Secret Love

Secret Love
You're My Angel



Bian menghela napas pelan saat melihat sikap keras kepalanya Kiana. Sedikit banyak ia seperti sedang bercermin pada dirinya sendiri. Bahkan kekeras kepalaannya jauh melebihi dari pada siapapun. Termasuk dalam hal membandingkannya dengan Kiana sekalipun.


Justru itu adalah suatu hal yang berbeda. Sikap keras kepalanya merupakan bawaan lahiriah. Tetapi Kiana, hal itu terbentuk oleh karena keadaan yang memaksanya.


Dan saat ini ia dihadapkan dengan ketegasan dari seorang gadis yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Seorang gadis yang lemah lembut, serta penuh kesabaran, kini menjelma menjadi seorang gadis yang tegas.


"Kita pulang sama-sama, ya? Kita pulang ke rumah kita? Kasihan Al, Ki. Dia butuh tempat yang nyaman, bagus, dan sehat untuk kesembuhannya. Dan tempat itu adalah rumah kita." ucapnya dengan harapan Kiana dapat luluh.


"Nggak perlu, saya bisa jaga dan urus Al sendiri. Saya nggak punya rumah selain rumah saya dan Al. Jadi Bapak nggak perlu repot-repot buat peduli padanya. Saya tahu yang terbaik untuk anak saya. Meski rumah kami kecil dan jelek, banyak sekali kekurangan untuk memenuhi kebutuhannya, tapi kami tidak kekurangan rasa kasih sayang diantara kami. Karena cinta dan kasih sayang saya tulus untuk Al." tutur Kiana seraya pergi meninggalkan Bian begitu saja.


Bian sungguh terpukul dengan kalimat Kiana yang sukses membuatnya kembali termenung. Ia lagi-lagi kalah dengan kenyataan bahwa di setiap kesusahan yang Kiana dan bayinya itu lewati tak ada dirinya di samping mereka.


Pedih memang Bian rasakan. Kecewa sudah pasti. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang telah terjadi pada istri dan anaknya.


Namun Bian tak patah arang, ia tetap mengikuti Kiana dari arah belakang di setiap langkah gadisnya itu menyusuri jalanan yang padat, di bawah sinar pagi sang surya yang semakin menunjukan teriknya.


"Ki, tunggu saya, Ki. Kalau kamu nggak mau ikut saya, tapi izinkan saya buat antar kalian pulang," ucap Bian yang dihiraukan begitu saja oleh Kiana. Gadis itu seolah menulikan telinganya tak mau mendengar Bian berbicara lagi.


Sepanjang perjalanan yang berliku nan jauh, mereka tak lagi terlibat pembicaraan panjang karena Kiana yang menghiraukan Bian dengan sejuta kebisuannya.


Terlihat sesekali Kiana terhenti karena merasakan bayinya menangis karena udara lembab yang membuat bayinya kepanasan dalam gendongan kain jariknya. Bian yang melihat itu semua merasa Khawatir dengan keadaan mereka, terutama Al yang dipaksakan dibawa berjalan terlampau jauh. Belum lagi udara yang semakin lembab karena matahari mulai meninggi di pagi menjelang siang hari itu. Dia takut akan terjadi sesuatu terlebih Kiana dan bayinya baru saja sembuh dan pulang dari rumah sakit.


Bian menghela napas cukup panjang saat merasai lelahnya berjalan jauh menyusuri jalanan ibu kota. Buliran peluh membasahi tubuhnya hingga terlihat membasahi pakaian kantornya.


Manik matanya tak lepas selalu awas mengawasi Kiana dari jarak beberapa meter di belakangnya. Dia tak mau sampai kehilangan jejak Kiana atau bahkan terjadi sesuatu padanya. Hingga ia melihat Kiana yang kembali berjalan memasuki gang-gang kecil yang berliku di sebuah perkampungan padat penduduk di pinggiran ibu kota.


Bian menautkan kedua alisnya saat Kiana berjalan masuk semakin dalam diantara celah gang sempit itu.


"Eh Neng Kiana, dari mana?" ucap salah seorang wanita dari sekumpulan ibu-ibu yang sering bergibah di depan gang sempit menuju rumah Kiana.


