
"AAARRRGH!!!"
William berteriak dengan ekspresi ganas di wajahnya. Sebuah lingkaran sihir muncul tepat di tanah dia berbaring. Detik kemudian, sosok Reinhart melompat mundur karena puluhan tombak besi muncul dari lingkaran sihir dan menusuk ke atas.
Melihat ke arah Reinhart yang telah menjauh, napas William naik-turun. Puluhan tombak besi menghilang kembali saat dia kembali berdiri.
Menatap ke arah Reinhart, ekspresi dingin di wajah William sebelumnya digantikan dengan ekspresi ganas dan niat bertarung kuat.
"Seharusnya memang seperti itu."
Reinhart berkata dengan nada datar.
"Kamu pikir kamu terlalu berbakat. Kamu pikir kamu tidak perlu berjuang keras. Kamu pikir kamu bisa memenangkan turnamen ini dengan mudah.
Jika hal-hal tadi adalah apa yang kamu pikirkan sebelumnya, kamu salah besar."
"..."
"Menahan diri sama sekali tidak salah. Namun menyepelekan lawanmu ..."
Reinhart menunjuk ke arah William dengan pedang di tangan kanannya. Memiliki ekspresi datar di wajahnya, dia berkata.
"Itu adalah hal paling bodoh yang pernah kamu lakukan."
Kata-kata datar tetapi kasar itu langsung membuat para penonton, bahkan William tercengang.
Setelah sadar, William segera berkata.
"Kamu yang memintanya."
William yang bangkit langsung bergegas ke arah Reinhart sambil berkata.
"Metal magic ... Armor of war!"
"Metal magic ... Helmet of war!"
"Metal magic ... Sword of war!"
Tiga mantra langsung dikeluarkan dalam satu tarikan napas. Seluruh armor, helm, dan senjata yang menutupi tubuh dan dibawa oleh William langsung berubah lebih besar dan tampak kokoh, tetapi tidak mempengaruhi gerakan William.
Klang!
Kedua pedang bertabrakan. Suara Reinhart kembali terdengar.
"Masih belum!"
Klang! Klang! Klang!
Keduanya masih berimbang. Namun Reinhart masih memancing emosi William.
"Kenapa kamu tidak menggunakan jurus andalanmu?! Sihir yang membuatmu kesepian dan merasa tidak terkalahkan."
Mendengar itu, ekspresi marah langsung muncul di wajah William.
"DIAM!!!"
KLANG!!!
Keduanya terpental bersamaan.
Melihat ke arah Reinhart, William terbakar api amarah. Rune-rune merah muncul di kulitnya. Matanya juga menyala dengan warna merah.
Sebuah lingkaran sihir raksasa yang menutupi seluruh arena muncul.
"Dikatakan bahwa ini adalah sihir yang diturunkan oleh Dewa kepada kami, Keluarga Steelguard. Namun, hanya orang-orang yang terpilih yang bisa menggunakan lalu mengembangkannya."
Melihat ke arah Reinhart, William tampak dingin.
"Sudah terlambat untuk lari ..."
William langsung mengulurkan tangannya.
"GRAVE OF SWORDS!!!"
Ketika ucapan William terdengar, kecuali tempatnya berdiri, ribuan bilah pedang langsung muncul dari tanah dan menikam ke atas. Tidak ada sedikit pun celah di arena!
CRASH!!!
Suara besi dihancurkan terdengar. Sosok Reinhart yang berlumuran darah berdiri di tempatnya sambil menghancurkan sebagian pedang uang muncul di sekitarnya.
'Sudah kuduga. Bahkan jika mengetahui jurus ultimate karakter itu, masih sulit untuk melawannya.'
Reinhart berpikir dengan ekspresi datar. Banyak luka muncul di tubuhnya. Menunjuk William dengan pedang, pemuda itu masih ingin mencoba.
"Aku belum kalah."
Mengatakan itu, lingkaran sihir raksasa muncul di belakang Reinhart.
"Benar-benar keras kepala."
William mengangkat tangannya. Saat itu juga, ribuan pedang melayang ke arahnya. Langsung berputar di langit ... tepat di atas tangannya.
"Apakah kamu benar-benar ingin mati?"
Melihat ke arah pemandangan dimana ribuan pedang menunjuk ke arahnya, napas Reinhart menjadi lebih berat.
