
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Dua tahun kemudian...
Setelah melewati proses yang panjang dan menegangkan kini seorang gadis yang yang baru dua minggu berada di ibu kota bersiap untuk berkerja di hari pertamanya. Dengan seragam yang melekat di tubuhnya, Orang-orang tentu sudah bisa menebak jika ia seorang Office Girl sebuah perusahaan besar yang cukup terkenal.
"Gak usah cantik cantik, sampai sana juga pegang sapu," gumamnya pelan sambil membereskan isi dalam tas kecilnya dalam kamar kos satu petak.
Ia terpaksa merantau jauh ke ibu kota karna keadaaan ibunya yang semakin parah, sedangkan uang yang mereka miliki hanya cukup untuk makan dan itu pun seadanya. Hingga suatu hari, ada temannya yang menawari bekerja sebagai tukang bersih-bersih. Ia terus berjuang dan merayu agar bisa mendapat restu bekerja jauh dari ibu, sebagai anak perempuan dan tunggal tentu itu sangat ditentang, jangankan merantau ke kota lain, pulang sekolah saja ia sering kesasar dalam angkot.
.
.
Tapi itu beberapa waktu lalu karn hari ini buktinya ia sudah berdiri di depan gedung bakal pencakar langit.
"Punya siapa ya? Huft, jangankan punya gedung begini, bisa nginjek lantainya aja berasa mimpi," kekehnya sebelum masuk.
Gadis manis berperawakan mungil khas anak remaja yang baru lulus sekolah SMA itu memang sangat polos, jujur dan menggemaskan apalagi jika sedang takut dan panik. Tapi, ia tak lagi secengeng dulu yang akan meraung dan memanggil ibunya saat menangis.
Sampai di lantai 15 sesuai intruksi ia langsung mengerjakan apa yang sudah dipelajarinya beberapa waktu lalu sebelum resmi menjadi karyawan Rahardian group.
"Siapa namamu?" tanya kepala bagian.
"Qiandra Nafisa, Pak," jawabnya yang hanya dibalas anggukan kepala.
Qia melanjutkan lagi semua pekerjaannya hingga jam makan siang tiba. Semua karyawan kini bergegas kearah kantin yang memang di sediakan pihak perusahaan.
"Hanya itu?" tanya seorang pria pada Qia. Senyumnya manis semanis kulitnya.
"Iya, kenapa?" Qia balik bertanya.
"Kenyang segitu?"
Qia hanya mengangguk, ia tak biasa makan banyak seenak apapun itu. ia juga tak punya makanan favorit karna ibu dan bibinya di kampung masak apa saja yang ada.
Qia dan pria itu duduk di meja yang sama, hanya itu yang kosong dan mau tak mau mereka harus bersama dari pada makan sambil berdiri bagai kuda.
"Ini hari pertamamu ya?"
"Seragammu, masih baru banget. Kemarin kemarin masih pakai hitam putih 'kan?"
Qia mengangguk, ia tetap menghabiskan makan siangnya sambil menjawab apa yang di tanyakan padanya. Hanya dan cukup menjawab tanpa balik bertanya lagi pada pria itu.
"Aku ke Mushola dulu ya," pamit Qia yang sudah habis menikamati makan siangnya.
"Ayo, bareng."
Keduanya beranjak dari kantin kemudian bergegas ke salah satu tempat yang akan ramai di jam jam tertentu saja. Mereka melakukan kewajiban sendiri sendiri dengan pembatas yang terbentang.
"Pulang kemana?" tanya pria itu lagi.
"Kos-kosan dekat minimarket," jawab Qia.
"Oh, yang masuk gang itu ya?" tanyanya lagi yang langsung di iyakan oleh Qia.
"Ada beberapa temanku disana, nanti jika ku kesana, boleh aku mampir?"
Qia mengernyitkan dahinya, ia tak menjawab iya dan tidak karna meski beberapa kali berpapasan tapi baru kali ini mereka mengobrol.
"Terserah."
.
.
"Oh, ya, kita belum kenalan, namaku Fathan."
*********
Mpeeeeeeeeeeeeeet....
matamu mana matamu 🤣🤣🤣
Tuh jodoh mau di apelin woy!!!