
Setelah melewati malam panjang yang penuh dengan emosional, perasaan haru, dan juga memilukan, masing-masing diri terlelap dalam buaian mimpi, saling merengkuh satu sama lain dalam dekapan hangat sebuah pelukan yang menenangkan. Kini dua insan manusia yang tengah di landa ketenangan hati dan jiwa itu saling terdiam dalam kebisuan yang hanya tersekat oleh seorang makhluk kecil yang sesekali melenguh mengeluarkan suara seraya menatap wajah kedua orang tuanya seolah ia mengajak berbicara.
Bian dapat melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri gadis yang kini menjadi pujaan hatinya itu dengan cekatan mengurus bayi mereka dengan baik. Bian memperhatikan gerak tangan Kiana yang luwes saat membersihkan badan si kecil sampai dengan mengganti pakaiannya dengan lihai seolah istrinya memang sudah terbiasa dengan kegiatan itu.
Tak dapat di sembunyikan, sebuah senyuman telah terbit di bibir Bian dengan merekah tatkala dipangkuan tangannya kini telah hadir putra kecilnya yang tengah ia timang dengan penuh kehati-hatian.
Mata yang hampir terpejam dengan mulut mungil yang terus menguap, Bian dengan penuh kesabarannya terus menimang si kecil hingga putranya itu terlelap.
"Akhirnya kamu tidur juga, Nak." ucap Bian seraya mengelus pipi lembut bak selembut sutra itu. "Selamat tidur sayangnya, Bapak. Biar Bapak yang menjagamu agar kamu bisa tidur dengan nyenyak." ungkapnya.
"Al sudah tidur?" tanya Kiana yang menghampiri kedua pria itu dengan membawa sebuah wadah besar berisi pakaian bersih dan rapi yang siap ia pilah dan antarkan kepada para pelanggannya.
"Ya, sepertinya dia mengantuk karena semalam dia sempat bergadang tidak mau tidur." balas Bian menoleh pada Kiana.
"Maaf jadi merepotkan," sesal Kiana menundukkan kepalanya yang tak enak hati karena semalam ia tertidur di pelukan Bian dengan begitu saja tanpa teringat pada bayi kecilnya yang masih senang membuka mata.
"Hey, kenapa harus bilang begitu? Ini adalah tanggung jawabku sebagai seorang ayah dan suami. Sudah seharusnya aku mengemban tugas itu untuk keluarga kecil kita, termasuk menjaga dan merawat Al. Jadi jangan pernah berkata seperti itu lagi karena jujur itu membuatku tersinggung dan semakin bersalah padanya." tutur Bian.
"Maaf," lirih Kiana.
"Nggak Kiana, kamu nggak pantas mengucap kata itu untukku. Aku yang seharusnya berkata banyak untuk meminta maaf sebagai bentuk pengampunanku padamu." ucapnya, Bian menidurkan Al yang sudah tertidur dengan pelan-pelan dan juga hati-hati takut jika putranya itu akan kembali terbangun. Walau bagaimana pun ini adalah pengalaman pertamanya berperan sebagai orang tua. Kekakuan nampak masih jelas terlihat dan ia hanya mengandalkan intuisinya sebagai seorang ayah saat bersama Al.
"Apa ini?" tunjuk Bian pada setumpukkan pakaian yang Kiana gelar di atas sebuah karpet.
"Pakaian," jawab Kiana polos apa adanya. Bian terkekeh gemas pada istrinya itu, seraya mengambil salah satu pakaian yang sudah terlihat rapi dan bingung harus dia apakan selanjutnya.
"Bapak mau ngapain?" tanya Kiana dengan dahi mengkerut.
"Bantu kamu, tapi saya bingung harus diapakan." ucapnya dengan wajah kebingungan.
"Nggak usah, saya bisa sendiri."
Bian meletakkan kembali pakaian yang sebelumnya ia raih. Benar apa yang dikatakan oleh Kiana, ikut membantu pun itu akan membuat pekerjaan Kiana selesai lebih lama lagi karena dia tak tahu apa-apa. Tapi melihat istrinya yang tengah kesusahan membuat Bian membatin tak tega.
"Apa harus melakukan semua ini?" tanya Bian pelan-pelan pada akhirnya.
"Melakukan apa?" tanya balik Kiana yang kurang paham maksud dari pertanyaan Bian.
