
"Wah... sepertinya Pak Bian sudah
kembali sehat ini. Sekarang sudah banyak senyumnya," ucap seorang Dokter Psikolog yang mengunjungi Bian di hari ke enam ia membantu permasalahan yang ada pada Bian.
Seorang Dokter wanita paruh baya yang sudah terkenal di bidangnya dan sukses dalam membantu berbagai macam problematika para pasiennya itu kembali mengunjungi Bian untuk mengetahui perkembangannya.
Dan terlihat jelas olehnya saat ini, Bian sudah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Nampak Bian sudah dapat tersenyum dan menjawab perkataan Dokter tersebut tanpa canggung dan tertekan.
"Iya, Dok." jawab Bian pendek dengan senyum tipis menerima kedatangan Dokter tersebut di dekatnya.
"Sudah bisa makan sendiri juga nampaknya ya?" tanyanya lagi saat melihat Bian yang tengah makan sendiri tanpa disuapi lagi oleh ibunya.
"Bagus itu, Pak Bian harus banyak makan agar tidak lemas dan tentunya agar sehat kembali. Bila perlu ditambah dengan sering berjalan-jalan di sekitar area rumah sakit atau di taman juga boleh. Udara di luar bagus untuk menyegarkan pikiran kita di bandingkan dengan hanya terus menerus berada di dalam kamar. Apalagi saya dengar Pak Bian sudah bisa kembali berjalan dengan baik ya?"
Bian menganggukkan kepalanya, "Sudah,"
"Itu juga bisa di manfaatkan untuk kembali melatih otot kakinya agar tidak kaku."
Bian hanya mampu tersenyum untuk menjawabnya. Kemudian ia meletakkan mangkuk kosong bekas makannya di atas pangkuan.
"Nah, bagaimana dengan keadaannya sekarang? Apa yang Pak Bian rasakan saat ini?"
Bian menghela napas pelan, "Saya baik, Dok. Jauh lebih baik dari sebelumnya. Perasaan saya sekarang jauh lebih kuat karena saran dan nasihat dari Dokter. Terima kasih sudah membantu saya selama beberapa hari ini."
"Syukurlah, saya senang mendengarnya." ungkap Dokter tersebut dengan senyum mengembang.
"Hidup itu bukan tentang menyesali apa yang telah pergi, tapi tentang menghargai apa yang kamu miliki dan sabar menanti apa yang akan menghampiri. Terkadang kegagalan menghampiri kehidupanmu untuk mengajarkan artinya sebuah kesabaran. Karena Tuhan menciptakan rasa kecewa agar kita bisa menerima tidak semua keinginan bisa tercapai." imbuhnya.
"Tapi yakinlah, terkadang kesedihan kemarin akan menjadi kebahagiaan untuk hari ini jika kita bangkit dari keterpurukan. Hidup bukan untuk berhenti dalam meratapi kesedihan masa lalu Pak Bian, tapi untuk berjalan menuju kebahagiaan sesungguhnya di masa depan. Hidup ini warna-warni, tidak mungkin hanya hitam putih saja. Jangan terlalu berharap untuk selalu bahagia, jangan juga berpikir kesedihan akan selamanya."
"Tuhan tidak pernah membiarkan hambanya terlarut dalam kesedihan, pasti ada rencana indah untuk membayar semua air mata. Percayalah bahwa Tuhan selalu adil, dalam setiap keburukan pasti ada kebaikan dan setiap kesedihan pasti akan muncul kebahagiaan." lanjutnya lagi.
Bian hanya diam mendengarkan kalimat-kalimat penyemangat yang diberikan oleh Dokter yang dia jadikan motivasi agar segera bangkit dari keterpurukannya sejauh ini.
Dokter wanita paruh baya itu tersenyum saat melihat Bian yang menganggukkan kepalanya.
