Secret Love

Secret Love
Menunggunya.



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Tok... tok.. tok..


Qia yang baru selesai mandi langsung membuka pintu kamar kos'nya, ia yakin itu adalah Fathan yang datang membawa makan malam seperti biasa untuknya.


Cek lek


"Kok lama?" tanya Qia sambil menerima bungkusan yang di berikan kekasihnya tersebut.


"Hem, antri banget."


Dua porsi nasi goreng kini tersaji di atas piring plastik siap untuk di santap keduanya, hampir setiap malam bersama membuat semua penghuni area kos tahu dengan hubungan mereka, itu juga memudahkan Fathan untuk menitipkan Qia pada teman-temannya.


"Lusa libur dari hari jumat sampai minggu, dirumahku ada acara dan aku berniat membawamu kerumah orangtuaku, bagaimana?"


Qia tentu langsung menoleh, ia sampai berhenti mengunyah dan meletakkan sendoknya di pinggir piring yang masih ada sisa setengah lagi.


"Aku malu," jawab Qia.


"Kita sudah lama bersama, saatnya aku memperkenalkan mu pada ayah dan ibuku. Mereka juga tahu hubungan kita, aku ingin serius denganmu, Qia."


Bagi sebagian wanita yang mendengar itu pasti akan bahagia, tapi tidak dengan Qia yang entah kenapa ingin menolaknya, alasan terlalu cepat pun akhirnya ia berikan pada kekasihnya tersebut.


"Lalu kapan? aku tak ingin menundanya lebih lama, aku mencintaimu," ujar Fathan lebih meyakinkan.


Ia takut Qia berpaling darinya mengingat ia sering di goda di kantor dan juga oleh penghuni kost. Mendapatkan Qia adalah anugrah yang paling indah untuk Fathan. Ia tak akan melepas gadis itu entah bagaimanapun keadaannya.


"Aku tahu, tapi aku malu dan belum siap."


"Aku sudah bicara dengan ibumu, jika kamu ku ajak kerumah dan orangtuaku setuju, aku akan segera melamarmu," balas Fathan yang kini sudah meraih tangan bidadari hatinya tersebut.


"Kita jalanin saja, bagaimana? lagi pula akhir pekan juga aku bekerja 'kan?" Qia tersenyum simpul agar Fathan berhenti mendesaknya.


"Baiklah, nanti kita cari waktu lagi. Tapi kamu harus tahu jika aku tak main main dengan hubungan ini," pesan Fathan yang hanya di balas anggukan kepala saja.


.


.


.


Libur tiga hari tentu akan menjadi hari panjang bagi Skala karna ia pun akan ikut libur melihat Qia, dan itu membuat Si terompet Kiamat Uring uringan sejak pagi dirumah Ibunnya.


Ibun, yang tak lain adalah ibu keduanya hanya tersenyum melihat putranya yang sedari tadi marah-marah tak jelas.


"Memang kenapa?" tanya istri pertama Ayah Skala.


"Aku gak bisa lihat dia, Bun," jawabnya yang kemudian duduk di sebelah wanita itu.


Ameena, meski bukan ia yang melahirkan Skala tapi kasih sayangnya tak bisa di ragukan lagi. Semua perhatian ia berikan pada pria yang sejak bayi sudah di urusnya secara baik bersama Sang madu.


"Datangi, bukankah jika rindu harusnya seperti itu?"


"Aku gak berani," jawab Skala.


"Kenapa? jangan siksa perasaanmu hanya untuk menahan rasa itu, Nak." ujar Ibun sambil mengelus lengan putranya.


Kini, di banding Ibu, Ibunlah yang jauh lebih sabar karna ia cukup tahu diri tak bisa menimang buah hati yang lahir langsung dari rahimnya.


Skala menggeleng, ia memang tak pernah berniat untuk mendekati Qia meski sudah tepat di depannya. Ia akan lebih memilih memutar arah dibanding harus menyapa kecuali memang menjawab sapaan tapi itu pun ia lakukan seformal mungkin.


"Jangan bikin Ibun penasaran, setiap hari ibumu selalu mengeluh, ayo, ceritakan pada Ibun, kenapa?" desak wanita muslimah tersebut.


"Tak apa, Bun. Aku hanya sedang menikmati rasaku sendiri."


"Skala, kamu tak bisa begini terus. Mau sampai kapan kamu menunggunya?" tanya Ibun yang ikut gemas, entah aliran rasa apa yang sedang ia pertahankan saat ini.


.


.


.


Selama Tuhan masih memberikanku cinta untuk mengaguminya, selama itu juga aku menunggunya...



Nungguin Qia berasa nungguin orang bayar utang ðŸĪĢðŸĪĢ


Di tagih takut, gak di tagih bikin sesek dada


#Eh ðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