
“Luar biasa. Benar-benar pantas disebut dengan bangsawan. Selain mulia dan berpenampilan baik, mereka benar-benar pintar!”
Lelaki paruh baya yang tampak kurus, memiliki rambut acak-acakan dan ekspresi kejam berbicara. Dari penampilannya dan sikap orang-orang di sekitarnya, tampaknya dia adalah pemimpin kelompok tersebut.
Bukan hanya satu atau dua, tampak lebih dari dua puluh orang keluar dari hutan lalu mengelilingi Reinhart dan rekan-rekannya. Melihat pemandangan itu, Aiden dan tiga gadis tampak gugup. Sedangkan Reinhart, meski sebenarnya juga gugup, wajahnya tampak begitu datar.
Orang-orang itu memakai armor kulit yang tampak kasar. Ekspresi kejam tampak di wajah mereka. Khususnya ketika melihat Helena, Caterina, dan Sophia.
‘Sepuluh orang yang belum mencapai tingkat ksatria, sembilan knight, empat high knight, dan satu master knight. Total dua puluh lima orang.’
Reinhart menarik napas dalam-dalam. Ekspresinya menjadi lebih serius, tetapi dia pemuda itu masih tampak begitu tenang.
“Mereka benar-benar tampak luar biasa, Kapten.”
“Hehehe! Tampaknya Dave, tidak … Devy telah membawa mangsa yang amat bagus.”
Lelaki yang disebut Kapten itu berbicara dengan ekspresi puas. Melirik ke arah tertentu, dia melanjutkan.
“Wanita yang mengenakan gaun, bawa untuk Bos, dia pasti akan puas. Aku ingin si kecil yang tampak manis itu. Sedangkan satunya, gunakan sesuka kalian. Ya … kita juga bisa bersenang-senang bersama kan, Devy?”
“Jangan bercanda, Jordan! Kita telah membuat kesepakatan sebelumnya! Aku telah membawa orang, kamu harus membantuku untuk melepaskan adikku!”
Sosok Devy yang sebelumnya tampak seperti gadis polos keluar dari balik pohon. Ekspresinya tampak buruk, bahkan terlihat agak pucat ketika melihat ke arah lelaki yang bernama Jordan tersebut.
“Seingatku, aku membuat perjanjian dengan bocah laki-laki bernama Dave, si pencuri kecil. Bukan gadis manis sepertimu. Yah … pantas saja adikmu juga terlihat cantik, meski harus membesarkannya beberapa tahun lagi.”
“Jordan!”
“Menurut saja, dan adikmu akan hidup lebih baik!”
“Kamu-”
Ekspresi Devy tampak begitu buruk. Dia tidak menyangka kalau sosok yang selama ini dia anggap ‘rekan’ benar-benar mengkhianati dirinya ketika tahu identitas aslinya.
“Apakah kalian sudah selesai?”
Suara tak acuh terdengar. Melihat ke sumber suara, orang-orang itu melihat sosok Reinhart menatap mereka dengan ekspresi tak acuh. Sebelum Jordan mengatakan sesuatu, pemuda itu tiba-tiba melempar sebuah bola aneh dengan sumbu yang terbakar.
Memiliki ekspresi terkejut, Jordan berteriak, “Menjauh!”
BANG!
Asap tebal langsung menyebar. Ketika Jordan tampak sedikit panik, suara jeritan demi jeritan tiba-tiba terdengar. Beberapa saat kemudian, pria itu tiba-tiba merasakan dingin di punggungnya. Jordan langsung berbalik dan menebas.
KLANG!
“Sudah aku duga, ini agak merepotkan.”
Suara tak acuh Reinhart terdengar. Menatap ke arah pemuda itu, Jordan berteriak marah.
“Beraninya kamu menyerang dengan cara menyelinap, B-jingan Kecil!”
“Hah?”
Swoosh! Swoosh! KLANG!
Jordan langsung menangkis dua belati yang dilemparkan oleh Reinhart. Dia kemudian menatap ke arah pemuda itu dengan seringai kejam.
“Bahkan jika trikmu bagus, kamu hanyalah seorang knight! Meski pintar, itu tidak ada gunanya ketika melawan kekuatan mutlak!”
Jordan mengeluarkan dua pedang pendek. Dia langsung melesat menuju ke arah Reinhart lalu menebas dengan ganas.
Menghadapi serangan bertubi-tubi dari Master Knight, pemuda itu sama sekali tidak berniat untuk beradu secara fisik. Dia terus menghindari serangan Jordan. Ketika menemukan celah, dia langsung melempar dua belati. Namun, sekali lagi serangannya ditangkis oleh pria tersebut.
Blarr!
Suara ledakan terdengar. Pada saat itu, ekspresi Jordan berubah.
“Siapa yang menyuruhmu untuk mengalihkan perhatian?”
Slash!
