Secret Love

Secret Love
ILY



Bian memandangi pemandangan indah yang ada di depan matanya kala menyaksikan Kiana yang tengah menidurkan Al dengan posisi berbaring menepuk-nepuk raga mungil itu.


Dirinya pun tak jauh dari keberadaan anak dan istrinya, ia duduk di atas sebuah karpet plastik tipis sembari menahan lututnya dengan kedua tangan. Perasaan perih dan pedih seketika bergelayut manja di dalam hatinya. Bian meremas dadanya yang terasa nyeri akibat ulah melihat pemandangan pilu tersebut.


Bian tersenyum tipis dengan sejuta luka yang perih. Dapat ia rasakan betapa sesaknya melihat keadaan sulit yang di jalani oleh anak dan istrinya selama ini. Miris sekali melihat Kiana dan putranya itu tertidur di atas sebuah kasur lantai tipis yang sudah terlihat usang kala menjadi satu-satunya tempat ternyaman bagi mereka untuk memejamkan mata.


Hati Bian tergerak untuk menghampiri kedua belahan hatinya. Perlahan namun pasti, tak ingin membuat putranya terbangun karena kehadirannya, ia memposisikan dirinya untuk berbaring di samping sang putra tercinta, dan ikut mengelus kepala si kecil dengan lembut penuh dengan kasih sayang.


"Belum tidur?" tanya Bian saat melihat kedua mata jernih milik putranya itu terbuka lebar tengah menatap wajah sang ibu.


Kiana menggelengkan kepalanya, "Belum," ucapnya seraya menatap Bian yang ikut merebahkan diri di samping Al.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia belum tertidur?"


"Tidak tahu, biasanya Al akan tertidur pada saat-saat waktu seperti ini." balas Kiana apa adanya yang mana belum beralih sama sekali masih tetap menatap wajah Bian.


Ada rasa bersalah yang mengusik di hatinya sejak ia sedikit mengetahui tentang keadaan pria itu. Dalam sekejap, entah mengapa ia ikut meluluhkan hatinya untuk sekedar menerima keberadaan Bian di dekatnya. Tanpa ada alasan yang jelas, yang pasti Kiana ingin lebih dalam mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Bian. Dalam waktu sekejap pula, entah mengapa ia menjadi lebih peduli pada pria itu.


"Oh ya?" ucapnya membalas kalimat Kiana yang ia herani ada yang berbeda dari cara berbicara gadis itu. Lebih lembut dan terkesan tidak ketus. Tapi Bian cukup terganggu dengan tatapan Kiana yang seolah enggan beralih dari dirinya. Memang ada yang salah dengan wajahnya itu? Apa sekian lama tak bertemu membuat wajahnya aneh bagi gadis itu?


Tersipu malu, lebih tepatnya salah tingkah dibuatnya. Tidak mau merasa besar kepala, Bian mengalihkan perhatiannya pada sang putra yang kini tengah memperhatikannya pula dengan tangan dan kaki yang terus bergerak-gerak menendang ke udara.


Lucu. Satu kata yang pantas ia sematkan untuk miniatur kecilnya. Gemas dengan tingkah lucu dari Al, Bian membubuhkan kecupan demi kecupan di wajah tampan yang mirip dengannya itu.


"Kenapa kamu belum tidur, hem? Apa kamu tidak lelah seharian bermain dan selalu menangis sampai tidak mau tidur seperti ini?" ucapnya gemas pada sang putra yang kini beralih menatapnya dengan kerungan di dahinya.


"Apa? Kamu mau bilang apa sama Bapak? Ayo coba bilang, kamu mau apa?" ucapnya lagi seolah tengah berbicara dengan seorang bayi satu bulan lebih yang belum mampu berucap seperti dirinya. Bian meyakini jika putra kecilnya itu pasti mengerti apa yang tengah di ucapkannya itu.


"Al mau apa dari Bapak sampai belum mau tidur seperti ini, hem?" gemas dengan bayinya sendiri, Bian terus menerus mengecupi wajah bersih Al yang mulus dan lembut untuk ia kecupi.


"Sepertinya Al rindu dengan ayahnya," seloroh Kiana tetiba bersuara hingga membuat Bian menoleh pada wajah cantik itu.


"Rindu?" tanyanya ulang.


"Iya, Al rindu dengan ayahnya." ucap ulang Kiana pada Bian.


"Sama aku? Al rindu denganku? Benarkah?" tanyanya berulang untuk meyakinkan. Jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini, tentu saja sangat bahagia. Putra kecilnya itu merindukannya? Apa tidak sebaiknya sang ibu juga turut mengakui jika dia pun merindukannya? Ayolah, Bian akan amat sangat merasa senang sekali. Ayo Kiana, katakan. Gumam Bian dalam hatinya.


