
"Makasih, Mbok." ucap Fira dengan senyuman mengembang di bibirnya saat menerima semangkuk bubur yang begitu menggiurkan hingga matanya ikut berbinar senang karena dapat kembali memakan menu sarapan yang sudah lama tak pernah ia santap itu.
Mbok hanya membalas dengan senyuman, kemudian kembali ke belakang membiarkan kebersamaan Bian dan Fira menuntaskan acara sarapan pagi perdana mereka semenjak kepulangan gadis itu.
"Umm... masakan Mbok emang juara." gumamnya disela-sela mengunyah makanannya. "Enak banget..." pujinya kembali dengan mata yang terus berbinar.
Bian berdecak pelan melihat tingkah konyol adiknya yang menurutnya itu sangat lebay. Dia juga pernah tinggal lama di luar negeri, dan jarang sekali menemukan makanan Indonesia saat berada di sana. Meski dia pun selalu merasa rindu dengan makanan dalam negeri, terutama masakan rumah. Tapi toh dia biasa saja saat kembali pulang ke Indonesia. Tidak lebay seperti adiknya itu sekarang.
"Biasa aja makannya. Sekali bubur, rasanya akan tetap sama aja rasa seperti bubur. Nggak akan pernah tuh berubah jadi rasa gulai ayam." decaknya mengusili Fira yang sedang khusyuk menyantap menu sarapan spesial yang ia pesan pada Mbok untuk mengobati rasa rindu dengan cita rasa makanan rumahan.
Fira mendelik kesal pada kakaknya. Ia cemberut mengerucutkan bibirnya karena Bian mulai usil padanya. Padahal kan ia baru saja pulang ke rumah, apa kakaknya itu tidak rindu padanya? Ya walau dia sendiri cukup kangen pada Bian, cuman sedikit saja, tapi dia lebih kengen pada suasana rumah ketimbang pada kakak lelakinya itu.
"Enggak usah mulai-mulai deh," ucap Fira memperingatkan Bian masih dengan delikan matanya. "Aku masih marah ya sama kakak, jadi nggak usah baik-baikin aku sama keusilan kakak itu. Enggak mempan!" lanjutnya lagi mengacuhkan Bian dengan kembali fokus pada mangkuk sarapannya.
Bian hanya terkekeh pelan. Rasanya sudah lama ia tidak mengusili adik perempuannya itu. Ia seperti kembali ke masa-masa saat mereka masih kecil dulu. Sangat menyenangkan jika ia dapat bertingkah usil seperti biasanya yang jarang sekali ia lakukan saat sekarang pada orang-orang di sekitarnya.
"Mama, Papa?" tanya Bian kemudian.
"Di Belanda." jawab Fira singkat.
Bian memutar matanya malas mendengar jawaban adiknya.
"Ya kenapa nggak ikut pulang sekalian? Enggak inget apa di sini masih ada anaknya yang ditinggalin?" sungut Bian.
"Kemarin pindah ke Den Haag karena masih ada kerjaan. Aku disuruh pulang duluan." balas Fira yang kini sudah menghabiskan semangkuk bubur miliknya itu.
"Kelamaan," ketus Bian, kesal pada kedua orang tuanya.
"Idih, kenapa sih? Kayak anak kecil aja uring-uringan di tinggalin Mama Papa. Akunya biasa aja kok. Tapi kangen juga sih baru ketemu sebentar, eh udah jauhan lagi aja." sahut Fira yang heran pada kakaknya itu. "Inget, Kak Bian tuh udah tua, nggak pantes ngerajuk gitu setiap ditinggal Mama Papa. Aneh,"
Bian mendelik kesal pada Fira. Ia kembali melanjutkan sarapannya yang tidak berselera di pagi itu. Terlebih, ia belum melihat Kiana dengan mata kepalanya barang sepintas pun.
Namun baru saja Bian memikirkan keberadaan Kiana yang belum menampakkan dirinya, akhirnya raga itu hadir juga ditengah-tengah mereka sembari membawa teko berisi orange jus di tangannya.
"Hai, Kia..." sapa Fira saat melihat Kiana yang tengah menuangkan jus ke dalam gelas miliknya. "Udah sarapan? Kalau belum, ayo duduk sini." ajaknya, menarik sebuah kursi yang berada di sampingnya.
