
"Saya akan cepat pulang. Jaga dia baik-baik. Jangan telat makan, dan jangan terlalu banyak mengerjakan pekerjaan berat. Saya akan benar-benar marah jika kamu mengabaikan semua yang saya bilang." sederet nasihat Bian ucapkan 2 hari yang lalu sebelum pria itu pergi keluar pulau untuk meninjau pekerjaannya.
Sebuah resort yang berada di kepulauan Nusa Tenggara menjadi salah satu pekerjaannya yang berat dalam beberapa bulan belakangan ini. Dan ini sudah hari ke tiga Bian berada di tempat tersebut. Selama 3 hari pula Bian sudah meninggalkan Kiana dengan sederet janji yang sudah ia ucapkan sebelum kepergiannya.
"Saya akan kembali dalam 4 hari mendatang. Tunggu saya pulang di sini. Saya akan membawa banyak sesuatu yang pasti akan kamu sukai." ucap Bian seraya mencium puncak kepala Kiana di pagi sebelum keberangkatannya. Pria itu sengaja menghampiri Kiana yang tengah membersihkan halaman belakang rumah yang langsung Bian tarik untuk berbicara empat mata dengannya.
"Tetap di rumah. Jangan kemana-mana. Andalkan Fira di saat saya belum pulang. Jangan ragu untuk meminta bantuannya, karena saat ini hanya dia yang sudah mengerti dengan keadaan kita."
"Kiana, saya pastikan akan sulit sekali tidur untuk beberapa hari ini kalau nggak ada kamu di samping saya." gumam Bian dengan mata terpejam, menghirup kuat-kuat harum tubuh Kiana yang seolah menjadi candu baginya.
Senyum Bian masih teringat jelas olehnya. Bahkan harum hembusan napas pria itu terasa masih membekas di indra penciumannya di kala Bian memagut lembut bibirnya. Kiana sungguh tidak sabar menanti kedatangan tuan mudanya. Berarti tinggal satu hari untuk menungguinya pulang, yang artinya besok hari ia akan segera bertemu dengan Bian.
"Senyum-senyum?" tanya Fira saat melihat Kiana yang sejak tadi terus tersenyum kecil. Tentu saja hal itu menjadi perhatian bagi Fira yang pada saat ini mereka sedang berada di teras halaman belakang.
Kiana menoleh, tersipu malu karena ternyata Fira memperhatikannya.
"Mikirin apa?" tanya lagi Fira memicing penasaran seraya mengulum senyum.
"Ya?" ucap Kiana terperangah.
Fira terkekeh kecil melihat Kiana yang tersipu malu. Tangannya tak tinggal diam membantu Kiana yang sedang merawat tanaman hias milik ibunya.
"Kak Bian ya?"
"Pak Bian kenapa, Mbak?" tanya Kiana yang langsung terlihat khawatir saat mendengar nama Bian begitu saja.
Fira tertawa puas saat melihat Kiana yang terlihat sangat mengkhawatirkan kakaknya. Keusilannya saat menggoda Kiana turut meyakinkan dirinya jika Kiana dan juga kakaknya memang memiliki hubungan yang sulit untuk ia pahami.
"Tuh kan, aku udah feeling dari tadi. Pasti lagi mikirin kak Bian, kan?" goda lagi Fira pada Kiana.
Kiana menggelengkan kepalanya. "Nggak, saya nggak lagi mikirin siapa-siapa kok." kilah Kiana. Nggak mungkin juga kalau dia menjawab jujur membenarkan apa yang Fira katakan.
"Hihi... iya nggak lagi mikirin siapa-siapa. Tapi yang pasti lagi mikirin kak Bian. Iya kan Kia?"
"Saya nggak mikirin Pak Bian, Mbak." elak Kiana. Fira ini nggak ada habisnya menggoda dirinya. Malu sendiri Kiana jadinya kalau begini kan. "Lagi pula, untuk apa saya memikirkan Pak Bian? Itu nggak sopan, sikap yang nggak pantas buat saya lakukan." terangnya.
