Secret Love

Secret Love
Kedatangan Syafira



Kiana berlari terpogoh-pogoh dari dalam rumah menuju gerbang halaman depan setelah mendengar suara deru mobil yang berhenti di pelataran rumah.


Dia tidak memperdulikan keadaan dirinya yang tengah berbadan dua, dan terus saja berlari kecil untuk menemui seseorang yang baru saja kembali pulang ke rumahnya setelah lamanya dia berada di negeri orang.


Kalau saja ada Bian di sana saat itu, dapat dipastikan Kiana akan mendapatkan omelan dan tatapan tajam dari laki-laki itu karena kelakuannya. Karena siapapun tidak akan percaya jika gadis itu tengah mengandung jika dilihat secara sepintas.


Kiana bergabung bersama Mbok dan juga Joko yang sudah berada di sana sejak tadi. Dia memperhatikan seseorang yang baru saja keluar dari dalam mobil dengan raut penuh ketakjuban saat melihat seorang gadis cantik melenggang menghampiri mereka.


"Mbok..." panggil sosok gadis itu dengan senyuman yang mengembang menandakan Kebahagiaan di dalam dirinya. Ia mendekat pada Mbok Sarmi dan langsung memeluk wanita tua itu seolah melepaskan kerinduan yang membuncah.


"Kangen..." ucapnya dengan nada manja bak seperti anak kecil yang rindu kepada ibunya.


"Fira... Ya Allah... gadis kecilnya Mbok udah pulang," ungkap Mbok seraya membalas pelukan gadis tersebut. Rasa haru menyeruak diantara kedua manusia yang tengah melepas rindu Karena lama tak berjumpa. "Sehat?" tanya Mbok menanyakan keadaan gadis itu.


Syafira Nasya Aqeela Adijaya. Biasa dipanggil Fira oleh orang-orang di sekitarnya semenjak ia kecil. Adik bungsu Bian satu-satunya ini sangatlah manja terhadap semua orang. Terutama pada Mama dan Papa nya, serta Mbok Sarmi yang selalu lengket padanya.


Lama tak pulang ke tanah air membuat gadis itu merasakan kerinduan pada semua yang ada pada kehidupan sebelumnya. Dia rindu dengan rumahnya, dan juga orang-orang yang berada di dalamnya juga. Setelah hampir satu tahun lebih ia terpaksa harus menetap di negeri kincir angin untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya, akhirnya tahun ini, dia dapat kembali pulang ke rumah yang ia rindukan selama ini.


Fira yang terpaut usia 7 tahun dengan kakaknya-Bian, selalu saja membuat Bian kesusahan dengan banyak maunya gadis itu. Adik kakak yang sama-sama keras kepala itu, tidak akan ada satu pun yang mau mengalah diantara keduanya. Mereka sama-sama ingin menang sendiri. Dan tetap dengan pendirian teguhnya masing-masing. Maka dari itu, mereka tidak terlalu dekat seperti kebanyakan kakak-adik pada umumnya dalam sebuah keluarga. Akan tetapi, mereka tetap saling menyayangi dan mendukung satu sama lain.


Seperti halnya hari ini, saking saling peduli dan sayangnya Bian padanya, kakaknya itu sampai benar-benar tega tak menjemput kepulangannya di bandara tadi. Entah telat atau memang lupa, Fira saat ini merasakan kekesalan dan juga rindu dalam satu waktu yang bersamaan.


"Sehat. Mbok sendiri, sehat?" tanya balik Fira dengan semangat karena senang sudah kembali pulang ke rumahnya.


"Mbok sehat. Aduh... Mbok pangling lihat Fira makin cantik saja. Beneran cantik," ucap Mbok memuji Fira yang mana membuat bibir gadis itu mengerucut.


"Mbok mah, jadi aku nya cantik baru sekarang gitu? Terus kemarin-kemarin aku jelek?" rajuknya mulai memperlihatkan sisi kemanjaannya pada orang-orang terdekatnya.


"Makin cantik, dari dulu sudah cantik. Ingat tidak siapa yang suka kepangin rambutnya sampai mirip seperti Barbie cantik milik Fira?"


