
Kiana menepuk-nepuk pelan paha kaki si kecil saat merasai bayi kecilnya itu mulai menangis karena terbangun dari tidurnya. Agaknya udara panas membuat bayi itu tertidur dengan tak nyaman. Membuat banyak sekali anak keringat yang membasahi seluruh tubuh kecilnya itu.
Kiana berusaha menenangkan bayinya agar tak lagi menangis. Tak enak jika orang rumah yang ia singgahi untuk mengambil pekerjaannya itu merasa terganggu oleh tangis anaknya.
"Kasian dede bayinya itu, Mbak. Kayaknya kegerahan karena bajunya terlalu kepanjangan buat cuaca panas gini." ucap seorang wanita yang keluar dari rumahnya membawa tentengan keresek besar yang berisi baju-baju kotor miliknya.
"Iya, Bu." jawab Kiana pendek seraya membenarkan posisi bayi dalam gendongan menggunakan kain jariknya. Bayi kecil itu masih merengek mungkin karena udara panas yang membuatnya tak nyaman.
"Harusnya pakai baju lengan pendek dulu aja, biar lebih adem, terus dedenya nggak rewel karena kepanasan." lanjutnya lagi.
"Maaf, Bu."
"Lho, kok jadi minta maaf? Saya kan cuma ngasih tahu aja." kekeh wanita itu seraya melongokkan kepala melihat bayi Kiana yang sangat kecil dalam gendongannya. "Berapa bulan?"
"Lusa genap satu bulan, Bu."
"Woalah... lucunya, gantengnya pasti mirip sama bapaknya ya ini," pujinya dengan senyuman senang melihat bayi Kiana yang memang terlihat lucu dan juga tampan meski masih bayi. "Tapi kok kecil ya? Seharusnya bayi berumur satu bulan sudah agak besar dari terakhir saat melahirkan."
Kiana terdiam mendengar penuturan wanita tersebut. Bohong kalau ia merasa tidak sedih saat ada orang mengatakan hal yang menyinggung perasaannya mengenai tentang kondisi bayinya.
Bayi kecil itu kembali merengek tak nyaman. Membuat Kiana kembali menenangkannya dengan cara mengayun-ayunkannya di dalam gendongannya.
"Atau haus juga kayaknya itu, coba di kasih minum dulu, Mbak. Kasihan anaknya dari tadi nangis terus. Ayo masuk ke dalam dulu biar lebih aman dan nyaman ngasih minum susu dedenya." tuturnya menawari Kiana masuk ke dalam rumah untuk menyusui bayinya.
"Makasih banyak, Bu. Kebetulan saya nggak bawa bekal minumnya, jadi sekalian nanti di rumah aja."
"Oh, begitu. Ya sudah, cepat di bawa pulang saja. Kasihan dedenya nangis terus minta minum itu." nasihatnya yang di balas senyuman oleh Kiana. "Oh iya, Mbak. Saya minta baju yang berwarna tolong di pisah ya saat mencucinya. Terus buat kemejanya, tolong di setrika yang rapi. Saya tunggu lusa ya,"
"Iya, Bu. Kalau begitu saya pamit, permisi." Kiana pergi setelah pamit pada sang pemilik rumah dan membawa pekerjaannya berupa baju-baju kotor milik tetangganya.
Ya, saat ini Kiana memiliki pekerjaan sebagai tukang cuci pakaian milik tetangganya. Pekerjaannya tak menetap. Tidak setiap hari ia bisa mendapatkan pekerjaan untuk mendapatkan uang. Walau hanya beberapa dari tetangganya, dan itu pun cuma satu kali dalam seminggu untuk ia mendapatkan tawaran pekerjaan tersebut.
Tak pernah sedikit pun ia mengeluh atau bahkan merasa malu dengan pekerjaan yang baru beberapa minggu ini ia tekuni. Perut yang lapar tak menjamin akan ada orang yang berbaik hati untuk menolongnya dari kesulitan hidup. Tak akan ada satupun orang yang peduli dan merasa kasihan terhadapnya jika ia tak berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhannya.
Namun, ia akan tetap selalu bersyukur atas apa yang dia dapatkan untuk menyambung hidup bersama anaknya. Apapun akan Kiana lakukan demi bertahan hidup di zaman yang sulit seperti ini. Terlebih saat ini Kiana tak memiliki apapun untuk dapat ia jadikan modal mencari pekerjaan yang lebih baik. Apalagi saat ini Kiana sudah memiliki beban tanggungan hidup yang tidak dapat ia tinggalkan begitu saja. Meski dalam kesulitan, Kiana akan tetap berusaha yang terbaik, berjuang demi dirinya dan juga bayinya yang malang ini.
Disepanjang perjalanan pulang, Kiana tak hentinya menenangkan sang putra yang terus menangis dalam gendongannya. Cara berjalannya sedikit tertatih karena merasakan nyeri di bagian kakinya yang belum kunjung sembuh setelah peristiwa penyekapan sebulan yang lalu berakhir.
