Secret Love

Secret Love
Hanya aku...



🍂🍂🍂🍂🍂


Entah takut yang seperti apa, Qia pun tak paham tapi kakinya seakan berat untuk melangkah bertemu dengan orang tua Fathan. Dan tak hanya itu, hatinya pun seakan tak tergerak untuk mau kenal dan dekat pada keluarga kekasihnya yang padahal Fathan sendiri sudah meyakinkan. Bahkan pria itu akan menuruti semua ingin Qia jika sudah menikah nanti termasuk untuk mandiri, yaitu tak tinggal bersama orang tuanya.


Qia tak pernah memberi jawaban akan hal itu, bayangan masa depan seperti apa tak pernah terbersit olehnya. Ia hanya ingin menjalani harinya untuk saat ini, bagaimana nantinya semua tentu sudah ada yang mengatur.


Jika untuk makan saja masih mengandalkan Fathan, ia mana bisa memikirkan sebuah pernikahan indah apalagi pria itu ingin menikahinya dalam waktu dekat.


Ibu yang pengobatannya semakin mahal karna tak semua di biayai oleh rumah sakit semakin membuat Qia banting tulang mencari tambahan uang. Sedangkan motornya saja masih puluhan bulan untuk lunas dan jadi hak miliknya. Dan ada satu hal yang selama ini Fathan tak tahu yaitu pinjaman Online yang di lakukan dengan terpaksa oleh Qia.


Semua gajinya habis tak tersisa bukan untuk dirinya sendiri. Bahkan untuk mengganti sepatunya saja ia belum bisa.


"Baiklah, aku antar kamu pulang ya, tunggu disini, aku ambil motor dulu," ucap Fathan yang di iyakan oleh Qia.


Gadis itu menunggu dengan mengeratkan jaketnya karna angin serasa menusuk sampai ke tulang.


"Ayo naik, hati-hati."


Keduanya pun pulang dengan sepeda motor Fathan menuju kos'an. Tak ada obrolan apapun meski sesekali Fathan menoleh ke belakang yang ternyata Qia sedang menikmati lamunanannya. Entah apa yang kini sedang ada pikiran gadis itu, Fathan hanya takut Qia jatuh sakit karna lahir bathin.


"Sayang, sudah sampai, mau ku temani dulu?" tawar Fathan saat sudah di depan kos'an Qia.


"Aku mau langsung tidur boleh?"


"Ya udah, aku pulang ya. Kamu istirahat, nanti besok pagi aku kesini lagi bawa sarapan untukmu," pamit Fathan sambil menangkup wajah cantik putih mulus kekasihnya itu.


"Iya," sahut Qia singkat.


"Mau nasi kuning atau bubur ayam?" tanya Fathan memberi pilihan.


"Apa aja, terserah kamu."


.


.


.


Lain dengan Qia tentu lain juga dengan Skala, jika gadis itu kini sedang bermimpi indah karna lelah, berbeda dengan pewaris Rahardian yang sedang MENGOBROL lagi dengan Sang Maha penentu jodoh.


"Jangan marah saat aku selalu mengulang namanya di hadapanmu, aku ingin Engkau bosan dan akhirnya mengambulkan semua permintaan ku ini. Aku akan menjadi hambamu yang paling egois tentang perasan yang sedang ku jaga dan ku pelihara," ucap Skala sambil tersenyum.


Jika dulu doanya hanya seputar dirinya dan keluarga terutama orang tua, kini justru Qia lah yang paling banyak ia minta, tak hanya ingin di jadikan pendamping hidup saja karna kesehatan gadis itu pun penting, Skala akan susah sendiri nantinya jika sang pemilik hati sampai jatuh sakit dan tak masuk kerja. Qia yang sudah bagai menjadi penyemangat nya di awal pagi tentu akan membuat harinya indah sepanjang waktu.


.


.


.


Oh ya... Aku lupa, ada satu lagi yang ku pinta. Bisikan padanya untuk jangan yakin dan percaya pada siapapun karna yang tulus mencintainya dan jadi jodohnya, HANYA Aku...



Kan.. kan. .. kan...


Pagi-pagi udah bikin guling-guling kasur 🤭🤭


Jadi ngarep di datengin Appa, buat gelud enak 🤣


Like komennya yuk yang banaaaaaaaaak!!!