"Makasih, Mbak. Saya sarapan di belakang aja bareng Mbok." balas Kiana, segan dengan ajakan Fira padanya. Kiana menjadi teringat pada Bu Ajeng yang besama persis seperti Fira, yang selalu bersikap ramah mengajaknya sarapan bersama setiap pagi. Kiana mengulas senyum saat melihat Fira tersenyum saat mendengar ucapannya.
"Kamu sibuk hari ini?" tanya Fira lagi.
Kiana menoleh pada Fira yang kini tengah menuangkan jus pada gelas milik Bian.
"Cukup," ucap Bian. Kemudian ia melirik sekilas pada Kiana menunggu gadis itu menjawab pertanyaan konyol dari adiknya. Dasar Fira. Kiana pastilah sibuk setiap harinya untuk mengurus rumah dan keperluan para penghuninya.
"Iya, Mbak. Kerjaan saya masih banyak sampai nanti sore. Mbak Fira perlu bantuan saya?"
"Hehe," Fira malah terkekeh kecil yang mana membuat Kiana mengkerutkan keningnya. "Sebenarnya sih iya, tapi kalau kamu sibuk aku jadi nggak enak." ujarnya masih dengan cengiran khasnya.
"Memangnya kamu mau apa?" tanya Bian yang penasaran juga.
"Kakak nggak usah kepo deh, ini urusan perempuan!" balasnya sedikit ketus. Mau bagaimana lagi, Fira masih sebal dengan kakaknya itu perihal lupa menjemputnya. Bukannya meminta maaf, yang ada Bian malah diam seperti tidak mempunyai salah. Lihat saja saat ini, wajah Bian-kakaknya itu begitu sangat menyebalkan. Fira mendengus kesal.
"Memangnya Mbak Fira butuh bantuan apa?" tanya kembali Kiana.
"Itu, aku..." Fira ragu-ragu saat ingin mengungkapkannya saat Bian malah ikut memperhatikannya. "Ih... Kak Bian nggak usah gitu ngeliatin aku nya..."
"Memangnya kenapa? Kakak juga pengen tahu kamu mau minta bantuan apa sama Kiana."
"Apa?" Bian semakin penasaran apa yang akan dilakukan oleh adiknya yang melibatkan Kiana didalamnya. Bian khawatir jika Fira berbuat macam-macam yang dapat membahayakan Kiana dan bayinya. Apalagi Fira tidak mengetahui perihal masalahnya dengan Kiana. Bian harap-harap cemas. Karena Fira anaknya itu nekad dan keras kepala. Sama seperti dirinya juga sih. Bian berdeham dalam hatinya.
"Kia, kamu bisa temani aku?" Fira akhirnya mengungkapkan apa yang dia ingin katakan.
"Kemana ya, Mbak?" tanya Kiana lagi memastikan.
"Keluar, aku mau membeli sesuatu. Aku kan baru pulang, belum punya teman selain kamu saat ini. Ya cuma kamu. Mau ya?" pinta Fira dengan wajah sok imutnya.
Kiana nampak berpikir. Ia belum dapat mengiyakan permintaan Fira itu. Kalau ia pergi, pasti pekerjaannya akan menumpuk dan ia tidak enak hati pada Mbok yang nanti ujung-ujungnya akan menggantikan tugasnya lagi. Kiana dilema hanya mendapat permintaan sederhana dari nona mudanya itu. Dia bingung, dan tidak tahu cara untuk menolaknya secara halus.
"Saya--"
"Kiana lagi banyak kerjaan. Kamu nggak usah ganggu-ganggu dia. Kalau kamu mau keluar, pergi sendiri aja. Kalau nggak, suruh Dodi atau Arif buat minta beliin yang kamu butuhkan." ujar Bian menahan. Ia tidak mau jika Fira membawa Kiana ke sembarang tempat apalagi itu tanpa didampingi olehnya. Ia khawatir, jika kedua gadis itu pergi berdua saja tanpa ada yang mengawal. Bian tidak mau kena omel dari Mama dan Papanya jika terjadi sesuatu hal pada anak perempuan mereka satu-satunya itu. Terlebih Kiana, ia sangat mengkhawatirkan gadis itu jika terjadi sesuatu padanya. Dia tidak mau sampai menyesal nantinya.
