
Semua mata tertuju pada Bian saat pria itu bersikap aneh tak seperti biasanya saat acara sarapan pagi tengah berlangsung seperti biasanya.
"Udah Mbok? Semuanya nggak ada yang ketinggalan kan?" tanya Bian pada Mbok Sarmi yang sibuk mempersiapkan bekal makan yang tak biasa dilakukan oleh pria dewasa itu.
"Udah Den, semuanya sudah Mbok siapkan." balas wanita lanjut usia tersebut.
Bian menganggukkan kepalanya seraya kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Pria itu bersikap santai meski ketiga pasang mata yang berada pada satu meja yang sama dengannya itu saling bertukar pandang.
Pak Hardi dan Bu Ajeng saling pandang memperhatikan gelagat putra sulungnya itu yang tak seperti biasanya. Tak kalah, Fira yang berada di samping Kakaknya itu pun tak luput memperhatikan keanehan yang ditunjukkan oleh Bian.
"Aku nggak salah lihat, kan?" tanya Fira, kedua matanya pun ikut membola saking tak percayanya.
"Hem?" Bian bergumam. Dia menoleh pada adiknya dengan kedua alis yang saling terangkat ke atas. "Kamu ngomong apa?" ucap Bian memastikan.
"Kakak yakin mau bawa itu semua?"
"Aku?" tunjuknya pada diri sendiri.
Fira memutar matanya malas. Berdecak pelan. Kesal karena kakaknya itu sepertinya telah kembali pada jati diri yang sesungguhnya. Menyebalkan!
"Bi, kamu yakin bawa itu semua ke kantor?" tanya Bu Ajeng yang melanjutkan pertanyaan putrinya.
"Iya," jawab Bian santai. "Memangnya kenapa?" Bian menatap balik ibunya.
Bu Ajeng menghela, "Tumben, ada angin apa sampai kamu bawa bekal makan ke kantor? Memangnya di sana ada acara apa sampai-sampai kamu repot bawa makanan sebanyak begitu?"
Bian menggeleng, sejurus kemudian mengusap mulutnya dengan tissue yang ia raih asal setelah dirasa menyelesaikan sarapannya. Ia menenggak jus kesukaannya untuk mengalirkan sisa-sisa makanan yang ada di kerongkongannya.
"Nggak ada," jawab Bian cuek, setelah menandaskan minumannya.
"Terus sejak kapan kamu jadi anak rumahan kayak gini? Dari dulu mana ada kamu mau bawa bekal makan, apalagi sampai sebanyak ini!"
"Ya nggak apa," jawab Bian masih santai. Tak memperdulikan tatapan heran penuh tanya dari kedua orang tua dan adiknya itu.
"Aneh, kamu Bi." cetus lagi Bu Ajeng.
"Mana ada aku aneh, Ma." tukasnya seraya melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Bian berangkat ya? Udah siang ini,"
"Baru juga jam tujuh, Bi." sahut Pak Hardi ikut menimpali.
"Tapi Bian kesiangan ini." ucapnya sembari beranjak dari duduknya. "Ya udah, Bian duluan ya." pamitnya sebelum pergi.
"Bian kenapa sih, Pa?" tanya Bu Ajeng pada suaminya, saat menatap punggung kepergian anaknya.
"Kenapa apanya, Ma? Memang Bian kenapa?"
"Ish! Papa nggak ngerasa kalau ada yang aneh dari sikap Bian akhir-akhir ini?"
Pak Hardi ikut menatap balik pada istrinya dengan kerungan di dahinya.
"Bian aneh?" tanya balik Pak Hardi memastikan pendengarannya. "Mungkin itu cuma perasaan Mama, Papa lihat Bian baik-baik aja tuh."
"Papa nih! Sadar nggak sih, beberapa hari ini Bian suka pergi pagi dan pulang malam? Apa sebanyak itu pekerjaannya di kantor sampai-sampai harus bekerja seperti kuda? Bian itu seorang pemimpin lho Pa, terus kemana para karyawan kalau Bian yang harus mengerjakannya sendirian!" protes Bu Ajeng.
