
"Maaf Reinhart, tampaknya Professor Elin sedang izin dan tidak hadir hari ini."
Reinhart yang hendak mengetuk pintu kantor Professor Elin terkejut mendengar suara itu. Menoleh ke sumber suara, dia melihat sosok Sir John berjalan ke arahnya.
Lelaki kekar dengan rambut pirang, wajah persegi lengkap dengan dagu terbelah dengan senyum khas tiba-tiba menyapa dirinya. Berbeda dari biasanya, dia muncul mengenakan kemeja pink dan celana panjang krem. Bagian atas kancing terbuka, memperlihatkan otot-otot yang ditumbuhi bulu halus.
Melihat sosok itu, Reinhart masih tertegun sejenak. Sama sekali tidak bisa terbiasa dengannya!
"Terima kasih atas penjelasannya, Pak. Kalau begitu permisi."
"Tunggu, Reinhart!"
"Iya?"
"Aku melihat tubuhmu terlatih dengan baik."
"..."
Reinhart mundur satu langkah dengan ekspresi waspada di wajahnya.
Uhuk! Uhuk!
"Maksudku, kenapa kamu tidak pindah saja? Aku rasa pelajaran sekunder kami lebih cocok untukmu."
"Maaf, Pak. Saya masih suka dengan kelas pembuatan ramuan."
"Ya ... kalau begitu aku tidak akan memaksa. Namun, bolehkah aku bertanya, Reinhart?"
"Ada apa, Pak?"
"Apakah 'Black Dragon Slayer' sekarang ada di tanganmu, Reinhart?"
"En???"
Reinhart tertegun sejenak.
"Black Dragon Slayer adalah nama pedang. Tubuhnya hitam, penuh dengan rune yang indah. Memiliki ciri khas berat dan tidak bisa dipotong."
"..."
Black Dragon Slayer, Reinhart sudah mendengar nama item tersebut dalam game sebelumnya. Namun, dia sama sekali tidak mengetahui wujudnya. Lagipula, itu adalah senjata salah satu tokoh yang tidak muncul dalam cerita.
Crimson Dragon Knight, Melissa.
Meski tidak pernah diperlihatkan dalam game, nama itu sering disebutkan. Selain karena wanita itu sangat kuat dan merupakan teman masa lalu Selena Novafrost, dia juga sepupu Sir John.
Menurut cerita, Sir John di masa muda sama sekali tidak seperti sekarang. Dia adalah sosok anak baik, bahkan seorang kutu buku. Namun, semuanya berubah ketika lelaki itu bertemu dengan Melissa.
Bisa dibilang, Sir John adalah korban penganiayaan di masa kecil. Dulu, karena terlihat manis dan polos, Melissa memaksa John untuk mengenakan gaun miliknya.
Tentu John menolak, tetapi akhirnya ... ya, dipukuli sampai sekarat. Langsung menjadi trauma!
John mulai berubah di masa remaja. Dia tidak ingin terlihat manis dan lemah, jadi lelaki itu melatih tubuhnya. Memang, hasilnya sangat baik, tetapi ...
Nasi telah menjadi bubur.
Mungkin itu kalimat yang paling cocok. Meski penampilan John berubah, kebiasaan yang Melissa tanamkan ke orang itu telah menjadi permanen. Memang, dia tidak mengenakan gaun, tetapi masih menyukai warna pink dan beberapa benda imut.
Dari cerita tersebut, Reinhart sudah bisa membayangkan seberapa mengetikan wanita bernama Melissa itu!
Pemuda itu tidak menyangka kalau pedang yang dia bawa selama ini adalah milik Melissa. Padahal, Reinhart sudah mulai jatuh cinta dan berencana untuk mencuri ... uhuk! Maksudnya, tidak mengembalikan pedang itu sebagai kompensasi trauma mental yang disebabkan oleh gurunya.
Reinhart berencana melakukannya setelah dia berhasil menyusul kekuatan Professor Elin!
Akan tetapi, semua rencananya langsung rusak begitu saja. Walau dalam cerita disebutkan kalau Melissa tidak sekuat Selena, tetapi disebutkan kalau wanita itu lebih ganas dan kejam.