Ketika suara dingin Reinhart terdengar, Jordan langsung merasakan sakit di perut bagian kiri dan mata kanannya.
“Dasar bocah tengik!”
Blarr! Blarr!
“Terkejut karena teman-temanku adalah penyihir?”
Reinhart yang terus menghindari serangan Jordan bertanya dengan nada sedikit mengejek. Hal itu tentu membuat Jordan, bandit yang hanya memiliki modal kekuatan semakin marah. Serangan pria itu semakin kuat, tetapi juga semakin acak dan sembrono.
“Apakah kamu ingin mengetahui rahasia lain?”
Pada saat ucapan Reinhart terdengar, asap berangsur-angsur menghilang. Pada saat itu juga, ekspresi Jordan tampak begitu buruk ketika melihat petir yang tiba-tiba muncul dan menari di tangan kiri pemuda itu.
Seolah menyadari sesuatu, Jordan langsung melihat sekeliling. Dia kemudian melihat enam belati yang Reinhart lempar ke arahnya. Keenam belati itu menancap di tanah dan mengelilinginya. Seolah sejak awal, Reinhart memang menggiringnya untuk melakukan hal tersebut.
Wajah Jordan langsung terlihat gelap ketika melihat enam manik biru pada belati tersebut.
“Lightning magic … Chain lightning!”
Ular petir berwarna biru dengan ketebalan tiga jari langsung melesat menuju ke arah belati. Pada saat terkena belati, arus listrik langsung menyalur dari satu belati ke belati lain. Dalam sekejap mata, enam ular listrik biru dengan setebal lengan pria dewasa langsung menabrak Jordan.
Blarrr!!!
Ledakan keras disusul kepulan asap lain menyebar. Setelah beberapa saat, asap sirna. Pada saat itu, tampak Jordan yang telah hangus. Namun, tampaknya dia masih bernapas, bahkan belum terjatuh.
“Jika kamu, membunuhku … Kakakku-”
Slash! Bruk!
Sosok Reinhart langsung bergegas ke arah Jordan dan memenggal kepalanya. Tubuh pria itu langsung jatuh ke tanah.
Reinhart langsung menatap sosok Aiden dan tiga gadis yang telah mengalahkan empat high knight dan beberapa knight lain. Helena dan Aiden adalah penyihir api, ditambah Caterina dan Sophia yang membantu, mereka jelas bisa menang lebih mudah.
“Rein, sekarang-”
“Jangan biarkan satu orang pun kabur. Aku akan segera kembali.”
“Apa yang coba kamu lakukan?”
Reinhart melirik ke arah Aiden. Mata birunya memancarkan kilau dingin, tampak lebih dingin daripada ekspresi tak acuh yang biasanya.
“Pergi memburu tikus yang melarikan diri.”
Selesai mengatakan itu, Reinhart langsung bergegas menuju ke hutan.
***
Sekitar satu jam kemudian.
“Kalian menangkap mereka semua?”
Aiden dan tiga gadis menatap orang-orang yang dikalahkan lalu diikat dengan ekspresi puas. Mereka terkejut ketika mendengar pertanyaan itu dan menoleh ke sumber suara. Namun saat itu, mereka berempat langsung tercengang.
Reinhart keluar dari hutan dengan ekspresi tak acuh. Beberapa sobekan tampak di pakaiannya, tetapi jelas bukan luka serius. Namun, pakaian pemuda itu basah oleh darah. Beberapa sisa bercak darah juga tampak di wajah dan rambutnya, benar-benar membuat mereka semua terpana.
“Kamu … Kamu membunuh mereka semua, Rein?”
Aiden mendekati Reinhart dengan ekspresi tidak percaya, bahkan tampak marah.
“Apakah ada masalah?”
Reinhart menjawab dengan ekspresi tak acuh.
“Meski mereka salah, kamu tidak perlu melakukan hal itu, kan? Mereka-”
Plak!
Reinhart langsung menampik tangan Aiden yang hendak meraihnya.
“Jangan samakan aku denganmu, Aiden. Aku bukan orang baik. Lagipula, apakah kamu tidak memikirkan bagaimana akhirnya jika kita lemah? Kita akan terbunuh, kan? Apakah mereka akan peduli?
Juga, bagaimana dengan Helena, Sophia, dan Caterina? Jika mereka lemah dan ditangkap, apakah kamu mengetahui akhir mereka? Hidup lebih buruk daripada mati!”
“Aku-”
Aiden tampak terguncang. Memikirkan apa yang Reinhart katakan, dia jelas agak takut dan marah. Namun, pemuda itu selalu dididik untuk berperilaku baik dan memiliki toleransi. Sikap baik, dan mencoba mengubah orang lain lalu menuntun mereka ke arah lebih baik. Namun jelas …
Kenyataan yang dia lihat dan alami telah mengguncang pendiriannya!
>> Bersambung.