"Jangan menyerah jika impian Pak Bian belum terwujud. Dengan semangat, percaya, dan diiringi dengan doa, semua yang tidak mungkin bisa saja menjadi mungkin. Bangkit dari segala keterpurukan dan jangan mau kalah dengan keadaan." nasihatnya lagi agar Bian mau berusaha berjuang untuk kesembuhannya.
"Seseorang yang mampu bangkit setelah jatuh adalah orang yang lebih kuat dari pada seseorang yang tidak pernah jatuh sama sekali." tambahnya lagi.
"Sepertinya sekarang saya melihat itu semua ada pada diri Pak Bian. Nampaknya setelah ini Pak Bian akan berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan apa yang telah hilang itu. Bukan begitu?" ujarnya, menggoda Bian. Sedikit menyisipkan sebatas humor agar tidak terlalu serius.
Bian mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Dokter kepadanya.
"Tapi Dok, apa saya akan mampu? Saya begitu malu dengan diri saya sendiri karena telah membuat seseorang bersedih karena saya. Saya takut terlambat untuk memperbaiki semuanya. Saya takut akan sebuah penolakannya. Dan saya juga takut dia tidak akan menerima keadaan saya karena kesalahan saya di masa lalu." ungkap Bian dengan mengutarakan ketakutannya.
"Saya yakin Pak Bian mampu, karena apa yang sudah terjadi tidak terlepas dari Pak Bian sendiri yang tahu bagaimana keadaannya. Pak Bian juga yang akan menentukan baik buruknya untuk kedepannya nanti. Yang terpenting, sekarang Pak Bian harus semangat agar mulai detik ini Pak Bian bisa memulai perjuangan yang sesungguhnya."
Bian kembali menganggukkan kepalanya. Sejurus kemudian ia menoleh pada kedua orang tua dan juga adiknya yang tengah memperhatikan aktifitasnya bersama Dokter tersebut.
"Bian udah sehat, Ma, Pa," ucapnya pada kedua orang tuanya.
Dokter tersebut bangkit dari duduknya seraya mengelus lembut bahu Bian untuk memberikan semangat.
"Terima kasih, Dok."
Dokter hanya tersenyum, "Sepertinya saya sudah tidak perlu lagi berkunjung ke sini, karena Pak Bian sudah benar-benar sembuh. Kalau begitu saya permisi. Mari semuanya,"
Dokter tersebut pun pergi meninggalkan ruangan. Pak Hardi, Bu Ajeng, dan juga Fira mendekat pada Bian yang terduduk di ranjang pasien.
"Alhamdulillah, Bi... Mama seneng kalau kamu udah sembuh. Mama nggak bisa berkata-kata lagi selain bersyukur mulai saat ini," ucap Bu Ajeng mengusap lembut kepala putranya dengan tangis bahagia melihat kesembuhan putranya.
"Selamat ya, Nak. Papa yakin kamu pasti bisa menghadapi ini semua. Kami selalu berdoa yang terbaik untuk kamu. Yang semangat ya," ujar Pak Hardi menimpali.
"Kak..." kini giliran Fira yang merengek sedih pada kakaknya. "Maafin aku," ungkapnya dengan suara bergetar menahan tangis. Fira menangis terisak menyesali atas apa yang tejadi pada Bian.
"Kamu nangis, Ra?" tanya Bian melihat wajah adiknya yang sudah basah karena menangis.
"Aku minta maaf karena terlambat memberitahu semuanya," isaknya lagi. "Aku minta maaf karena udah ngasih tahu tanpa persetujuan kakak, aku nggak tega lihat Mama Papa terus bersedih karena keadaan Kak Bian..."