"Baru pulang ya? Saya perhatikan kok beberapa hari ini nggak pernah ada lewat?" sahut seorang ibu.


"Iya nih, saya kira kamu pulang kampung lho. Abisnya nggak pernah lihat lagi." sahut salah satu ibu-ibu lagi.


"Saya pikir kamu lagi sibuk mulung di kota sampai-sampai lupa pulang. Gimana? Udah dapat banyak hasil mulungnya?" ucap seorang ibu yang bernama Nenah itu sering berbicara tanpa di saring terlebih dahulu. Ibu-ibu yang lain saling menyikut untuk memperingatkan.


Kiana yang mendengar hal itu hanya mampu meringis seraya mengayun-mengayun raga kecil yang mulai rewel di dalam gendongannya.


"Eh Kiana, ada yang cariin kamu tuh dari kemarin. Para ibu-ibu langganan cuci baju kamu datang kemari buat ngasih kerjaan."


"Cariin saya, Bu?" tanya Kiana memastikan.


"Ya, iya. Kalau bukan kamu siapa lagi. Di kampung ini yang buka jasa jadi babu cuci baju ya kan cuma kamu aja!" sahut Bu Nenah tadi dengan ketus. Tampak ia begitu kurang menyukai Kiana semenjak kedatangan gadis itu di kampungnya. Alasannya sih takut suaminya yang menurutnya itu tampan dan gagah itu tergoda oleh Kiana yang cantik sehingga dapat berkesempatan berpaling darinya.


Bian yang ikut menghampiri Kiana sedikit mendengar pembicaraan diantara mereka. Terkejut sudah pasti. Tapi Bian berusaha bersikap setenang mungkin, meski ia merasa tak suka atas perlakuan dari salah satu ibu-ibu kurang kerjaan itu.


"Tukang cuci baju?" tanya Bian tiba-tiba. "Kamu kerja jadi tukang cuci baju, Ki?" tanyanya lagi membuat semua orang yang berada di sana menoleh padanya. Terutama Kiana.


"Eh, mas ganteng ini siapa?" tanya salah seorang ibu yang terkejut dengan kedatangan seorang pria tampan tinggi semampai yang pasti terlihat gagah dengan pakaian yang di kenakannya, seperti Bian saat ini. Mereka saling berbisik-bisik kala melihat Bian yang hadir diantara mereka.


"Saya Bian, suaminya Kiana. Ayah dari Al, bayi kami." ungkap Bian tegas tanpa berpikir lama.


Sekumpulan ibu-ibu tersebut nampak semakin terkejut dengan mulut yang saling menganga mendengar penuturan Bian.


Kiana hanya menghela napas, tak dapat mencegah apa yang baru saja Bian katakan.


"Makasih, Bu, atas informasinya. Kalau begitu saya permisi, kasihan bayi saya mulai rewel." pamit Kiana yang berlalu begitu saja dari hadapan sekelompok ibu-ibu meresahkan itu.


"Ya ampun Mpok, itu beneran suaminya si Kiana?" ujar seorang ibu-ibu sembari melihat kepergian Kiana dan Bian yang semakin menjauh.


"Lu kagak budeg kan dia ngomong apa, Lis!"


"Kagak nyangka gue, lakinya si Kiana ganteng banget kayak artis pemain film. Keliatan kayak orang berduit lagi."


"Dih, kagak percaya gue, Mpok. Palingan ntuh laki orang kaya pelanggannya si Kiana." mulut pedas Nenah kembali bersuara.


"Hussh! Ngomong lu dijaga Nenah. Mulutmu adalah harimau mu!" ingat salah seorang ibu-ibu.


"Halah, gaya lu Mpok!" ucap serempak ibu-ibu tersebut.


***


Bian menatap tak percaya kala ia berdiri di sebuah bangunan kecil dengan keadaan yang memprihatinkan. Ya, saat ini dia berada di depan rumah kecil Kiana tempat dimana anak dan istrinya itu berlindung dari panas dan hujan.


Bahkan Bian meringis pilu saat kembali memperhatikan bangunan kecil itu yang sebagian besar terbuat dari triplek tipis yang keadaanya sudah dapat dikatakan tak layak huni lagi.