"Anak kita baru sembuh dari sakitnya, Pa. Papa nggak khawatir dengan keadaan Bian kalau kayak dulu lagi? Mama sih amit-amit nggak rela kalau sampai kejadian lagi, Mama nggak rela!"
"Udah Ma, kita percayakan semuanya pada Bian. Dia sudah dewasa untuk dapat melakukan hal yang baik menurutnya. Kita hanya bisa mendukung dan menasehati di setiap langkahnya. Doakan saja yang terbaik untuk anak kita,"
"Amin..." sahut Fira mengaminkan doa ayahnya.
"Tapi Pa, Bi--" Bu Ajeng hendak akan protes lagi namun Pak Hardi dengan bijak memotong kalimat istrinya itu.
"Ma, sudah. Semakin Mama banyak memikirkan hal yang buruk yang belum tentu akan terjadi, lebih baik kita mendukung apa yang Bian lakukan saat ini. Mungkin dengan cara seperti itu Bian bisa kembali berdamai dengan dirinya sendiri. Kita hanya mampu mendoakan yang terbaik untuknya agar tidak salah jalan kembali. Ingat asma Mama, nanti kumat lagi kalau banyak memikirkan yang tidak-tidak." ingat Pak Hardi pada istrinya mengenai kesehatannya.
Bu Ajeng menghela napas pasrah tak dapat lagi mendebat suaminya. Semoga saja tidak terjadi lagi peristiwa yang buruk pada putranya itu. Perasaanya sungguh tidak tenang. Dia takut, takut jika masa-masa terpuruk anaknya itu akan kembali membayanginya.
***
Bian sungguh tak sabar untuk segera bertemu dengan anak dan istrinya yang ia tinggalkan semalaman karena ada sesuatu hal yang harus dia kerjakan saat itu juga.
Tak tega sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Masalah urgent yang tidak dapat ditinggalkan membuat Bian harus merelakan untuk berjauhan dengan Kiana, terutama Al, bayinya. Meski tak bisa secara langsung berada dekat dengan buah hatinya itu, setidaknya berada di sana hanya dengan melihatnya dari kejauhan saja sudah membuat hatinya tenang dan bahagia.
Hari ini, hari dimana anak dan istrinya diperbolehkan untuk pulang. Semangat pagi telah nampak dari Bian saat berjalan melangkah dengan pasti memasuki ruangan demi ruangan untuk menuju kamar Kiana berada. Dengan membawa tentengan bekal yang akan dia berikan untuk istrinya, senyum cerah terukir di wajahnya tak dapat ia sembunyikan kala membayangkan dia akan membawa pulang Kiana dan juga Al bersamanya.
"Ki?" panggil Bian saat memasuki kamar Kiana dengan senyum yang memudar.
"Kiana?" panggilnya lagi yang mana ia tak mendapati anak dan istrinya itu ada di sana.
Sejenak, Bian mematung mendapati keadaan yang tak di duga-duga olehnya di pagi itu. Hingga ia kembali tersadar, Bian dengan kepanikannya mencari-cari keberadaan Kiana ke segala penjuru ruangan yang ada. Namun sia-sia, ia tak mendapati keadaan Kiana dan Al dimana pun.
Seketika ketakutan timbul di benaknya. Ia takut jika Kiana akan kembali pergi meninggalkan dirinya. Membawa sebagian dirinya yang berharga untuk kedua kalinya.
Pengalaman kehilangan seseorang yang disayangi mampu membuatnya menimbulkan trauma dalam dirinya karena emosi yang begitu besar.
Manusia secara naluriah merupakan makhluk yang tangguh, mengingat sebagian besar dari dirinya dapat bertahan dari segala macam tragedi dan kemudian melanjutkan kehidupan dengan usaha sendiri. Namun, beberapa orang mungkin berjuang dengan kesedihan untuk waktu yang lebih lama dan merasa tidak mampu untuk menjalani kehidupannya lagi. Dan hal itu yang Bian rasakan. Dia manusia yang lemah. Tak sanggup jika harus kembali merasakan kehilangan.
