
Angin yang menerpa wajahnya dikala tengah menikmati pemandangan kota dari ketinggian membuat Kiana harus beberapa kali menyampirkan rambutnya yang menghalangi arah pandangannya.
Perasaan takjub kembali menguasai dirinya, disaat ia begitu terus memuji keagungan Tuhan sang pencipta seluruh kehidupan yang ada di alam semesta ini. Dan ia patut bersyukur masih bisa menikmati segala apa yang sudah dirahmatkan olehNya padanya.
Manik mata Kiana tak lepas memandangi segala sudut yang berada di bawah sana oleh tangkapan netranya. Kiana merasa kecil, melihat dunia yang ternyata begitu luas dibandingkan dirinya. Itulah bukti mengapa dia harus selalu bersyukur atas apa yang sudah di gariskan padanya dari sang pencipta. Baik buruknya takdir yang dia terima, sebagai manusia yang merendah diri ia harus tetap menjalaninya dengan ikhlas dan lapang dada.
Bian masih sibuk dengan kesenangannya. Ia banyak memotret gambar diri Kiana tanpa gadis itu sadari. Menyimpan begitu banyak potret Kiana dan juga dirinya ke dalam galeri ponselnya. Ah... Bian sangat senang sekali saat ini. Apalagi melihat Kiana yang terus memperlihatkan senyumannya setiap saat. Apakah gadis itu merasa bahagia?
Saat ini mereka sedang duduk di sebuah kedai es krim dan memperhatikan Kiana yang tengah menyuapkan es krim dengan begitu lahap. Setelah turun dari wahana biang lala, Kiana tanpa sengaja melihat seorang anak kecil yang sedang memakan es krim yang menurutnya sangat menggoda sekali. Kepekaan Bian membawa mereka saat ini untuk duduk santai di kedai tersebut sembari melepas penat. Dan membiarkan Kiana memakan es krim sebanyak apa yang gadis itu inginkan.
"Bapak mau?" tawar Kiana melihat Bian yang sedari tadi terus memperhatikannya.
Bian menggeleng pelan.
"Saya nggak terlalu suka yang manis-manis. Apalagi es krim." ucap Bian. "Saya makan ini, kamu mau?" Bian menunjuk pada kentang goreng yang ia pesan sebelumnya.
Kiana hanya tersenyum. Ia kembali menyuapkan sesendok es krim yang terasa manis dan meleleh di lidahnya. Kiana sangat menyukainya. Terlebih belakangan ini, ia jadi sering jajan menghabiskan uang tabungannya hanya sekadar untuk membeli es krim setiap hari. Kiana benar-benar sangat menyukai rasa dan dinginnya es krim saat memasuki mulutnya.
"Mau nambah?" tawar Bian saat melihat Kiana menyuapkan suapan terakhir ke dalam mulutnya. "Ini belepotan, seperti anak kecil saja." tegur Bian, mengusap bibir Kiana yang tertinggal jejak es krim di sana.
"Nggak, udah cukup. Nanti di rumah saya beli lagi kalau sedang ingin."
"Lagi?" tanya Bian dengan dahi mengkerut. "Jadi kamu sering memakan es krim selama ini?"
Kiana menganggukkan kepalanya. Dengan polosnya gadis itu menjawab sekenanya pertanyaan dari Bian.
"Iya, malah saya sampai nggak sadar kalau uang tabungan saya habis karena sering jajan es krim dan makanan lainnya. Saya jadi sering makan, rasanya nggak kuat kalau menahan keinginan yang belum kesampaian." ungkapnya sembari meringis saat mengingat ia bersusah mengumpulkan uang untuk ia tabung membeli keperluan yang sangat ia butuhkan selama ini.
Bian melengos mendengar pernyataan Kiana yang seketika membuat hatinya serasa sesak bagai terhimpit beban berat. Jadi selama ini gadis itu menghabiskan uang tabungan untuk memenuhi keinginan bayinya? Bian serasa menjadi seorang laki-laki pengecut yang tidak bertanggung jawab. Hanya untuk keinginan bayinya saja ia belum bisa memenuhinya. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hatinya.
Bian menghembuskan napas pelan untuk menenangkan hatinya.
"Jangan terlalu banyak makan es krim, nanti bisa sakit." ucapnya. "Kalau mau makan lagi, kamu harus bilang sama saya dulu, nanti saya akan belikan. Dan juga untuk keinginan kamu lainnya, Apapun itu. Mengerti?"
Kiana menganggukkan kepalanya. Ia menundukkan kepalanya saat melihat raut wajah Bian berubah menjadi muram. Entah apa yang salah dengan ucapannya tadi. Yang jelas, pria itu tak semurah senyum seperti sebelumnya.
