
Keesokan harinya.
Tidak seperti biasanya, Reinhart yang selesai sarapan bersama keluarga kembali ke kamarnya. Di sana, dia mengganti pakaian bangsawan menjadi pakaian serba hitam, lengkap dengan jubah hitam bertudung yang menutupi seluruh tubuhnya.
Dia melihat tiga benda yang ada di atas meja belajarnya. Satu kalung dengan liontin hitam, satu gelang kayu hitam dengan ukiran aneh, dan sebotol kecil ramuan.
"Dua item yang berguna untuk kamuflase, ramuan penyembunyian, dan sihir. Dengan ini, setidaknya semua akan berjalan lebih aman. Selain itu ..."
Reinhart menatap ke luar jendela. Melihat awan gelap yang menutupi langit, pemuda itu mengangguk puas.
"Ini benar-benar waktu yang tepat. Bahkan alam mendukungku. Apakah ini jenis buff luck atau semacamnya?"
Reinhart tersenyum lembut. Mengenakan kalung dan gelang, pemuda itu kemudian menunggu.
Setelah beberapa saat, dia melihat sebuah kereta kuda yang berhenti di depan pintu depan istana. Pemuda itu kemudian meminum ramuan lalu memakai topeng polos berwarna putih yang hanya menunjukkan rongga matanya.
"Saatnya untuk beraksi."
Mata Reinhart menyempit ketika mengatakan itu. Saat itu juga, bayangan di bawah kakinya menggeliat, bergerak seolah hidup. Pemuda itu kemudian berjalan menuju ke area gelap sebelum akhirnya menghilang dalam kesunyian.
***
Siang harinya, di sebuah restauran kecil nan indah.
Di dalam restoran paling tua di ibukota tersebut, Reinhart mengangkat alisnya. Dia bersembunyi di tempat gelap sambil terus memandang ke dalam ruangan tempat ibunya dan beberapa sosok wanita bangsawan yang berkumpul bersama.
Reinhart diam-diam menghela napas.
'Sungguh, keamanan yang sangat buruk.'
Memikirkan hal tersebut, Reinhart tidak bisa tidak menggelengkan kepalanya. Dia merasa, keamanan tempat ini terlalu buruk. Selain itu para penjaga yang mengawal datang dan perginya para wanita bangsawan ini juga benar-benar tidak bisa diandalkan.
Meski berhati-hati, Reinhart sudah menyiapkan berbagai sarana untuk melarikan diri jika ketahuan. Namun siapa sangka, bukan hanya tidak ketahuan, dia benar-benar bisa mengawasi para wanita bangsawan tersebut dengan tenang.
'Terlalu buruk! Wanita-wanita ini bahkan tidak memiliki rasa krisis dan siaga sedikit pun!'
Pada saat para wanita itu berkumpul, Reinhart langsung mengenali mereka. Kebanyakan dari mereka adalah istri bangsawan yang pergi ke ibukota untuk menghadiri pesta tahun baru yang biasanya dibuat oleh Raja Aaron.
"Anda benar-benar tampak luar biasa, sama sekali tidak berubah, Ratu Evelyn."
"Iya, anda tampak begitu cantik seperti biasa. Benar-benar awet muda."
"Pantas saja Yang Mulia Raja benar-benar sangat lengket dengan anda. Bisakah anda memberi tips, Ratu Evelyn?"
"..."
Mendengar ucapan para wanita yang begitu antusias dengan ibunya, Reinhart benar-benar terdiam. Ibunya memang cantik dan awet muda. Namun kata-kata membuat Raja lengket itu benar-benar tidak cocok.
'Apakah mereka benar-benar lengket? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Mungkin ada yang salah dengan indera penglihatanku?'
Reinhart langsung mencibir dalam hati. Jika bukan karena telah terbiasa, pemuda itu bahkan mengira dirinya telah mati beku karena dinginnya suasana dalam istana. Dibandingkan dengan kehangatan keluarga lain yang mirip musim semi, Keluarga Runegarde benar-benar seperti bencana musim dingin berkepanjangan!
Hanya saja, Reinhart langsung mengabaikan ucapan wanita-wanita lain dan fokus pada ibunya. Dia bahkan menelan ludah, merasa cukup gugup. Bukan karena kecantikan ibunya, tetapi ...
Reinhart benar-benar ingin melihat bagaimana ibunya menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari para bangsawan lain!
Mata Reinhart fokus menatap ibunya. Pada saat itu, apa yang tidak dia harapkan benar-benar terjadi.
"..."
Ratu Evelyn mengangguk ringan sebelum kembali duduk dengan tenang. Sama sekali tidak mengatakan sepatah kata.
"Hehehehe! Seperti yang diharapkan dari Ratu Evelyn, masih menghargai kata-kata seperti emas."
"Bukankah itu juga salah satu pesona Ratu Evelyn? Tidakkah kalian setuju?"
"Tentu saja kami setuju!"
"..."
Melihat para wanita bercanda dan tertawa, Reinhart berdiri mematung di tempatnya. Belum lagi ketika melihat sosok ibunya yang anehnya bisa berbaur padahal tidak mengatakan sepatah kata.
'Hehehe kepala bapak kau! Sungguh! Apakah respon seperti itu normal di dunia ini?'
Reinhart langsung meraung dalam hati. Benar-benar merasa ingin membenturkan kepalanya ke dinding.
Sungguh tidak tahan!
>> Bersambung.