"Iya-iya, nggak lagi mikirin apa-apa." tutup Fira tidak lagi semakin jauh menggoda Kiana yang kini wajahnya sudah terlihat memerah.
Kiana menundukkan kepalanya seraya kembali mengerjakan apa yang tengah dia lakukan. Pikirannya kini memang sedang tertuju pada Bian. Entah kenapa seharian ini bayang-bayang wajah Bian terus melintas di benaknya. Itulah kenapa Kiana terus memikirkan Bian.
Memang terlihat sekali ya kalau dia sedang memikirkan pria itu? Sampai-sampai Fira pun menyadarinya. Kiana sungguh sangat malu. Lebih tepatnya ia tidak tahu malu karena sudah berani memikirkan tuan mudanya.
***
Sore berganti malam. Mbok Sarmi sudah pulang beberapa menit yang lalu. Kiana terpogoh-pogoh berlari kecil dari dalam rumah menuju ruang depan saat mendengar suara bel pintu berbunyi menandakan ada seorang tamu yang berkunjung ke rumah besar itu.
Dengan cepat, Kiana segera membukakan pintu.
Betapa terkejutnya Kiana saat membukakan pintu tersebut yang memperlihatkan seorang wanita muda cantik nan anggun, tinggi semampai, tengah berdiri di balik pintu yang ia bukakan tengah tersenyum padanya.
Wanita tersebut adalah Linda. Mantan kekasih Bian yang Kiana ketahui. Beberapa kali tak sengaja pernah bertemu sehingga Kiana cukup hapal dengan wajah tersebut. Namun sayang, dari dua kali pertemuan yang tidak sengaja itu, Kiana mendapatkan perlakuan yang kurang baik.
"Hai," ucap wanita tersebut dengan senyuman sinis seolah menyombongkan dirinya sendiri. Wanita itu memangku kedua tangannya di dada menatap Kiana dengan raut wajah meremehkan. "Kredit buat Lo dari gue sebagai tamu kehormatan di rumah ini," ucapnya membuat Kiana terdiam tak mengerti ucapan wanita tersebut. "Lama!" lanjutnya lagi dengan nada setengah menyentak, kemudian melangkah maju masuk ke dalam rumah tak memperdulikan Kiana yang masih ada berdiri di hadapannya hingga gadis itu terhuyung ke belakang karena terdorong olehnya.
"Upss, sorry! Gue lupa ada pembantu di sini..." ucapnya lagi berpura-pura menyesal. Wanita itu tertawa, kemudian memegang bahu dan mengusap-ngusap bagian tubuhnya seolah jijik saat bersentuhan dengan Kiana.
Kiana terdiam memegang bahunya yang cukup lumayan terasa nyeri. Tak lupa ia segera menutup kembali pintu ketika sang tamu sudah berada di dalam.
"Heh!" panggil wanita tadi. "Panggil majikan lo, cepet!" titahnya pada Kiana. "Heh pembantu! Budeg atau bego sih, panggil cepet sekarang juga!"
"Maaf Mbak, Pak Bian sedang tidak ada di rumah." terang Kiana.
"Nggak usah kasih tahu gue di mana Bian." tekannya. "Asal Lo tahu, gue lebih tahu Bian dari pada Lo yang cuma sekedar pembantu udik di rumah ini." ucap Linda.
"Saya nggak bermaksud seperti itu, saya--"
"Nggak perlu nunjukin muka polos lo yang buat gue muak dan benci itu! Dasar pembantu nggak tahu diri!" ujarnya kasar terhadap Kiana.
"Maaf..." sesal Kiana menundukkan kepalanya tak berani menatap mata Linda yang sangat menakutkan baginya.
"Oh... atau perlu diingetin siapa gue? Lo inget gue baik-baik, gue itu adalah tunangannya Bian, sekaligus calon istri dan menantu satu-satunya di rumah ini. Jadi Lo harus tahu diri. Sebaiknya Lo harus sering-sering berkaca, karena seorang pembantu nggak pantes buat berada di samping majikannya."