"Kita pulang sekarang." ajak Bian pada Kiana saat mereka terdiam tanpa ada yang bersuara. "Saya janji akan membawa kamu ke sini lagi nanti."
"Iya," jawab Kiana sedikit kecewa seraya mengekor di belakang Bian yang berjalan lebih dulu darinya.
***
"Aku juga nggak tahu Ma," ucap Fira menjawab panggilan telepon dari ibunya yang secara tiba-tiba.
"Sejak tadi Mama hubungi kakak kamu kok nggak ada pernah di jawab." ungkap Bu Ajeng pada sambungan telepon di seberang sana.
"Ya mana aku tahu,"
"Kemana anak itu? Kamu nggak lagi bohongin Mama karena kakakmu itu lagi senang-senang bareng temennya di luar rumah, kan?"
"Ya ampun Ma, mana berani aku kayak gitu sama Mama sendiri. Kalau Mama nggak percaya, bisa tanyain aja sama Tante Nia dan juga Om Danu kalau aku lagi ada di rumah mereka." runtut Fira menjelaskan pada ibunya.
Terdengar helaan napas dari Bu Ajeng. Fira hanya mencebikkan bibirnya serasa di introgasi oleh ibunya sendiri perihal kakaknya yang dia sendiri tidak tahu keberadaanya. Sedang apa, dimana, dan dengan siapa. Membuatnya repot dan pusing kepala saja. Lagi pula kemana sih kakaknya itu?
"Mama dan Papa besok pulang,"
"Serius Mama dan Papa bakalan pulang besok?"
"Iya, makanya Mama butuh Kakakmu buat jemput di bandara besok."
"Asiiik... Mama Papa, akhirnya pulang juga. Transit kan? Nanti bawa aku oleh-oleh ya kalau sampai di Doha." ucap Fira berbinar mendengar berita kepulangan kedua orang tuanya.
"Ya udah, kalau sempet nanti dibawain. Kalau nggak jangan ngerajuk kayak kakakmu itu."
"Iya, iya, Mama sayang." balas Fira dengan nada manjanya yang diakhiri dengan kekehan kecil gadis itu.
"Oke, Mama sayang..." ungkapnya dengan wajah yang berseri-seri. "Tan... Mama mau ngomong nih!" teriak Fira memanggil Tantenya dengan suara cempreng khas gadis itu.
"Hush! Anak ini. Panggil orang tua malah teriak-teriak gitu." sahut Bu Ajeng yang geleng kepala pada tingkah anak gadisnya.
***
Hujan turun membasahi bumi kala dua insan manusia tengah terburu berjalan hendak memasuki mobil yang terparkir cukup jauh dari tempat mereka berada saat ini.
Hujan deras mengakhiri satu hari manis diantara mereka. Mengguyur tiada henti dengan suasana syahdu yang hanya dapat dirasakan oleh mereka berdua.
Kiana memeluk kedua tangannya merasakan dinginnya udara yang menyeruak menembus kulit. Bibirnya sedikit bergetar menahan dingin yang menjalar ke seluruh tubuh, seluruh pakaiannya basah kuyup saat berlari menghindari hujan dan berteduh di salah satu gate keluar bersama Bian tentunya.
Semakin lama, hujan semakin menampakkan intensitasnya. Terus mengguyur tiada henti tanpa memperdulikan orang-orang yang tengah beraktiftas di ujung senja hari itu.
Kiana semakin erat memeluk tubuhnya sendiri, menghalau rasa dingin yang semakin nyata terasa olehnya seiring dengan langit yang mulai menggelap menuju pergantian waktu.
"Dingin?" tanya Bian yang berada di sampingnya. Bian tak kalah merasakan yang sama seperti Kiana. Pria itu menggigil kedinginan karena pakaian yang ia kenakan pun ikut basah kuyup.
Kiana menoleh pada Bian sepintas, yang sesaat kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke arah titik-titik hujan yang turun saling bergemerincik menerpa benda-benda yang ada di sekitarnya.
"Hujannya semakin deras. Air menggenang di bagian yang akan lewati." ucap Bian. "Masih kuat?" tanya Bian yang mulai mengkhawatirkan keadaan Kiana.
Kiana tersenyum tipis. Ia mengangguk kecil sebagai tanda jawaban jika ia baik-baik saja.
Bian dengan sigap membuka jaket yang ia kenakan. Menyampirkannya ke tubuh Kiana yang terlihat menggigil kedinginan. Tak apa basah, yang penting Kiana sedikit merasakan hangat dibandingkan dengan sebelumnya.