"Mbok yang suka kepangin rambut aku." jawab polos Fira apa adanya. "Kangen Mbok... aku kangen banget pulang ke rumah." matanya mulai berkaca-kaca, kembali memeluk Mbok Sarmi yang sudah seperti orang tua sambung baginya di kala Bu Ajeng dan Pak Hardi sibuk dengan kegiatan mereka untuk mengurus perusahaan. Di bahu Mbok Sarmi pula tempat gadis itu sukar berkeluh kesah tentang perasaan hatinya. Fira begitu sangat dekat dengan Mbok sejak ia kecil.


"Ya sudah, Fira sebaiknya masuk ke dalam. Pasti capek karena baru sampai dari perjalanan jauh." ajak Mbok mengiring gadis itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Saya bantu ya, Non." tawar Joko membawakan koper milik Fira ke dalam.


"Makasih ya Pak Joko, aku sampai lupa dari tadi ada Pak Joko di sini." kekeh Fira saat melihat Joko yang hanya tersenyum lebar ketika dirinya terlupakan.


Ketika Fira hendak melangkahkan kakinya, ia baru menyadari jika ada seseorang lain bersama mereka. Ia memperhatikan Kiana yang berdiri tak jauh darinya dan tengah tersenyum padanya. Fira pun ikut membalas senyuman Kiana dengan penuh keramahan meski ia baru pertama kali melihat orang baru di rumahnya.


"Kiana?" tanya Fira tiba-tiba, sontak membuat semua orang yang berada di sana mengernyit keheranan. Terutama Kiana. Bagaimana bisa Fira dapat mengenali Kiana yang jelas-jelas baru pertama ia lihat. Hal itu semakin membuat Kiana terheran-heran dengan anak majikannya itu.


"Kamu Kiana, kan?" tanya ulang Fira pada Kiana.


Kiana menoleh pada Mbok sepintas. Dan tak lama kemudian kembali menatap Fira yang masih memperhatikannya yang masih menunggu jawaban darinya.


"I-iya, Mbak." jawab Kiana gugup saat di tatap oleh wanita cantik di hadapannya itu.


"Wah... aku nggak salah mengira jadinya sejak tadi. Ternyata aku nggak salah. Aku yakin kamu pasti Kiana, aku tahu dari Mama." ungkap Fira seraya lebih mendekat pada Kiana.


"Mama nggak salah memang, ternyata aku lihat aslinya lebih cantik dari yang aku lihat di foto waktu Mama nunjukin foto kamu di ponselnya."


Kiana terdiam. Dia berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar dari mulut Fira. Apa ia tidak salah dengar? Fira mengenalinya dari sebuah foto yang terdapat di ponsel milik Bu Ajeng? Bagaimana bisa?


Kiana bertambah bingung jadinya dengan pengakuan Fira barusan.


"Ada banyak hal yang mau aku ceritain sama kamu. Mama selalu cerita, katanya kamu jago masak puding mangga. Sampai-sampai Kak Bian aja juga jatuh hati. Aku jadi penasaran dengan rasanya." celoteh Fira tak henti. "Kamu harus ajarin aku nanti ya Kiana, aku suka masak tapi gak bisa terus." ungkapnya dengan kekehan kecil yang mewarnai perjalanan langkah kaki mereka saat memasuki bagian dalam rumah.


***


Bian tak menemukan Kiana saat ia mencari gadis itu ke seluruh penjuru ruangan ketika baru saja pulang bekerja dari kantornya.


Rasa lelahnya setelah bekerja seharian biasanya akan menguap hilang dengan sendirinya setelah ia dapat melihat wajah Kiana yang membuatnya kembali bersemangat seperti mendapatkan energi tambahan darinya.


Namun setelah berkeliling, tak nampak ia mendapatkan sosok yang sedang ia cari. Tak menyerah, Bian kembali berputar ke arah teras halaman belakang, menuju ke arah kamar Kiana berada. Mungkin saja gadis itu berada di dalam sana. Setidaknya Bian akan merasa lega karena Kiana tak pergi kemana-mana, yang mana itu akan membuatnya merasa khawatir.