Selama ini ia bertahan demi Kiana. Tak mau sampai ia kembali kehilangan orang yang telah mampu membuat hidupnya berubah dalam sekejap mata. Rasa sedih yang menggumam di dalam hati, Bian segera bangkit dan berani melawan rasa ketakutan tersebut.
Dengan langkah lebar-lebar ia memantapkan hati untuk kembali mencari Kiana dan Al dimana mereka berada.
"Maaf, saya minta Bapak untuk bisa lebih tenang dulu."
"Mana bisa saya tenang kalau anak dan istri saya hilang!" sentak Bian.
"Iya, Bapak tenang dulu. Kami akan bantu untuk mencari istri dan anaknya." ucap suster tersebut.
"Dimana mereka, Sus? Saya khawatir terjadi sesuatu pada mereka jika tidak berada di sana," tanya Bian yang agak mulai lebih tenang.
"Maaf Pak, pasien atas nama Ibu Kiana beberapa saat yang lalu memaksa untuk pulang dengan alasan keluarganya sudah menunggunya di luar. Saya coba untuk menahannya agar menunggu konfirmasi dari Bapak dulu, tetapi Bu Kiana tetap memaksa untuk pergi."
"Apa?" tanyanya memastikan. "Kiana pergi? Istri saya pergi?"
"Maaf, Pak. Kami sudah me--"
"Saya suaminya, Suster! Bagaimana bisa kalian membiarkan mereka pergi tanpa sepengetahuan saya!" Bian murka dengan menggeram tertahan. Tak terima jika anak dan istrinya pergi tanpa ada yang menahannya.
Sedikit mengumpat dengan suara pelan. Bian mengusap kasar wajahnya dengan raut penuh kebingungan.
Secepat kilat Bian pergi meninggalkan rumah sakit untuk mencari Kiana. Bola matanya tak lepas bergerak ke sana kemari untuk mencari keberadaan istrinya. Semoga saja dia tak terlambat untuk menemukan Kiana sebelum penyesalan akan kembali menghantuinya.
"Ya Tuhan... dimana mereka?" rapalnya dengan perasaan tak tenang. "Kamu dimana, Ki? Kenapa kamu pergi tinggalin aku?" gumamnya lirih.
Berjalan kesana kemari seperti orang yang kebingungan, Bian seakan putus asa hingga tak tahu harus kemana lagi untuk mencari keberadaan Kiana.
Hingga manik matanya memindai seorang sosok wanita yang tengah menggendong seorang bayi dari kejauhan yang ia yakini itu adalah Kiana. Tanpa berpikir panjang, Bian berlari menghampiri sosok itu dengan harapan itu benar adanya.
"Kiana?" panggilnya dengan napas yang memburu.
Sosok wanita itu menoleh pada Bian memperlihatkan air mukanya yang penuh dengan keterkejutan. Bola matanya membulat kala menyadari pria yang sengaja ia hindari itu kini berada di hadapannya.
"Ki?" ucap Bian dengan suara bergetar. Mula tangisnya tertahan, matanya kini berkaca-kaca. Perasaan senang tak dapat ia sembunyikan ketika dapat kembali menemukan istri dan anaknya. Dengan reflek Bian memeluk Kiana tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang ada di sekitar mereka.
"Saya cari kamu ternyata ada di sini?" ucapnya kini dengan suara yang teredam didalam pelukannya. "Kenapa kamu pergi, Ki? Kenapa?" lirihnya.
"Pak," tahan Kiana menahan bobot tubuh Bian yang membuatnya merasakan tak nyaman saat berada dalam dekapan pria itu.
Bian menggeleng pelan yang semakin mengeratkan pelukannya pada Kiana.
"Saya cari kamu, Ki. Saya cari kamu di dalam tapi kamu dan Al nggak ada. Itu semua buat saya takut. Saya takut kamu tinggalin saya lagi," ungkapnya masih dalam pelukannya.
"Pak, lepas!" peringat Kiana pada Bian.
