ki... ayo bangun, sayang. Saya merasa sakit melihat kamu seperti ini,"
Sengaja kembali Bian kecup lebih lama lagi permukaan punggung tangan Kiana hingga meninggalkan rasa panas di permukaan kulit tangannya.
"Saya akan selalu menunggu kamu walau kamu tidak pernah meminta untuk menunggu. Saya di sini bukanlah menunggu apa yang telah berlalu pergi, namun menanti apa yang saya yakini."
"Dalam setiap detik saya menunggu, selama itu pula saya simpan beribu-ribu rasa rindu untuk kamu. Kamu adalah alasan mengapa saya tetap menunggu. Karena perlahan-lahan saya sadar bahwa kamu adalah salah satu alasan mengapa saya rela tetap menunggu dan bertahan."
"Kamu ingat saya pernah berkata untuk menunggu saya pulang, hem? Saya selalu menunggu hari-hari itu dengan perasaan aneh yang tak pernah saya tahu itu apa. Tapi kamu malah pergi membawa separuh nyawa saya yang tengah hidup di tubuh kamu. Meninggalkan saya dengan sejuta perasaan yang terus membenak di kepala saya. Kamu berhasil Ki, kamu berhasil meruntuhkan tembok besar si keras kepala ini." Bian terus berbicara pada Kiana yang masih belum juga terbangun dengan harapan istrinya itu akan segara sadar.
"Saya seorang pria yang nggak peka dengan perasaan saya sendiri, ya?" Bian terkekeh pelan seraya mengusap air matanya.
"Ki, sekuat kemampuan saya untuk menunggu, seabadi itu pula harapan saya sama kamu. Ada hati yang menunggu kamu, ada hati yang menunggu kamu kembali, dan ada juga hati yang kosong sejak kamu pergi."
"Kamu harus dengar, saya menunggu kamu dengan kesabaran sembari melantunkan sebuah do'a-do'a. Berharap agar kamu segera membuka mata dan melihat ada saya di sini, di samping kamu, dan akan selalu ada hingga kamu akan merasa muak dengan saya."
"Ayo bangun Ki, bangun ya sayang, bayi kita membutuhkan kamu, ibunya." Bian semakin merapatkan dirinya pada raga Kiana untuk dia dekap. "Dan saya juga sangat membutuhkan kamu..." bisiknya dengan lirih seraya membubuhkan satu kecupan di kening istrinya itu.
"Hmm..." geliat Kiana menggumam pelan.
Bian terkejut saat merasakan pergerakan dari raga yang ia tengah rengkuh itu. Suara gumaman terdengar jelas di telinganya yang mana membuatnya sukses beringsut merenggangkan diri dari Kiana untuk melihat keadaan istrinya.
"Kamu udah bangun, Ki?" ucapnya lagi tak percaya saat ini ia dapat melihat iris mata indah milik Kiana dengan nyata.
"Akhirnya kamu bangun, sayang..." Bian berucap sejurus ia membelai lembut kepala Kiana dengan senyuman mengembang di bibirnya.
Kiana menyipitkan kelopak matanya saat hendak membuka mata senarai menyesuaikan pencahayaan yang ada masuk ke dalam kornea matanya.
Perlahan namun pasti, Kiana dapat membuka matanya. Mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruangan dengan tangan yang memegang kepalanya, meringis menahan rasa sakit di kepalanya.
"Sshh..." Kiana mendesis tertahan saat merasakan sakit di bagian kepalanya.
"Ki, kamu kenapa? Ada yang sakit? Mana yang sakit ,Ki?" tanya Bian cemas.
Kiana terus meringis memegang kepalanya yang terasa berat. Sejenak, ia cukup terkejut saat melihat wajah yang mirip dengan tuan mudanya itu. Wajah tegas dan tampan Bian yang saat ini berada tepat di hadapannya.
Kiana menatap samar-samar wajah itu. Dia menggeleng lemah agar cepat terbangun dari mimpinya saat ini. Pastinya Kiana merasa semua ini hanyalah sebuah mimpi belaka. Bian tidak mungkin ada. Pria itu tidak mungkin secara tiba-tiba hadir di hadapan matanya.
"P-Pak,"
"Iya Ki, saya panggilkan Dokter sekarang juga ya? Tunggu sebentar, kamu sabar ya, sayang?" Bian hampir saja beranjak untuk memanggil medis melalui tombol khusus di rungan itu. Tapi pergerakannya tertahan saat suara Kiana kembali berdengung di telinganya.