Setelah melewati pintu penghubung antara rumah utama dengan bagian belakang yang biasanya dipergunakan oleh para pegawai untuk beraktifitas. Bian dapat menangkap sosok Kiana dari kejauhan tengah duduk di kursi teras.


Namun Bian mengerungkan dahinya dalam. Kiana sepertinya tidak sendirian. Ada seseorang yang menemaninya malam itu. Posisi duduk yang membelakanginya membuat Bian tidak dapat melihat wajah seseorang yang disinyalirnya itu adalah seorang perempuan.


Ya, seorang perempuan. Dan rasanya Bian sangat mengenali sosok itu.


Ia menghampiri Kiana dengan langkah pasti.


"Saya cari kamu dari tadi ternyata ada di sini?" ucap Bian, membuat kedua gadis yang berada di sana sama-sama menoleh kearahnya secara bersamaan.


Bian membulatkan matanya penuh-penuh. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat malam itu dengan kedua netra matanya.


"Kak Bian!" panggil Fira saat melihat Kakaknya berada di sana bersama mereka. "Kak Bian, ih..." panggil Fira kembali seraya memeluk Bian dengan eratnya untuk melepaskan rasa kerinduannya.


"Fi-Fira?" tanya Bian tercekat. Ia masih tak percaya pada apa yang baru saja ia dapati.


"Iya, ini aku."


"Ini beneran kamu?" tanya Bian mengurai pelukan diantara mereka, dan melihat wajah adiknya itu lekat-lekat untuk memastikan. "Ini beneran kamu, Fir?" Bian memastikan.


"Ih... Ya iya lah. Terus Kakak pikir siapa?" sentak Fira jengkel pada Bian. Ia cemberut mengerucutkan bibirnya.


"Kok bisa?"


"Apanya?"


"Kamu ada di sini? Ngapain?" tanya Bian heran.


"Ih... nyebelin!" Fira memukul lengan Bian dengan keras karena semakin sebal pada kakanya. Benar-benar ya Bian, semakin rese saja setiap hari. "Dasar pikun! Aku tuh hari ini pulang. Tapi Kakak nggak jemput aku. Tega ya sama adik sendiri dibiarin gitu aja sendirian. Aku bakalan aduin Kak Bian sama Mama biar di omelin kalau nanti pulang!" sungutnya.


Bian berdecak, mengusap pelan lengannya yang terasa panas karena mendapat beberapa kali capitan dari tangan adiknya.


"Namanya orang lupa nggak bisa diminta. Bawel banget sih! Udah syukur-syukur bisa pulang selamat sampai rumah walau nggak di jemput." ketusnya.


Kiana yang melihat drama antara Kakak beradik itu hanya menipiskan bibirnya menahan senyum. Ia memperhatikan Bian yang mendapatkan omelan dari Fira karena lupa menjemputnya di bandara tadi siang. Sungguh Lucu tingkah mereka jika sudah bertemu. Kiana jadi senyum-senyum sendiri saat melihatnya.


Bian tak sengaja mendapati Kiana yang tengah memperhatikannya. Ia melihat sebuah senyuman tipis tertarik di bibir gadis itu. Ia pun ikut tersenyum. Memandangi wajah Kiana yang sepertinya gadis itu tak sadar tengah diperhatikan kembali olehnya.


Bian kembali terpesona dengan sosok Kiana. Ia merasakan desiran aneh dalam pembuluh darahnya. Ingin rasanya ia kembali memeluk erat raga itu dalam dekapan hangat tubuhnya. Semalaman. Ya, semalan. Hingga pagi menjelang seperti saat malam lalu Bian rasakan.


"Kak! Malah bengong! Ini adiknya dianggurin gitu aja. Nggak kangen apa sama aku!" ucap Fira saat melihat Bian malah bengong. Ia berdecak pelan, seraya berkacak pinggang pada Kakaknya. "Bener kata Mama, Kak Bian jadi aneh. Aneh banget malah kata aku." Fira geleng-geleng kepala saat Bian malah senyum-senyum sendiri mengarah pada Kiana.


*****