"Ya nggak bisa gitu dong. Ini urgent Kak, nggak bisa diwakilin sama siapapun. Pokoknya aku mau keluar sama Kiana. Kakak izinin atau nggak, aku bakalan minta Kiana buat temenin aku. Iya kan, Ki?" Fira menoleh pada Kiana yang terdiam tengah memperhatikan.
"Nggak bisa," tolak Bian dengan wajah datarnya.
"Pasti bisa,"
"Nggak bisa," keukeuh Bian tetap dengan keputusannya.
"Kok gitu? Please... cuma sebentar aja. Aku janji bakalan cepat pulang kok. Ya ya ya? Boleh ya?" pinta Fira memohon pada Kakaknya. Dia mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, dengan rengekan yang membuat Bian ingin menutup telinganya karena suara cempreng adiknya itu.
"Nggak boleh!" kukuh Bian. Ia sudah beberapa kali menoleh pada jam tangannya untuk melihat waktu yang semakin beranjak siang.
"Ish, nyebelin!" desis Fira dengan kesal. "Ki, kamu mau kan temenin aku buat keluar nanti siang? Nggak usah dengerin Kak Bian, aku bakalan minta izin Mbok, kalau perlu aku bakalan telpon Mama juga. Mau ya? Ini masalah perempuan. Kamu pasti ngerti." ucapnya, sembari berdiri menggapai bahu Kiana untuk membisikan sesuatu di telinganya.
Kiana sempat menoleh pada Bian yang mana laki-laki itu menggelengkan kepalanya bermaksud agar Kiana menolak ajakan Fira untuk pergi keluar.
Kiana mendapatkan bisikan dari mulut Fira di telinganya. Sedikit geli saat hembusan suara yang memasuki telinganya itu. Tak lama berselang, Kiana tersenyum tipis saat Fira selesai membisikkan kalimatnya.
"Please, temani aku, Ki. Cuma kamu yang bakalan ngerti. Mau ya?" Fira menghiba pada Kiana. Kalau tidak seperti ini, Kiana pasti menolak untuk meneminya dengan berdalih tidak dapat meninggalkan pekerjaannya. Apalagi dia sudah mendapatkan tatapan tajam dari Kakaknya.
"Saya--"
"Kiana nggak boleh tinggalin pekerjaannya." potong Bian masih keukeuh dengan alasannya. "Kamu tahu bukan?" tanya Bian beralih pada Kiana dengan suara penuh penekanan. Sengaja dia lakukan karena tidak mau Fira curiga jika dirinya mengkhawatirkan Kiana.
"Lho, Kakak nggak bisa gitu dong!"
"Bisa. Kiana nggak boleh pergi." elak Bian. "Kamu masih sakit, nggak boleh kelelahan. Jadi saya kamu larang buat pergi nemenin Fira apapun itu alasannya, paham?" Bian kini menatap tajam kearah Kiana.
Kiana mengangguk pelan tanda ia mengerti. Titah Bian adalah hal yang mutlak. Jadi, ia tidak bisa berbuat apa-apa meski itu adalah permintaan nona mudanya, Fira.
"Yang ada orang sakit malah tambah sakit kalau di suruh kerja. Kak Bian ngawur, lebih baik Kiana temani aku biar sakitnya hilang. Sambil jalan-jalan, aku bisa bawa Kiana pergi ke dokter sekalian. Bereskan?"
Bian membulatkan matanya penuh terkejut saat mendengar penuturan Fira. Dokter? Ia panik sontak berdiri dari duduknya hingga gelas yang berada di atas meja ikut bergeser karena pergerakannya.
"Jangan!" larang Bian yang mana membuat Fira menautkan kedua alisnya secara bersamaan. "Kiana nggak perlu dokter buat sembuhin sakitnya. Biar sama Kakak aja." kilah Bian asal bicara.
"Apaan sih? Kak Bian aneh!" Fira cemberut mengerucutkan bibirnya sembari bersedekap dada. Matanya menyipit menatap Bian penuh curiga.
Kiana terlihat tetap terdiam meski tidak dipungkiri ia pun panik dengan ucapan Fira barusan, ia gelisah serba salah dengan ujung jarinya yang terus saling menaut di bawah sana.
*****