"Pekerjaan ini, apa harus?"
"Mau tidak mau, karena ini adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa saya lakukan di tengah susahnya mendapatkan pekerjaan. Siapa yang ingin mempekerjakan seorang wanita yang memiliki bayi dengan minim kemampuan yang dimilikinya? Itu pasti akan merepotkan semua orang." Kiana tersenyum miris, seraya menghela napas dalam-dalam. "Saya sangat bersyukur memiliki pekerjaan ini, meskipun terasa berat tetapi saya bisa mendapatkan upah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari meski banyak sekali kekurangannya."
"Maaf," ucap sendu Bian kali ini. Hatinya tergores perih dengan luka yang menganga. Tidak dapat dibayangkan olehnya selama ini anak dan istrinya berjuang sekuat tenaga demi bertahan hidup di tengah kehidupan kota yang begitu sangat keras.
"Tidak, semua memang harus saya lakukan demi Al. Saya nggak bisa membayangkan jika saat itu Al tidak ada di samping saya. Mungkin saat ini saya akan lebih terpuruk dengan hidup yang begitu sangat menyedihkan. Al adalah sumber kekuatan saya untuk tetap bertahan. Saya rela melakukan apapun deminya asalkan dia dapat merasakan kehidupan yang lebih pantas. Memberikannya kasih sayang dari seorang ibu itu yang paling utama. Dia nggak boleh seperti saya yang hidup penuh dengan kurang keberuntungan." Kiana kembali tersenyum, memandang nanar helaian pakaian yang ia pilah yang tak terasa selesai begitu saja.
Bian menyelami kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Kiana yang begitu menyayat hati. Dapat ia rasakan pula kepedihan yang mendalam dirasakan oleh istrinya itu.
"Al, nama yang sangat bagus untuk bayi laki-laki kita." ujar Bian mengalihkan topik karena ia sungguh tak kuasa merasakan sakit yang luar biasa yang dilalui oleh anak dan istrinya dari cerita yang baru saja Kiana senandungkan.
"Albio, namanya Albio." balas Kiana menatap balik wajah Bian yang memancarkan kesenduan dari manik matanya yang berkaca-kaca.
"Albio?"
"Ya, Albio."
"Nama yang sangat bagus sekali. Terima kasih karena sudah memberi nama yang indah untuk anak kita, Ki."
Kiana menggelengkan kepalanya, "Hanya Albio, tidak ada nama yang lain." ungkapnya memelas.
"Boleh aku memberi nama lainnya untuk Albio?" pinta Bian berharap jika ia bisa ikut menyematkan nama untuk putranya itu.
"Al pasti senang sekali memiliki nama yang lengkap, terlebih itu pemberian dari ayahnya."
"Albio Abizar Kharis Adijaya." ucapnya memberikan sematan nama lengkap untuk buah hatinya. "Albio, nama yang indah pemberian dari ibunya yang begitu bermakna dan merupakan sumber dari kekuatan bagi kedua orang tuanya. Abizar Kharis, sematan nama tengah dari ayahnya yang merupakan anak laki-laki pertama dari seorang Abian Kharis. Dan Adijaya, cucu pertama dari keluarga Adijaya yang akan membuat bangga dengan meneruskan kejayaan keluarga Adijaya kelak. Bagaimana? Kamu setuju dengan nama itu?Kalau tidak, kita bisa cari nama lain yang kamu sukai tentunya."
"Nama yang bagus. Sangat melengkapi nama Al yang begitu gagah seperti ayahnya."
"Terima kasih, Ki. Karena kamu telah sudi membuka hati bagi laki-laki yang penuh dengan kekurangan ini." ungkap Bian seraya menggenggam erat tangan Kiana yang tak lama kemudian terlepas karena Kiana yang beranjak pergi.
"Mau kemana?" protes Bian ketika saat-saat hangat diantara mereka terputus begitu saja.
"Ke belakang,"
"Nggak perlu, di sini aja." pinta Bian.
"Sebentar, cuma mau ngambil sesuatu." ucap Kiana yang berlalu tanpa menghiraukan pria itu.
