Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Gaya Orang Lain dan Gaya Original



Jangan lupa gabung di grup 'L Wanderers' agar tidak ketinggalan update. (Cek profil Author)


Kalian juga bisa bincang-bincang bersama dengan Author dan teman-teman lainnya di sana!


---


Melihat ke arah waktu dimana turnamen dimulai, Reinhart menghela napas panjang.


'Benar-benar terlalu lama.'


Merasakan teriknya sinar matahari membuat pemuda itu ingin kembali. Dia belum lama ini pergi berpetualang. Sekarang, setelah kembali, dia benar-benar harus menghadapi terik matahari seperti itu.


Sebagai pria yang lebih suka mengurung diri di kamar atau melakukan aktivitas di sekitar rumah, Reinhart merasa agak tertekan.


'Mungkinkah kehidupan santai itu akan hilang?'


Memikirkan hal tersebut, Reinhart merasa pusing.


Jika disuruh memilih, daripada menjadi tokoh penting, Reinhart lebih ingin menjadi tokoh tidak penting. Tinggal di sebuah desa terpencil yang tidak terlibat dengan perang. Menikah, memiliki anak, hidup sederhana tapi bahagia di sana.


Mengingat perempuan desa, Reinhart entah bagaimana memikirkan sosok Maria. Jika saja gadis itu bukanlah Gadis Suci atau Yang Terpilih, dia akan dengan senang hati menikah dan tinggal di kota kecil seperti Kota Flowreevt.


Hanya saja, itu hanya angan-angan semata.


'Tampaknya aku harus membahas semua ini dengan ayah dan ibu ketika kembali saat liburan musim dingin dan tahun baru.'


Membayangkan ekspresi kedua orang tuanya ketika menyadari bahwa mereka telah ditipu, Reinhart merinding.


Pada saat itu, suara marah Cornelius kembali terdengar.


"Beraninya kamu melamun di pertempuran penting seperti ini, Reinhart! Bahkan jika kamu seorang pangeran, aku tidak akan menahan diri!"


Melihat bagaimana Cornelius tampak marah, Reinhart yang tersadar dari lamunannya tampak agak menyesal. Entah kenapa, dia merasa kalau lawannya memiliki kemampuan agar membuat orang lain mengabaikan dirinya!


"Aku akan membuatmu sadar dan lebih menghormati seniormu, Reinhart!"


Mengatakan itu, Cornelius menarik pedangnya. Pedang putih dengan ornamen emas langsung muncul di hadapan orang-orang. Dalam sekali pandang, kata "mahal" langsung muncul di kepala orang-orang ketika melihat pedang tersebut.


Sebaliknya, Reinhart sama sekali tidak mengeluarkan pedang dari sarungnya.


Pada saat itu, wasit batuk.


"Uhuk! Uhuk! Karena sudah waktunya, diharapkan bagi kedua peserta untuk bersiap."


Mendengar ucapan tersebut, ekspresi Cornelius tampak semakin penuh dengan percaya diri. Sementara itu, Reinhart tampak begitu lega.


"Kalau begitu, pertandingan akan dimulai pada hitungan tiga, dua, satu ... mulai!"


Pada saat ucapan itu terdengar, Reinhart langsung berpikir.


'Tampaknya aku harus bermain lebih agresif kali ini.'


Pada saat itu juga, energi biru langsung menyelimuti kedua kaki Reinhart sampai ke lutut. Menatap ke arah Cornelius dengan ekspresi tak acuh, sosok Reinhart tiba-tiba menghilang dari tempatnya.


Gerakan Reinhart yang begitu tiba-tiba langsung membuat para penonton, bahkan wasit juga tercengang.


Lightning Lynx Step!


Sebuah sihir petir tipe tambahan di level 2. Meski tidak di level yang tinggi dan tidak digunakan untuk menyerang, sihir itu cukup sulit dikuasai. Belum lagi, Reinhart menggunakan sihir tersebut tanpa rapalan. Hal yang membuat sihir seharusnya lebih sulit digunakan.


Pada saat semua orang terkejut, Reinhart muncul di dekat Cornelius sambil mengatakan pertanyaan ikonik dari salah satu karakter paling terkenal di kehidupan Reinhart sebelumnya.


"Apakah kamu pernah ditendang dengan kecepatan cahaya?"