Dia mencengkeram erat pedang di tangannya. Seluruh tubuhnya diselimuti oleh kilat. Memiliki ekspresi penuh tekad, dia berkata.
"Aku belum kalah, Bodoh! Thousand Lightning Sparrows!!!"
Seratus lightning sparrow langsung melesat ke arah William, sementara Reinhart sendiri juga maju dengan ganas. Hanya saja, William tidak diam dan berkata.
"Jika kamu ingin mati, aku akan mengabulkan permohonanmu! RAIN OF SWORDS!!!"
Ribuan pedang langsung melesat ke arah Reinhart dengan ganas.
BLARRR!!!
Ledakan keras tercipta. Saat itu, suara teriakan histeris dan ketakutan terdengar. Lagipula, dalam sekali lihat, semua orang tahu siapa pemenangnya.
Asap mulai memudar. Ribuan pedang menancap ke lantai arena. Namun, ada area dimana tida tampak ada pedang, tetapi hanya serpihan-serpihan logam.
Ya ... itu adalah tempat Reinhart berdiri!
Melihat seluruh tubuh Reinhart dari ujung rambut sampai ujung kaki berwarna merah karena darah, tetapi masih berdiri sambil memegang pedangnya membuat semua orang terkejut. Bahkan Raja dan Ratu juga kagum dengan kegigihan pemuda itu.
"Aku menghargai dirimu, Pangeran Reinhart! Ini ... adalah pertama kali aku menghormati seseorang di usia yang sama denganku!
Kamu benar-benar luar biasa!"
William berteriak dengan ekspresi kaget dan kagum. Dia tidak menyangka bahwa masih ada orang yang bisa menyaingi dirinya di usia yang sama.
"Kali ini kamu yang harus diam, Sobat!"
Reinhart masih berkata dengan tubuh sedikit gemetar. Bukan hanya tidak menyerah, adrenalin pemuda itu malah terpicu. Dengan senyum di wajahnya, Reinhart berkata.
"Sebenarnya aku tidak ingin menggunakan ini. Hanya saja, entah kenapa ... aku merasa bersemangat. Aku merasa ingin menang!
Jadi, maaf ... aku sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi!"
Melihat kondisi parah Reinhart, William yang kelelahan setelah menggunakan sihir ultimate miliknya mengerutkan kening.
"Apakah kamu sudah gila?"
Mengabaikan pertanyaan William, Reinhart tersenyum dengan wajah dan tubuh yang dinodai darah.
"Aku mengambil nama sihir ini dari nama teknik seorang pria licik berambut perak dengan mata sipit yang mendapatkan julukan "Sang Ular".
Dia menipu musuhnya, menipu temannya, menipu orang yang dia sayangi, bahkan menipu dirinya sendiri ... hanya untuk membalas dendam.
Meski banyak yang membencinya, tetapi entah bagaimana, aku menghormati jalan hidup orang itu. Selain itu, nama tekniknya juga keren ... jadi aku mengambilnya sebagai referensi."
Mendengar Reinhart yang masih berbicara tidak jelas, William langsung berkata.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu katakan! Kamu sekarat! Jika tidak menyerah sekarang, kamu akan mati!"
"Coba saja tahan serangan ini."
Reinhart berkata dengan wajah datar.
Dia kemudian membuat kuda-kuda dengan tangan kiri di depan dan tangan kanan memegang pedang di samping, seolah akan menusuk William yang berada puluhan meter jauhnya.
Melihat ke arah Reinhart yang gila, William tampak kecewa. Sebuah lingkaran sihir raksasa muncul di tanah. Ribuan bilah pedang yang berada di tanah melayang lalu menyatu, membuat sebuah dinding besar, tinggi, dan tebal uang terbuat dari susunan pedang.
"Metal magic ... Wall of Swords!"
Melihat dinding besar uang sulit ditembus itu, Reinhart tersenyum puas. Lima lingkaran sihir kecil muncul pada pedangnya. Mengabaikan orang-orang atau William yang menganggapnya gila, dia malah berkata.
"Wahai petir di tanganku, bergegaslah sampai tiada yang melihatmu ..."
"Wahai petir di tanganku, tembuslah semua yang mencoba menghalangimu ..."
"Wahai petir di tanganku, lenyapkan semua yang menghalangi pandanganmu ..."
"Wahai petir di tanganku, hancurkanlah semua musuhmu ..."
