
Reinhart dan Ratu Evelyn saling memandang dalam keheningan.
Reinhart terus menatap ke arah ibunya. Dia tampak begitu berhati-hati. Benar-benar siap untuk berbagai serangan yang mungkin akan dilepaskan oleh ibunya.
'Sihir angin? Sihir es? Atau sihir yang tidak diketahui?'
Melihat ke arah jari Ratu Evelyn, mata Reinhart menyempit.
"..."
Ratu Evelyn menatap Reinhart dalam diam. Wanita itu membuka mulutnya sedikit. Namun beberapa saat kemudian, tangan Ratu itu bergerak dengan sangat cepat.
Pada saat itu juga, Reinhart yang hendak menyerang tiba-tiba terdiam di tempatnya.
Sebuah tulisan yang terdiri dari huruf-huruf aneh dan bercahaya melayang di udara. Meski berbeda dengan bahasa di dunia sebelumnya, dia masih bisa memahami artinya.
(Apakah kamu baik-baik saja, Reinhart?)
"..."
Mata Reinhart mengerjap, benar-benar tampak bingung.
(Apakah ibu membuatmu takut?)
Tulisan lain melayang di udara, benar-benar membuat kepala Reinhart tiba-tiba kosong. Bahkan dia merasa hampa.
Memiliki banyak keraguan di hatinya, Reinhart membuka mulutnya.
"Apakah ... Apakah anda sebenarnya tidak bisa bicara, Yang Mulia Ratu?"
Tangan Ratu Evelyn bergerak cepat. Dalam sekejap, tulisan lain melayang di udara.
(Tentu saja bisa. Juga, tolong jangan begitu formal dengan ibumu sendiri, Reinhart.)
"..."
Reinhart kehilangan kata-kata. Melihat tulisan yang melayang seperti balok chat di dunia sebelumnya, pemuda itu bingung harus berkata apa.
Mungkin karena merasa agak jengkel dan tidak berdaya, Reinhart akhirnya berkata dengan nada penuh keluhan.
"Kalau begitu katakan sesuatu, Ibunda. Anda benar-benar membuatku takut."
Reinhart menghela napas berat. Dia benar-benar berpikir akan dimusnahkan oleh ibunya sendiri dengan sihir terlarang atau hal semacamnya.
Ratu Evelyn masih duduk dengan tenang dan elegan. Matanya sedikit menyempit, membuat penampilan wanita cantik tersebut tampak lebih dingin dan sadis. Setelah beberapa saat, dia membuka mulutnya.
"A ..."
Suara yang sangat pelan sampai-sampai indera Reinhart yang ditingkatkan nyaris tidak bisa mendengarnya keluar dari mulut Ratu Evelyn. Namun detik berikutnya, wanita itu menutup mulutnya lalu menggerakkannya tangan kanannya dengan cepat.
(Ibu rasa hal itu tidak perlu. Bukankah percakapan semacam ini lebih mudah?)
Tulisan yang mengambang di udara membuat Reinhart tercengang. Dia menatap ke arah ibunya yang tampak dingin, elegan, dan luar biasa. Sosok Ratu es yang biasanya tidak bisa didekati oleh orang lain.
Memikirkan banyak hal, Reinhart yang memiliki keraguan tidak bisa tidak bertanya.
"Jangan bilang ... Ibunda ... Anda, memiliki gangguan komunikasi?"
Reinhart memandang ke arah ibunya dengan ekspresi serius. Saat itu, sedikit rona merah muncul di sudut pipi Ratu Evelyn. Meski tidak begitu jelas, tetapi pemuda tersebut masih bisa melihatnya. Dia benar-benar tidak menyangka, ternyata ...
Sosok Ratu Es yang dingin dan tampak sadis itu ternyata memiliki gangguan komunikasi!
"..."
Ruangan tersebut tiba-tiba menjadi sunyi. Reinhart merasa bingung. Dari segala kemungkinan, dia tidak menyangka kalau ternyata jawabannya begitu melenceng.