Kiana diam. Tak mengindahkan perkataan Linda.
Kiana terperangah mendengar kalimat Linda yang membuatnya banyak memikirkan hal.
"Silahkan duduk Mbak, saya panggilkan dulu Bu Ajeng sebentar." ucap Kiana ramah, kemudian ia berlalu dari hadapan Linda. Terlihat wanita tersebut berdecih dan memutar matanya malas melihat kepergian Kiana yang membuatnya merasakan kekesalan pada gadis itu.
"Norak!" ucapnya sinis seraya mengambil duduk di sofa ruang tamu dengan anggun dan juga penuh intrik pada kedatangannya di rumah ini.
***
"Siapa?" tanya Fira pada Kiana sesaat setelah memberitahu Bu Ajeng perihal kedatangan Linda di malam itu.
"Mbak Linda," balas Kiana seraya melangkah ke arah dapur untuk membuatkan minuman bagi sang tamu.
"Linda? Si wanita jahat itu? Ngapain dia ke sini? Bisa-bisanya dia masuk ke rumah tanpa ada yang nyegah dia?" deretan pertanyaan keluar dari mulut Fira diiringi dengan dengusan kasar.
"Nggak tahu Mbak, saya buka pintu ternyata udah ada dia di depan. Mungkin ada hal yang penting, makanya sengaja bertamu."
"Ya udah pasti, karena ada maunya dia. Awas aja kalau dia macem-macem bikin ulah!" sewot Fira yang geram akan kedatangan Linda pada malam itu. "Kamu nggak diapa-apain lagi sama dia kan?"
"Nggak, Mbak." jawab Kiana menggelengkan kepalanya.
"Itu mau ngapain?" tanyanya menunjuk pada apa yang dikerjakan oleh Kiana.
"Minuman buat tamunya,"
"Aduh... gak usah Kia, tamu modelan kayak gitu nggak perlu di kasih minum segala. Nyusahin kita aja." larang Fira yang jengkel pada wanita bernama Linda itu. Kayaknya sampai kapanpun Fira nggak akan pernah suka dengan Linda. Malah yang ada Fira benci sampai mendarah daging.
"Nggak apa, saya bikinin dulu. Apalagi di depan kan ada Ibu juga." balas Kiana tanpa ada maksud apapun. Dia memang tak mengambil hati atas sikap Linda barusan. Dia tulus melakukannya, apalagi ini kan pekerjaannya juga.
"Ya udah, sini aku bantu bawa. Penasaran aku dia mau ngomong apa sama Mama."
Kedua gadis itu menghampiri dua wanita berbeda usia tersebut yang tengah berada di ruang tamu. Bu Ajeng dan Linda nampak sedang terlibat dalam pembicaraan yang serius. Bu Ajeng terlihat tegang, namun berbanding terbalik denan Linda justru memperlihatkan gestur tubuh yang tenang.
"Saya tahu kamu siapa, dan saya juga tahu apa yang menjadi tujuan kamu mendekati anak saya selama ini." ucap Bu Ajeng tenang.
"Wah, aku kira Tante akan berusaha menutup mata tentang semua ini. Ya, aku akui semua yang dikatakan oleh Tante tentang pandangan aku nggak ada yang salah sama sekali. Semuanya benar. Aku cukup bangga mempunyai calon ibu mertua seperti Tante." ungkap Linda dengan santainya.
"Sampai kapanpun saya nggak akan pernah menganggap hubungan kalian itu ada. Apalagi sampai mengakui kamu sebagai menantu di keluarga ini."
"Mmm... sayang sekali... aku sedih lho Tante mendengarnya. Padahal Bian itu cinta mati sama aku, dia selalu ngejar-ngejar aku selama ini. Apalagi Tante dan juga Om sampai nggak mau mengakui hubungan kami yang terlanjur cukup dalam sejauh ini. Apa kalian yakin nggak mau berubah pikiran? Apa Tante mau tahu apa yang sudah kami lakukan sejauh ini? Aku yakin Tante akan terkejut, dan tentunya akan menyetujui pernikahan kami kalau Tante mengetahuinya." tekan Linda mengada-ngada. Kiana dan juga Fira cukup terdiam saat mendengar sekilas apa yang menjadi topik pembicaraan diantara mereka.
