
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kenapa?" tanya Chiko saat bertemu dengan Qia di dekat lift.
"Tuan, maaf," sahut Qia yang panik dan takut saat di tegur oleh Asisten Direktur Utama.
"Ada perlu apa , mau bertemu dengan Tuan Skala?" goda Chiko dengan tangan melipat di dada. Jika sahabatnya yang begini sudah dipastikan pria itu akan langsung tak sadarkan diri.
"Ti--tidak, Tuan."
Qia yang semakin penik langsung pamit dari hadapan Chiko, jangan sampai ia benar-benar bertemu dengan Direktur Utama Rahardian Group.
Chiko tak menjawab, ia justru tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan Qia yang baru ia sadar jika pantas saja Skala begitu tergila-gila dengan gadis itu.
Qia langsung mundur dua langkah lalu membalikkan badan, ia merutuk dirinya sendiri yang berprilaku bodoh karna sudah berani naik ke lantai Direktur Utama.
"Ada apa denganku, kenapa kaki ini bisa sampai di sini, ini seperti bunuh diri saja," umpat nya lagi sambil menggerutu kesal.
Bugh..
Qia yang tak hati-hati sampai tak sadar menabrak seseorang yang ternyata sejak tadi berdiri menunggunya.
"Pacarnya Fathan ngelamun kan, gimana kalau laki laki lain yang kamu tabrak?, hem," goda Si pria hitam manis sambil menangkup wajah cantik kekasihnya itu dengan kedua tangan.
"Gak apa-apa kalau yang di tabrak DiRut," sahutnya yang malah melengos pergi begitu saja.
Fathan tersenyum kecil, ia tahu gadis kesayangannya itu masih merajuk padanya sejak datang kerumah, entah Qia maupun Ibu tak satupun ada yang mau bercerita, dua wanita itu hanya memperlihatkan kekesalan mereka masing-masing.
.
.
.
Ceklek
Skala tak menoleh saat ia mendengar pintu ruanganya terbuka, karna yang berani melakukannya hanya Chiko dan keluarganya saja. Dan benar, asisten pribadinya itu sudah duduk di depannya kini.
Tingkat percaya diri yang berlebihan sering kali membuat orang yang mendengar ingin memuntahkan isi perut.
"Cih, eh lo tau gak gue abis ketemu siapa?" tanya Chiko.
"Gak mau tau, gak penting!" sahut Skala sambil mencibir kearah sahabatnya itu yang sebenarnya sangat berjasa karna sering meng-handle pekerjaannya jika ia sedang uring-uringan tak jelas.
"Yakin? gue abis ketemu sama Neng kunti kesayangan lo, keren 'kan? lo aja gak pernah tuh saling hadap hadapan," balas Chiko sambil tertawa kecil.
Skala yang mendengar itu semua langsung bangun dari duduknya, ia tahu jika Chiko tak pernah berbohong jadi ia rasa apa yang di katakan pria itu barusan pasti benar.
"Gak lo apa-apain kan?" selidik Skala.
"Emang mau gue apain? gue peluk, boleh emang?" tanya balik Chiko.
"Lo mau mati pake cara apa? sini bilang sama gue, sekalian lo sanggup nya masuk neraka jalur mana? biar enak gitu gue daftarin nya," oceh Skala sambil berkacak pinggang.
Rasa kesal semakin menyulut perasaan Skala saat Chiko tertawa terbahak-bahak, ia begitu menikmati raut wajah jengkel sahabatnya saat ini. Padahal jelas itu bukan salahnya karena Skala selalu putar balik atau belok arah jika hampir papasan dengan Qia di kantor.
"Gak usah marah-marah sama gue, bilang aja kalau lo mau ketemu juga sama dia, yuk gue anterin dengan senang hati langsung ke depan Si gadis bawah pohon kesayangan lo itu," ajak Chiko yang langsung menarik tangan Skala.
"Eh, tunggu!"
"Apa lagi sih?" tanya Chiko yang kadang kesal dengan drama malu malu tapi mau bosnya itu.
.
.
.
.
Gue mendadak mules....