Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Kencan?



"Maaf membuatmu menunggu."


Rambut perak disisir ke belakang dengan rapi, kulit putih bersih, iris biru yang tampak indah, paras tampan, tubuh tinggi dan tegap ... ditambah dengan pakaian bangsawan yang cocok, Reinhart tampak begitu memesona.


"Anda tampak sangat memesona, Suami."


Mendengar kata "suami", Reinhart yang sedang berjalan nyaris tersandung. Melihat ke arah gadis cantik itu, dia tersenyum canggung.


"Kamu juga tampak memesona bagai Twelve Edge Rainbow Flower, Vanessa. Indah, lembut, cantik, begitu memikat, dan tidak ada bandingannya ..."


"..."


Mendengar pujian Reinhart, wajah putih kecil Vanessa langsung diwarnai merah. Gadis itu merasa jantungnya berdegup kencang.


Melihat respon yang berlebihan hanya karena sebuah gombalan, Reinhart mulai curiga.


'Anak di bawah umur sudah mengerti rayuan? Memahami apa itu cinta?'


Menggelengkan kepalanya, Reinhart segera memikirkan misinya.


Buat Vanessa jatuh cinta dan jauhkan gadis itu dari hal-hal jahat! Hentikan pertumpahan darah di masa depan!


"Anda terlalu memuji saya, Suami."


Kalimat itu sekali lagi terdengar. Hal itu membuat Reinhart merasa hatinya gatal. Dia sangat tidak tahan. Jadi akhirnya, pemuda itu berkata.


"Maafkan aku, Vanessa. Meski kita sudah bertunangan, kita belum menikah. Bukankah lebih baik memanggil dengan cara lain? Lagipula, aku masih seusia dengan kakakmu."


"Kak Rein???"


Vanessa memiringkan kepalanya dengan ekspresi polos, membuat gadis itu tampak lebih imut.


"Ugh!"


Mendengar itu, rasanya Reinhart seperti lelaki tua yang menipu gadis kecil. Membuatnya lebih tidak bisa menganggap Vanessa sebagai pasangannya.


"Bagaimana dengan sebutan lain?"


"Um ..." Vanessa berpikir dengan wajah serius. Menatap ke arah Reinhart, gadis itu berkata, "Sayang???"


DEG!


Melihat gadis cantik bak peri dari negeri dongeng itu membuat Reinhart merasakan sesuatu menusuk hatinya. Beberapa detik kemudian, dia tersadar. Pemuda itu langsung menggelengkan kepalanya.


'Sadar, Reinhart! Sadar! Normal ... Kamu adalah lelaki normal dan bukan pedo!


Gadis kecil, cantik, dan polos untuk dilindungi ... bukan dikotori!'


Reinhart langsung mengulang-ulang kalimat itu dalam hati. Setelah mulai tenang, dia mengulurkan tangannya dan mengelus kepala Vanessa.


"Tenang saja, aku akan selalu melindungimu."


Perbuatan tiba-tiba Reinhart langsung membuat Vanessa terkejut. Dia tidak menyangka Reinhart akan melakukan hal itu. Meski merasa nyaman, wajahnya menjadi semakin merah.


"Jadi ... kita akan pergi ke mana?"


Pertanyaan Reinhart langsung membangunkan Vanessa dari lamunannya.


"Saya akan mengantar anda jalan-jalan untuk melihat ibukota Kerajaan Lautan Zamrud, Sayang."


"..."


Reinhart mengangguk dengan senyum di wajahnya. Mengikuti Vanessa, mereka masuk ke dalam kereta kuda.


Saat kereta kuda pergi, dua sosok keluar dari penginapan dengan ekspresi kesal di wajah mereka.


"Ini salahmu sehingga aku ditinggal!"


Leander menunjuk ke arah Aiden dengan ekspresi kesal.


"Ini salahmu sehingga aku tidak bisa menghentikan Rein! Bahkan jika adikmu cantik, adikku tidak kalah cantik!"


"Omong kosong apa! Bukankah adikmu lebih muda?! Jelas adikmu tidak bisa dihitung!"


"Tapi adikku tidak kalah cantik daripada adikmu!"


"Apa kamu bilang?! Adikmu lebih buruk daripada adikku, Bodoh!"


"Kamu ingin ribut, Orang Aneh?!"


"..."


Sementara Reinhart dan Vanessa pergi, dua pangeran bertarung karena mereka.


***


Pada pagi hari, Vanessa mengajak Reinhart jalan-jalan di taman bunga belakang istana. Mungkin karena menyukai bunga, gadis itu sangat betah di sana. Karena teori Reinhart tentang herbal cukup baik, pemuda itu merasa bersyukur karena bisa mengimbangi Vanessa.


Tidak kalah dalam pengetahuan lalu mempermalukan dirinya sendiri!


