Secret Love

Secret Love
Aku, takut.



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Ibun yang mendengar hanya bisa geleng kepala, karna bicara dengan orang yang sedang jatuh cinta itu bagai percuma. Membuang waktu dan tenaga, mirip sekali dengan ibunya meski dunia menentang tapi ia tetap pada tekadnya hingga kini semua orang tersenyum bangga jika apa yang dulu ia perjuangankan sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal yaitu kebahagiaan dan salah satunya adalah lahirnya Skala, meski tak jarang sering membuat tanduk wanita penyebar itu keluar.


"Lalu bagaimana bisa bersama jika kamu sendiri tak mau mendekat?" tanya Ibun.


"Lemes, Buuuuuuun. Lemes!" jawab Skala.


Ibun pun langsung tertawa, pria yang kini sudah menjabat sebagai Direktur Utama Rahadian Group langsung tak bernyali saat melihat Si pemilik hatinya, sungguh ini adalah hal luar biasa yang bagi semua yang kenal dengan Skala, tau angkuhnya ia dan tahu bagaimana dinginnya juga pada lawan jenis apalagi yang jelas-jelas ingin dekat dengannya. Semakin agresif Si wanita, Skala justru semakin jauh dan akhirnya menghilang.


"Ya udah, nanti pegangan kalo lemes, Ok." goda Ibun lagi.


"Aku sibuk pegangin dadaku, aku takut jantung ku copot," ujarnya sambil mengulum senyum hingga terlihat lebih tampan dari biasanya.


"Anak Ibun sudah besar, jika nanti kamu sudah berani memperkenalkan gadis itu pada orangtuamu, jangan lupa kenalkan juga pada Ibun ya," pinta Ibun pada putra semata wayang suaminya itu.


" Tentu, kalian surgaku, jarang sekali yang seperti ku. Sayangku pada Ibun sama seperti pada Ibu," sahut Skala yang langsung memeluk istri pertama Ayahnya.


Meksi dulu ia tak paham karna berbeda sendiri dari para sepupunya tapi kini Skala justru menikmati memiliki dua pemegang tahta tertinggi dalam hidupnya.


\*\*\*\*\*\*\*


Fathan yang memaksa Qia untuk datang meski sudah malam tak lepas mengenggam tangan kekasihnya itu saat sudah sampai di depan rumah orangtuanya.


"Aku malu," tolak Qia untuk masuk.


"Gak apa-apa, ayo."


Qia yang tak sanggup akhirnya melepas paksa tangannya, ia mundur beberapa langkah lalu benar-benar menjauh dari rumah keluarga Fathan.


"Tunggu dulu, Sayang."


"Kamu ngerti gak sih kalau aku gak siap?" Qia yang marah sampai menaikan nada bicaranya.


Fathan diam, ini memang salahnya yang terlalu mendesak jadi sangat wajar jika Qia begitu kesal padanya.


"Aku gak bisa, aku takut, harusnya kamu ngerti."


"Maafin aku, aku cuma mau kita lebih serius, Sayang. Gak mungkin kan aku ngelamar kamu tapi orangtuaku justru gak tahu sama kamu," Jelas Fathan memberi pengertian yang masih belum di pahami oleh Qia.


Pikiran gadis itu sedang bercabang kemana-mana, tentang ibunya yang sakit, biaya pengobatan, makan sehari-hari, ongkos kerjanya, cicilan motor hingga bayar kos jika tak ada uang lemburan dan tips dari karyawan. Semua gajinya kadang tak cukup untuk semua itu meski ia sudah bekerja di dua tempat. Otaknya sudah penuh dengan hal rumit yang kadang membuatnya tak bisa tidur di malam hari tapi harus bekerja esoknya dengan semangat.


Dan momen perkenalan dengan keluarga Fathan bukan waktu yang pas untuknya yang sedang merasa tertekan.


Qia butuh penenang, bukan masalah baru yang mungkin akan membuatnya semakin terpuruk jika perkenalan itu tak mengesankan baginya.


"Tolong beri aku waktu," mohon Qia sampai ia menangkup kan tangannya di depan dada dengan mata berkaca-kaca.


.


.


.


Kenapa, apa kamu tak yakin padaku, Qia??