Kiana beristirahat sejenak duduk di sebuah bangku di bawah pohon rindang tepat di sisian jalan menuju rumah kontrakannya. Ia memandangi wajah bayi kecilnya yang semakin memerah karena terus menerus menangis tanpa henti.
Perasaan nyeri di dadanya tak sebanding dengan rasa nyeri yang ada di kakinya saat melihat putra kecilnya itu terus menangis seolah tengah merasakan sesuatu yang tak nyaman di tubuh kecilnya. Suhu badan bayinya semakin meninggi seiring dengan cuaca panas yang terik di siang itu.
Bayi kecil malangnya sakit. Tubuh mungil itu tengah merasakan sakit yang Kiana sendiri tak tahu apa yang dirasakan oleh bayinya. Hanya tangisan sepanjang malam yang terus Kiana dengar.
"Maafin Ibu Nak..." ungkapnya lirih seraya mengelus lembut wajah putranya yang memerah karena menahan sakit yang dideritanya.
Hingga air mata Kiana pun tak terasa menetes luruh begitu saja. Ia sungguh tak berdaya saat dihadapkan dengan masa-masa sulit seperti ini.
Bayinya yang malang, begitu kuat menghadapi segala cobaan yang menimpa kehidupan mereka yang pedih dan sangat memilukan hati.
***
"Ayo makan dulu, Bi. Kamu belum makan sama sekali dari kemarin," ucap Bu Ajeng mencoba menyuapkan makanan ke mulut Bian yang terus diabaikan oleh Pria itu.
Bian memalingkan wajahnya seraya menatap nanar ke arah luar jendela. Pria itu masih terdiam tak merespon perkataan siapapun selama berbulan-bulan lamanya. Pria itu seolah kehilangan semangat hidupnya. Separuh jiwanya telah pergi hingga menyisakan kehampaan ruang kosong di hatinya.
"Bi, sesuap dulu aja ya? Ayo sayang, buka mulutnya." ucap lagi Bu Ajeng berusaha membujuk Bian agar mau mengisi perutnya.
Bian tetap terdiam tak mengindahkan perkataan ibunya.
Mata Bu Ajeng mulai berkaca-kaca menahan tangis yang hampir saja keluar dari sudut matanya. Sekuat mungkin ia tahan karena tak mau terlihat lemah di hadapan putranya yang tengah sakit itu.
Sebagai seorang ibu, ia harus bisa menyemangati dan menguatkan anaknya yang tengah terpuruk karena suatu kejadian yang tidak pernah ia duga dan bayangkan sebelumnya. Suatu kejadian yang membuatnya bungkam karena tak percaya hal besar tersembunyi dapat terjadi kepada putra sulungnya.
Ia tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Bian selama berbulan-bulan terbaring di pembaringan menghadapi sakit yang tak pernah ia bayangkan sama sekali.
Jalan hidup anaknya begitu malang dan menyedihkan. Perasaan marah dan kecewa seolah lenyap begitu saja dalam dirinya dan tergantikan dengan perasaan iba dan kasihan yang mendalam pada apa yang terjadi pada Bian.
"Sesuap dulu, Nak." bujuk Bu Ajeng kembali menyuapkan sesendok makanan ke arah mulut Bian yang tertutup rapat.
Bian masih menghiraukan keberadaan orang-orang yang berada di dekatnya di ruangan itu. Meskipun itu kedua orang tuanya sekalipun. Bian hanya ingin menyendiri merenungi segala penyesalan yang ada dalam dirinya.
"Ayo dong, sayang, Mama nggak tega lihat kamu seperti ini, Bi..." ucapnya dengan suara bergetar. Akhirnya tangis Bu Ajeng pun pecah juga karena tak kuat menahan perasaan sedih saat melihat kondisi putranya yang semakin terpuruk.
"Mama tahu apa yang sedang kamu rasakan selama ini. Mama juga sedih dengan apa yang sudah terjadi sama kamu, Bi..."
"Mama nggak akan menyalahkan pada semua yang sudah terjadi pada kalian. Terlepas benar atau salah, yang terpenting Mama mau kamu kembali sembuh seperti dulu,"
"Mama percaya pada kehendak Tuhan yang sudah menggariskan jalan hidup yang kamu lalui harus melewati setiap cobaan, yang membuat kamu jatuh terpuruk seperti saat ini karena kesedihan dan penyesalan yang sudah kamu lakukan."
"Kamu mau melihat kami terus bersedih menangisi keadaan kamu yang seperti ini? Apa tidak ada sama sekali kemauan untuk kamu sembuh, dan bangkit dari keterpurukan ini, Bi? Kamu mau terus seperti ini selamanya? Meratapi penyesalan yang sudah kamu lakukan dengan hanya diam tanpa melakukan apapun untuk menebus kesalahan kamu?" tutur Bu Ajeng.