"Hemm," Kiana bergumam. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong menyiratkan ia tengah mengarungi ingatan yang telah lalu.


"Al merindukan sosok ayahnya sejak ia lahir. Dia merindukan pelukan hangat sosok itu untuk pertama kalinya yang belum pernah ia dapatkan. Merasakan hangatnya berada dalam dekapannya, dengan kasih sayang yang mengalir tulus mencurahkan segala rasa cinta kepada dirinya." Kiana tersenyum pilu saat mengingat masa-masa sulit bersama bayinya yang malang itu.


"Maaf... Maaf aku terlambat untuk itu semua."


Kiana menggeleng, "Bukan salah Bapak, itu karena saya yang sengaja pergi dari hidup Bapak. Hingga Al yang menjadi korban keegoisan saya. Dia hidup menderita dikala ia masih berumur hitungan hari karena saya yang tidak mampu untuk memberikannya kebahagiaan."


"Kamu sudah menjadi seorang ibu yang luar biasa baik bagi Al, Ki. Dia bangga mempunyai ibu seperti kamu. Kamu rela melakukan apapun untuk bertahan demi bayi kita. Aku sangat berterima kasih karena kamu sudah menjaga Al dengan baik sampai detik ini. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk aku. Kamu sudah berusaha sekuat tenaga demi Al tanpa adanya aku yang seharusnya bisa melindungi kalian." tutur Bian mengungkapkannya dari hati.


"Tapi tetap saja Al menderita, hidupnya penuh dengan kekurangan. Dan saya tetap menutup mata akan hal itu. Karena saya nggak mau kehilangan Al." ucap Kiana sendu.


"Lalu kenapa kamu pergi? Membuat semua ini seakan menjadi lebih rumit? Kenapa kamu tinggalin aku hingga kita terpisah jauh dengan waktu yang cukup lama dan itu membuat aku jatuh dalam keterpurukan yang luar biasa sakitnya?"


"Itu tidak menjadi alasan yang kuat kenapa kamu pergi meninggalkan aku, Ki. Aku pernah bilang untuk sabar menunggu aku pulang. Tapi keadaan diluar dugaan dengan masalah yang diluar akal, dan kamu nggak ada, pergi tinggalin aku dengan membawa separuh nyawa yang berada di dalam diri kamu, Kiana. Kenapa?" ucap Bian seolah meminta penjelasan.


"Saya nggak mau menjadi penghalang kebahagiaan buat Pak Bian."


"Kebahagiaan seperti apa yang kamu pikir hingga membuat aku jatuh terpuruk?"


"Bersama wanita itu. Kalian akan bahagia tanpa saya. Saya hanya sebuah batu kerikil jalanan yang sangat tidak berarti bagi siapapun." sesak Kiana saat mengatakannya.


"Kamu tahu pasti siapa wanita yang sedang kamu bicarakan bukan?" pancing Bian yang meyakini masa lalunya lah yang menjadi akar permasalahan pada apa yang sudah terjadi diantara mereka.


"Tentu, kekasih Pak Bian. Seorang wanita cantik yang nyaris sempurna. Kalian begitu sangat saling mencintai. Sangat serasi. Kehadiran saya dan Al saat itu menjadi penghalang bagi kalian untuk bersama. Bahkan manusia hina nan tidak tahu diri ini menjadi penghalang bagi kalian untuk bersatu dalam ikatan suci pernikahan yang kalian idamkan selama ini." Kiana tersenyum miris dengan penuh kepedihan. Bian yang mendengar pengakuan itu hanya mengerutkan dahinya dalam-dalam.


"Selamat untuk kebahagiaan kalian. Maka dari itu sekarang tidak ada alasan bagi Bapak untuk dapat melepaskan kami. Bapak berhak bahagia dengan pilihan Bapak itu. Karena kami sangat tahu diri yang sama sekali tak berharga di mata Bapak. Kami pergi, meski terasa sakit, tapi kami harus bertahan demi melihat orang yang kami sayangi hidup bahagia." lanjutnya lirih.


"Omong kosong, semuanya hanya omong kosong! Semua yang kamu katakan itu salah, Ki. Semuanya hanya salah paham. Bukan seperti itu, bukan!" Bian menggelengkan kepalanya.


"Lantas seperti apa? Tolong jangan membuat saya menyesali pada apa yang sudah saya lakukan dengan mengorbankan Al yang sama sekali tak bersalah?"


Bian menghela napasnya dalam-dalam sebelum ia memulai mengungkap tabir dibalik masa kelamnya itu.


