
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kok dada gue sesek ya?" ujar Skala usai makan siang di ruangannya bersama Chiko.
"kenapa?"
"Entah, keracunan kali ya," sahut Skala sambil memegang dadanya sendiri yang seolah sedang menarik napasnya.
"Minum nih, jangan dulu mati, gue belom kawin," ujar Chiko sembari menyodorkan gelas berisi air putih hangat.
"Emang lo pikir gue udah?" sentak Skala tak Terima, ia yang masih menjadi jomblo terhormat tentu tak ingin juga itu terjadi.
Chiko hanya tertawa, Si gadis bawah pohon tentu masih menjadi alasan Skala tak menerima wanita manapun yang kadang terang-terangan ingin bersamanya. Dua tahun menjadi Direktur Utama tentu membuat ia kini menjadi pengusaha muda yang sukses, di gandrungi oleh sesama rekan bisnis, artis maupun model terkenal sudah biasa bagi Skala. Tak hanya itu, Ayah dan Ibu pun kerap menjadi incaran teman-temannya untuk diajak berbesanan nanti, entah sudah berapa yang di tolaknya hingga kedua orangtua nya itu malu sendiri karna merasa tak enak hati.
Skala termenung didepan jendela kaca besar dalam ruangannya yang langsung menghadap ke jalan raya ibu kota. Satu tangannya memegang dada dan satu lagi masuk kedalam saku celanyanya. Dengan kemeja yang hanya tergulung separuh sampai bagian lengan membuat jelas semakin terlihat tampan.
"Kenapa? kenapa hatiku begitu sakit dan tiba-tiba mengingat dirinya? semoga tak terjadi apapun dengannya," bathin Skala sambil memejamkan matanya.
Padahal, apa yang ia pikirkan tak sama dengan kenyataan, bukan tentang si gadis bawah pohon yang kenapa kenapa tapi ia justru sedang merasa kalah sebelum berjuang.
.
.
.
Sore hari seperti biasa semua karyawan sudah bergegas untuk pulang tapi tidak dengan Qia yang diminta untuk lembur karna ada salah satu bagian di lantai ia bekerja yang juga sedang lembur. Ia yang ada di ruang khusus OB/OG malah justru melamun dengan bertumpu dagu sampai Fathan yang duduk di sebelahnya pun tak ia sadari kehadirannya.
"Eh, kamu?" pekiknya kaget.
"Mikirin apa? kok belum pulang?" tanya Fathan.
"Pantes, aku tungguin di bawah kok gak lewat lewat," ujar Fathan lagi yang menatap intens kearah gadis manis di depannya kini.
Qia yang sadar sedang di perhatikan tentu langsung salah tingkah karna ini pengalaman pertama baginya berhadapan dengan pria dewasa, karna yang biasanya dekat dengannya hanya teman-teman sekolah saja. Tak ada satupun yang di izinkan juga oleh nya untuk datang kerumah bagi pria yang ingin dekat dengannya.
Qia takut pada Ibu, ia tak berani main hati meski hanya cinta monyet jika masih memakai seragam. Ibu yang mati-matian menyekolahkannya tak ingin ia kecewakan. Fokus Qia hanya belajar dan belajar setiap hari hingga larut malam, jadi tak salah jika ia sering tertidur di angkot saat pulang sekolah.
"Aku tunggu kamu ya, aku antar kamu pulang ke kos'an. Aku khawatir kalau kamu pulang sendiri, depan minimarket banyak anak muda yang nongkrong," tawar Fathan, ia yang tahu betul tempat itu tentu sudah hafal dengan seluk beluk daerah tempat tinggal Qia.
"Apa aku tak merepotkanmu?" tanya Qia bingung, jauh disudut hatinya ia sebenarnya sangat senang karna ia pun berpikiran seperti itu tadi. Ia yang tak punya kenalan siapa-siapa di ibu kota tentu takut hal buruk terjadi padanya.
.
.
.
Tidak, aku senang melakukannya untukmu.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Jagain ya Tem, calon Istri DiRut itu 🤣🤣🤣
Ya Allah, kok teteh ngakak ya, apalagi bacain komen kalian yang seakan di kasih pinjem baskom ajaib sama Gajah ampe tahu masa depan si Mpet..
Hatur nuhun buat kalian semua kesayangan teteh.
Sing sarehat di manapun kalian ada 😘😘