Beberapa menit dalam kesunyian, Ratu Evelyn yang tidak lagi merasa malu tiba-tiba menggerakkan tangannya. Tulisan indah kembali muncul, melayang di udara.
(TENTU SAJA IBU TIDAK MEMILIKI MASALAH SEPERTI ITU.)
Reinhart langsung terdiam. Dia tidak menyangka, selain memiliki gangguan komunikasi, ternyata ibunya juga buruk dalam menyangkal atau membuat alasan. Ya, jenis yang terbilang payah!
Menyimpan pedang kembali ke dalam tas dimensi, Reinhart merasa agak takjub. Pemuda itu merasa telah menginjakkan kakinya ke benua yang belum diketahui. Seperti bajak laut yang menemukan peti harta karun berisi tumpukan emas dan permata.
Reinhart kemudian menatap lekat lekat mata ibunya. Setelah beberapa saat memandang, pemuda itu merasa kalau ternyata tatapan ibunya tidak seburuk dan sejahat yang dia kira sebelumnya. Benar-benar merasa dibodohi!
"Pfft ..."
Reinhart tidak bisa lagi menahan tawa. Pemuda itu benar-benar merasa kalau dirinya terlalu berlebihan. Meski tidak dirugikan, dia merasa kalau semuanya terlalu lucu. Sama sekali di luar dugaannya.
Melihat putranya menutup mulut sambil menahan tawa, alis Ratu Evelyn terangkat. Dia kemudian menjentikkan jarinya. Saat itu juga, seratus lingkaran sihir berwarna biru terang muncul.
Seratus pedang es yang tampak kokoh dan tajam, sekaligus terasa dingin langsung diarahkan kepada Reinhart.
Pemuda itu langsung terdiam. Benar-benar tidak lagi berani tersenyum, apalagi tertawa.
Melihat sihir level 4 yang sulit dikuasai benar-benar dimunculkan dalam jentikan jari, Reinhart langsung mengetahui identitas lain ibunya.
'Setidaknya penyihir circle 6! Benar-benar bos tersembunyi dalam game!'
Reinhart berseru dalam hatinya. Benar-benar bingung apakah harus menangis atau tertawa.
Melihat bagaimana ekspresi putranya, Ratu Evelyn mengangguk puas. Tangan kanannya kembali bergerak, menulis kalimat dengan indah.
(Apakah ada yang lucu, Reinhart?)
Pertanyaan tersebut langsung membuat punggung Reinhart basah oleh keringat dingin. Pemuda itu menyeka keringat di dahinya sambil mengeluh dalam hati.
'Kenapa kamu bersikap seperti anak kecil, Ibu? Menindas dan mengancam putramu sendiri. Bukankah itu berlebihan?'
Mengabaikan Reinhart yang tercengang, Ratu Evelyn kembali menjentikkan jarinya. Saat itu, seratus lingkaran sihir menghilang begitu saja. Dia kemudian menulis.
(Duduklah, Reinhart. Ada yang ingin Ibu bicarakan denganmu.)
Reinhart tidak membalas, langsung duduk di kursinya dengan patuh. Menatap ibunya dengan ekspresi serius, tidak main-main.
Melihat ekspresi serius ibunya, Reinhart sedikit gugup. Tampaknya wanita itu ingin menginterogasi dirinya.
Beberapa saat setelah menatap putranya dengan serius, Ratu Evelyn kembali menulis.
(Katakan pada Ibu, apakah kamu punya pacar di akademi?)
"..."
Reinhart tercengang. Beberapa saat kemudian, setelah sadar, dia benar-benar ingin langsung membenturkan wajahnya ke meja atau dinding. Benar-benar merasa tidak tertahankan.
'Pertanyaan macam apa itu! Bukankah seharusnya kamu menanyakan sesuatu yang lebih serius, Ibu! Aku bahkan telah siap diinterogasi soal sihir kegelapan dan rahasia lainnya!'
Reinhart benar-benar tertekan. Bingung apakah harus merasa senang atau sedih. Bingung apakah harus menangis atau tertawa!
>> Bersambung.