
"Kalau begitu biarkan aku yang menjadi penunjuk jalan bagi mereka!"
Tommy menepuk dadanya dengan bangga. Menatap ke arah keempat gadis dengan senyum penuh percaya diri di wajahnya.
Nenek Agatha yang selesai menandatangani perjanjian menatap ke arah cucunya dengan mata terbelalak.
"Apa yang kamu pikirkan, Bocah?! Aku tidak akan mengizinkanmu pergi!"
"Mereka tidak percaya kalau ada rute aman, jadi aku akan membuktikannya!" ucap Tommy tegas.
"Meski melalui rute aman, tidak jarang ada binatang sihir tingkat dua di sekitar rute itu. Itu berbahaya! Jadi aku tidak mengizinkan kamu pergi!" Nenek Agatha menghentakkan tongkatnya dengan ekspresi marah.
"Kamu tidak berhak menghentikanku, Nenek Tua!"
"B-jingan kecil ini ..." Nenek Agatha menggertakkan gigi. "Pergi! Pergi lalu mati seperti ayah dan ibumu!"
"..."
Tommy menatap ke arah Nenek Agatha dengan ekspresi tak percaya di wajahnya. Dia hanya menunjuk tanpa bisa membalas perkataan wanita tua itu. Setelah beberapa saat, pria itu segera pergi dari tempat itu.
Melihat Tommy pergi, Nenek Agatha menghela napas panjang. Wajahnya tampak lebih kusut, lebih tua dibandingkan sebelumnya.
"Maaf karena membuat kalian melihat pemandangan tidak menyenangkan seperti ini." Nenek Agatha berkata dengan senyum masam di wajahnya.
"Semua orang memiliki masalah mereka sendiri," balas Reinhart sopan.
"Jika kalian datang hanya untuk masalah ini, aku harap kalian segera pergi."
Menyimpan surat perjanjian, Reinhart bangkit dari kursinya. Dia sedikit membungkuk kemudian berkata.
"Kalau begitu kami permisi. Maaf telah merepotkan anda."
Setelah mengatakan itu, Reinhart berbalik pergi. Keempat gadis bangkit lalu memberi hormat. Mereka segera menyusul Reinhart dengan cara terburu-buru.
Setelah keluar dari rumah, Delia tidak bisa tidak bertanya.
"Apakah kita akan berangkat sekarang, Senior?"
"Semua terserah kalian." Reinhart membalas datar.
"Eh???" Keempat gadis itu terkejut.
"Tentu saja semua terserah kalian. Aku di sini bertugas untuk mengawasi, bukan menjadi ketua dan memimpin kalian."
Mereka berlima kemudian pergi ke luar kota. Berjalan kaki santai sambil menikmati pemandangan kota. Tentu saja, semuanya tampak lebih indah dan nyaman karena tidak ada beberapa penjahat kecil acak yang mencoba menghentikan mereka.
Melewati gerbang kota, suara keras menghentikan mereka.
"TUNGGU!"
Menoleh ke belakang, Reinhart dan para gadis melihat sosok Tommy yang tampak kelelahan. Dia berkeringat deras, napasnya naik turun karena memaksakan diri untuk terus berlari. Pemuda itu juga membawa ransel besar di punggungnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Reinhart dengan ekspresi datar di wajahnya.
"Aku akan ikut dengan kalian! Aku lebih hapal dengan medan sekitar. Jika kalian membawaku, semuanya pasti akan berjalan lebih aman dan nyaman."
Tommy menepuk dadanya dengan ekspresi penuh percaya diri.
Reinhart melirik ke arah empat gadis. Semua terserah kepada mereka apakah menerima atau menolak Tommy.
Merasakan tatapan Reinhart, keempat gadis itu merasa bimbang. Saat itu, Hilda maju. Gadis itu bertanya dengan ekspresi serius di wajahnya.
"Untuk apa kamu ikut dengan kami? Jika kamu ikut hanya karena ingin menunjukkan kalau dirimu bisa diandalkan, itu sama sekali tidak perlu.
Katakan saja tujuanmu yang sebenarnya."
Mendengar perkataan Hilda, Tommy sedikit terkejut. Ekspresinya berubah menjadi serius. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia akhirnya berkata.
"Aku perlu mengambil sesuatu. Kebetulan lokasinya tidak begitu jauh dari rute yang akan kalian lewati. Sedangkan apa itu, aku tidak akan mengatakannya.
Yang pasti, aku ingin kita bisa saling membantu. Aku menunjukkan jalan, dan kalian akan melindungiku jika sesuatu yang tidak terduga terjadi."
"Haruskah kita membawanya? Maksudku ... jika tidak ada kecelakaan, semuanya akan berjalan lebih lancar, bukan?
Bahkan jika kita bertemu dengan beberapa monster tingkat dua, kita bisa mengalahkannya. Kita sebenarnya tidak rugi, kan?" Delia juga menyatakan pendapatnya.