"Pak Bian?" panggil lagi Kiana pada bayangan Bian yang ia yakini ini hanya sebuah halusinasinya.
"Saya di sini Ki," ucap Bian teramat senang saat melihat Kiana. Bian menatap Kiana dengan pancaran haru biru. Hatinya kian berbunga kala Kiana memangil namanya.
"Bapak kenapa selalu hadir dalam mimpi saya?" cetus Kiana tetiba sukses membuat Bian sedikit memudarkan senyumannya.
"Ki?" Bian mengerungkan dahinya bingung dengan ucapan Kiana. Mimpi? Apa yang dimaksud dengan dirinya yang selalu ada dalam mimpi Kiana? Jadi Kiana pikir yang dia rasakan saat ini semuanya itu hanyalah sebuah mimpi. Kiana menganggap dirinya hanyalah bayangan dalam mimpinya.
"Saya lelah, Pak. Saya lelah kalau Pak Bian selalu membayangi saya setiap saat. Saya mohon Bapak pergi. Jangan ganggu saya lagi meski itu hanya dalam mimpi. Biarkan saya hidup tenang dengan bayi saya. Saya nggak mau sampai orang-orang itu akan menyakiti saya dan bayi saya lagi. Saya nggak akan menganggu kebahagiaan Bapak dengan kekasih Pak Bian. Saya akan pergi jauh seolah saya dan bayi saya tak pernah ada di dunia ini." lirih Kiana sendu memohon seraya menangkup kedua tangannya.
"Saya mohon jangan sakiti kami lagi," lanjutnya lagi menghiba dengan setetes air mengembun di matanya.
Bian terdiam menelaah apa yang saat ini tengah dia dengar.
"K-kamu bicara apa, Ki? Ini saya, Bian. Saya nggak akan pernah nyakitin kamu dan juga bayi kita. Saya amat menyayangi kalian berdua. Nggak ada sebersit niatan hati untuk menyakiti kamu."
Kiana menggeleng, "Saya mohon Bapak pergi... jangan sakiti kami Pak,"
"Ki, ini semua bukan mimpi. Ini kenyataan bahwa saya sudah menemukan kamu. Saya ada di sini untuk kalian. Saya rindu kamu, Kiana..." Bian meraih raga Kiana ke dalam pelukannya. Namun naas, Kiana menolak dan memberontak tak terima saat Bian merengkuhnya begitu saja.
"Nggak! Lebih baik kamu pergi, Pak! Jangan ganggu kami lagi. Lepas! Saya nggak mau orang-orang semakin menyakiti saya karena kamu! Lepas!"
"Ini saya, Ki. Saya benar-benar nyata, ini bukan mimpi atau sebatas halusinasi kamu. Nggak akan ada orang yang berani nyakitin kamu karena saya akan selalu ada buat kamu." Bian mencoba menenangkan Kiana yang semakin meronta melepaskan diri dari rengkuhannya.
"Lepas! Kamu pergi! Saya nggak mau melihat bayangan wajah kamu lagi! Saya nggak mau melihat kamu walau itu hanya dalam mimpi!" ronta Kiana memukul Bian dengan sekuat tenaga lemahnya. Berharap bayangan itu pergi dan tak muncul lagi.
"Please, Kiana... Tenang, ini saya, Bian, suami kamu!"
"Nggak! Pergi kamu! Pergi dengan kekasih jahatmu itu! Hidup berbahagialah kalian berdua orang-orang jahat!" teriaknya emosional mencoba mengusir bayangan Bian.
Kiana menangis histeris, tak mau jika sampai bayangan Bian masih ada dan mengganggu pikirannya yang selama ini membuatnya tak waras.
Hingga suara seorang makhluk kecil terdengar jelas oleh indra pendengarannya yang mampu membuat Kiana terdiam seketika.
"Al?" ucap Kiana dengan suara bergetar saat mendengar suara bayinya yang begitu sangat dekat. "Al? Kamu dimana, Nak? Ini ibu sayang, kamu dimana, Al?" isak Kiana yang kini teringat pada bayi malangnya itu.
"Al..." lirih Kiana mencari-cari bayinya seraya melepaskan diri dari Bian. "Dimana kamu, ini ibu, Nak. Ibu ada di sini..." Kiana menggapai-gapai udara kosong dan terus memangil nama bayinya yang terus menangis semakin keras saat mendengar suara ibunya.
"Al?" tanya Bian pada Kiana dengan sorot mata seolah meminta penjelasan.