Siang harinya, dalam restoran terbaik di ibukota Kerajaan Lautan Zamrud.


Melihat ke arah makanan serba mewah dan berkilauan di depannya, Reinhart menelan ludah. Jika dia dalam ruangannya sendiri, pemuda itu akan makan dengan lahap tanpa memikirkan apapun.


'Etika, Reinhart! Etika!'


Setelah mengingatkan diri sendiri, Reinhart memakan makan siangnya bersama dengan Vanessa.


Selesai makan, pemuda itu terkejut ketika melihat Vanessa membantunya membersihkan sedikit sisa minyak di bibirnya dengan sapu tangan. Tanpa sadar, Reinhart memegang tangan Vanessa.


Merasakan tangan kecil, lembut, dan halus milik Vanessa ... Reinhart bertanya-tanya dalam hatinya.


'Apakah ini benar-benar tangan salah satu pemimpin Wings of Chaos, orang yang membantai ribuan nyawa tanpa rasa bersalah?'


Menggenggam tangan kecil itu, Reinhart merasakan kehangatan. Dia masih tidak percaya kalau Vanessa adalah Putri Iblis yang akan bertempur habis-habisan dengan Gadis Suci.


Sementara Reinhart tersesat dalam pikirannya, Vanessa yang awalnya mencoba menjadi pasangan baik terkejut ketika tangannya tiba-tiba dipegang. Merasakan tatapan banyak orang di restoran, gadis itu merasa malu dan ingin menarik tangannya.


Hanya saja, merasakan tangan besar yang menggenggamnya dengan lembut dan tulus, Vanessa merasa terlindungi.


Sejak awal, Vanessa tahu bahwa perempuan, khususnya bangsawan tidak memiliki hak untuk menemukan cinta mereka sendiri. Sebagai gadis yang suka membaca buku cerita, dia juga ingin seperti pada putri yang merasakan cinta.


Akan tetapi, Vanessa sama sekali tidak menolak ketika dirinya telah dijodohkan. Jadi, dia hanya bisa menerima dan melakukan yang terbaik. Lagipula, gadis itu membawa rasa tanggung jawab besar sebagai Putri dari Kerajaan Lautan Zamrud.


'Akan selalu melindungi ...'


Mengingat ucapan yang Reinhart ucapkan sebelumnya, lalu melihat Reinhart yang memegang tangannya dengan lembut seolah sedang menjaganya ... rona merah muncul di pipi gadis cantik itu.


"Ah! Maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk melakukannya."


Reinhart yang sadar segera melepaskan tangannya. Dia menatap ke arah Vanessa dengan ekspresi bersalah. Sama sekali tidak sadar kalau terus memegangi tangan gadis itu.


Meski merasa agak hampa, Vanessa menarik kembali tangannya lalu menunjukkan senyuman lembut.


"Omong-omong, bolehkah saya bertanya, Sayang?"


"Iya?"


"Kenapa anda tidak mengikuti perlombaan ini, Sayang?"


"Itu ..."


Otak Reinhart berjalan dengan cepat. Setelah beberapa saat, dia berkata dengan nada profesional.


"Mungkin aku bukan yang terbaik, tapi setidaknya, aku percaya bisa melindungimu, Vanessa.


Alasan kenapa aku menolak untuk ikut turnamen adalah para pesertanya. Aku yakin, para perwakilan dari Akademi Cahaya Bintang akan sampai di tahap akhir, bahkan final.


Bukannya aku sombong dan tidak menganggap sekolah lain kuat. Aku hanya tidak ingin melawan teman-temanku sendiri."


Melihat senyum tulus Reinhart, Vanessa yang polos langsung tertipu. Padahal, pemuda itu tidak ingin ikut karena terlalu merepotkan. Bahkan, jika tidak karena terpaksa, dia tidak akan datang ke Kerajaan Lautan Zamrud!


"Saya mengerti," ucap Vanessa lembut.


"Apanya???"


Reinhart memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.


"Bukan apa-apa." Vanessa menggelengkan kepalanya. "Bagaimana kalau kita lanjutkan jalan-jalannya, Sayang?"


"Baik."


Setelah itu, mereka berdua melanjutkan kencan mereka sambil berkeliling untuk lebih mengenal ibukota Kerajaan Lautan Zamrud.


Ketika mentari hendak terbenam, mereka menghentikan kencan dan memilih untuk kembali.


Berdiri di depan pintu penginapan, Reinhart melambaikan tangannya kepada kereta kuda yang pergi menjauh.


Ketika kereta kuda benar-benar menghilang dari pandangan, pemuda itu menyeka keringat di dahinya. Menghela napas panjang, ekspresi lega tampak di wajahnya.


'Misi tahap pertama untuk menyelamatkan dunia ... dilakukan dengan baik!'


>> Bersambung.