"Apa yang kamu harapkan untuk dapat kembali tidak akan pernah terwujud tanpa kamu berusaha untuk berjuang demi mendapatkannya." tutur Bu Ajeng seraya mengusap kepala Bian dengan deraian air mata yang terus mengalir membasahi wajah senjanya.
"Sebelum kamu memulai untuk berjuang, setidaknya persiapkan terlebih dahulu diri kamu agar lebih kuat saat menghadapinya. Mulai dari hal terkecil, terutama memperhatikan kesehatan kamu."
"Mama sayang sama kamu, Bi. Hati Mama sakit dan sedih melihat kamu terus seperti ini. Mau sampai kapan, Bi?"
"Apa kamu mau mereka bersedih saat melihat kamu dalam keadaan seperti ini? Apa kamu yakin mereka akan kembali saat kamu dalam keadaan masih seperti ini?" tekan Bu Ajeng pada putranya.
"Mama mohon, Bi. Untuk sekarang pikirkan terlebih dahulu kesehatan kamu." tambahnya lagi seraya mengusap air matanya.
"Makan ya? Mama yang suapin, Nak."
Bian menoleh pada ibunya yang tengah kembali menyuapkan sesendok makanan di depan mulutnya. Ia menatap lekat wajah ibunya yang basah karena lelehan air bening yang turun dari mata teduh ibunya. Tergurat raut kesedihan yang mendalam dari wajah lelahnya yang selalu setia menemaninya dalam keterpurukan. Dia sangat menyayangi ibunya. Tak pernah sekalipun ia ingin menyakiti hati ibunya.
Namun apa sekarang? Ternyata dia telah berkali-kali menyakiti dan mengecewakan hati wanita yang telah melahirkannya itu.
Bian pun sedih. Dia juga tidak mau seperti ini. Melihat semua orang-orang yang menyayanginya ikut bersedih karena dirinya. Tetapi hatinya begitu lemah. Dia tak sekuat yang ia kira karena sebuah kehilangan.
Dengan perlahan, Bian membuka mulutnya untuk menerima suapan dari tangan ibunya. Seketika tiba-tiba ia kembali teringat pada bayangan wajah Kiana dalam pantulan manik mata ibunya.
Bu Ajeng tersenyum bahagia kala melihat Bian yang pada akhirnya mau menuruti perkataannya setelah berbulan lamanya. Ternyata, keterbukaan masalah yang menjadi penyebab sakit anaknya itu membuat Bian sedikit dapat menerima keadaan yang tengah menimpanya. Meski dalam lubuk hati yang terdalamnya, ia belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Mata Bian berkaca-kaca saat menerima suapan demi suapan makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
"Ma," ucap Bian dengan suara serak pada ibunya. Itu adalah kata pertama yang keluar dari mulutnya pada sang ibu selama berbulan lamanya.
"Iya, sayang. Kamu mau apa? Apa makanannya kurang enak? Kamu mau makan yang lain? Mama cari makanan yang enak dulu sesuai selera kamu saat ini ya. Kamu mau makan apa, Bi, hem?" tanya ibunya senang saat kembali mendengar Bian memanggil namanya.
Bian menggelengkan kepalanya. Ia malah meneteskan air matanya saat ini. Sangat berbeda dengan Bian yang dulu rupanya yang tak pernah cengeng bahkan menangisi sesuatu sejak ia kecil. Tapi sekarang, Bian yang terkenal sebagai pria yang kuat, arogan, dan juga keras kepala tiba-tiba berubah menjadi pria yang lemah akan dengan keadaan yang terpaksa membentuknya.
"Kamu mau apa? Bilang sama Mama, Ayo."
"Ma," ucap Bian lagi dengan suara yang teredam oleh tangisnya. "Istri Bian, Ma..." lirihnya dengan deraian air mata.
"Bi..." Bu Ajeng mengusap wajah putranya seraya merasakan kesedihannya itu.
Isak tangis Bian semakin menjadi saat ia terus memikirkan Kiana yang telah pergi dari hidupnya.
"Mereka pergi, Bian sendirian Ma..." ungkapnya lagi dengan perasaan yang pilu.
Bu Ajeng meraih Bian ke dalam pelukannya.
"Mama ngerti sayang, Mama ngerti. Kamu harus kuat, kamu harus sabar, kamu harus sembuh agar dapat berjuang dan merengkuh mereka ke dalam pelukanmu." Bu Ajeng memeluk Bian mengusap lembut rambut kepalanya untuk menenangkan putranya itu.
"Kamu harus sembuh untuk bisa mendapatkan mereka kembali," ujarnya menyemangati putranya.
Bian menenggelamkan wajahnya pada pelukan hangat sang ibu yang seketika mampu menenangkan hatinya. Ada sesuatu perasaan yang timbul di hatinya untuk tergerak dan bangkit dari keterpurukannya selama ini.
'Dimana kamu, Ki?' gumam Bian dalam hati. 'Tunggu aku, tunggu aku yang akan kembali membawamu pulang.' Berharap akan keajaiban segera datang kepadanya.
*****