
'Kenapa aku berada di sini?'
Itulah yang ada dalam benak Reinhart sekarang.
Menatap ke arah Aiden, Zale, Flint, dan Xylon ... Reinhart menghela napas panjang. Menoleh ke luar jendela, pemuda itu melihat langit biru dihiasi awan putih mengambang.
Sekarang mereka ada dalam ruangan di sebuah kapal terbang yang menuju ke Kerajaan Lautan Zamrud, nama asli dari Kerajaan Angin.
Kenapa dinamakan Lautan Zamrud bukan karena mereka berada di laut. Sebaliknya, mereka ada di antara banyak pegunungan penuh tebing curam. Di sana, banyak pepohonan hijau bak lautan. Itulah kenapa kerajaan angin memiliki nama asli Kerajaan Lautan Zamrud.
Sedangkan alasan kenapa Reinhart dan yang lainnya pergi ke sana adalah ...
Kompetisi antar akademi top di seluruh benua!
***
Beberapa hari sebelumnya.
"Apa? Apa-apaan ini?!"
Melihat namanya masih tercantum pada liat orang yang akan pergi menuju ke Kerajaan Lautan Zamrud, Reinhart tidak bisa tidak memercayai apa yang ia lihat.
Belum lagi, di sana tertulis bahwa dia tidak datang sebagai peserta, tetapi sebagai asisten pelatih. Sedangkan pelatih itu sendiri adalah Professor Elin.
Dalam benaknya, asisten pelatih biasanya adalah gadis cantik dan imut. Mereka memberi semangat, menyiapkan air, makanan, handuk, dan mengatur jadwal para peserta.
Sama sekali tidak cocok dengannya sama sekali!
Reinhart tiba-tiba merasakan tatapan yang diarahkan kepadanya. Melirik ke sumbernya, pemuda itu melihat sosok Professor Elin berjalan lewat dengan dada membusung dan kepala terangkat tinggi. Namun, meski tidak jelas, Reinhart melihat senyum tipis di wajah wanita itu.
'Selena Novafrost ... jika tidak membuatmu membayarnya, namaku bukan lagi Reinhart!'
Reinhart bersumpah dalam hatinya.
Melihat wanita itu pergi, dia hanya bisa menggertakkan gigi. Melihat papan pengumuman itu, ekspresi Reinhart menjadi suram.
Selain dirinya, Reinhart melihat hampir nama-nama para gadis yang cukup terkenal karena kecantikannya. Sedangkan untuk perwakilan dalam kompetisi antar akademi, baik laki-laki ataupun perempuan ... semuanya adalah nama yang pemuda itu kenal.
"REINHART!!!"
Suara teriakan serempak terdengar.
Menoleh ke kiri-kanan, Reinhart melihat sosok Aiden dan Zale. Keduanya langsung menghampiri dirinya.
"Apa maksud dari semua ini?!"
"Ya! Apakah kamu memandang rendah kami?!"
"Kamu pasti berpikir kalau kami tidak pantas menjadi lawanmu. Kamu ingin melihat pertandingan tanpa ikut serta, itulah kenapa kamu mengambil alih tugas asisten pelatih!
Padahal, kamu pasti menganggap kami tidak setara! Kamu merasa bisa menyaingi para pelatih!"
"Tunggu saja! Aku akan menunjukkan padamu bahwa aku juga tidak sama dengan murid-murid biasa ini! Akulah yang akan menjadi juaranya!"
"Tentu saja aku yang akan menjadi juaranya!"
"Apa kamu bilang, Kucing Liar?!"
"Seharusnya aku yang menanyakan itu, Cacing Laut?!"
Keduanya saling memandang. Reinhart yang berada di antara mereka tercengang. Dia tidak menyangka kalau keduanya masih begitu kekanak-kanakan.
"Kita lihat saja nanti!!"
Keduanya saling menunjuk. Setelah itu, mereka pergi. Benar-benar kejadian random yang membuat Reinhart bingung harus berkomentar bagaimana.
Hanya saja, dari apa yang kedua orang itu perbuat Reinhart dapat menyimpulkan sesuatu.
Tampaknya, Professor Elin ... wanita itu menggunakan popularitasnya untuk memacu semangat juang para peserta.
Masalahnya, Reinhart sekali lagi merasa bahwa dirinya kembali dimanfaatkan!
Melihat bahwa semua telah dilaporkan kepada kepala sekolah dan tidak lagi dirubah, Reinhart akhirnya hanya bisa menggertakkan gigi dan menerima bahwa dirinya sama sekali tidak bisa lolos dari wanita kejam itu.
Setidaknya, sampai dirinya lulus!
***
Kembali ke waktu sekarang.
"Omong-omong, dimana pria penyendiri itu? Siapa lagi namanya? Er ... Leander?"
Zale tiba-tiba bicara. Setelah itu, ruangan menjadi sunyi.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Sosok Leander memasuki ruangan dan duduk. Merasakan tatapan para pangeran lain, dia mengangkat alisnya.
"Apa?"
"Kamu dari mana?" tanya Zale.
"Mengirim surat."
"Oh ..." Zale mengelus dagu.
"Kalau tidak salah, kamu pangeran dari Kerajaan Lautan Zamrud, kan?"
"Benar."
"Lalu, kenapa kamu perlu mengirim surat? Padahal, kamu akan segera kembali ke kampung halamanmu, kan?"
"Tentu karena kami akan menyambut kedatangan Reinhart."
Mendengar jawaban polos Leander, semua orang langsung menatap ke arah Reinhart. Sebagai orang yang ditatap, pemuda itu tertegun. Beberapa detik kemudian, dia sadar.
'Kenapa aku bisa melupakan hal penting ini?'
Memikirkan bahwa dia tidak pulang karena menghindari pertunangan, tetapi sekarang ...
Langsung pergi ke rumah mertua?
Reinhart langsung bangkit dari kursinya. Melihat pegunungan di kejauhan, dia membeku.
'Apakah sudah terlambat untuk menyesal sekarang?'
>> Bersambung.