"Namun kita juga tidak memiliki keuntungan. Bahkan jika memilikinya, itu hanya keuntungan kecil. Hanya orang itu satu-satunya mendapatkan cukup banyak keuntungan," ucap Hilda sambil menatap Tommy secara tidak puas.
"Anu ... kita tidak perlu memperdebatkan ini, kan?" ucap Maria khawatir. Tampaknya takut kalau Delia dan Hilda berselisih.
"Baik. Kita bisa membawanya." Hilda memutuskan untuk menyerah. "Tentu saja, kecuali dalam pertarungan, dia harus mengurus dirinya sendiri."
"Kamu tidak keberatan, kan?" tanya Delia sambil melirik ke arah Tommy.
"Tentu saja tidak masalah!"
Tommy menepuk dadanya dengan ekspresi senang di wajahnya.
Reinhart sendiri hanya menatap mereka dalam diam. Sama sekali tidak berkomentar. Biarkan mereka sendiri yang membuat keputusan.
***
Sore harinya.
Selain istirahat untuk makan siang, kelompok kecil itu terus berjalan. Mereka tampak cukup terburu-buru. Meski baru jam setengah empat sore, mereka sudah sampai di titik dimana mereka akan beristirahat semalam.
Melihat bagaimana mereka telah membuat rencana terperinci, Reinhart mengangguk puas. Meski agak manja, jelas para gadis itu tidak bodoh.
Melihat ke langit di mana awan kelabu menutupinya, Reinhart tidak mengatakan apa-apa.
"Sesuai dengan rencana, kita akan mendirikan tenda di sini." Delia berkata dengan santai.
"Masih terlalu awal untuk mendirikan tenda. Bagaimana kalau melanjutkan perjalanan? Dalam satu setengah sampai dua jam, kita pasti bisa mencapai jarak lebih jauh. Ada beberapa titik dimana kita bisa mendirikan tenda."
Sebagai orang lokal, Tommy mengutarakan pendapatnya.
"Tidak!" ucap Hilda tegas. "Kami akan berjalan sesuai dengan rencana. Jika kamu tidak puas, kamu bisa melanjutkan perjalanan sendiri."
Mendengar balasan tersebut, Tommy agak tidak puas. Namun pemuda itu tetap diam. Dia melirik ke arah Reinhart untuk mendapatkan dukungan. Dengan kekuatan 'pengawas', mereka pasti akan memberi wajah dan maju.
Hanya saja, Reinhart sama sekali tidak peduli. Dia memilih tempat cukup jauh dari mereka untuk mendirikan tenda miliknya sendiri.
Hilda mendirikan tenda dengan Maria. Delia mendirikan tenda dengan May. Mereka mendirikan dua tenda karena setelah memikirkannya baik-baik, tidur berdua lebih aman daripada sendiri. Mereka juga sadar kalau mendirikan dua tenda lebih dari cukup.
Sama sekali tidak perlu membuang lebih banyak tenaga untuk sesuatu yang tidak perlu!
Sementara itu, Reinhart yang selesai mendirikan tenda dan memasang semua perlengkapan yang diperlukan pergi. Dia mengabaikan tatapan penasaran para gadis, melakukan urusannya sendiri.
"Hey, Siswa Reinhart? Apakah lebih baik kita berbagi tenda karena—"
Tommy mendekati Reinhart untuk berbicara, tetapi disela sebelum perkataannya selesai.
"Aku menolak.
Pertama, aku tidak mengenalmu jadi jangan bersikap terlalu akrab denganku. Kedua, aku dan kamu bukanlah bagian dari kelompok, jadi lebih baik mengurus urusan masing-masing. Ketiga, jangan ikut campur urusanku atau aku sendiri tidak akan segan-segan melukaimu."
Setelah mengatakan itu, Reinhart berbalik pergi menuju hutan. Meninggalkan Tommy yang terdiam di tempatnya.
Sekitar satu setengah jam kemudian, Reinhart kembali. Saat itu juga, hujan mulai turun. Membasahi seluruh hutan dan tanah di bawahnya.
Empat gadis tampak sedikit panik karena mereka tidak menyangka kalau akan turun hujan. Namun mereka juga tampak cukup lega karena telah menyiapkan berbagai jenis makanan sebelum berangkat.
Tommy tampak cukup buruk. Dia berencana untuk berburu untuk menunjukkan kecakapannya kepada para gadis, tetapi hujan datang begitu saja.
Sementara itu, Reinhart malah mulai menyalakan peralatan penerangan. Menyiapkan berbagai peralatan memasak, kemudian mengeluarkan bahan-bahan. Di antaranya, ada seekor kelinci besar dan tiga ikan yang telah dibersihkan. Hasil buruan yang dia dapatkan sebelumnya!
Sementara Reinhart memasak sambil menikmati suara dan pemandangan hujan, pemuda itu diam-diam berbisik.
"Hujan di musim semi ... semoga ini pertanda baik daripada buruk."
>> Bersambung.