
"Karena kita telah membuang banyak waktu ... mari bergerak sekarang."
Reinhart bangkit dari tempat duduknya lalu berkata dengan nada santai.
'Bukankah itu karena anda terlalu malas, Pangeran Reinhart?'
Renald tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya. Namun dia juga tidak berani berbicara langsung. Selain karena takut, pemuda itu telah mendapatkan banyak keuntungan dari Reinhart. Karena ...
Selama Reinhart melakukan pertarungan sengit melawan pemimpin kawanan monster, beberapa monster di bawahnya juga akan terluka. Hal itu membuat Renald bisa mendapatkan buruan dengan lebih sedikit usaha.
Belum lagi, Renald bisa mendapatkan poin lebih banyak daripada apa yang seharusnya bisa dia capai!
'Aku baru tahu kenapa orang-orang suka menjilat. Ternyata, mengikuti orang besar itu sangat nyaman! Cukup buang rasa malu, dapatkan banyak keuntungan!'
Mengikuti Reinhart beberapa hari, mentalitas Renald yang telah dididik oleh kakeknya selama bertahun-tahun benar-benar mulai runtuh!
Renald mengikuti Reinhart yang bergegas menuju ke timur.
"Omong-omong ... kenapa kita menuju ke timur, Pangeran Reinhart? Bukankah lebih baik langsung menuju ke arah hutan yang lebih dalam?"
"Apa yang kamu tahu? Jade Horned Rabbit ada di timur, dan tidak ada di area lebih dalam."
"Eh??? Monster itu ... bukankah monster level rendah? Hanya level 1, paling baik level 2?" Renald bertanya dengan ekspresi penuh dengan keraguan.
"Memangnya ada yang salah dengan itu?"
Reinhart melirik ke arah Renald dengan tatapan dingin. Tampaknya tidak puas dengan pemuda yang mempertanyakan keputusannya, padahal hanya mengikuti dan tidak banyak membantunya.
"Tentu saja tidak, Pangeran Reinhart! Saya hanya bertanya."
Memiliki mental 'pengikut' yang kuat, tentu Renald masih tenang. Meski terkadang takut, dia tidak akan mundur dengan mudah.
"Intinya, kita akan—"
Belum menyelesaikan ucapannya, Reinhart langsung melompat mundur beberapa meter.
Swoosh!
Sebuah anak panah tiba-tiba melesat dan menancap ke tanah tepat Reinhart sebelumnya berdiri.
Menoleh ke asal anak panah tersebut, tampak sosok pemuda yang duduk di atas cabang pohon besar, menatap ke arah Reinhart dan Renald dengan wajah dingin. Tanpa sadar, sudut bibir pemuda itu terangkat.
"Sepertinya anda benar-benar sekuat yang dirumorkan, Pangeran Reinhart."
Tubuh ramping, tinggi, kulit putih pucat. Rambut hitam panjang diikat ke belakang, wajah tampan dengan ekspresi dingin. Dua iris mata hijau yang tampak mempesona. Pemuda itu memakai armor ringan sambil memegang busur. Di punggungnya, tampak tempat anak panah. Ada juga sebuah pedang pendek di kedua sisi pinggangnya.
Dari penampilannya, pemuda itu tampak seperti gabungan antara bangsawan elegan dan seorang pemburu profesional.
"Anda—"
Sebelum Renald selesai bicara, suara dingin Reinhart terdengar.
"Pangeran Leander ..."
Melihat sosok itu, Reinhart tidak bisa tidak mengeluh dalam hati.
'Kenapa aku harus bertemu dengan pemuda gila ini? Kita tidak saling kenal, kan? Bukankah aku telah berusaha menghindarinya?'
Dibandingkan dengan Aiden, Zale, atau Flint yang meski agak menyebalkan tetapi masih terbilang berpikiran cukup sederhana, Reinhart memilih untuk menjauhi Leander yang dia anggap rumit dan merepotkan.
Sementara Reinhart merasa kesal, Leander sempat terkejut, tetapi dengan cepat kembali tenang. Dia memiringkan kepalanya sembari bertanya.
"Tidak menyangka, ternyata anda mengenal saya, Pangeran Reinhart. Itu sebuah kehormatan bagi saya. Juga—"
"Berhenti bersikap munafik, K-parat! Apa yang kamu inginkan? Aku tidak memiliki banyak waktu untuk dihabiskan denganmu."
"..."
Sekali lagi Leander terkejut dengan sikap Reinhart yang ternyata cukup blak-blakan. Sementara itu, sudut bibir Renald berkedut. Melihat sosok Reinhart, dia langsung mengeluh dalam hatinya.
'Bukankah anda menghabiskan empat hari, termasuk sebelum bertemu dengan saya dengan cara begitu santai, Pangeran Reinhart? Sejak kapan anda begitu sibuk? Benar-benar langsung mengusir orang? Belum lagi ...
Itu pangeran dari Kerajaan besar lain!'
Leander tersenyum.
"Menarik ... Anda benar-benar menarik, Pangeran Reinhart."
Setelah mengatakan hal itu, Leander menyentuh tas dimensi miliknya. Pada saat itu, Reinhart langsung menarik pedang miliknya. Menatap ke arah pangeran dari Kerajaan Angin itu dengan ekspresi tak acuh. Namun, apa yang terjadi setelahnya benar-benar berbeda dari dugaan pemuda itu.
Bruk!
Reinhart melihat tiga kelinci dengan panjang sekitar satu meter. Setiap kelinci memiliki bulu putih, dengan sebuah tanduk seperti giok di atas kepalanya. Meski hanya level 1, tetapi makhluk tersebut cukup langka.
Sebelum Reinhart bicara, Leander tiba-tiba berbicara terlebih dahulu.
"Saya tanpa sengaja mendengar apa yang kalian bicarakan. Kebetulan, saya datang dari sisi timur. Anggap saja sebagai permintaan maaf dari saya."
Reinhart memeriksa kelinci lalu menyimpannya. Masih memiliki ekspresi tak acuh, dia berkata.
"Dimaafkan."
"..."
Renald yang berdiri tidak jauh darinya tertegun. Benar-benar bingung harus menangis atau tertawa.
'Bukankah itu memalukan, Pangeran Reinhart? Kamu menerima hadiah dari orang yang kamu usir, kan? Apakah harga dirimu tidak tergores karena ini?'
Jika Reinhart tahu apa yang dipikirkan oleh Renald, dia pasti akan menjawab.
'Harga diri tidak membuatmu kenyang, Bung!'
Ucapan Reinhart membuat Leander yang tampak dingin kembali tersenyum.
"Aku mendengar, ada monster level 4 yang aktif di area tengah. Tampaknya baru-baru ini muncul. Jadi, saranku ... lebih baik segera mundur ke tempat aman jika sudah menyelesaikan perburuan."
Mendengar ucapan Leander, Reinhart yang sebelumnya tampak dingin langsung terkejut. Dia tiba-tiba memikirkan makhluk yang seharusnya muncul tahun depan, tepat ketika Heroine melakukan ujian semester pertamanya.
Memikirkan makhluk tersebut, ekspresi Reinhart menjadi lebih buruk.
'Omong kosong suci ... bukankah makhluk itu seharusnya tidak muncul sekarang? Apa-apaan dengan semua ini!'
>> Bersambung.