"Tembus semua makhluk yang menghalangi jalanmu ..."
Lima lingkaran sihir kecil yang berada di pedang Reinhart berputar lalu menyatu dengan pedang. Merubah pedang menjadi sebuah pedang cahaya berwarna putih.
Melihat itu, sang Raja terkejut. Bersama dengan dengan embusan angin, dia menghilang dari tempatnya dan muncul di depan William sambil mengulurkan tangannya. Sebuah lingkaran sihir hijau raksasa muncul dan berubah menjadi perisai angin semi transparan yang muncul di belakang Wall of Swords sebagai tindakan pencegahan.
Mengabaikan sosok Raja, Reinhart yang telah fokus dengan mantranya tidak menghentikan tindakannya. Dengan ekspresi tak acuh di wajahnya, pemuda itu membuat gerakan menusuk dan berkata.
"Kamishini no Yari!"
(Tombak pembunuh Dewa!)
Semua orang terdiam. Colosseum raksasa langsung menjadi sunyi. Pada saat semua orang terkejut dan bingung, suara cermin retak terdengar di telinga semua orang.
Wall of Swords, kemudian sihir perisai angin raksasa, bahkan perisai sihir pelindung yang melindungi bagian luar arena tiba-tiba retak.
PYARRR!!!
Di depan mata semua orang, bukan hanya Wall of Swords, tetapi juga perisai sihir dan pelindung sihir yang seharusnya bisa menahan serangan sihir di puncak level 4 itu pecah. Hancur berkeping-keping menjadi serpihan.
Memudar menjadi jutaan kepingan cahaya indah sebelum sirna di depan mata semua orang.
Sang Raja yang mengulurkan tangannya juga terkejut melihat sebuah luka tusukan yang menembus telapak tangannya.
'Sejak kapan???'
Raja sama sekali tidak terlihat marah, tetapi malah menatap telapak tangannya yang ditembus dengan ekspresi heran. Saat itu juga, dia melihat ke arah Reinhart. Entah sejak kapan, sebuah garis tipis muncul di arena. Sangat tipis hingga orang-orang mungkin tidak melihat ...
Bahwa lantai arena telah dibelah menjadi dua!
'Ini ...'
Ekspresi tercengang terlihat di wajah Raja, tetapi segera kembali normal. Dia kemudian berkata.
"Karena Reinhart telah menggunakan sihir berbahaya yang mengancam nyawa lawannya, maka sesuai dengan peraturan ...
Reinhart dianggap melanggar peraturan sehingga pemenang pertandingan kali ini adalah William!!!"
"..."
Colosseum raksasa masih sunyi, bahkan pembawa acara lupa untuk berkata-kata. Setelah beberapa saat, semua orang baru sadar.
"Apa-apaan sihir tadi? Tadi sihir, kan?"
"Aku tidak tahu! Tiba-tiba semuanya hancur begitu saja!"
"Aku tidak berkedip, tetapi aku juga tidak melihatnya!"
"Sihir cahaya? Sihir ruang?"
"Bukankah jelas Pangeran Reinhart bilang itu petir?!"
"Omong kosong suci! Bagaimana hal semacam itu bisa dianggap sebagai petir?!"
"Mana aku tahu! Itulah yang aku dengar!"
"Tapi kenapa Yang Mulia Raja menyebut Pangeran Reinhart melanggar aturan? Bukankah William juga menggunakan Grave of Swords?"
"Itu berarti Yang Mulia Raja percaya bahwa sihir milik William tidak akan membunuh Pangeran Reinhart. Sebaliknya, tampaknya sihir Pangeran Reinhart bisa membunuh William dalam sekejap.
Bayangkan saja jika tidak ada Yang Mulia Raja!"
"Benar-benar mengerikan ..."
"..."
William menatap punggung Raja. Melihat ke arah Reinhart yang masih berdiri di sisi lain dengan tubuh dipenuhi luka dan darah ... ekspresinya rumit.
"..."
William merasa dirinya terlalu sombong, tetapi sekarang menyadari bahwa dirinya hanyalah katak dalam sumur. Dia tidak bisa mengatakan sepatah kata. Peraturan memang menyatakan dirinya menang. Pemuda itu menjadi juara turnamen ini. Namun William sendiri tahu ...
Dia sebenarnya kalah melawan Reinhart!
>> Bersambung.