Reinhart sudah melihat betapa 'baiknya' Professor Elin. Jika Melissa benar-benar lebih dari itu, dia pasti sudah gila jika harus menarik masalah semacam itu.
Benar-benar enggan!
"Benda itu ada di tangan saya, Pak. Haruskah saya segera mengembalikannya?"
"Tidak! Tidak perlu!" Sir John menggelengkan kepalanya. "Aku hanya tidak menyangka kalau wanita itu begitu memanja Professor Elin. Junior yang berharga? Atau dia menyukai Professor Elin? Jika itu yang terakhir ..."
Melihat bagaimana Sir John bergumam sambil berkhayal, Reinhart tidak bisa berkata-kata.
"..."
Reinhart melihat Sir John yang tiba-tiba berbalik dan berlari pergi. Diam-diam pemuda itu berbela sungkawa untuk lelaki tersebut.
Tidak hanya tidak mengetahui identitas asli Professor Elin, John benar-benar ingin melaporkan kalau Melissa menyukai wanita itu. Jadi jelas ...
Lelaki pecinta warna pink itu akan dihabisi ketika kembali!
'Semoga kamu tenang, Sir John.'
Pikir Reinhart sebelum pergi meninggalkan gedung kantor. Dia segera pergi menuju ke kelasnya, tetapi masalah lain menghampirinya begitu saja.
Jalan yang dia lewati telah diblokir!
Di tengah jalan, tampak sosok lelaki bergaya berandal duduk di atas kursi. Di belakangnya, tampak banyak siswa dengan penampilan yang mirip berdiri.
'Tunggu! Darimana kamu mendapat kursi itu?'
Rambut biru panjang yang diikat ke belakang bergoyang ketika lelaki itu bangkit dari kursinya. Dia menyeringai, menunjukkan senyum dengan gigi taring yang agak terlihat. Benar-benar gaya khas anak nakal yang disukai para gadis.
"Akhirnya aku menemukanmu, The Sleeping Lightning Dragon!"
"..."
Mendengar itu, Reinhart tertegun.
'Apa-apaan julukan norak dan memalukan itu!'
Reinhart berseru dalam hati. Sebagai lelaki dari bumi modern, dia jelas tidak menganggap julukan semacam itu keren. Sebaliknya, itu terdengar memalukan!
Dia tanpa sadar menunjuk pada dirinya sendiri lalu bertanya, "Aku?"
"Tentu saja itu kamu, Reinhart ... The Sleeping Lightning Dragon!"
'Berhenti meneriakkan julukan semacam itu terlalu keras! Itu memalukan!'
Reinhart mengeluh dalam hati. Melihat para berandalan yang datang untuk memalak dirinya, pemuda itu tanpa ragu berkata.
"Maaf, kalian mengenali orang yang salah."
"Ha-ha-ha! Sudah aku duga, kita memang—"
Zale menunjuk Reinhart sebelum akhirnya tertegun.
"Apa kamu bilang?"
"Saya bilang, kalian mengenali orang yang salah." Reinhart tiba-tiba mengeluarkan kacamata baca entah dari mana lalu memakainya. "Nama saya Kohaku, siswa yang mendapatkan beasiswa tidak mampu. Saya jarang muncul karena fokus belajar untuk masa depan. Jadi, tampaknya anda mengenali orang yang salah."
"Hah???"
Zale terkejut. Dia tiba-tiba berbalik dan memukul pemuda botak di dekatnya.
BRUAK!
"Kamu bilang dia adalah Reinhart! Kamu jelas salah orang!
Aku sudah menunggu hampir satu setengah jam! Benar-benar tidak berguna!"
"..."
Melihat lelaki tampan yang tidak asing, Reinhart menghela napas panjang.
'Bukankah harus ada sedikit penyesuaian? Ini dunia nyata, kan? Bagaimana bisa ada lelaki yang jarang menggunakan otaknya seperti itu di dunia nyata!
Belum lagi ...'
Reinhart tidak bisa tidak terkejut.
'Aku tidak menyangka akan bertemu 'si bodoh dan tidak peka', Zale di sini!'
>> Bersambung.