Bian hanya mampu mengesah kecil melihat istrinya pergi. Walau bagaimana pun dia kan ingin berduaan juga dengan Kiana. Dia rindu. Rindu di saat dia bisa memandangi dengan puas wajah cantik alami milik Kiana. Apalagi kini hati mereka sudah saling terpaut dengan ungkapan cinta yang Bian hantarkan. Ah, entah mengapa sedetik saja tak melihat Kiana nampak di pandangan matanya, membuat Bian resah tak karuan. Sungguh, Kiana sudah membuatnya jatuh ke dalam pesona yang ditawarkan oleh gadis itu.
Bian tersenyum tipis saat melihat Kiana kembali menghampiri dengan membawa sesuatu di tangannya. Senyuman itu seketika memudar ketika Kiana meletakkan sepiring nasi dengan sepotong lauk telur dadar terbagi dua di atas piringnya.
"Apa ini, Ki?" tanya Bian menatap Kiana penuh dengan pertanyaan.
"Sarapan, Bapak pasti lapar karena sejak kemarin belum makan. Maaf, cuma ini saja yang ada untuk sarapan pagi ini."
"Ki,"
"Kalau Bapak nggak suka, nggak apa-apa biar saya simpan lagi saja. Tapi saya nggak punya apa-apa lagi selain nasi dan telur ini untuk sarapan pagi ini."
Bian menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia menatap lekat Kiana dengan mata yang mulai berembun. Bian terharu tak menyangka jika Kiana begitu peduli padanya saat ini.
"Ini buat aku?" tanyanya lagi. Kiana pun menganggukkan kepalanya. "Makasih, Ki. Aku pasti suka, pasti sangat suka. Makasih," ucapnya dengan berbinar tapi perasaannya begitu sangat perih di rasanya.
Bian dengan cepat meraih piring berisi sarapan pagi yang sangat sederhana itu. Namun ia kembali menahan pergerakan tangannya sendiri kala menatap Kiana yang juga tengah menatapnya balik.
"Kamu udah makan?" tanya Bian.
Sepintas Kiana menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Bian.
"Kenapa? Nanti kamu sakit, Ki." cemasnya pada gadis pujaan hatinya itu.
"Nggak apa, Bapak duluan saja yang makan. Saya bisa nanti."
"Nanti kapan? Aku gak mau tahu kamu harus makan sekarang juga."
Kiana tetap menggelengkan kepalanya. "Bapak saja, saya bisa menunggu sampai siang nanti kalau sudah selesai mengantarkan pakaian."
"Nggak-nggak, itu terlalu lama. Kamu harus makan sekarang juga titik!" paksa Bian.
"Tapi--"
"Ki, Please... Aku gak mau melihat kamu sakit. Aku dan Al sangat membutuhkan kamu. Makan ya?"
"Tapi ini hanya buat Bapak saja. Saya bisa menanak nasi lagi nanti setelah mendapatkan uang dari mengantarkan pakaian dari para pelanggan laundry."
Bian mematung saat mendengar pernyataan Kiana yang membuatnya semakin pedih. Air matanya tak tahan menetes kala mendapati Kiana yang begitu peduli padanya tanpa memikirkan dirinya sendiri.
"Kita makan sama-sama ya, kamu mau?" tawar Bian dengan senyuman meski wajahnya kini basah dengan air matanya. Bian menyuapkan sesendok nasi dan lauknya dan mengarahkannya ke mulut Kiana yang masih rapat. "Ayo Ki, buka mulutnya. Kalau kamu nggak mau makan, aku juga nggak akan makan."
Kiana menatap lekat Bian dengan sejuta perasaan yang bersarang di hatinya. Dia kembali melihat ketulusan yang terpancar dari mata pria itu. Oh Tuhan... Kiana merasakan dilema yang sungguh luar biasa mengganggunya saat ini. Dapatkah dia menerima kehadiran pria itu di dalam hidupnya? Perasaan apa yang di rasakannya saat ini terhadap sosok pria yang menjadi ayah dari bayinya itu?
Meski ragu-ragu, Kiana menerima suapan dari tangan Bian dengan kepala yang menunduk. Ia meremas pakaian yang dikenakannya kala Bian menatapnya tanpa beralih sedikitpun. Jangan ditanya, saat ini Kiana merasakan jantungnya yang berdebar lebih cepat dari biasanya, bertalu-talu seiring dengan Bian yang membelai wajahnya dengan begitu lembut dan penuh perasaan.