"Apa maksud kamu?" tanya Bu Ajeng yang mulai terpancing dengan perkataan Linda.
"Tehnya Bu," ucap Kiana menyediakan minuman untuk kedua wanita yang tengah dalam ketegangan itu. "Silahkan, Mbak."
"Makasih Ki," ucap Bu Ajeng dengan senyum. Linda hanya mendelik kesal saat melihat kedatangan Kiana diantara tengah-tengah mereka.
"Ngapain dia, Ma? Udah ngomong apa aja dia sampai-sampai bertamu ke rumah orang malam-malam begini? Nggak tahu tata krama banget jadi orang. Apa nggak ngerasa udah ganggu kenyamanan banyak orang?" cerocos Fira yang ikut terduduk di samping ibunya.
"Udah, duduk." perintah Bu Ajeng pada putrinya.
"Hai calon adik ipar, akhirnya kita ketemu lagi. Gimana, kabar kamu baik-baik aja kan? Sayang banget ya waktu itu kita nggak bisa jalan bareng. Duh, pengen deh jalan-jalan, shoping bareng calon adik ipar gitu, aku yakin kita pasti punya banyak kesamaan. Dari pada jalan sama pembantu yang pasti udik juga kampungan, mendingan kita atur jadwal pergi bareng aja. Gimana? Bagus kan?" ucap Linda seraya melirik sekilas pada Kiana.
Fira bergidik ngeri. Ia mencebikkan bibirnya dengan menatap nyalang tanda tak suka.
"Ogah! Amit-amit deh," gumamnya pelan tapi masih di dengar oleh semua orang.
"Jika tidak hal lain yang ingin di sampaikan, maaf saya harus kembali. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." tutur Bu Ajeng yang sudah malas menghadapi Linda.
"Sebenarnya sih masih banyak Tante yang ingin aku bicarakan. Ya, berhubung Om dan juga Bian selaku calon suamiku nggak ada, apa boleh buat. Tapi aku sangat menunggu hari besok saat Bian pulang. Karena banyak kejutan yang akan anak Tante itu berikan dalam mempersiapkan hari pernikahan kami." tukasnya masih melirik pada Kiana yang kini tengah menatapnya dengan raut muka yang tidak dapat diartikan.
"Ya, kita akan menikah dalam waktu yang dekat ini." tekannya lagi, membalas tatapan Kiana dengan tersenyum simpul. "Jadi, ada ataupun tidak adanya restu dari kalian, aku pastikan pernikahan ini akan berlangsung. Dan Tante akan bangga mempunyai menantu seperti aku." ungkapnya lagi.
"Gila!" ucap Fira semakin geram dengan kelakuan gila Linda.
"Ya, aku memang tergila-gila oleh kakakmu. Dan bisa dipastikan, Bian akan jatuh dipelukanku, karena hanya aku yang pantas untuk mendampinginya, bukan wanita lain manapun." ucap Linda penuh kepercayaan diri.
"Oke calon ibu mertua aku pamit ya," ucap Linda lagi bersiap untuk pergi. "Oh iya, ada kejutan spesial dariku untuk mertua tersayang. Pukul 10 nanti, pastikan Tante untuk mengecek ponsel, karena akan sayang jika kejutan spesial dari menantumu ini terlewat begitu saja. Bye adik ipar..." lambainya pada Fira dengan senyum terselubung. Sebelum pergi, Linda menatap Kiana dengan tatapan menantang, seolah tengah mengibarkan bendera perang.
"Wanita gila!" umpat Fira bersungut-sungut. Bu Ajeng hanya terdiam, mencoba untuk memahami akan masalah apalagi yang akan menimpa putra dan keluarganya itu.