
"Sungguh menyebalkan."
Sampai di kediamannya, Reinhart tampak tenang. Berbeda dengan apa yang dia ucapkan, pemuda itu sebenarnya masih cukup senang.
Reinhart menuju ke dapur lalu membuka lemari. Di sana, tampak banyak barisan Flowreevt Mead berkualitas tinggi memenuhi rak.
Meski terkejut, sebenarnya pemuda itu sedikit berharap kalau gurunya akan meminta oleh-oleh lain. Sebab itu, dia sudah menyimpan lebih banyak dari apa yang sebenarnya dibutuhkan.
"Siapa sangka, dia akan benar-benar akan memeras muridnya sendiri dengan cara halus."
Reinhart tidak bisa tidak mengeluh. Namun, pemuda itu masih mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Menghadapi gurunya yang menjengkelkan, dia memutuskan untuk menerima segalanya. Ya, menerima segalanya.
Paling tidak ... sampai dia lulus dan membalasnya beberapa kali lipat!
"Tuan!"
Melihat sosok Reinhart, tampak gadis kecil yang mengenakan pakaian pelayan berlari ke arahnya dengan semangat.
"Sudah aku bilang, jangan berlarian, Lyn."
Beberapa saat kemudian, tampak gadis remaja yang tampak lebih tua. Dia juga memakai pakaian pelayan seperti gadis sebelumnya.
"..."
Reinhart menatap ke arah gadis kecil itu. Melihat gadis cantik, imut, dan patuh itu membuat Adam tidak bisa lagi membandingkannya dengan sosok gadis dengan tubuh dibelit perban, penuh luka, dan tampak gila.
'Apakah aku memungut anak yang salah?'
Pada saat Reinhart melamun, sosok Hachiko yang mengikutinya langsung menerjang ke arah Lyn. Namun makhluk itu sama sekali tidak menyakiti gadis itu. Sebaliknya, ia malah menjilati wajah gadis kecil itu.
Setelah cukup lama tak bertemu dengan gadis itu, tampaknya Hachiko rindu dengan gadis kecil yang baik hati dan ramah tersebut.
Reinhart menatap sosok Naberius dengan curiga. Jika bukan karena dia membaca banyak buku yang berhubungan dengan monster, pemuda itu tidak akan percaya bahwa Hachiko adalah makhluk kuat.
Dari penampilannya saja, dia lebih mirip makhluk tak berbahaya.
"Omong-omong, kenapa kamu mencariku, Lyn?"
"Ah! Surat!"
Lyn yang terkejut tiba-tiba sadar bahwa dia melupakan sesuatu karena dia langsung menghampiri Reinhart dengan penuh semangat.
"Tuan, banyak surat untuk anda, saya langsung menyimpannya. Hampir semua surat dikirim oleh teman-teman anda ketika liburan.
Sedangkan untuk beberapa surat yang penting dari Kerajaan Rembulan Perak, Senior Isana yang menyimpannya.
"Itu benar, Tuanku."
"..."
Reinhart tampak terkejut. Dia tidak menyangka kalau akan ada surat dari keluarganya.
"Kerja bagus, Devy."
Reinhart menatap ke arah Lyn dengan senyum lembut sambil mengelus kepalanya.
"Kamu juga melakukan pekerjaan yang baik, Lyn."
Mendengar pertanyaan Reinhart, Lyn menatap pemuda itu dengan ekspresi terkejut. Sepasang mata indah menatap ke arah Reinhart.
"Tentu saja benar."
Reinhart berkata santai. Setelah itu, dia pergi untuk menemui Isana.
Menemui wanita itu, Reinhart langsung diberi pesan oleh Isana perihal apa yang telah terjadi sebelumnya.
"Apapun yang mereka katakan, saya harap anda bisa menerimanya dengan tenang."
"Tentu saja aku mengerti."
Reinhart tersenyum ringan. Dia kemudian mengambil surat titipan dari keluarganya.
Tidak seperti biasanya ketika mereka hanya harus memesan. Sementara kali ini, mereka melakukan banyak hal sendiri.
Setelah itu, dia kembali ke kamarnya. Melihat ke arah surat indah di tangannya, Reinhart langsung merobeknya. Namun ketika dia membuka kertas dan ingin membaca isinya, pemuda itu tertegun.
'IBU DAN AYAH AKAN MEMINTA PENJELASAN KETIKA KAMU KEMBALI!!!'
Melihat ke arah kalimat yang ditulis dengan huruf kapital, bahkan tinta merah, pemuda itu sadar ...
'Tampaknya Leander terlalu banyak bicara. Jadi bahkan jika aku bersembunyi dengan baik ...
Aku tidak bisa menghindar sepenuhnya!'
Pikir Reinhart ketika menyesal telah terlalu banyak berbicara omong kosong kepada Leander.
>> Bersambung.