
'Ini semua salah!'
Reinhart berseru dalam hati.
Seharusnya, Aiden mulai tertekan di kelas dua. Saat itu, Maria akan menjadi Dewi penyelamat yang muncul baginya. Melepaskan dirinya dari keterpurukan dan hal-hal yang mengganggunya.
Hanya saja, entah kenapa sekarang malah Sophia yang tiba-tiba "ada" di saat Aiden begitu membutuhkannya.
"TIDAK MUNGKIN! ORANG TUA KITA TELAH SETUJU. KITA TELAH BERTUNANGAN.
KENAPA? KENAPA KAMU TEGA MELAKUKAN INI, AIDEN?!"
Helena berkata dengan air mata yang terus mengalir. Dia benar-benar tidak menyangka kalau kekasihnya benar-benar direnggut oleh sahabatnya sendiri. Walau gadis itu tegar, hal semacam itu jelas sudah berlebihan bagi dirinya.
"KARENA AKU TIDAK MENCINTAIMU!"
"..."
"Berhentilah berpura-pura, Helena. Bahkan jika dirimu menangis, tidak akan ada yang berubah. Jadi hentikan saja semua kepura-puraan ini."
"Aku rasa itu sudah agak berlebihan, Kawan."
Tidak tahan lagi, Reinhart akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya sambil memasang senyum pahit.
Sebenarnya dia tidak ingin ikut campur. Akan tetapi, pemuda itu benar-benar tidak tahan dengan semua yang terjadi di depan matanya.
Suara datar Reinhart langsung membuat keempat orang itu menoleh dengan ekspresi terkejut di wajah mereka.
"P-Pangeran Reinhart?!"
Para gadis langsung berseru bersamaan. Caterina tampak ragu. Helena tampak malu karena penampilannya yang berantakan dan mengecewakan. Sementara Sophia, gadis itu tampak sangat terkejut.
"Kamu ... apakah kamu mendengar percakapan kami, Rein?"
"Begitulah." Reinhart mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Sejak awal."
Aiden benar-benar terkejut. Setelah beberapa saat, tubuhnya gemetar. Dia menatap ke arah Reinhart dengan senyum di wajahnya.
"Kamu muncul hanya untuk mengejekku, ya?"
"Kenapa aku harus melakukannya?"
"Kamu adalah pangeran terbaik di generasi ini! Pemuda paling tampan! Paling kuat! Paling—"
BRUAK!
Reinhart langsung memukul wajah Aiden sampai pemuda itu jatuh ke tanah dengan ekspresi tenang.
Aku tidak peduli dengan gelar apapun. Itu hanyalah sebuah judul kecil, tidak benar-benar mengubah hidupku.
Jujur saja, aku kecewa padamu, Aiden. Jika ucapan orang-orang dengan mudah menghancurkan dirimu, sejak awal ... kamu tidak pantas menganggap aku sebagai rivalmu."
"Diam!"
Aiden yang bangkit langsung menatap ke arah Reinhart dengan ekspresi dingin dan tegas. Tangannya mengepal erat. Kuku-kukunya menggali telapak tangan sampai berdarah.
"Memangnya apa yang kamu tahu?
Tidak seperti dirimu, aku adalah harapan terbesar bagi kerajaanku! Semua selalu berharap aku menjadi yang terbaik agar bisa mengemban tugas memikul kerajaan ini! Kamu pikir aku ingin takdir semacam ini?"
"Lalu lawan takdirmu dan lakukan apa yang kamu inginkan."
Reinhart berkata dengan ekspresi datar.
"Tidak mungkin! Kamu gila, Rein! Jika tidak ada yang meneruskan, kerajaan pasti akan terdegradasi! Bahkan mungkin hancur!"
"Memangnya itu urusanmu?"
Mendengar pertanyaan datar Reinhart, Aiden langsung meraih kerah baju pemuda itu. Ekspresi marah tampak di wajahnya.
"Nyawa banyak orang dipertaruhkan di sini, B-jingan!"
"Jika kamu sudah memiliki tekad untuk melindungi mereka, maka lakukan saja. Berhentilah bersikap cengeng dan menyalahkan takdir atas semua yang terjadi padamu.
Aku tahu kamu tidak suka perjodohan dan ikatan politik semacam ini. Namun, bukan berarti kamu harus bersikap kejam pada tunanganmu sendiri.
Bicarakanlah baik-baik. Ketika kembali, selesaikan semuanya secara baik-baik. Jangan pikir dengan penolakan kasar semacam itu membuat semuanya akan menjadi lebih baik, Aiden.
Seperti yang kamu bilang, nyawa banyak orang ada di tanganmu. Jadi, berhentilah bersikap seperti bocah cengeng dan ..."
BRUAK!!!
Sekali lagi Reinhart memukul Aiden sampai berguling di tanah.
"Jadilah dewasa."
Setelah mengatakan itu, Reinhart menatap ketiga gadis itu. Tanpa merasa malu atau canggung, dia menjelaskan.
"Kalian yang menyelesaikan masalah ini. Aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya. Lagipula, aku hanyalah orang luar.
Jadi, selamat tinggal."
Setelah mengatakan itu, Reinhart memilih untuk pergi.
Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka secara baik-baik!
>> Bersambung.