"Hubunganku dengan wanita itu telah berakhir. Semua yang dikatakan oleh wanita itu nggak benar. Setiap kalimat yang di katakannya hanyalah omong kosong. Aku cuma menginginkan kamu, nggak ada yang lain. Sampai pada saat aku mencari kamu yang sadar telah pergi, dan kecelakaan itu--"


"Membuat Bapak sakit?" sela Kiana menatap sendu wajah Bian.


"Ya, sakit yang tak seberapa sakitnya dibandingkan saat mendapati kenyataan kamu telah pergi tinggalin aku. Membawa semua perasaan yang sudah kamu tanam di sini," tunjuk Bian pada dadanya. "Semua rasa sakit itu lebih menyakitkan karena kamu pergi membawa bagian dari hidupku, Ki, yaitu Al. Kepergian kalian membuat hidupku hancur. Hancur berantakan seolah aku sudah tak memiliki lagi semangat untuk hidup. Jatuh dalam keterpurukan karena ditinggal pergi oleh orang yang kita sayangi ternyata lebih sakit dibanding peristiwa kecelakaan itu. Rasanya sangat perih seakan hati ini tersayat oleh ribuan sembilah pilu." ungkapnya dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis dengan cucuran air mata yang siap meluncur di pelupuk matanya.


"Kamu harus tahu, Kiana, kebahagiaanku saat ini adalah kalian. Kamu dan Al adalah kebahagiaan yang sesungguhnya yang ingin aku perjuangkan. Berbulan lamanya aku berjuang untuk sembuh demi untuk mencari kalian, yaitu bunga kebahagiaanku. Dan Tuhan begitu bermurah hati masih memberikan kesempatan itu untuk bertemu dengan kalian."


Bian menatap putra kecilnya itu yang kemudian ia kembali membubuhkan ciuman di setiap jengkal wajahnya tanpa ada yang terlewat.


"Kehadirannya membuatku semakin mengenal artinya bersyukur. Bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan kita meski dalam keadaan yang tidak kita inginkan. Membuahkan keindahan berwujud makhluk kecil yang sama sekali tak pernah aku bayangkan. Tapi aku sangat bersyukur sekali, karena kehadirannya membuatku menyadari semakin mengenal apa itu arti rasa kasih sayang yang sebenarnya."


Kiana semakin tenggelam untuk mendengar kalimat yang membuatnya semakin terenyuh pada apa yang Bian ungkapkan. Ternyata pria itu hidup dengan penderitaan yang memilukan. Dengan kesakitan luar biasa yang tak banyak orang dapat rasakan. Nasib pria itu tak kalah menyedihkan dengan dirinya. Mereka sama-sama terluka dengan kesakitan yang membuat mereka menderita.


"Kamu tahu kasih sayang seperti apa yang aku rasakan?" tanyanya pada Kiana. "Ini," Bian mengecup kening putranya dengan dalam mengalirkan kasih sayang yang berlimpah. Sejurus kemudian ia beranjak untuk beralih posisi dimana kini ia berbaring di samping Kiana dan memeluknya dari belakang dengan genggaman tangan yang begitu erat.


"Aku menyayangimu, Ki, jauh dari sebelum ini terjadi aku begitu menyayangimu. Maafkanlah laki-laki bodoh ini yang terlambat menyadari perasaannya yang begitu dalam padamu. Jangan tinggalkan aku lagi, karena itu membuatku lemah. Kamu adalah salah satu hal terindah yang Tuhan kirimkan untukku." ungkapnya seraya mengeratkan pelukannya pada Kiana. Dan ajaibnya, Kiana tak lagi menolak. Gadis itu seolah terhipnotis dengan alunan kalimat Bian yang kembali menggetarkan hatinya.


"Jangan, aku mohon jangan..." Kiana menggelengkan kepalanya sembari terisak karena berperang melawan keinginan hatinya yang berkecamuk. "Aku nggak pantas buat kamu, kita sangat jauh berbeda. Aku hanya seorang yang hidup sebatang kara dan tak diinginkan oleh siapapun..."


"Aku nggak peduli, dan aku sangat menginginkanmu, Kiana. Sekarang dan selamanya, aku hanya menginginkan kamu. Cukup merendahkan diri seperti itu karena kamu sangat berharga bagiku." ucap Bian menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Kiana dengan dekapan yang semakin erat pada raga gadis itu.


"Aku sangat mencintaimu, Kiana..." ucap Bian berbisik di telinga Kiana dengan begitu lirih. "Bian cinta Kiana." ucapnya lagi dengan penuh penekanan. "I Love You..." pengungkapan hati Bian membuat Kiana semakin terisak dalam tangisnya sehingga ia dapat merasakan ketulusan dari pria itu.


"I Love You..." ucap Bian sekali lagi seraya mencium kening Kiana.


*****