
Setelah menunggu beberapa waktu, hidangan akhirnya disajikan.
"Borsch, kah?" gumam Reinhart ketika melihat melihat sup merah di depannya.
Di dunia sebelumnya, borsch sendiri adalah masakan khas utara. Sebuah hidangan yang berbahan dasar ubi bit merah, dimasak dengan pasta tomat, sayur, dan daging. Ada juga yang menambahkan sosis atau bahan lain. Selain itu, ada juga borsch vegan.
Intinya, borsch adalah masakan sup khas utara dengan berbagai isian berbeda-beda.
Tentu saja, borsch di dunia ini memiliki bahan yang berbeda. Bahkan lebih nikmat dari pada apa yang Reinhart makan di kehidupan sebelumnya.
Selesai makan, Reinhart menikmati anggur dan suasana pub. Meski bukan kota besar, tempat yang sedikit kacau ini masih cukup ramai.
Saat itu, pintu depan pub terbuka.
"Beri aku minuman terbaik!"
Suara wanita kasar terdengar. Semua orang menoleh ke sumber suara.
Di sana, tampak sosok wanita tampak berusia sekitar akhir dua puluhan. Tubuhnya berlebihan lemak, wajahnya juga tampak agak mengerikan. Biasa saja, tetapi malah menjadi seram karena bedaknya dan kosmetik yang begitu tebal.
Semua orang langsung mengalihkan pandangan. Mereka sebenarnya marah, tetapi tidak berani mengatakan apa-apa karena gaun bangsawan yang dipakai wanita itu.
Di belakang wanita itu, tampak sosok pemuda di usia awal dua puluhan. Dibandingkan dengan kebanyakan orang di pub, dia terlihat lebih tampan.
Sedangkan identitasnya? Ya ... terlihat jelas kalau orang itu adalah 'pelayan' wanita tersebut.
Setelah melirik sebentar, Reinhart kemudian mengabaikan mereka.
Wanita itu berjalan ke bartender lalu meminta minuman. Setelah menerimanya, dia hendak duduk di kursi terdekat tetapi ekspresinya tiba-tiba berubah saat melihat ke sudut dekat jendela.
"Sungguh lelaki yang sangat tampan!" seru wanita itu.
Wanita tersebut kemudian berjalan ke arah Reinhart dengan gaya bak model, tetapi malah membuat seluruh lemaknya bergoyang. Benar-benar tampak mengerikan, tetapi tidak ada orang yang berani menertawakannya.
"Hey, Tampan! Duduk sendirian?"
"Jika anda memiliki mata, anda bisa melihat kalau saya sendiri, Nona." Reinhart menjawab datar.
Mendengar ucapan tidak sopan Reinhart, ekspresi wanita itu sedikit berubah.
"Bolehkah aku duduk di sini? Tidak keberatan ditemani oleh wanita cantik, bukan?"
"Pertama, saya datang ke sini untuk bersantai dan menikmati waktu sendiri. Jadi saya menolak.
Kedua, bukankah ada cermin di rumah anda, Nona? Jika ada hiasan-hiasan di jalanan, pasti saya sudah mengira anda adalah peserta lomba karnival menakut-nakuti anak."
Ekspresi di wajah wanita itu langsung berubah menjadi suram. Saat itu, lelaki di belakangnya berteriak marah.
"Apakah kamu tahu siapa wanita hebat ini?! Dia—"
"Putri seorang Baron yang berkhayal kalau dirinya adalah Ratu. Berpikir kalau dia bisa merubah dunia dengan lambaian tangannya.
Mohon maaf? Mungkin bumi akan bergetar ketika dia menghentakkan kakinya (karena beratnya). Namun untuk merubah dunia, itu angan-angan belaka."
"Kamu—"
"Omong-omong, saya penasaran. Bagaimana rasanya menghabiskan malam dengan seekor gorila betina?
Maksud saya ... tampaknya hal tersebut lebih berbahaya daripada bertarung dengan beruang raksasa atau berenang bersama pada paus pembunuh."
"Pfftt!!!"
Semua orang di pub tidak lagi bisa menahan tawa. Mereka semua akhirnya tertawa meski mungkin membuat wanita itu marah.
Benar saja, wanita itu berteriak marah dan membanting meja. Namun sebelum melanjutkan, tekanan dari penyihir petir circle empat membuatnya dan pengikutnya ketakutan.
"Pergi untuk mengadu kepada ayahmu sekarang. Saya yakin dia akan marah dan memukuli anda karena merasa tidak lebih baik daripada membesarkan seekor gorila.
Sebelum saya melakukan hal-hal kejam, tolong angkat kaki dari tempat ini. ENYAH!"
Mendengar ucapan Reinhart, keduanya pergi dengan marah. Mereka bahkan bersumpah untuk membalas, tetapi Reinhart sama sekali tidak memedulikan hal tersebut.
Reinhart mengangkat gelasnya lalu berkata.
"Maaf atas keributannya, Tuan-tuan. Silahkan lanjutkan apa yang kalian lakukan."
