
Kiana duduk di sisi ranjang berhadapan dengan Bian yang mengambil duduk di bangku kecil dekat dengannya. Ia memperhatikan Bian yang sedang membuka bungkusan makanan penuh dengan kebinaran di matanya.
Entah mengapa sudut hatinya serasa menghangat kala menatap Bian yang begitu dengan bersemangat mengajak duduk berdua dengannya.
Sorot mata itu, sorot yang penuh dengan kelembutan. Sorotan mata yang terpancar dari matanya hampir saja Kiana mengenalinya dengan pasti. Sorotan mata yang sama dengan seseorang yang Kiana kenali. Seorang sosok yang pernah hadir melintas di masa lalunya, memberikan kekuatan dan kata-kata ajaib yang mampu meluluhkan keresahan di hatinya.
Hingga suara Bian kembali membuyarkan lamunannya, Kiana mengerjap untuk sesaat.
"Sengaja saya bawa buat kamu." ucap Bian saat memperlihatkan bungkusan yang berisi makanan tersebut pada Kiana. "Saya selalu pesan ini kalau sedang makan sama teman-teman. Menurut saya ini enak. Saya pikir kamu akan suka, makannya saya beli banyak. Kamu belum makan kan?" lanjutnya lagi.
"Sudah," jawab Kiana singkat. Ia masih terheran dengan tingkah Bian yang berubah seratus delapan puluh derajat sejak beberapa hari terakhir ini.
Perubahan yang membuat laki-laki itu bersikap lebih lembut dan perhatian padanya. Kiana menjadi lebih awas pada perubahan laki-laki itu. Tak tahu apa motif apa lagi yang sedang Bian lakukan padanya. Ia khawatir, jika tuan mudanya itu akan kembali menyakitinya. Ia mencoba membangun benteng pertahanan setinggi mungkin untuk dapat membatasi dirinya dengan Bian. Walau terkadang ia sukar kesulitan jika Bian sudah berada di dekatnya.
Dahi Bian mengkerung, mendengar jawaban Kiana yang apa adanya itu.
"Kapan? Biasanya kamu selalu suka makan pada jam segini? Apa saya telat ngasih atau gimana?" tanya Bian yang terhenti dari pergerakan tangannya.
Kiana menggelengkan kepalanya, ia menipiskan bibir seraya mengarahkan sorot matanya pada makanan yang ada pada pangkuan tangan Bian.
Mmm... Kiana sangat tergiur dengan penampilan dan aroma makanan tersebut. Terlihat sangat lezat dan begitu menggugah selera nafsu makan Kiana yang sangat tidak normal itu. Dengan susah payah ia menelan salivanya. Sorotan netra matanya sama sekali tak beralih meski Bian terus menanyainya.
Bian menghela napas pelan tanda ia kecewa karena tak berhasil membuat gadis itu terpukau dengan apa yang dia lakukan. Alih-alih berharap ingin mendapat pujian dari Kiana, justru yang ada dia malah mendapat kekecewaan karena perkiraan yang ia rencanakan itu gagal.
"Hah... Percuma kalau gitu saya capek-capek bawa semua ini. Bela-belain saya nunggu lama buat dapetinnya, ternyata kamunya udah makan duluan." lesu Bian seolah kehilangan semangat pada malam itu. "Jadi beneran udah makan, nih?" tanya Bian lagi memastikan. Ia tak mau sampai apa yang dilakukannya untuk membuat seorang Kiana senang itu tidaklah percuma.
"Sudah, saya sudah makan tadi sehabis isya. Tapi--"
"Tapi kamu ngerasa laper lagi kan?" sela Bian dengan berbinar seolah mendapatkan oase di tengah padang pasir.
Kiana mengangguk, membuat Bian tersenyum senang. Akhirnya, perjuangannya itu tidaklah sia-sia juga pikirnya.
"Mau coba?" tanya Bian menawarkan lagi, yang ternyata tak mendapat balasan apapun dari Kiana. "Mau? Saya yakin kamu pasti mau," ujarnya dengan senyuman yang merekah, seraya memotong daging untuk memudahkan Kiana agar dapat memakannya.
Bukan hal yang biasa baginya bisa berbuat hal picisan seperti ini pada seorang wanita. Bahkan pada jajaran mantannya pun ia paling anti jika memberikan perhatian seperti itu. Dia lebih suka jika pasangannyalah yang selalu bisa memberikan perhatian dengan cara apapun itu kepadanya. Bukan sebaliknya. Tapi kali ini, Kiana lah yang secara tidak sadar membuat Bian sedikit berubah. Dia sendiri pun tidak mengerti, tapi untuk saat ini ia merasa senang melakukan itu semua. Terutama untuk gadis yang ada dihadapannya itu sekarang.
Bian memberikan suapan pertamanya yang langsung mengarah pada mulut Kiana. Gadis itu terlihat diam, bibirnya masih merapat tidak terbuka sama sekali. Kiana malah memperhatikan guratan wajah yang berada tepat di dekatnya itu, memperhatikan irisan mata beningnya dengan seksama yang kembali mengingatkannya pada seseorang.
"Buka mulutnya, kamu pasti suka. Ayo," ucap Bian. Kiana nampak ragu, tapi pada akhirnya mulutnya mulai menerima suapan dari tangan Bian. Untuk sesaat keadaan hening, Bian memperhatikan Kiana yang tengah mengunyah makanannya dengan harap-harap cemas.
"Gimana? Enak?" tanya Bian tidak sabaran, berharap jika gadis itu akan mengatakan sesuatu yang dapat membuat dirinya berbangga diri.
Kiana menganggukkan kepalanya, Bian terlihat tersenyum puas.