"Nanti Bapak kedinginan," Kiana menolak saat Bian menyampirkan jaket ke tubuhnya yang dihiraukan begitu saja oleh pria itu.
"Jangan khawatirin saya, yang terpenting saat ini kalian baik-baik saja. Jangan membuat saya akan menyesal nantinya, Kia." ucap Bian seraya membungkus tubuh Kiana rapat agar angin yang berhembus dingin tak langsung menerpa gadisnya itu.
Kiana memekik keras saat mendengar suara petir yang tiba-tiba terdengar begitu menakutkan baginya. Dengan refleknya ia memeluk Bian dengan begitu erat, mengurai rasa takut yang menghinggapi dirinya. Menyembunyikan wajahnya ke dalam dada bidang pria itu yang terasa hangat.
Bian seketika mematung merasakan tubuh Kiana yang menempel padanya. Perasaannya sulit untuk ia ungkapkan. Rasanya sangat berbeda ketika gadis itu lebih dulu menubruk tubuhnya, memeluk, meminta perlindungan darinya. Bian seolah tak bisa bernapas, dadanya ikut berdebar merasakan desiran aneh yang menjalar di aliran darahnya.
"Maaf Pak, saya--" kalimat Kiana menggantung saat ia mencoba menjauhkan dirinya dari Bian. Kiana tersentak kala ia merasakan tarikan lengan Bian yang memaksanya bertahan dari tempat itu.
Bian kembali menarik Kiana ke dalam pelukannya. Tak membiarkan Kiana menjauh dan melepaskan diri darinya begitu saja. Ia memeluk Kiana dengan posesif, tak akan membiarkan gadis itu lepas dari belitan tangannya.
"Masih ada petir," ucap Bian tidak mengada-ngada. Sejurus kemudian terlihat Kilatan putih yang membelah langit di antara butiran air yang semakin deras turun menjejak bumi.
Suara gemuruh petir membuat Kiana memejamkan matanya. Ia takut dengan suara petir. Sejak kecil sampai sekarang suara petir adalah salah satu ketakutannya. Jika dulu ia akan menangis meraung meminta perlindungan pada Ibu panti. Maka sekarang ia hanya seorang diri untuk dapat menghadapi rasa ketakutannya.
Bian semakin erat memeluk Kiana. Membiarkan gadis itu mendekap, dan menenggelamkan diri padanya. Bian dapat melihat ketakutan yang di tunjukan oleh Kiana. Gadis itu ternyata lemah, tidak seperti apa yang dia pikirkan selama ini. Bian bahkan dapat melihat sisi lemah dari ketegaran yang gadis itu sering tunjukkan di hadapannya. Ia memperhatikan wajah Kiana yang tenggelam di dadanya. Ia pun tersenyum. Merasai ada pergerakan dari gadis itu, Bian berpura-pura mengalihkan pandangannya karena saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Sungguh, Kiana membuatnya begitu frustasi akan perasaannya.
Kiana masih bersembunyi di balik pelukan Bian yang semakin tak kalah mengeratkan pelukannya. Kiana dapat merasakan debaran yang kuat pada dada pria itu. Sekilas ia mendongak untuk melihat wajah Bian. Pria itu tengah mengamati keadaan sekitar rupanya. Kiana dapat merasakan kembali belitan tangan Bian yang melingkar di tubuhnya semakin erat untuk memeluk dirinya. Kiana pun tak dapat memungkiri bahwa dia merasakan hal yang sama karena saat ini hatinya ikut berdebar kala Bian mengecup puncak kepalanya berulang kali yang mana membuat Kiana merasa aman dan nyaman saat bersama dengan pria itu.
Bolehkah ia tetap bisa begini saja?
Ia usap permukaan dada bidang Bian dengan pelan dan lembut, merasakan debaran yang semakin kuat dari sebelumnya dari pria itu. Bahkan dapat Kiana rasakan juga napas Bian yang semakin memburu seolah seperti sudah berlari kencang. Apa pria itu kedinginan?
Indra pendengaran Kiana menangkap dengan pasti suara yang mengalun lembut diantara sahutan suara hujan di telinganya.
"Kiana..." lirih Bian dengan suara paraunya.
Desauan suara Bian mengerjapkan mata Kiana. Bahkan ia terkejut saat mendengar suara ******* yang keluar dari mulut Bian dengan begitu saja.
Kiana mendongakkan kepalanya, menatap wajah Bian yang berada di atasnya.
"Pak Bian sakit?" tanya Kiana dengan polos saat melihat Bian yang memejamkan mata dengan bibir rapat seperti sedang menahan sesuatu.