"Hey...sini," Bian merentangkan kedua tangannya meminta Fira untuk masuk ke dalam pelukannya. Segera Fira pun menyambut pelukan sang Kakak setelah sekian lama dalam sakitnya. "Kakak yang harusnya berterima kasih sama kamu, Ra. Tanpa kamu, Kakak nggak mungkin bisa sembuh seperti saat ini. Terima kasih karena kamu sudah berani menyampaikan semuanya yang bahkan Kakak sendiri pun takut untuk mengatakannya. Jangan nangis lagi ya,"
Bu Ajeng dan Pak Hardi saling berpelukan melihat kerukunan kedua anaknya. Terlebih mereka sangat bahagia melihat kondisi Bian yang semakin membaik.
"Ma, Pa, Bian boleh pulang?" tanyanya meminta persetujuan.
"Kamu yakin, Bi, mau pulang?" tanya balik ayahnya. "Apa tidak sebaiknya tinggal dulu beberapa hari lagi agar lebih memastikan kalau kamu udah benar-benar sehat?"
"Nggak perlu Pa, rasanya bosan lama-lama berada di sini. Bian mau pulang. Bian kangen rumah, Bian juga kangen makanan rumah buatan, Mbok." ungkapnya.
'Bian juga kangen Kiana, Bian ingin segera bertemu dengannya.' gumamnya dalam hati.
"Ya sudah, nanti Papa bicarakan dulu dengan Dokter. Sekarang kamu istirahat dulu, jangan lagi terlalu memikirkan beban berat yang membuat kamu sakit lagi." ucapnya. "Ayo Ma, kita biarkan dulu Bian beristirahat." ajaknya pada sang istri.
Bian menghela napas panjang seraya memandang ke arah jendela sembari memikirkan Kiana yang ia sendiri pun tak tahu dimana keberadaannya.
'Kamu dimana, Ki?' tanyanya dalam hati dengan sendu.
***
Meninggalkan bayinya yang tengah tertidur di tengah ruangan, Kiana beranjak keluar untuk segera mengangkat pakaian keringnya sebelum hujan turun, dikala siang itu cuaca mendung tanda hujan akan segera turun.
Langit sudah menggelap, dengan awan hitam yang tebal menyelimuti langit kota. Angin kencang yang tiba-tiba bertiup membuat Kiana segera menghambur masuk ke dalam rumah setelah memastikan tak ada pakaian yang tertinggal sebelum ia menutup pintu rapat-rapat.
Saat Kiana tengah menyimpan pakaian kering di wadah, ia melihat ke arah bayinya yang ternyata sudah terbangun dari tidurnya. Mata kecil jernih itu terbuka lebar menatap ke arah langit-langit dengan tangan dan kaki mungilnya yang terus bergerak-gerak. Kiana tersenyum melihat tingkah lucu putranya itu.
Dihampirinya bayi kecil tampan itu yang seolah tahu kedatangan sang ibu di dekatnya. Pergerakan tangan dan kakinya semakin aktif, tak sabar ingin segera masuk ke dalam pelukan ibunya.
Wajah yang semula bersemangat saat melihat kedatangan ibunya, kini terlihat sedih mengeluarkan air matanya. Sudut kedua mulutnya menurun, kedua alisnya melengkung di tengah, dagu kecilnya pun tampak bergetar.
Kiana segera mengambil putranya itu ke dalam pangkuan tangannya. Mengecup segala sisi dari wajah yang selalu membuatnya terpana itu.
"Anak ibu kok nangis?" ucapnya sembari mengayun bayinya. Kiana mengusap buliran keringat yang menempel di dahinya. Bayinya mulai menangis walau sudah berada dalam dekapan tangannya.
"Sayang... ini ibu, Nak. Cup-cup, udah nangisnya ya. Ibu ada di sini." tenangnya saat bayinya masih saja menangis.
"Maafin Ibu ya, Nak. Ibu tinggalin kamu sendirian." lanjutnya lagi mengecup tangan mungil putranya dengan sayang.
"Al haus ya, sayang? Al mau minum, iya? Kasihan anak ibu kayaknya kehausan," ucapnya seraya memberikan botol susu bayi pada putranya.
