Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Teman



Pada waktu senja, tepat matahari hampir sepenuhnya tenggelam.


Melihat ke arah empat tenda kecil yang didirikan, api unggun, dan empat gadis yang kelelahan membuat Reinhart menggelengkan kepalanya. Tidak peduli betapa canggungnya mereka, dia berkata.


"Ini adalah tugas kelompok. Kerjasama kalian sangat buruk. Selain itu, kalian terlalu terikat dengan kasta. Bangsawan dan bukan bangsawan, Count dan Viscount ... kalian terlalu memikirkan hal semacam itu di alam liar.


Kalian juga terlalu sembrono. Bertindak sesuka hati tanpa ada pencegahan. Bukankah kalian terlalu mengandalkan aku?


Biar aku luruskan. Di sini aku menjadi pengawas sekaligus orang yang menilai kalian. Sejak tadi siang kita keluar dari kota menuju ke lokasi, tugas telah dimulai.


Apa yang aku lakukan hanyalah mengantar kalian sampai ke kota kecil dimana pemberi misi tinggal. Setelah itu sisanya terserah pada kalian. Entah kalian mau datang ke rumah pemberi misi dulu, langsung ke gunung, atau melakukan apapun ... terserah kalian.


Sedangkan untuk saat ini, kalian bisa membagi tugas sesuai yang kalian inginkan."


Setelah mengatakan itu, Reinhart berjalan ke dekat kereta kuda. Dia memberi makan kuda dengan pakan yang dibawa dalam kantong dimensi. Pemuda itu kemudian mengeluarkan tenda dan memasangnya jauh dari empat tenda gadis. Tindakannya sangat terampil karena sudah terbiasa.


Peralatan milik Maria juga sudah dikembalikan, jadi sekarang Reinhart benar-benar menyerahkan sisanya kepada mereka.


Reinhart kemudian mengeluarkan beberapa alat yang dia buat. Jenis alat yang tidak begitu kuat, tetapi masih praktis.


Dua lampu gantung. Bentuknya seperti lentera, tetapi tidak dinyalakan dengan api. Di dalamnya ada sebuah kristal ringan yang bercahaya ketika menyerap mana. Ada beberapa rune untuk menahan kekuatan agar kristal tidak pecah ketika menyerap cukup banyak mana. Satu digantung di dalam tenda, satu digantung pada tiang yang sudah dia siapkan di luar tenda.


Pemuda itu kemudian mengeluarkan kursi pendek dan meja pendek. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menaruh beberapa barang.


Dua kompor sihir kecil muncul. Setelah itu disusul dengan beberapa peralatan memasak.


Reinhart menyalakan dua kompor. Satu untuk memanaskan wajan kecil, satu untuk memanaskan air.


Ketika wajan panas, Reinhart memasukkan sedikit mentega. Setelah mencair, dia memotong dua roti kemudian memanggang kedua sisinya bergantian. Usai memanaskan roti, pemuda itu kemudian kembali memasukkan mentega, kali ini cukup banyak.


Reinhart mengecilkan api, mengeluarkan berbagai bahan yang telah disiapkan. Dia mengambil potongan daging, diberi garam dan lada hitam lalu ditepuk-tepuk. Ketika mentega sudah mencair, pemuda itu langsung memasukkan daun rosemary segar dan dua siung bawang.


Aroma wangi langsung tercium di udara.


Reinhart kemudian mulai memanggang daging tersebut, tetapi tidak hanya menunggunya dalam diam.


Di kompor satunya, air telah mendidih. Dia menggunakan sebagian air untuk menyeduh teh herbal, sedangkan sisanya untuk membuat sup sayur dan jamur.


Gerakan pemuda itu sangat handal. Dalam beberapa waktu, hidangan telah tersaji di atas meja.


Tidak ada makanan kecil untuk hidangan pembuka, tetapi ada soup sebagai gantinya. Ada roti dan steak sebagai hidangan utama. Sedangkan hidangan penutup, Reinhart tidak memerlukannya.


Setelah menyingkirkan peralatan memasak untuk dibersihkan nanti, pemuda itu kemudian menyantap makan malamnya.


Glup!


Di kejauhan, empat gadis yang melihat Reinhart bertindak seperti camper profesional tidak bisa tidak menelan ludah. Mereka saling memandang, setelah penuh keraguan, Delia membuka mulutnya.


"Tampaknya Pangeran Reinhart benar-benar mengabaikan kita. Tidak mungkin kita meminta bantuannya, jadi ... apakah ada yang membawa bahan atau makanan jadi?


Aku hanya membawa camilan dan manisan."


Melihat betapa canggungnya Delia, May juga berkata.


"Aku juga tidak membawa hal semacam itu."


"Aku ceroboh. Aku pikir kita akan berburu atau semacamnya, jadi tidak membawa bahan mentah. Lagipula aku tidak pandai memasak." Hilda menggelengkan kepalanya.


