Secret Love

Secret Love
Belum Terbiasa



Keheningan menyelimuti pada ruangan yang ada. Mereka bertiga duduk saling berhadapan. Dimas hanya diam memperhatikan kedua sosok yang saling terdiam, setelah 30 menit yang lalu ketika acara berlangsung berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan.


Suasana sederhana namun penuh kehidmatan terjadi setelah Bian dengan penuh keyakinan mengumandangkan kalimat sakral atas nama Kiana, yang sejak saat detik itu juga ia mengikat seluruh kehidupan yang ada pada diri gadis itu.


Bian bernapas lega. Akhirnya ketegangan yang sejak tadi ia rasakan kini menguap meski masih ada sedikit yang tersisa. Namun ia benar-benar bisa bernapas lega saat ini karena satu masalah berhasil ia selesaikan.


Ketegangan dan kecemasan nampak jelas pada raut muka Bian saat Kiana ditanyai kesediaannya. Kiana terus terdiam. Bian semakin gugup, takut-takut kalau gadis itu akan menolak mentah-mentah dirinya.


Namun tanpa di duga oleh Bian, Kiana yang masih terdiam dengan sejuta keterkejutan dan kebingungannya, menganggukkan kepalanya pelan menerima Bian.


Kini, dua insan manusia yang sudah saling mengikat janji setia sehidup semati itu, nampak sibuk dengan pikirannya masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan. Namun tampak jelas kecanggungan masih terlihat diantara mereka, sampai Kiana belum berani menatap Bian secara langsung setelah terakhir kali ia mencium takdzim punggung tangan laki-laki itu.


Bian melirik Kiana yang masih menunduk, saat jari jemarinya terlihat memainkan dress berwarna putih yang Kiana kenakan di siang itu.


"Kalau begitu saya pamit kembali ke kantor, Pak." ucap Dimas memecah keheningan yang ada.


"Langsung pulang saja, nggak apa-apa." balas Bian yang akhirnya membuka suara.


"Saya ke kantor saja, masih siang. Pekerjaan belum selesai. Yang seharusnya pulang itu Bapak, dan juga Ki-- Eh, maksud saya Bu Kiana." kikuknya bersusah payah menelan salivanya karena dia hampir saja melakukan sedikit kesalahan.


"Terserah kamu. Saya nggak bakalan kembali lagi ke kantor soalnya."


'Ya udah pasti itu mah, Pak.' Dimas berdecak pelan.


"Saya pamit sekarang saja. Bapak kalau butuh sesuatu nggak perlu sungkan buat hubungin saya." Dimas beranjak dari duduknya, setelah sebelumnya menyerahkan dokumen penting yang ia sudah siapkan sebelum datang ke tempat itu. "Dokumen yang Bapak minta. Jangan sampai lupa diperiksa dan saya butuh tanda tangan Bapak. Besok saya ambil ke rumah, jaga-jaga kalau Bapak pasti belum bisa masuk kerja."


"Bawel banget, saya belum pikun!" decak Bian sinis.


"Iya nggak apa-apa saya ngerti kok. Bapak perlu waktu untuk di rumah. Mari Bu Kiana, Pak Bian, saya kerja dulu." ucapnya setelah itu pergi menghilang dibalik pintu.


Bian memberengut kesal. Mengumpat kecil pada Dimas yang saat itu sudah tak terlihat lagi di sana.


"Sialan tuh asisten, awas aja nanti!" sungutnya, lupa kalau di sampingnya masih ada Kiana yang memperhatikan umpatannya.


Bian berdeham pelan, menetralkan rasa kecanggungannya. Saat ini hanya ada mereka berdua saja di ruangan itu. Melihat Kiana yang masih diam tak bersuara, Bian pun semakin salah tingkah dibuatnya.


"K-kamu, Umm... saya--" Bian kesusahan hanya untuk sekedar berbicara di depan Kiana. "Kamu lapar? Mau saya pesankan makanan? Kamu mau makan apa, hem?"


Kiana menoleh pada Bian. Gadis itu terlihat sama bingungnya.


"Saya mau pulang," ucap Kiana diluar dugaan. Bian melongo memperhatikan Kiana yang nampak gelisah saat berdua bersamanya.


"Apa?" tanya Bian memastikan pendengarannya.


"Saya mau pulang," ucapnya lagi menjawab pertanyaan Bian.


"Pulang? Kenapa pulang?" tanya Bian penuh keheranan.


"Kerjaan saya masih banyak di rumah. Kasihan Mbok sendirian." khawatir Kiana. Padahal ia ingin sekali cepat pulang karena sudah tidak tahan dengan kecanggungan yang tercipta bersama Bian. Jika pulang, setidaknya Kiana bisa terbebas dari hadapan Bian dengan menyibukkan diri pada setumpuk pekerjaannya.


Bian menganggukkan kepalanya. Ia menyetujui permintaan Kiana yang ingin pulang di saat Bian sendiri masih merasakan kegugupan yang tidak biasa pernah ia rasakan sebelumnya.