"Al laper karena belum minum dari tadi." jelasnya pada sang bayi. "Maafin Ibu ya, Nak. Al sering nangis karena Ibu belum bisa kasih minum susu yang baik buat Al." terangnya lagi.
Kiana melakukan kontak mata dengan bayinya yang terpejam meski tengah menyedot minuman khas bayi itu.
Kiana kembali mengusap dahi bayinya yang berkeringat serta bagian wajahnya yang lain. Ia selalu memperhatikan wajah putranya itu dengan lekat, sembari membayangkan sesuatu hingga ia teringat dengan garis wajah yang sudah lama tak pernah lagi ia jumpai.
Di sentuhnya alis kecil yang masih samar, hidung, serta bibir mungil merah yang selalu berhasil membuat Kiana selalu jatuh cinta kala melihatnya.
Al memiliki garis wajah yang sama persis dengan ayahnya. Walau berbagai cara Kiana berusaha sekuat tenaga untuk dapat menepisnya, tetap saja Kiana tak dapat melupakannya. Bahkan kini bayang-bayang wajah itu semakin jelas dalam benaknya karena Al begitu mirip sekali dengan Bian.
Kiana menghela napas frustasi.
Tak baik jika ia terus memikirkan pria itu yang mungkin saja saat ini sudah menjadi milik orang lain. Mungkin saja mereka tengah berbahagia saat ini. Ya, sebisa mungkin ia harus melupakannya. Karena walau bagaimana pun ia tak pantas untuk menggantungkan harapan pada orang yang tak peduli padanya.
"Al rindu ayah? Apa Al merindukannya? Apa yang akan Al lakukan jika suatu saat nanti bertemu dengannya?" tanyanya dengan suara lembut seraya mengusap lembut pipi merah mengemaskan itu.
Panas. Kiana merasakan panas di sekujur tubuh bayinya. Beberapa hari ini suhu panas tubuh putranya itu selalu tinggi. Setiap malam, setiap saat, bayinya akan terus menangis karena merasakan tak nyaman karena sakit yang sedang di rasakannya.
Mata Kiana berkaca-kaca kala ketidakberdayaannya saat ini membuat dia lemah dan tak dapat melakukan apapun untuk bayinya.
"Nak, cinta Ibu padamu lebih kuat dari besi, dan kasih Ibu padamu lebih lembut dari pada bulu. Cinta Ibu padamu bisa membentang di dunia ini berkali-kali lipat. Bahkan ketika dunia tidak berpihak padamu, cinta Ibu pada Al akan tetap terbentang luas." ucapnya dengan suara bergetar.
"Sejak kamu lahir ke dunia ini, Ibu merasa bahwa kamu seperti matahari yang menyinari seisi bumi. Memang kamu tidak seberuntung orang lain. Tapi orang lain belum tentu sekuat kamu, Nak. Jika kamu bersedih, ingatlah dua hal ini, ada Allah yang senantiasa disisimu dan ada Ibu yang selalu ada untuk Al sebagai tempat untuk kembali."
"Allah tidak menjanjikan bahwa kehidupan kita akan selalu mudah. Tapi Allah menjanjikan, setelah kesulitan pasti ada kemudahan." lanjutnya seraya menghapus jejak air mata di wajahnya.
"Al adalah cintanya Ibu. Al adalah karunia terindah yang hadir dalam hidup Ibu. Dan Al adalah lentera hidupnya Ibu yang akan terus menerangi dalam setiap langkah kita berjalan."
"Ibu mohon bertahan, Nak... Ibu mohon... Ibu nggak bisa hidup tanpa Al. Ibu akan berjuang untuk Al apapun itu caranya. Karena Ibu sayang Albio, anaknya Ibu yang shaleh..." tangis Kiana pun tak terbendung. Ia terisak sendu, suar tangis lirihnya teredam seiring dengan turunnya air hujan yang begitu deras membasahi bumi.
*****