Belum sempat merespon, Cornelius merasa dadanya sesak ketika Reinhart tiba-tiba menendang breastplate dengan kuat. Masalahnya, meski terlihat sekejap mata, Cornelius merasakan bahwa pemuda itu menendang dirinya lebih dari sepuluh kali!


Cornelius langsung terpental jauh dan berguling-guling di tanah. Dia juga langsung batuk-batuk.


'Itu ... Leopard kick?!'


Pikir wasit ketika melihat gerakan Reinhart tersebut.


Melihat Reinhart mampu menggabungkan teknik tendangan ksatria biasa dengan sihir membuat mereka tampak bodoh. Mereka benar-benar merasa telah melihat penemuan baru! Merasa bahwa mereka telah mendapatkan pemandangan baru.


Bukannya kombinasi semacam itu tidak ada. Hanya saja, kombinasi tersebut biasanya muncul dan digunakan oleh para veteran yang telah melewati banyak momen antara hidup dan mati di alam liar.


Mereka belum pernah melihat seorang siswa kelas 1 melakukannya dengan cara seperti itu!


"Uhuk! Uhuk! Kamu menangkapku ketika lengah, Reinhart!


Kerja bagus!"


Cornelius bangkit dengan ekspresi serius di wajahnya. Entah itu menutupi rasa malunya atau apa, Reinhart tidak memerhatikan hal tersebut.


Sebaliknya, pemuda itu malah bertanya-tanya dalam hati.


'Apakah dia tidak kesal? Aku sudah sengaja meniru gaya pria paling menyebalkan, tapi dia masih tenang?


Mungkinkah karena ini petir dan bukan cahaya? Atau penampilanku yang kurang menjengkelkan?'


Reinhart memikirkan sosok lelaki berjas kuning yang suka menendang orang dengan kecepatan cahaya. Dia cukup kagum dengan paman itu karena berhasil membuat hampir semua penonton jengkel sekaligus tertawa karena dirinya.


'Lupakan. Karena mencoba melakukan hal semacam itu sulit dan tidak dihargai, lebih baik gunakan cara biasa.'


Melihat ke arah Reinhart, Cornelius langsung mengeluarkan apa yang dia miliki. Dia langsung merapal mantra level tinggi yang dia bisa. Ya ... meski sebenarnya juga di level 3.


"Atas nama api yang—"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, sosok Reinhart kembali menghilang dari tempatnya.


Cornelius langsung panik. Namun ketika hendak melanjutkan ucapannya, Reinhart langsung mengait lehernya dengan lengan kanan pemuda itu.


Kemudian ... Reinhart langsung membantingnya dengan sekuat tenaga!


"UUURRRAAA!!!"


BRUAK!


"UUURRRAAA!!!"


BRUAK!


"UUURRRAAA!!!"


BRUAK!


...


Mengingat momen ketika bertarung dengan monster beruang, Reinhart cukup senang bertemu dengan binatang kuat yang suka bertempur. Hanya saja, fisik Cornelius jelas lebih buruk dibandingkan dengan beruang tersebut.


Setelah dibanting ke tanah beberapa kali, Cornelius benar-benar berhenti bergerak! Tampak telah kehilangan kesadarannya!


Meski niatnya hanya bertarung dengan cara rendah hati dan tidak sombong, Reinhart tidak tahu bahwa dirinya telah membuat banyak penyihir, khusus yang berada di level rendah terkejut dan takut.


Lagipula, belum sempat Cornelius selesai merapalkan mantranya, Reinhart sudah meraih dan membantingnya ke tanah!


Dengan kata lain, Cornelius adalah tipe peserta penyihir yang belum sempat menggunakan sihir selama pertarungan sampai tersingkir!


Bangkit, jatuhkan! Bangkit, jatuhkan! Bangkit, jatuhkan!


Para penonton curiga, jika lawan Reinhart adalah tipe yang sangat peka, mentalnya pasti langsung terguncang karena penghinaan ini!


Seorang penyihir yang mati tanpa bisa merapalkan satu sihir, pun!


"Pemenangnya adalah ... Reinhart dari Akademi Cahaya Bintang!"


Mendengar itu, para penonton langsung bertepuk tangan dan bersorak. Mereka tidak sabar untuk melihat pertandingan berikutnya. Karena tampaknya ...


The Sleeping Lightning Dragon tersebut bahkan belum selesai pemanasan!


>> Bersambung.