
Pada saat dirinya agak bingung, Reinhart merasakan tatapan yang diarahkan kepadanya.
Pemuda itu langsung menatap ke arah Leander lalu berkata,
"Bisakah kamu berhenti menatapku?"
"Oh? Apakah saya membuat anda tidak nyaman, Pangeran Reinhart?"
Leander menjawab Reinhart dengan senyum tipis di wajahnya. Hal itu tentu saja membuat pemuda berambut perak itu tidak senang. Pangeran dari Kerajaan Rembulan Perak itu langsung membalas.
"Bukan hanya tidak nyaman. Jujur saja ... itu menjijikkan."
"..."
Ucapan Reinhart terdengar. Renald dan Leander langsung tertegun di tempat mereka.
'Bukankah anda terlalu kasar, Pangeran Reinhart?'
Renald tersenyum pahit. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Leander. Pemuda itu takut Leander akan murka karena telah diperlakukan dengan kasar oleh Reinhart, yang biasanya tenang ... tetapi kadang keterlaluan dan tidak bermoral. Namun, ketika melihat ke arah Leander, mulut Renald ternganga.
Apa yang Renald lihat membuat pemuda itu mulai bertanya apakah dunia sedang tidak baik-baik saja. Karena ... bukannya marah, Leander malah tersenyum dan tampak bahagia ketika Reinhart memarahinya!
"..."
Reinhart sendiri juga tercengang. Dia tidak menyangka kalau sekali lagi telah bertemu makhluk aneh di dunia ini.
Pemuda itu bahkan mengeluh pada developer game yang membuat banyak karakter tampan, membuat banyak gadis memiliki pikiran menyimpang ketika melihat dua lelaki tampan bersamaan.
'Ugh! Bukankah mereka abnormal? Apa yang bagus dengan laki-laki x laki-laki, atau perempuan x perempuan? Pasti ada yang salah dengan kepala mereka!
Bukankah normal itu bagus?
Ya ... Yang lebih dewasa atau lebih muda bisa dianggap selera, tetapi tidak yang di bawah umur juga! Itu kejahatan! Bukankah lebih baik yang lebih dewasa, lebih matang dan harum?
Tunggu! Kenapa aku malah memikirkan hal bodoh semacam ini?!'
Sadar bahwa pikirannya telah terganggu, Reinhart langsung menatap ke arah Leander dengan tatapan sinis.
"Jika tidak ada hubungannya, bisakah kamu pergi ... Pangeran Leander?"
Leander sempat terdiam ketika Reinhart tiba-tiba mengusirnya. Akan tetapi, dia masih mengangguk sembari berkata.
"Kalau begitu ingat saranku sebelumnya. Lebih baik jangan pergi ke lapisan hutan yang lebih dalam. Kalau begitu, sampai bertemu di lain waktu, Pangeran Reinhart."
Setelah mengatakan itu, Leander pergi. Pemuda itu dengan lincah bergerak dari satu pohon ke pohon lain sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Reinhart dan Renald.
Hanya saja, entah kenapa, Reinhart merasa kalau Leander sempat berkedip kepadanya sebelum pergi. Hal itu membuat perut pemuda itu mulas. Ekspresinya benar-benar buruk seolah tanpa sengaja makan makanan basi.
"..."
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Reinhart langsung berjalan pergi dari sana.
Renald yang baru saja terbangun dari lamunannya segera berjalan menyusulnya. Mengikuti di belakang Reinhart, pemuda itu tidak bisa tidak bertanya.
"Kemana anda ingin pergi, Pangeran Reinhart?"
"Namun, bukankah Pangeran Leander bilang—"
"Siapa yang peduli apa yang dikatakan orang tidak waras itu! Bisakah kamu diam? Aku benar-benar sedang mual dan ingin memukuli seseorang!"
"..."
Renald langsung diam. Dia benar-benar tidak ingin menjadi samsak tinju bagi pemuda yang bertarung melawan beruang raksasa dengan tangan kosong itu. Menjaga jarak ... pemuda itu hanya bisa mengikuti Reinhart dalam diam.
***
Waktu berlalu begitu saja, dua hari langsung terlewat.
Reinhart dan Renald telah sampai di area tengah. Ya, meski tidak terlalu dalam.
Melihat pangeran berambut perak itu, Renald tidak bisa tidak merinding. Dalam perjalanan, pemuda itu benar-benar telah memperlakukan banyak monster level 2 sebagai samsak tinju. Melihat para monster yang benar-benar ditindas secara berlebihan, dia diam-diam berbela sungkawa untuk para makhluk yang sebagian masuk ke kantong dimensi miliknya.
"Pangeran Reinhart, matahari hampir terbenam, bukankah lebih baik kita mencari tempat beristirahat?"
"Sssttt ..."
Reinhart memberi isyarat agar Renald diam. Mereka sekarang berada di lokasi agak terbuka. Puluhan meter di depan mereka, tampak sebuah goa besar.
Sebelum Renald sempat membalas, perasaan mengancam muncul dari dalam goa, benar-benar membuat pemuda itu ketakutan. Apa yang dia alami sangat berbeda dibandingkan saat menghadapi monster-monster sebelumnya.
"Sungguh ... aku tidak menyangka kita akan begitu beruntung," ucap Reinhart dengan ekspresi penuh cibiran. Jelas, apa yang dia ucapkan berbanding terbalik dengan apa yang dia pikirkan.
Sepasang mata merah darah muncul dari goa yang gelap. Semakin mendekat, tetapi sama sekali tidak terdengar suara langkah kaki atau tubuh terseret.
Beberapa saat kemudian, makhluk itu akhirnya menampakkan dirinya.
Tinggi hampir tiga meter, panjang lebih dari enam meter, bulu hitam bagai tinta, empat kaki dengan cakar tajam. Sosok mirip serigala hitam dengan sebuah tanduk hitam di dahi, dan rahang yang dipenuhi dengan taring setajam belati.
"Grrrr ..."
Makhluk itu menatap Reinhart dan Renald. Air liur menetes ke dedaunan. Makhluk itu menatap ke arah mereka berdua dengan niat membunuh. Tatapan matanya dipenuhi dengan kegilaan.
Melihat makhluk itu, Reinhart tidak bisa tidak mengeluh. Jelas, makhluk tersebut lebih kuat dari apa yang seharusnya ada dalam ingatannya.
"Bagus ... Hellhound level 4, bahkan hampir masuk level 5! Tampaknya kita memenangkan jackpot, Renald!"
Mendengar ucapan Reinhart yang dipenuhi dengan ejekan dan sarkasme, Renald berkata dengan ekspresi pahit di wajahnya.
"Karena kita hampir mati, aku akan jujur padamu, Pangeran Reinhart."
Mendengar ucapan Renald, Reinhart menoleh ke arah pemuda itu.
"Kamu sebenarnya sangat menjengkelkan. Kamu juga terlalu malas dan suka mengatur orang, Pangeran Reinhart!"
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Renald langsung membuat Reinhart kehilangan kata-kata. Dia tidak menyangka ...
Ternyata pemuda yang mengikutinya selama ini diam-diam memiliki banyak keluhan!
>> Bersambung.