"S-Saya membawa biskuit terkompresi dan dendeng daging, a-apakah kalian mau?"


Maria mengeluarkan jatah makanan yang dia persiapkan. Tiga gadis lain saling memandang. May adalah yang merespon pertama.


"Makanan seperti itu ..." ucap May agak enggan.


Delia menggelengkan kepalanya. Tampaknya gadis itu masih enggan untuk makan makanan 'murah' dan tidak cocok untuk para bangsawan seperti mereka.


Sementara itu, Hilda mengangkat alisnya. Melihat ekspresi canggung di wajah Maria, dia mengambil beberapa biskuit dan dendeng sambil berkata.


"Terima kasih, aku akan menggantinya ketika kita sampai di kota."


"Eh? Tidak! Tidak perlu diganti. Sama sekali tidak apa-apa!" ucap Maria terburu-buru dengan ekspresi gembira di wajahnya.


"Bolehkah aku memintanya sedikit?" tanya Delia.


"Tentu saja! Silahkan!" ucap Maria dengan senang hati.


"Bolehkah aku juga?" tanya May ragu.


"Tidak apa-apa, ambil saja." Maria menjawab sopan.


Keempat gadis itu kemudian berbagi makan malam sederhana. Meski begitu, mereka menjadi lebih mengenal satu sama lain. Ketiga gadis bangsawan itu tidak menganggap Maria begitu menyebalkan. Sedangkan Maria sendiri juga merasa tidak begitu diasingkan.


Setelah makan malam, mereka mulai berdiskusi.


"Sebaiknya kita tidur di dua tenda, dua orang dalam masing-masing tenda. Selain itu, kita juga harus mengatur jadwal jaga." Hilda berkata dengan ekspresi serius.


"Jadwal jaga?" tanya May dengan ekspresi bingung.


"Ya. Berjaga-jaga jika ada masalah yang mungkin terjadi secara tiba-tiba." Hilda mengangguk.


"Bukankah sudah ada Pangeran Reinhart?" tanya Delia.


"Kita tidak boleh terlalu mengandalkan Pangeran Reinhart. Seperti yang dia katakan sebelumnya, tugas telah dimulai dan saat ini kita sedang dinilai.


Aku tidak ingin mendapat nilai buruk dan mengecewakan ayahku."


"Anu ... Saya rasa Hilda benar," tambah Maria dengan nada malu-malu. Sedikit takut dimarahi karena ikut masuk dalam pembicaraan.


"Baiklah kalau begitu." Delia mengangguk. "Aku sudah cukup akrab dengan May, jadi ... apakah tidak apa-apa?"


Hilda mengangguk sebelum berkata, "Tidak apa-apa. Aku akan tidur dengan Maria. Kalian berdua ingin berjaga di paruh pertama malam atau paruh ke dua?"


Delia dan May saling memandang. Setelah agak ragu, Delia menjawab.


"Bisakah kami tidur terlebih dahulu? Kami tidak terbiasa begadang. Mungkin lebih baik kami berjaga di paruh kedua malam."


"Kalau begitu segera beristirahat. Aku akan berjaga dengan Maria." Hilda berkata santai.


"Baik!" jawab keduanya.


Setelah keduanya pergi, Hilda dan Maria duduk dekat api unggun berdua.


Pada awalnya, situasi agak canggung. Keduanya hanya diam tanpa banyak berkata-kata. Semakin malam, Maria yang duduk sambil menopang pipi tiba-tiba berkata.


"Anda benar-benar hebat, Hilda."


"Hm?" Hilda melirik ke arah Maria.


Maria agak terkejut dan buru-buru menjelaskan.


"S-Saya tidak berniat mengejek. Maksud saya, anda benar-benar hebat.


Bukan hanya cantik, anda juga bisa menghadapi banyak masalah dengan tenang. Selain itu, anda juga memiliki status mulia (bangsawan) dan hebat dalam sihir ataupun pertarungan tangan ke tangan."


Melihat ke arah Maria yang terus memujinya, Hilda tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Gadis bodoh. Kamu sendiri tidak tahu betapa luar biasanya dirimu. Kamu telah naik dari circle satu ke circle dua dalam tiga bulan. Belum lagi kamu memiliki sihir cahaya yang langka, ditambah dengan kecantikanmu ... wajar saja kalau banyak bangsawan yang membencimu.


Kamu seharusnya lebih percaya diri!


Selain itu, jangan panggil dengan cara begitu formal. Itu membuatku merasa agak canggung. Kamu bisa memanggilku dengan kata 'kamu', alih-alih kata 'anda'.


Apakah kamu mengerti?"


"Eh??? Anu ... Apakah itu baik-baik saja?"


Maria menatap ke arah Hilda dengan tatapan penuh keraguan. Sementara itu, Hilda sendiri malah tertawa ramah sambil berkata.


"Tentu saja tidak apa-apa. Lagipula ... Bukankah kita berteman?"


>> Bersambung.