
Dalam gerbong kereta.
“Jadi, katakan alasanmu membohongi kami, Devy.”
Reinhart menatap ke arah Devy dengan ekspresi tak acuh. Sementara Aiden dan tiga gadis tampak rumit. Lagipula, meski belum lama kenal, mereka menganggap gadis itu sebagai teman mereka sendiri.
“Tidak ada alasan. Anda boleh membunuhku atau melakukan apa yang anda inginkan. Lagipula, yang kalah adalah pecundang.”
Melihat Devy duduk tanpa ekspresi di sudut, Reinhart mengangkat alisnya. Pemuda itu kemudian berkata dengan nada dingin.
“Jawab saja pertanyaanku.”
“Aku hanya seorang kakak yang ingin menyelamatkan adiknya. Tidak kurang, tidak lebih. Sama dengan banyak kakak-kakak lain di luar sana. Hanya berbeda caranya.
Aku memilih nyawa adikku daripada nyawa kalian, orang-orang yang tidak aku kenal. Namun siapa sangka, ternyata kalian bukan anak manja seperti yang seharusnya. Bahkan, Jordan … orang itu benar-benar mengkhianatiku.”
“...”
Reinhart melihat ke arah Devy yang tampak mati rasa. Kelihatannya, memang di bawah (kehidupan para rakyat bawah), mengkhianati orang atau menusuk orang lain sudah terlalu biasa. Atas nama kehidupan yang lebih baik, atas nama ‘bertahan hidup’ … mereka saling menggigit seperti binatang kelaparan.
Reinhart tidak langsung bicara, sebaliknya, dia malah duduk di sebelah Devy. Melihat langit-langit gerbong yang tampak cukup kotor, pemuda itu akhirnya membuka mulutnya.
“Hidup itu … sesuatu yang terlalu rumit untuk dipahami sepenuhnya.”
“...”
“Aku tidak tahu masalahmu, tetapi jika itu masalah berbisnis, aku masih memiliki prinsip. Jadi …”
Reinhart melirik ke arah Devy yang menunduk dengan ekspresi kosong.
“Aku akan mencoba membantumu untuk mendapatkan kembali adikmu. Namun sebagai gantinya, kamu benar-benar harus membantu kami. Aku tidak memaksamu untuk melakukannya. Namun, ini adalah prinsip mengambil dan menerima.
Apakah kamu mau melakukannya?”
“Apakah anda tidak takut saya akan mengkhianati anda lagi?”
Bukannya langsung menjawab ketika diberi kesempatan, Devy malah balik bertanya. Dia kemudian menatap ke arah Reinhart dengan ekspresi penasaran.
“Kamu pastinya sudah tahu, kalau aku tidak akan memercayaimau seutuhnya. Juga, kamu harusnya tahu … apa yang akan terjadi jika benar-benar tertangkap ketika mengkhianatiku. Sungguh, apa yang mungkin aku lakukan padamu atau adikmu lebih buruk dari apa yang dilakukan berandalan kecil itu, sampai-sampai, kamu tidak akan bisa membayangkannya.”
Reinhart berbicara dengan begitu santai. Suarnya monoton, seolah tidak sedang membicarakan kehidupan atau kematian seseorang, tetapi hal-hal acak.
“Seberapa percaya diri anda untuk menyelamatkan adik saya?”
“Setidaknya, pemimpin Emerald Spider, puncak Master Knight yang belum menembus Grand Master Knight tidak akan bisa menghentikanku.”
“Anda … Anda bahkan sudah tahu kalau bandit yang menguasai jalan antara Kota Wind Prairie dan Kota Roscars adalah Emerald Spider?”
“Ya. Hanya kelompok kecil, tetapi bisa dibilang … cukup terorganisir untuk sebuah kelompok kecil.”
“Tentu saja tidak. Jika mengetahuinya, kenapa aku perlu menyewa pemandu dan mencari informasi lebih mendetail?”
“Itu … anda benar.”
“Lalu, bagaimana dengan jawabanmu?”
“Saya … saya setuju. Namun …” Devy menatap tepat ke mata Reinhart. “Bahkan jika menggunakan cara dengan mengorbankan saya, tolong bantu dan selamatkan adik saya.”
Tuk!
Reinhart langsung menjentikkan jari ke dahi Devy.
“Jangan berbicara hal bodoh. Jika kamu mati, bagaimana dengan adikmu? Apa yang akan dia lakukan bahkan jika dia selamat? Dia hanya akan sekarat di pinggir jalan atau dipungut oleh geng lain. Jadi …
Berusahalah agar tidak mati dalam misi ini.”
Melihat ke arah Reinhart sambil memengangi dahinya, Devy berkata dengan ekspresi tegas.
“Baik!”
***
Beberapa jam kemudian, di luar tembok kota.
Di barat tembok Kota Roscars, ada hutan. Di sana, tampak beberapa sosok. Ya, mereka adalah Reinhart dan rekan-rekannya.
Menurut Devy, daripada masuk dari pintu depan, mereka harus menyusup masuk dari belakang. Menurut gadis itu, Kota Roscars sendiri sudah tidak aman. Jika mereka masuk dari depan, pasti akan ada yang melapor kepada kelompok Emerald Spider, jadi untuk amannya, mereka masuk lewat jalan rahasia.
Lebih tepatnya, sebuah lubang berukuran sedang yang tersembunyi di semak-semak tembok barat kota. Kali ini, bukan hanya Devy, tetapi pemuda yang tersisa juga ingin membantu Reinhart, dan telah membuat perjanjian. Mereka sendiri bahkan tidak tahu kalau ada lubang di sana.
Tampaknya, lubang itu memang ditemukan oleh Devy secara tidak sengaja.
“Bisakah kita lebih lambat?”
Mendengar suara tersebut, Reinhart menoleh ke sumber suara.
Di sana, tampak sosok Aiden yang cukup kelelahan karena harus berjalan memutar tanpa menggunakan kereta kuda. Lagipula, meski pertahanan fullplate armor kuat dan penampilannya keren, armor tersebut juga membatasi mobilitas penggunanya. Tentu saja, ada yang bisa disesuaikan, tetapi … mereka hanya membeli di toko, jadi bukan tipe yang disesuaikan.
Melihat ke arah Aiden yang terengah-engah, sudut bibir Reinhart berkedut.
‘Lihat dirimu. Bukankan kamu yang paling bersemangat di awal?’
Melihat temannya seperti akan sekarat kapan saja, Reinhart menghela napas sembari berkata.
“Istirahat sebentar. Lagipula … kita akhirnya sudah sampai kota.”
>> Bersambung.