Oh, sungguh ironinya keadaan hidup yang sulit dari istrinya selama ini. Bian semakin merasakan sakit yang tak tertahan di hatinya. Marah dan kecewa pada dirinya sendiri, hingga rasa iba tertancap kuat di dalam hatinya yang tergores perih.


"Alhamdulillah, kita sampai di rumah sayang, kita masuk ya? Kasihan anak ibu kepanasan sejak tadi." ucap Kiana pada bayinya.


"Nah, Al udah pulang. Uh... Al gerah ya sampai keringatan basah begini?" ucap Kiana lagi seraya membaringkan Al yang merengek tak nyaman setelah masuk ke dalam rumahnya.


"Maafin ibu ya, Nak. Al pasti capek karena nemenin ibu jalan jauh sampai rumah." ungkapnya lirih sejurus kemudian mengelap tubuh kecil Al.


Bian yang menyaksikan hal tersebut hanya mampu memandang sendu. Ternyata pria itu tengah berdiri cukup berjarak di depan pintu setelah ikut masuk ke dalam rumah.


Suara tangis dari Al mulai terdengar setelah Kiana berhasil menggantikan baju bayinya dengan yang lebih bersih. Kiana mengusap seluruh wajah Al dengan penuh kelembutan kemudian mengecup tangan mungil bayinya dengan lembut.


"Al tunggu sebentar ya, sayang. Ibu buatkan minum biar Al nggak kehausan dan cepat tidur." ucapnya lagi pada bayinya tanpa menghiraukan Bian yang berada di sana.


Kiana beranjak dari duduknya untuk membuatkan minuman untuk bayinya yang membutuhkan waktu cukup lama untuk meraciknya.


Bian yang melihat bayinya tengah berbaring sendirian dengan cepat menghampirinya. Terlihat Al tengah menggerak-gerakkan tangan dan kakinya seolah seperti meminta perhatian dari orang terdekatnya.


"Hai, boy." sapa Bian pada putranya. "Ini Bapak, Nak. Jangan nangis ya, sayang. Ibu sedang membuatkan minum buat Al agar tidak haus lagi." ucapnya seraya memegang tangan mungil putranya seraya mengecupi seluruh wajahnya.


"Maafin, Bapak. Maaf karena Bapak belum bisa bahagiakan Al dan ibu." lirihnya menatap sendu putranya itu.


Melihat Kiana yang kembali dengan sebotol susu di tangannya membuat Bian beringsut memangkas jarak dengan putranya. Dia dapat merasakan jika Kiana merasa tak suka dengan kehadirannya di sana. Terlihat saat ia masih berada dekat dengan putranya, Kiana enggan mendekat duduk bersama dengannya bersama buah hati mereka.


Kiana memberikan botol minum susu tersebut pada Al yang langsung diterima oleh bayi kecilnya itu. Melihat Al yang begitu sangat lahap saat meminumnya, membuat Kiana tersenyum miris seraya membelai wajah bayinya itu.


"Pelan-pelan, Nak, nanti tersedak." ucap Kiana pada Al yang tengah asik dengan minumannya. Sepasang iris mata nan jernih itu mengerjap-ngerjap menatap manik mata ibunya.


Bian cukup jelas memperhatikan putranya tengah menyusu di hadapannya dengan begitu lahap. Perasaan bahagia dan haru nampak timbul di hatinya saat melihat momen tersebut. Hatinya begitu damai kala menyaksikan itu semua.


Hingga ia kembali memperhatikan Kiana yang ikut berbaring di samping bayinya di atas kasur lantai tipis yang sudah terlihat lusuh. Seolah tak memperdulikan Bian ada di sana, Kiana menepuk-nepuk raga kecil itu hingga terlihat Al yang mulai terlelap setelah kenyang menyusu.


Bian tersenyum tipis menyaksikan pemandangan damai dihadapannya itu. Melihat Kiana yang ikut memejamkan matanya dapat Bian rasakan jika istrinya itu kelelahan setelah seharian ini. Pria itu tak berani mendekat meski besar inginnya untuk sekedar mencium kening bidadari dan malaikat kecilnya itu.


"Selamat istirahat dua kesayanganku... Bidadari dan Malaikat kecilku," ucapnya lirih dengan senyum merekah yang tak luntur dari bibirnya.