Setelah bersantai sejenak untuk mencerna makanan, Reinhart pergi membayar. Saat itu juga, gadis yang bertugas berkata.
"Pemilik telah menunggu anda, Tuan."
"Antar aku ke sana."
"Baik."
Mengikuti gadis itu, Reinhart pergi ke belakang. Dia langsung diantar ke kantor wanita cantik sebelumnya.
"Saya telah membawa tamu terhormat, Pemilik."
"Baik."
Setelah gadis itu pergi, pintu kantor terbuka dan suara wanita itu kembali terdengar.
"Masuk."
"..."
Reinhart mengangguk ringan kemudian masuk ke dalam kantor. Ketika dia masuk, pintu kantor ditutup bahkan dikunci. Dua memeluk dari belakang lehernya. Aroma parfum langsung masuk ke indera penciumannya.
"Roberta."
"Hm?" Reinhart mengangkat alisnya.
"Namaku Roberta. Kamu tidak akan bersenang-senang tanpa mengetahui nama wanita itu, kan?
Bagaimana denganmu, Tampan? Siapa namamu?"
Reinhart melepaskan tangannya yang memeluknya dari belakang. Dia kemudian berjalan ke kursi lalu duduk di sana. Roberta mengikuti lalu dengan berani duduk di pangkuannya.
"Kenapa kamu hanya diam saja, Tampan?"
"Namaku Reinhart. Aku tidak peduli kenapa master knight (level 3) yang masih muda sepertimu bersembunyi di tempat seperti ini. Aku juga tidak tertarik untuk bermain-main.
Jadi langsung saja ke bisnis, Nona Roberta."
Roberta sempat terkejut tetapi segera merubah ekspresinya menjadi normal. Saat itu juga, dia hendak mendekat ke wajah Reinhart, tetapi gerakannya terhenti ketika melihat belati dingin menempel di lehernya.
"Kamu benar-benar membosankan, Tampan.
Apa salahnya untuk menghabiskan satu malam? Aku sama sekali tidak akan meminta pertanggungjawaban darimu~"
Roberta bangkit lalu berjalan menjauh dan duduk di atas meja. Karena memakai rok pendek, Reinhart bisa melihat apa yang ada di dalamnya.
Meski jantung berdebar, Reinhart masih memasang ekspresi datar.
"Maaf saja, aku bukan orang yang berpikiran terbuka tentang hubungan. Aku menjaga diri dan aku ingin melakukannya dengan orang yang memang aku suka.
Langsung saja, katakan harganya dan kita selesaikan semuanya."
"Aku suka tatapan dingin itu," ucap Roberta. Wanita itu menjilat bibirnya dengan wajah menggoda. Mengedipkan mata lalu bertanya, "Apakah kamu yakin, Tampan? Jika kamu mau melakukannya, aku bisa memberimu diskon. Situasi sama menang, bukan?"
"Aku tidak kekurangan uang," ucap Reinhart.
"Sungguh mengecewakan. Namun bisnis adalah bisnis. Aku akan memberimu semua informasi yang relevan selama kamu membayar dengan harga ini ..."
Roberta membuat isyarat dengan tangannya.
Reinhart melambaikan tangannya secara acak. Kantong berukuran cukup besar jatuh di atas meja.
"Selama kamu informasinya benar dan kamu tidak berbohong, kamu boleh mengambil semuanya."
Roberta mengambil kantong tersebut lalu membukanya. Melihat isinya, matanya langsung berbinar.
"Tampaknya kamu benar-benar sangat kaya, Tampan. Apakah kamu tidak takut dirampok jika berita ini tersebar?"
Mendengar pertanyaan itu, Reinhart menatap tepat ke mata Roberta. Saat itu juga, niat membunuh meletus.
"Hanya orang-orang di kota kecil ini? Mereka boleh mencobanya."
"Sangat mendominasi. Membuatku semakin suka~" ucap Roberta dengan senyum menggoda.
"..."
Melihat Reinhart hanya diam, Roberta menggelengkan kepalanya. Dia kemudian turun dari meja, pergi ke rak buku lalu memilah cukup banyak kertas yang tersembunyi di dalam buku.
Setelah beberapa waktu tumpukan kertas tebal disusun rapi di atas meja.
"Sebenarnya aku melakukan pengumpulan informasi ini karena iseng. Lagipula, tidak banyak orang yang bersedia membeli informasi semacam ini.
Tentu saja, kamu adalah pengecualian, Tampan. Jadi ... kenapa kamu memerlukan informasi ini? Untuk membangun basis di kota kecil ini? Membuat kelompok sendiri?"
"Tidak." Reinhart menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
"Hanya menambah wawasan."
"Heh~ Sungguh berhati-hati?"
Mendengar pertanyaan itu, Ark menghela napas panjang. Menatap ke arah Roberta, dia berkata.
"Tentu saja, aku tidak ingin main-main dengan kehidupanku sendiri."
>> Bersambung.