Mengambil ponsel yang terletak di atas meja. Bian mengetikkan sesuatu di benda pipih tersebut beberapa saat. Sampai pada laki-laki itu menarik tangan Kiana untuk beranjak dari tempatnya, membawa gadis itu keluar dari unit miliknya dengan mengamit tangan Kiana tanpa malu.


"Pak," tahan Kiana sejenak.


"Ada apa? Kamu berubah pikiran?"


"Baju saya ketinggalan di dalam,"


"Nggak apa-apa pakai yang ini saja." tunjuknya pada baju yang sedang dikenakan Kiana saat itu. Yang mana membuat penampilan Kiana pangling dan jauh lebih cantik dari biasanya. Bahkan Bian merasa senang dapat melihat Kiana yang sangat berbeda dari hari-hari biasanya.


"Tapi itu baju saya, Pak. Kalau di tinggal, saya nggak punya baju ganti lagi untuk saya pakai."


"Sudah, nggak perlu kamu khawatirin. Besok saya ajak kamu pergi belanja beli baju yang kamu suka." ucap Bian kini menghentikan langkah mereka yang sudah berada di lobi depan. "Besok ya, kamu mau kan nunggu besok buat bisa pergi sama saya?" Bian memperhatikan wajah Kiana untuk mendapat persetujuan dari gadis itu.


Kiana menggeleng pelan. Ia melihat pada keadaan sekitar yang lumayan ramai dengan aktifitas di tempat itu. Ia berusaha melepas genggaman tangan Bian yang masih melekat di sana, tidak terlepas barang sejenak meski saat ini mereka berada di tempat yang ramai banyak orang.


"Nggak, saya nggak perlu Bapak mau untuk repot-repot karena saya." tolak Kiana halus. Dia masih merasa risih karena genggaman tangan Bian tak mau terlepas. Apalagi kini mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sana.


"Kenapa nggak mau, hem?" tanya Bian. Lebih tepatnya bukan karena penolakan gadis itu pada ajakannya untuk besok hari. Tapi karena penolakan Kiana pada apa yang dilakukannya di tempat umum yang pastinya Bian pun merasa pasti gadis itu malu dan risih karena belum terbiasa.


"Saya--"


"Mulai hari ini, mau tidak mau, suka tidak suka, pria jahat yang sudah banyak menyakiti kamu selama ini adalah suami kamu." jelas Bian menekan kata-katanya. "Dan untuk ini, saya lebih berhak atas kamu karena kamu adalah istri saya." Bian semakin mempererat genggaman tangannya.


"Ini istri saya, Mbak." ucap Bian nyeleneh pada resepsionis yang tak jauh dari mereka. Hal itu hanya mendapat tanggapan sebuah senyuman dari wanita tersebut.


"Pak, ini istri saya. Tolong di ingat-ingat. Jangan sampai lupa dengan wajah istri saya." ucap Bian lagi pada seorang security yang sedang berjaga.


"Baik, Pak." balas security tersebut dengan senyuman ramahnya.


Bian tersenyum cerah pada Kiana. Ia kembali menarik langkah mereka menuju area parkir menuju mobil Bian yang terpakir di sana.


"Saya laper. Baru ingat siang ini belum makan sama sekali. Kita makan dulu sebelum pulang. Kamu nggak boleh nolak ajakan saya sekarang." ucapnya setelah sebelumnya memasangkan sabuk pengaman pada Kiana. "Udah nyaman?" tanya Bian yang belum beranjak dari posisi menyamping menghadap Kiana. Sangat dekat, bahkan Kiana dapat mencium aroma wangi mint dari hambusan napas Bian.


"Kita pergi cari tempat makan yang dekat dengan rumah saja. Saya mau kamu cobain banyak makanan yang saya suka." tutur Bian seraya mengemudikan laju kendaraannya. Kiana hanya terdiam, menjadi pendengar baik untuk Bian yang terus mengoceh di sepanjang perjalanan yang sama sekali tak pernah Kiana balas.


"Saya mau, anak saya nggak ngerasa kelaparan terus, terutama ibunya." ucap Bian tetiba, membuat Kiana menoleh pada Bian yang terlihat fokus pada jalanan di depannya. "Saya yakin dia juga pasti suka dengan makanan yang saya suka. Kamu juga kan?" lanjutnya, melirik sekilas pada Kiana dengan senyuman kecil di bibirnya.


Kiana memalingkan wajahnya. Hawa panas secara tetiba menerpa permukaan wajahnya. Ia menggigiti bibir bawahnya untuk mengalihkan kegugupannya.


Apa yang baru saja dia dengar? Bian menyingung soal tentang anaknya? Anak yang ada dalam rahimnya? Apa dia tidak salah mendengar?


Reflek tangan Kiana mengelus permukaan perutnya yang kini terasa semakin menonjol. Ia mengusap pelan pada permukaan perutnya, merasakan jika makhluk kecil yang berada di dalam sana mungkin merasa senang, dan itu menular padanya saat itu juga.


'Kamu dengar itu, Nak? Itu suara ayahmu. Kamu senang mendengar suara ayahmu memanggil kamu? Karena apa yang kamu rasakan, saat ini aku rasakan juga.' batin Kiana berucap lirih.


*****