"Nggak, saya nggak akan lepasin kamu lagi. Sumpah demi apapun saya nggak akan pernah mau kamu tinggalin lagi, Ki. Cukup sudah saya menderita selama ini karena kehilangan kamu. Saya nggak mau itu terjadi lagi, saya nggak mau!"
"Pak, saya mohon lepasin! Demi Tuhan kasihan Al!" sentaknya saat merasai bayinya yang bergerak tak nyaman dalam himpitan kedua orang tuanya.
Bian mengurai pelukannya seraya agak sedikit menjauhkan tubuhnya pada Kiana saat menyadari jika ia melupakan sesuatu hal yang sangat berharga dalam hidupnya kini.
Al, putra kecilnya. Bayi mungil itu mungkin merasa tersakiti oleh apa yang dilakukannya. Saking senangnya ia menemukan Kiana, dia lupa pada bayi kecilnya yang tengah bergerak-gerak dalam gendongan ibunya.
"Al," seru Bian mengalihkan perhatian pada putranya. "Sayang, maafin Bapak, Nak."
Bian mengecupi wajah tampan putranya itu dengan perasaan bersalah. Tak hentinya ia terus menuturkan kata maaf atas apa yang sudah ia lakukan hingga menyakiti bayinya.
"Maafin Bapak yang udah buat kamu kesakitan," ungkapnya menyesal.
Tangan Al bergerak-gerak seolah tengah meraih wajah Bian yang berada dekat dengannya itu. Senyum kecil terukir manis di wajah mungilnya yang saat ini sudah merasa tak asing lagi dengan sosok Bian dalam hidupnya. Ia merasa kesenangan melihat Bian yang terus mengecupinya tanpa henti seolah Bian seperti sedang mengajaknya bermain.
"Saya harus pulang," ucap Kiana tetiba dengan nada dingin seketika menghentikan aktifitas dua pria yang ada didekatnya itu.
"Pulang?" tanya Bian menatap Kiana dengan tatapan penuh arti.
Kiana bergeming. Tak menghiraukan saat pria itu kembali melontarkan pertanyaan padanya.
"Kamu mau pulang, Ki?" tanyanya lagi dengan senyum mengembang di bibirnya. "Saya senang akhirnya kamu mau pulang. Saya nggak bisa bayangin kita akan pulang sama-sama," ucapnya dengan rasa bahagia yang tak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata.
"Kita?" Kiana mengulang penekanan kata untuk mereka bertiga. "Cuma ada saya dan Al. Kami akan pulang ke rumah kami, kenapa Bapak harus merasa senang dan antusias sekali?" ungkapnya seraya melangkah pergi meninggalkan Bian yang termenung mendengar pernyataan Kiana.
Hanya ada mereka berdua, tanpa ada dirinya di dalamnya? Bian menelaah ucapan Kiana.
"Ki, Kiana, tunggu saya, Ki!" tahan Bian meraih tangan Kiana.
"Apa lagi sih, Pak?" menepis tangan Bian. "Apa anda tuli sehingga tidak mendengar apa yang saya katakan? Saya mau pulang!"
"Tapi kamu mau pulang kemana, Ki?"
"Rumah kami," jawabnya datar.
"Tapi dimana?"
"Bukan urusan Bapak," balas Kiana seolah lelah jika harus terus meladeni Bian.
Bian menghela napas pelan saat melihat keras kepalanya Kiana.
"Kita pulang sama-sama, ya? Kita pulang ke rumah kita? Kasihan Al, Ki. Dia butuh tempat yang nyaman, bagus, dan sehat untuk kesembuhannya. Dan tempat itu adalah rumah kita." harapnya Kiana dapat luluh.
"Nggak perlu, saya bisa jaga dan urus Al sendiri. Jadi Bapak nggak perlu repot-repot buat peduli padanya. Saya tahu yang terbaik untuk anak saya. Meski rumah kami kecil dan jelek, banyak kekurangan untuk memenuhi kebutuhannya, tapi kami tidak kekurangan rasa kasih sayang diantara kami. Karena cinta dan kasih sayang saya tulus untuk Al." tutur Kiana seraya pergi meninggalkan Bian begitu saja.