"Saya pasti nggak pernah salah. Karena ini salah satu makanan kesukaan saya. Kamu pasti suka juga. Nah, sekarang habiskan. Saya nggak mau lihat kamu tidur nggak tenang karena masih ngerasa lapar." ungkap Bian, tangannya kembali terulur untuk menyuapi Kiana.
"Hem?"
"Saya bisa makan sendiri." ucap Kiana lebih jelas.
"Oh, ya udah." pasrah Bian. Meski ia sedikit kecewa. Tapi tidak apa, melihat Kiana dapat menerima makanannya saja sudah membuat Bian senang bukan kepalang.
Bian memperhatikan Kiana yang sedang memakan makanan yang dia berikan padanya. Gadis itu makan dengan sangat lahap. Tidak menyangka sebenarnya Kiana akan menerima makanannya dengan suka hati. Setitik kelegaan timbul di sudut hati Bian.
Gadis itu ternyata sudah berhasil mengacaukan pikiran dan suasana hatinya dengan begitu cepat. Dan saat ini, hanya dengan melihat Kiana makan dengan begitu lahap, menjadikan Bian merasakan kebahagiaan dan ketenangan dalam satu waktu secara bersamaan.
"Kamu selalu merasa lapar setiap malam?" tanya Bian di sela-sela keheningan mereka. "Saya suka nggak sengaja lihat kamu selalu keluar kamar. Hanya untuk makan di tengah malam?"
Kiana mengangguk, sedikit terkejut karena Bian mengetahuinta. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat raut muka Bian yang ternyata tengah menatapnya juga.
Raut sendu begitu kentara terlihat mulai menghiasi wajah cantiknya di malam itu. Matanya berkaca-kaca yanf siap mengeluarkan tetesan air bening, membendung di pelupuk matanya.
"Hei, kenapa nangis? Saya salah nanya? Apa ada perkataan saya yang nyakitin kamu? Atau kamu ngerasa saya udah maksa kamu buat makan makanan yang saya bawa?"
Kiana menggeleng pelan. Ia memaksakan memberi senyuman yang tipis di bibirnya.
"Makanannya enak," jawab Kiana. "Saya nggak pernah makan makanan seenak ini. Terima kasih," ungkapnya berusaha menyembunyikan kesedihan.
"Karena makanan? Bukan karena saya?" tanya Bian meyakinkan.
"Maaf, karena saya ganggu Bapak. Dan juga sudah merepotkan karena sering makan banyak makanan yang ada di rumah." ucapnya sendu. Merasa bersalah sekaligus malu karena Kiana merasa keberadaan dirinya di rumah saat ini hanya menjadi beban bagi semua orang.
Bian terhenyak. Lalu kemudian ia lebih mendekatkan dirinya pada Kiana. Menyeka air mata yang turun membasahi kedua pipi Kiana. Matanya terlihat sembab. Ia menghapus jejak lelehan air bening itu, seiring mengulas senyum miris yang teramat perih dirasanya.
Bian merapihkan helaian anak rambut yang menghalangi wajah cantik Kiana. Sangat-sangat menggemaskan gadis yang berada dekat dengan wajahnya itu. Ibu jarinya mengelus permukaan bibir Kiana yang bergetar akibat menahan tangis.
"No... saya yang salah. Saya yang udah buat kamu seperti ini. Kamu sakit dan tersiksa semuanya karena saya. Kamu jadi sering kesusahan karena saya. Maaf Ki, maafin saya. Untuk saat ini saya nggak bisa menjanjikan apapun sama kamu. Tapi saya akan berusaha buat bisa nemenin kamu makan setiap malam, setiap hari, sampai kamu bosan melihat saya. Saya nggak peduli kalau kamu akan menolak dan benci sama saya, saya terima. Tapi saya mohon jangan suruh saya buat menjauh dari kamu. Karena saya nggak bisa. Jadi, mulai saat ini tunggu saya setiap malam. Jangan pernah keluar rumah lagi, saya khawatir. Saya pasti akan bawa banyak makanan yang bakalan kamu suka lagi. Kamu ngerti?" jelas Bian memberi pengertian.
"Jangan nangis lagi karena saya, suatu hari nanti kamu bisa pukul saya, maki saya, bahkan kamu benci dan mau meludahi saya sepuasnya, saya terima. Saya minta satu hal sama kamu meski ini saya sadar sangat memaksa. Jangan menjauh dari saya. Jangan suruh saya pergi disaat kamu sedang terpuruk dan hancur karena saya. Saya janji, saya akan buat kamu tersenyum karena saya." lanjut Bian dengan bersungguh-sungguh yang sangat tulus keluar dalam hatinya.
Kedua tangannya mengusap lembut sisi wajah Kiana. Kemudian tanpa di duga, Bian menarik raga Kiana ke dalam pelukannya. Ia sandarkan kepala gadis itu ke permukaan dadanya yang bidang. Hangat, Bian merasakan kehangatan di sana. Mengusap lembut surai hitamnya yang panjang semampai. Bian melabuhkan satu kecupan di sana untuk menenangkan Kiana yang masih menangis di dalam dekapannya. Terlebih, menenangkan hatinya sendiri yang tengah merasakan dentuman jantung yang serasa berdetak berirama dengan begitu cepat.
Bian semakin membelitkan kedua tangannya erat pada raga Kiana. Ketenangan hati mulai menyapa saat Kiana tidak menolak bahkan tak berusaha untuk melepaskan diri dalam dekapannya. Malam ini, ia berjanji pada dirinya sendiri dan juga gadis itu. Sebuah janji yang ia berikan dengan tulus, untuk membuat kembali senyuman terbit di wajah Kiana.
' I'm promise, dear...' gumam Bian dalam hati.
*****